Broer Ambon (Alles kits?),

Anda benar sebagian. Lupa persisnya kapan, telah terjadi transisi
pengelolaan yayasan persekolahan yg semula dikelola oleh misi, zending dan
muhammadiyah menjadi pengelolaan bersama pemerintah. Komposisi pendanaan
pemerintah pro-rata sesuai jmlh murid. Pendanaan tdk hanya berbentuk uang tp
juga penyediaan guru PNS. Sharing pendanaan ini bisa saja dilihat sbg
mekanisme kontrol, tp dari segi kepraktisan sebetulnya sangat membantu.
Broer Ambon tentu tahu bahwa utk mempertahankan kualitas, sekolah swasta
sering hrs men-charge mahal muridnya... hal ini tentu tdk bisa dilakukan
oleh sekolah yg dikelola oleh kelompok relijius, di daerah marginal pula.
Shg kolaborasi dng pemerintah semestinya menawarkan win-win solution.

Apakah di lapangan (yg sering benarbenar di lapangan terbuka) terjadi spt
itu? Nyaris tidak. Guru 'dropdropan' pemerintah, walau berdedikasi
tapi umumnya hasil recruitment yg sarat dng misi sosial... shg kurang
berkualitas. Ini ditambah dng fasilitas yg tdk terrealisasikan krn terlanjur
habis dananya berakibat pada hancurnya system pendidikan pra-dasar dan
dasar.

Relasi dng Belanda itu menarik. 3 tahun lalu di Jayapura saya tdk sengaja
menemukan satu tim gabungan berisikan orangorang dari Ministerie van
Ontwikkeling Samenwerking (kementrian kerjasama luarnegri), Ministerie van
Onderwijs & Wetenschaap (kementrian pendidikan dan ilmu pengetahuan), dan
gereja yg sedang mendata ulang kegiatan mrk dulu di sana. Pendataan ulang
itu dilandasi semangat revitalisasi relasi yg ternyata terbukti
terrealisasikan tahun ini. Seberapa jauh realisasi itu saya blm tahu. Semoga
saja mrk bisa menjawab sebagian risau bung Ambon.

Kalau pendidikan yg baik bisa membentuk seedling yg baik, masih tersisa gap
lebar untuk membentuk environment yg baik untuk hidup di Papua.

yk


On 9/20/06, Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>    Mengenai pendidikan di Papua ada masalah, yaitu misalnya banyak sekolah
>
> dasar dan memengah yang diasuh oleh gereja di pedalaman dataran tinggi
> Papua ditutup, karena tidak ada biaya sekolah untuk membayar gaji-gaji
> para guru dan berbagai ongkos. Biasanya sebahagian besar biaya
> disumbangkan
> dari negeri Belanda, tetap karena pemerintah Indonesia telah melarang
> gereja untuk menerima bantuan keuangan dari sana.
> ----- Original Message -----
> From: "aris solikhah" <[EMAIL PROTECTED] <fm_solihah%40yahoo.com>>
> To: <[email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>>
> Sent: Tuesday, September 19, 2006 9:44 AM
> Subject: Re: [ppiindia] Kesulitan Papua, pak YK
>
> > Main ke Papua? Tentu saja mau.. tapi siapa yang mensponsori saya? biaya
> > hidup disana mahal bukan? Transportasi antar daerah menjadi kendala. SMU
>
> > adek itu saya lupa?
> >
> > Sekolah gratis yang berada di atas bukit dan kalau sedang bersekolah dia
>
> > bisa melihat perbedaan warna air laut dibawahnya (sangking indahnya).
> >
> >
> > Terima kasih atas diskusi ini. Akhirnya dari diskusi mas Yohannis, saya
> > memahami kesulitan teman-teman IPB saat mau membantu kerawanan pangan di
>
> > Yakohimo. Saya dulu tak habis berpikir, kenapa hanya berhenti pada skala
>
> > kebun percontohan saja.
> >
> > Menurut sebuah diskusi, IPB telah berbuat sesuatu tapi saya berkata
> dalam
> > hati malu juga sih, Apa yang dilakukan IPB? ko nggak berhasil atau tak
> ada
> > imbasnya. Padahal katanya IPB telah pernah membantu dengan cara budidaya
>
> > berbagai jenis ubi dan teknologi pembuatan produk pangan (cake, bolu,
> > brownies, sereal dll) dari ubi, jauh bahkan sebelum kasus Yakohimo.
> >
> > Oh ya, kini departemen Teknologi pangan sedang mengembangkan formula
> > tepung ubi jalar. Dulu waktu bantu teman penelitian buatnya sulit, 100
> kg
> > ubi hanya jadi 20 kg pati dan terjadi browning (pencoklatan), jelek
> > mutunya. Kini ada metode lain, namun masih belum sempurna. Bogasari
> flour
> > kayaknya sedari dulu menunggu hasilnya ..
> >
> > Cara efektif menangani krisis di Papua sekarang memang memberi bahan
> baku
> > langsung. Tapi kan tak bisa terus-terusan begitu. Rekan-rekan papua
> harus
> > mandiri untuk melakukan budidaya biar survive. Mengandalkan hasil alam
> pun
> > juga sulit, makin hari, jumlah pangan di alam berkurang apalagi kalau
> > kemarau.CMIIW
> >
> > Instansi kita pernah disalahkan, ko tidak segera membantu.
> >
> > Begitu pula kata media masa, pemerintah lambat membantu. Kuncinya putra
> > daerah sendiri yang melakukan edukasi dan perubahan. Yang lain bekerja
> > dibelakang layar, mendukung dan mendorong. Denger2 dari Mentan ada
> proyek
> > swasembada gula di sana? semoga saja berhasil.
> >
> > salam,
> > aris
> >
> >
> > Yohanis Komboi <[EMAIL PROTECTED] <ykomboi%40gmail.com>> wrote:
> > On 9/19/06, aris solikhah wrote:
> >
> > Iya terima kasih-terima kasih atas pencerahan matoa-nya. Kenapa saya
> harus
> > pergi jauh-jauh. Pada akhirnya, seorang mahasiswi baru asal Jayapura
> > menunjukkan di depan fakultas kehutanan IPB ada pohon matoa (ada 2 pohon
> > yang baru bisa diidentifikasikan). Sedang berbuah lagi, tapi masih
> hijau.
> > Ada yang mau membantu metik nanti sebelum diserobot codot (kelelewar
> > buah)?
> > ^_^
> >
> > yk: Sudah kukatakan bukan kalau di lingkungan IPB ada pohon matoa? Lbh
> > banyak lagi di sekitar CIFOR.
> >
> > Tapi tidak tahu jenis kelapa atau pepela (bener nggak), yang jenis
> kelapa
> > katanya sangat manis dan tak bisa dikatakan dengan kata-kata. Satu kilo
> Rp
> > 40 ribu, kenapa tak coba budidaya ya dan mengekspor, ini ide yang
> cerdas.
> >
> > yk: 'Investment - investasi', untuk orang Papua kebanyakan yg hidup
> > dimanja
> > alam kata ini kurang bermakna. Dulu pernah ada proyek percontohan
> > pertanian
> > di daerah Wamena yg dimotori oleh BPPT dan LIPI yg dikomandoi oleh bu
> > Astrid
> > Soesanto dr BAPPENAS. Proyek ini bisa dibilang 'sukses'. Lelah dng
> > berbagai
> > usaha meningkatkan ketrampilan masyarakat sekitar karena rendahnya
> animo,
> > akhirnya peneliti LIPI dan BPPT memutuskan untuk memfokuskan diri ke
> kebun
> > percobaannya tanpa repotrepot melibatkan masyarakat. Tanaman tumbuh
> subur
> > dan nampak banyak hasilnya. Tapi hasil panen ternyata sangat sedikit,
> > terlalu sedikit untuk volume yg terlihat sebelumnya. Apa yg terjadi?
> >
> > Selang sebulanan peneliti gabungan itu menemukan banyak ladangladang
> baru
> > yg
> > tampak tumbuh subur dng tanaman dr varietas unggulan spt yg awalnya
> > ditanam
> > di kebun percobaan. Rupanya hasil panen kebun percobaan itu tlh dijarah
> > terlebih dulu oleh masyarakat sekitar, menjadikannya sbg bibit dan
> > menanamnya... heheheh... baik-buruk memang relatif. Sampai di titik ini
> > ternyata semua oke saja. Sayangnya semangat tanam itu tdk bertahan lama
> > karena kehabisan bibit utk tanam berikutnya. Menyimpan panen untuk
> > dijadikan
> > bibit, apalagi untuk tanaman asing rupanya belum membudaya.
> >
> > Dia juga menceritakan di rumah asalnya ada buah matoa, tapi jauh nian
> ya.
> > Dan dia juga cerita masalah perang antar suku, iyah masalah kehormatan
> dan
> > anggaplah ego nya tinggi. Tapi kalau sudah disentuh hidayah dan dibina
> > baik,
> > penduduk papua itu cerdas-cerdas dan berkarakter kuat. Yah mendengarnya,
> > saya membayangkan suku Khajraj dan Aus yang tinggal di Madinah,
> bawaannya
> > perang suku melulu. Bahkan hanya karena sapi yang terbunuh saja mereka
> > bunuh-bunuhan, tapi kebanyakan karena provokasi Yahudi di Madinah.
> >
> > yk: Sesuai fithrah manusia dibekali kecerdasan. Tapi proses learning,
> > spt halnya pembangunan, sangatlah path dependent untuk bisa mencapai
> > dampak.
> > Bbrp perkecualian tentu ada, spt bbrp genius Papua yg bergabung dalam
> > 'Papua
> > Frontiers' tapi itu saja tdk cukup. Ttg 'software' mbak Aris, pribadi
> saya
> > lbh suka melihat orang Papua kembali ke system of belief asli mrk....
> > betapapun naifnya system itu di mata Anda. Paling tidak agama
> tradisional
> > ini tidak melahirkan dichotomy di kepala manusiamanusia sederhana itu.
> >
> > Tapi ketika di sentuh ISlam yang dibawa MUsha'b bin Umair.. mereka
> menjadi
> > kompak, hebat dan pahlawan tangguh. Maaf lho ya mas Yohannis..., but
> saya
> > bisa melihat karakter itu ketika studi banding dosen UNIPA dan mahasiswa
> > Uncen yang berkunjung ke sini. ^_^.
> >
> > yk: Kalau ada waktu berkunjunglah. Biar lebih tahu kondisi riil.
> >
> > Pada akhirnya seorang adek mahasiswa baru asal jayapura itu mengeluhkan
> > ketidakbolehan pakai kerudung di sekolah SMU Jayapuranya. Dia cerita ubi
> > yang dibakar di batu panas.
> >
> > yk: Dia dari Jayapura? SMU brp? Terusterang saya tdk percaya ada aturan
> > spt
> > itu di SMUN. Tentu saja mslhnya jadi lain kalau dia belajar di sekolah
> > kristen.
> >
> > Jadi saya kira itu juga tidak perlu dirubah teknologi ini, bila ternyata
> > kandungan gizinya malah masih bagus daripada dikukus.
> >
> > yk: Tentang Barapen - ini istilah utk masak ala bakar batu itu. Di
> Jepang,
> > masak bakar batu dipromosikan utk memberikan flavor exotic di
> resortresort
> > dan daerah camping. Tentu saja ditambahi info lebih sehat dll. Kalau di
> > Jepang semua materi dipersiapkan dng detil dan hygienis, di Papua kurang
> > begitu. Ya, aspek ini dan estetik sj lagi yg perlu diperbaiki.
> >
> > Dia ketawa ketika saya tanya mengenai RUU APP, karena dia bilang yang
> > memakai koteka itu sekarang sangat sedikit, daerah yang sangat
> pedalaman.
> > Malah dia dkk pun ikut mendukung aksi RUU APP. Beda dengan media masa
> ya?
> >
> > yk: Ya dan tidak. Kalau mhs Anda itu hanya berkutat di seputar Jayapura
> > saja, mungkin itu picture Jayapura di kepala dia. Coba dia mau sedikit
> ke
> > luar ke arah barat atau barat daya, ke kantongkantong hunian migrant
> dari
> > gunung tentu gambaran itu akan sangat lain. Koteka di sana dijadikan
> > sumber
> > identitas. Bahkan adikadik yg kuliah di Jkt, Yogya pun akan dng ringan
> > hati
> > melepaskan pakaiannya dan ganti mengenakan koteka saat kembali ke
> kampung.
> > Kita melihat hal ini dr perspective berbeda mbak. Koteka has absolutely
> > nothing to do dng sex atau sexuality. Dia cuma pakaian lain yg lagi naik
> > pamor sbg identitas pemberontakan, shg kurang tepat memaknainya sbg act
> of
> > obscenity.
> >
> > Toh dalam pandangan saya memakai busana muslim (bukan pengaturan busana
> di
> > RUU APP ya) itu kan hanya diwajibkan muslim. Kalau soal pakaian,
> > perkawinan,
> > ibadah, makan dan minum semua diserahkan bagaimana masing-masing agama
> > mengaturnya. ^_^ Sorry...jadi cerita panjang lebar, tapi memang disana
> > banyak kenekaragaman hayati. Paling bagus produk pertaniannya kata dia
> di
> > Wamena. CMIIW. Dia juga ketawa soal rumbia buat busana muslim ^_^
> >
> > yk: Anda mengatakan halhal yg benar, tapi realita sering tdk sebenar
> itu.
> > Ramadan sebentar lagi (selamat berpuasa ya). Dan kita akan memperoleh
> > tayangan lengkap ttg realita.
> >
> > Tanah Wamena termasuk subur, tapi kurang cocok untuk pertanian
> > besarbesaran
> > krn masalah kemiringan lahan yg menyulitkan pertanian/perkebunan
> intensif.
> > Ini akan lbh bermasalah lagi saat nanti tekanan demografi lbh besar.
> > Karenanya skrngpun sdh bisa kita hitung kapan kirakira akan ada konflik
> > krn
> > resource scarcity.
> >
> > Dia juga cerita soal lobi-lobi, kalau ini mah saya sudah mencicipi. Asem
> > banget yah, tapi asyik kalau buat rujak he he he.
> >
> > yk: Wah... langsung mulai berliur nih...
> >
> > 'lam,
> >
> > yk
>
> _,_._,___
>


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke