Lho, dari awal anda kan mengatakan bahwa daerah timur itu sering rusuh karena 
disana Mayoritasnya non-Muslim, tapi dari data2 Depag, ternyata disana 
Mayoritanya Muslim, satu pertanyaan sederhana yang belum anda jawab : DATA ANDA 
DARI MANA ??? ". dan Untuk membeikan gambaran bahwa di Barat pun terjadi 
kerusuhan maka kami memberikan contoh kasus Tasikmalaya, dan sampai saat ini 
anda juga belum memberikan argument atas pernyataan anda malah anda meberikan 
masalah Ambon, Oleh sebab itu kami juga mengutip masalah Ambon, dimana anda 
bisa baca sendiri sehingga Kerusuhan tersebut dimulai Oleh siapa : ( 
Kalau kutipan ( Mer C ) tidak disebutkan awal dari tragedi tersebut, maka kami 
ambil dari Fica , yang menceritakan kerusuhan sejak Januari 1999, disamping itu 
juga diberikan data tentang kerusakan2 Gereja dan Mesjid, jadi Menurut kami 
cukup berimbang. Juga bisa dilihat laporan dari Human ringht watch : 
http://www.hrw.org/reports/1999/ambon/amron-03.htm#P176_38332 )  

Untuk melihat foto2 pembantaian bisa dilihat di : 
http://www.hrw.org/reports/1999/ambon/amron-03.htm#P176_38332 

Untuk semua rangkaian kejadian di Ambon, bisa dilihat di : (  
http://www.fica.org/hr/Ambon.html  ) Termasuk Foto2 dan ada juga Bp. Maakewe 
Yang Perut Isterinya yang lagi Hamil dibelek ama Mayoritas untuk dikeluarkan 
Jamin anaknya .

Untuk kasus RMS silakan anda baca dibawah ini :

http://www.geocities.com/alifuru67/y2000/joshua1801y2k.htm Kutipan sebagiannya 
= 

Pada zaman penjajahan Belanda, haruslah diakui bahwa hampir tidak ada Muslim 
Ambon yang dapat mengenyam pendidikan tinggi. Hal ini terlihat jelas dari para 
menteri di jaman pemerintahan Bung Karno, seperti Dr. Leimena dan Prof. 
Siwabessy. Demikian juga yang. terjadi di dalam tubuh RMS saat itu. Para pemuka 
RMS yang terkenal hanyalah mereka yang Kristen, seperti Dr. Chris.Soumokil, 
Alvaris Manusama, Albert Wairisal dan Izzak Tamaela. Kenyataan ini sama sekali 
"tidak" berarti bahwa Muslim Ambon tidak terlibat sebagai anggota atau 
simpatisan RMS. Mereka hanya tidak kelihatan karena tertutup oleh ketenaran 
pemuka-pemuka RMS yang Kristen, yang telah mengenyam pendidikan tinggi kolonial 
saat itu. Kenyataan yang sangat mendukung keterlibatan pihak Muslim di dalam 
geraka RMS saat itu, adalah "Kuatnya Semangat Hubungan Pela dan Gandong", yang 
"tidak mengizinkan" salah satu pihak, baik Kristen maupun Islam di Ambon, untuk 
melupakan saudara Pela atau saudara Gandong mereka (Gandong = Kandung). 
Sampai dengan tanggal 19 Januari 1999, uraian di atas tidak menutup kemungkinan 
adanya gerakan "bawah tanah" dari RMS. Secara diam-diam mereka tetap menjalin 
hubungan dengan para aktivis RMS di Negeri Belanda, yang berbeda keadaannya, 
berani menyatakan keberadaan mereka kepada Pemerintah dan masyarakat Belanda. 
Tetapi, seiring dengan terbuka lebarnya kesempatan sekolah bagi semua warga 
negara Republik Indonesia, dan seiring pula dengan peralihan generasi di Ambon, 
maka "Pucuk Pimpinan" gerakan bawah tanah RMS di Ambon (Maluku ), "beralih ke 
pihak Muslim" dengan seorang ketua yang beragama Islam, dan yang berasal dari 
desa Pelauw, salah satu desa Muslim di pulau Haruku, Maluku Tengah. Ketua 
Yayasan Al Fatah, Abdullah Soulissa sendiri adalah "bekas sekretaris 
RMS-Maluku". 

http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=218

Ust. Nasir Rahawarin dan Pendeta Hendrik: Masalah Separatisme Jadi Urusan 
Negara, bukan Swasta


Kutipan salah satu Laporan dari fica :

TRAGEDI PENYERANGAN DAN PEMBANTAIAN 

WARGA MASYARAKAT PADA BEBERAPA DESA/DUSUN 

DI PULAU AMBON



Pada sore dan malam hari Selasa, tanggal 19 Januari 1999 (masih dalam suasana 
Idul Fitri), terjadi kerusuhan dan pembakaran di dalam kota Ambon, di daerah 
Batu Merah, Mardika, Silale dan di beberapa tempat lain. Peristiwa ini 
didahului dengan suatu peristiwa kriminal biasa yang terjadi sebagai akibat 
dari tindakan seorang pemuda asal Bugis yang berdomisili di Batu Merah, yang 
memeras seorang pemuda Ambon (sopir angkot) yang bernama JOPY, yang akhirnya 
berlanjut dengan pembakaran rumah-rumah penduduk dan rumah-rumah ibadah, serta 
perkelahian dan pembunuhan antar warga yang beragama Kristen dan yang beragama 
Islam, malah pada daerah-daerah tertentu, pembakaran rumah-rumah penduduk 
didahului dan diakhiri dengan aksi penjarahan (pencurian). Akibat kerusuhan 
ini, beberapa desa dan dusun di Pulau Ambon ikut menjadi sasaran kerusuhan 
tersebut.

Namun kira-kira jam 09.30 WIT, menurut saksi mata yang juga korban/pengungsi 
(seorang guru), dari ujung jalan Telaga Kodok (arah Desa Hitu) datang 
berbondong-bondong warga desa tetangga dalam jumlah sangat banyak, 
sampai-sampai kerumunan manusia itu tidak kelihatan ujungnya (diperkirakan 
lebih dari seribu orang). Beberapa di antara mereka yang datang itu di kenal 
oleh para saksi sebagai warga Desa Hitu, Mamala, Morela dan Wakal, tetapi 
kebanyakan tidak dikenal oleh warga setempat.

Mereka yang datang itu membawa berbagai jenis senjata tajam, antara lain : 
parang, samurai, panah, bom dan sebagainya, dan sebagian diantaranya memakai 
pelindung badan dari ban bekas serta tameng dari logam. Setibanya di depan 
sekolan (SD Inpres) Telaga Kodok, seorang saksi mata sempat menanyakan maksud 
perjalanan mereka, yang kata salah serang pimpinannya (yang dikenal sebagai 
pegawai pada Kantor Pariwisata) mereka akan takbiran ke Ambon. Warga Telaga 
Kodok itu sempat menyarankan agar mereka tidak melakukan gerakan dengan membawa 
senjata-senjata tajam dan meminta warganya agar tidak melakukan gerakan 
apa-apa. Namun hal itu tidak digubris oleh gerakan masa yang datang tersebut. 
Saksi mata sempat melihat petugas-petugas keamanan (kurang lebih 6 orang) dalam 
mobil menerobos masa yang berduyun-duyun itu dari arah belakang (Desa Hitu) ke 
arah Dusun Benteng Karang (arah kota Ambon), namun tidak mengatasi bahkan 
meninggalkan rombongan masa itu. Masa dari desa-desa tetangga itu mulai 
menerobos masuk kampung, merusak rumah-rumah, membakarnya dan bahkan sebagian 
dengan menggunakan bom untuk menggempur Gereja Katolik, Gereja Petra dan 
bangunan-bangunan lain. Hal ini menyebabkan penduduk dari dusun Telaga Kodok 
lari pontang-panting menyelamatkan diri, mencari dan membawa serta keluarga 
mereka. 

Gerakan masa terus maju menuju Dusun Benteng Karang dan di hadang oleh sejumlah 
laki-laki dari dusun tersebut dengan mengadakan perlawanan bersenjatakan batu 
dan berbagai senjata yang ada. Namun karena mereka kurang siap dan banyaknya 
masa yang kalap menyerang dengan membabi buta, diiringi bunyi ledakan 
sana-sini, warga laki-laki dari kedua dusun tersebut menjadi kewalahan dan 
ketakutan sehingga terus mundur, menyelamatkan diri dan melarikan warga 
perempuan, anak-anak dan orang-orang lanjut usia. Para penyerang terus maju 
dari Dusun Benteng Karang kearah kota Ambon dengan terus menyerang warga 
setempat (terutama laki-laki dan ada juga perempuan) dengan batu dan 
senjata-senjata tajam serta membakar bangunan-bangunan yang ditemui. 

Dalam penyerangan itu, seorang ibu yang sedang hamil 7 bulan sempat dibunuh 
secara sadis dengan cara membelah dan mengeluarkan janin dari perut sang ibu, 
sedangkan anaknya yang berusia 2 tahun diambil dan dijadikan tameng dari 
lemparan batu penduduk yang masih bertahan. Hal mana diungkapkan oleh 
ayah/suami dari ibu dan anak tersebut, yang menyaksikan eksekusinya. Selain itu 
terjadi pembunuhan terhadap puluhan warga Benteng Karang dan penganiayaan 
terhadap puluhan warga Dusun Telaga Kodok dan Dusun Benteng Karang yang 
beragama Kristen.

Penyerangan dan pembakaran mereda setelah lewat tengah hari. Sebagian besar 
penyerang meninggalkan Dusun Benteng Karang menuju ke arah kota Ambon, dan 
mereka sempat membakar rumah-rumah penduduk dan rumah-rumah ibadah orang 
Kristen di Desa Hunuth/Durian Patah, waiheru, Nania dan Negeri Lama. selain itu 
membunuh dan membakar seorang pendeta dan warga masyarakat lainnya. 

Sementara masih ada sebagian penyerang yang tinggal di Dusun Benteng Karang 
sampai sore. Para penyerang yang tinggal di Dusun Benteng Karang tersebut, 
kemudian terus mencari penduduk yang masih tinggal di dusun tersebut. 

Menurut saksi mata, beberapa warga, laki-laki, perempuan dan anak-anak yang 
melarikan diri dan bersembunyi dalam goa (di belakang Dusun Benteng Karang) 
dibom, beruntung bom tersebut tidak meledak, namun 2 (dua) orang warga sempat 
di siksa dan kemudian di bunuh di mulut goa. Para wanita dan anak-anak yang 
menyerahkan diri setelah keluar dari goa kemudian di antar menuju Dusun Sapuri 
yang terletak di ujung Dusun Benteng Karang menuju ke arah kota Ambon. Saat 
mereka di antar, beberapa orang wanita sempat dianiaya dan dipotong ketika 
menyebut nama "Yesus". 

Di Dusun Sapuri terjadi penculikan terhadap 2 (dua) orang anak kecil, namun 
kedua anak ini telah di kembalikan kepada orang tua mereka oleh para penculik, 
yang hingga kini tidak di ketahui namanya. Menurut keterangan para ibu penghuni 
goa tersebut, saat mereka menunggu eksekusi atas diri mereka, tiba-tiba muncul 
truck tentara, akhirnya mereka di selamatkan dan di evakuasi ke gereja 
Sejahtera, jemaat Poka dan selanjutnya di bawa dan di tampung di Den Zipur 5.

Ada indikasi terjadinya penjarahan barang-barang milik warga Dusun Telaga kodok 
dan Dusun Benteng Karang sebelum membakar rumah-rumah penduduk, karena setelah 
penyerangan (pada siang dan sore hari), ada beberapa saksi yang melihat 
mobil-mobil truck bolak-balik keluar masuk Dusun Benteng Karang dan Dusun 
Telaga Kodok dengan muatan perabotan rumah tangga dan lain-lain kearah Desa 
Hitu.

Penyerangan, pengrusakan dan pembakaran dilakukan secara selektif terhadap 
warga yang non muslim (Protestan dan katolik) serta rumah-rumah mereka, 
sementara rumah-rumah warga muslim luput. Menurut saksi mata, hal ini di 
lakukan dengan melihat tanda ikatan kain putih di pintu-pintu rumah warga 
muslim, sehingga rumah-rumah tersebut luput dari pembakaran dan penjarahan.

Sampai lewat tengah hari itu, tidak ada bantuan personel keamanan dari manapun 
seperti yang di janjikan sebelumnya oleh para petugas Pos Keamanan Simpatik 
(Dusun Telaga Kodok). Sehingga selama aksi penyerangan dalam beberapa jam tadi, 
tidak terjadi pencegahan ataupun penghadangan serangan oleh petugas keamanan 
manapun. 

Tapi beberapa saksi melihat adanya petugas keamanan, saat lewat tengah hari, 
dengan menggunakan truck menuju ke Dusun Benteng karang. Namun setelah 
melakukan beberapa kali tembakan, mereka malah berpelukan dengan para penyerang 
lalu pergi meninggalkan lokasi kejadian.

Pembunuhan terhadap warga masyarakat Kristen di Dusun Benteng Karang ini sangat 
keji, karena sebelum di bunuh mereka dianiaya kemudian di buang ke dalam 
puing-puing rumah yang sementara terbakar, malah ada yang dipenggal 
kecil-kecil, ditusuk dengan bambu dan kemudian di panggang seperti sate. Hal 
ini diungkapkan oleh saksi mata yang ikut dalam pencarian korban di lokasi, 
setelah terjadi peristiwa kerusuhan tersebut dimana dari 15 mayat yang di 
temukan, semuanya dalam keadaan terbakar dan ada yang dipanggang seperti sate.

Sayangnya pihak kepolisian yang ikut dalam pencarian dan pemakaman tidak 
melakukan identifikasi korban, sehingga dari 15 mayat hanya 4 mayat yang 
dikenal atas nama :

  a.. PETRUS LAMBERTHUS KASMASAK (Purnawirawan ABRI)
  b.. Ny. MIRU
  c.. ANATHONIUS TOPURMERA
  d.. RINA MAKEWE (ibu hamil yang perutnya dibelah dan janinnya dikeluarkan) 
Dari rekaman peristiwa yang sempat direkam dari para saksi mata, ada beberapa 
hal yang perlu mendapat perhatian dalam kasus ini, yaitu :

  a.. (a) Selain penyerangan dan pembantaian terhadap warga masyarakat Kristen 
di Dusun Benteng Karang dan Telaga Kodok sebagai akibat provokasi atas 
terjadinya kerusuhan di kota Ambon yang di mulai tanggal 19 Januari 1999, 
kemungkinan penyerangan dan pembantaian ini dilakukan sebagai akibat adanya 
informasi dari orang-orang tertentu seperti :

    1.. AMRAN, warga Bugis yang tinggal di dusun Sapuri,
    2.. AIJO, warga Buton sekaligus Ketua Pemuda di dusun Hulung, dan
    3.. ISMAIL THARUB, kepala dusun Hulung, yang sebelumnya melaporkan Kepala 
Dusun Benteng karang dan salah seorang warga dusun Benteng Karang, yaitu 
saudara LEWERISSA ke polsek Hitu, dan menghadap di Polsek Hitu pada tanggal 16 
january 1999 dengan tuduhan bahwa warga dusun Benteng Karang akan menyerang 
dusun Hulung.
  b.. (b) Pada tanggal 21 Januari 1999, sekitar pukul 05.00 WIT, di Desa 
Rumahtiga, masa menyerbu rumah seorang pemuda (sopir mobil) bernama ABANG, 
berasal dari Desa Hitu, yang di duga melakukan kontak dengan masyarakat Desa 
Hitu di Hitu. Pemuda yang bersangkutan patut di curigai sebagai provokator dari 
tragedi ini, karena kurang lebih 15 menit sebelum terjadi penyerangan di Dusun 
Telaga Kodok, para saksi mata menemukan yang bersangkutan di ujung Dusun 
Benteng Karang sementara mengendarai mobilnya menuju Desa Hunuth dari arah Desa 
Hitu.

  c.. (c) Seorang yang dikenal oleh saksi mata sebagai pegawai kantor 
pariwisata dengan menggunakan sepeda motor dinas kantor Plat merah patut 
dicurigai sebagai pimpinan rombongan penyerang yang berakibat pada terbunuhnya 
warga Dusun Benteng Karang, maupun penjarahan dan terbakar rumah-rumah 
penduduk, rumah ibadah dan berbagai sarana umum lainnya.

  d.. (d) Perlu dipertanyakan sampai sejauh mana tanggung jawab petugas 
keamanan yang tidak menghalangi para penyerang, malah memberikan jaminan agar 
warga Telaga Kodok dan Benteng Karang masuk dan tetap tinggal dalam rumah 
mereka masing-masing, yang berakibat pada terbunuhnya warga masyarakat dan 
terbakarnya beserta rumah-rumah mereka, gereja dan fasilitas umum lainnya.

  e.. (e) Para saksi mata menerangkan bahwa para penyerang datang dari beberapa 
desa seperti Desa Hitu, Wakal, Mamala dan Morela dengan mempergunakan senjata 
tajam (parang, tombak, panah-panah, bom dan lain sebagainya), dalam suatu 
rombongan yang tertata rapi, terdiri dari laki-laki maupun perempuan yang 
mengambil peran sebagai pelayan dengan menyediakan makanan (bekal) bagi para 
penyerang laki-laki, dengan strategi penyerangan dalam bentuk beberapa 
rombongan atau setidak-tidaknya terbagi dalam 3 (tiga) rombongan, dimana 
rombongan pertama bertugas menghalau masa dan memberikan tanda pada rumah-rumah 
warga muslim agar tidak dibakar. Rombongan kedua bertugas membakar serta membom 
rumah-rumah rakyat dan gereja serta sarana dan prasarana umum lainnya, 
sedangkan rombongan ketiga menjarah harta milik warga yang dibantai. Suatu 
petunjuk bahwa penyerangan telah direncanakan terlebih dahulu.

  f.. (f) Dari keterangan para saksi mata dan hasil pengecekan di tempat 
penampungan membuktikan bahwa ada warga masyarakat yang hilang karena hingga 
kini belum diketahui dimana keberadaan mereka dan juga diculik oleh para 
penyerang, walaupun beberapa diantara mereka (umumnya anak-anak) telah 
dikembalikan kepada keluarganya, tanpa diketahui siapa sebenarnya yang telah 
mengembalikan mereka.

  g.. (g) Para saksi mata umumnya tidak mengenal para penyerang, tetapi ada 
beberapa penyerang yang sempat dikenal , antara lain :

    1.. IBRAHIM NASELA (warga Desa Hitumesing), yang membunuh ayah dari JOHANIS 
SAMI.
    2.. USMAN NASELA (warga Desa Hitu) yang bertindak sebagai kapitan dan yang 
memimpin para penyerang,
    3.. MALIK PELU, pegawai Bandara Pattimura (warga Desa Hitu) yang membongkar 
rumah-rumah masyarakat dengan mempergunakan martil besar,
    4.. DJAFAR UENG, guru olah raga pada SD Negeri II Hitu (warga Desa 
Hitu)yang membakar rumah warga Benteng Karang,
    5.. MUHAMAD SALA WAULAT, karyawan di Mangole (warga Desa Hitu) yang 
membakar rumah warga Dusun Benteng Karang,
    6.. MUHAMAD PELU, sopir mobil (warga Desa Hitu) yang memotong ibu NON 
SELANNO dan SARAH MAKEWE,
    7.. RADJAB, asal Buton (warga Desa Morela) yang membawa dan membom 
rumah-rumah warga Dusun Benteng Karang
    8.. AMINA PELLU, guru olah raga pada SD Negeri I Hitu (warga Desa Hitu) 
yang mengantar makanan bagi para penyerang.
  Para penyerang dan pembantunya jika ditangkap, diselidiki dan disidik, 
mungkin akan membongkar siapa provokator dibelakang aksi penyerangan ini. Perlu 
juga dikemukakan disini bahwa para saksi mata, baik yang berdomisili di Benteng 
Karang maupun karyawan BBI (Balai Benih Induk - Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 
Maluku), yang berdomisili disekitar Dusun Benteng Karang semula merasa bahwa 
mereka aman-aman saja, karena walaupun warga Dusun Benteng karang yang beragama 
Kristen telah di bunuh dan rumah-rumah mereka telah dimusnahkan, akan tetapi 
mereka masih sempat bersama-sama para karyawan BBI lainnya meloloskan Kepala 
BBI, sdr. SUROSO dan keluarganya yang beragama Islam kearah Dusun Telaga Kodok 
saat pecahnya peristiwa tanggal 20 Januari 1999. namun sdr. SUROSO dan beberapa 
karyawan harian BBI lainnya, antara lain : ACANG, SUGENG (keponakan sdr. 
SUROSO) dan LA ONDE, patut dicurigai turut terlibat dalam kasus ini, baik 
sebagai provokator maupun sebagai saksi mata pembakaran atas rumah-rumah dinas 
BBI dari karyawan yang beragama Kristen, berikut penjarahan atas barang-barang 
mereka diketahui oleh sdr. SUROSO dan para karyawan harian BBI yang 
nama-namanya tersebut di atas. Didalam penyerangan ini, saksi mata juga melihat 
para penyerang sempat merobek bendera merah-putih kebanggaan Bangsa Indonesia, 
dimana bagian putihnya dipergunakan mereka untuk mengikat kepala, sebagai tanda 
dalam penyerangan.

  Perlu ditambahkan bahwa menurut saksi mata yaitu mereka, para warga 
masyarakat Dusun Telaga Kodok dan Benteng Karang bahwa setelah terjadinya 
kerusuhan telah terjadi penjarahan (pencurian) secara besar-besaran yang 
dilakukan oleh pihak penyerang terhadap hasil-hasil pertanian dan ternak-ternak 
mereka. 

  Akibat dari penyerangan ini, warga Kristen Jemaat Telaga Kodok dan Benteng 
Karang mengalami kerugian sebagai berikut :

  a. Dusun Telaga Kodok

       Korban luka berat: 2 orang 
       Korban luka ringan: 4 orang 
       Rumah (terbakar): 38 buah 
       Gereja (terbakar): 1 buah (katolik) 
       Korban mengungsi : 42 KK (174 jiwa) 

  b. Dusun Benteng Karang

       Korban meninggal : 15 orang 
       Korban hilang: 9 orang 
       Korban luka berat: 21 orang 
       Korban luka ringan: 28 orang 
       Rumah (terbakar): 207 buah 
       Gereja (terbakar): 3 buah (GPM, Sidang jemaat Allah dan Logos) 
       Pastori (terbakar): 3 buah (GPM, Sidang Jemaat Allah dan Logos) 
       Balai Pengobatan (terbakar): 1 buah (GPM) 
       Balai Serba Guna (terbakar): 1 buah 
       Sekolah (terbakar): 1 buah (3 ruangan) 
       Koran mengungsi: 209 KK (Kepala Keluarga) atau 1166 jiwa 



2. Rombongan "Bible Camp" GKPB di kompleks Field Station - Universitas 
Pattimura Hilla.

Pada tanggal 17 Januari 1999 kira-kira jam 17.30 WIT, rombongan "Bible Camp" 
dari GKPB (Gereja Kristus Perjanjian Baru) dengan kurang lebih 120 orang, 
berangkat dari Ambon menuju kompleks Field Station Universitas Pattimura di 
Hila untuk melakukan kegiatan "Bible Camp". Direncanakan selama 3 (tiga) hari 
dan mereka baru akan kembali pada tanggal 20 Januari 1999 sekitar jam 11.00 
WIT. 

Pada tanggal 20 Januari, pukul 11.00 WIT tersebut, saat mereka akan 
meninggalkan lokasi kegiatan, mobil yang akan mereka tumpangi ternyata tidak 
mampu menampung seluruh peserta. Rombongan kemudian memutuskan mengutus HENDRIK 
HURSEPUNY, MECKY SAINYAKIT (pendeta) dan supir mobil DEREK MATAHERU untuk pergi 
ke desa Wakal atau sekitarnya mencari mobil tambahan untuk mengangkut rombongan.

Menurut saksi mata, setibanya di desa Wakal, MECKY dan DEREK MATAHERU (supir) 
dikeluarkan dari mobil, langsung di bunuh dan mayatnya kemudian dibawa ke 
Puskesmas Hila, sedangkan mobilnya di bakar dan dibuang kelaut. Sedangkan 
HENDRIK (polisi), karena pernah bertugas di desa Wakal, maka ia dilindungi dan 
tidak dibunuh. 

Sementara rombongan yang menunggu di kompleks Field Station, yang waktu itu 
berada di dalam aula mendengar suara "Allahu Akbar" berulang kali dan ternyata 
para penyerang dengan mobil truck telah datang dan memasuki kompleks Field 
Station untuk menyerang mereka. Mendengar suara-suara tersebut, pimpinan 
rombongan memerintahkan seluruh peserta untuk masuk ke kamar masing-masing 
untuk melindungi diri sambil berdoa.

Sementara berada dalam kamar dan berdoa, penyerang memotong jendela dan pintu 
maupun ambang pintu dan jendela sambil berteriak agar mereka segera keluar, 
kalau tidak mereka akan dibunuh. Karena takut, peserta keluardari kamar 
masing-masing, sementara ada peserta wanita yang berada di dalam kamar dan 
anak-anak yang sudah meloncat dan lari melalui jendela. 

Rombongan yang keluar dari ruangan, kemudian diiring ke lapangan dan sementara 
itu mereka di pukul dan ada yang diseret. Sementara mereka di luar, seorang 
peserta yang kemudian dikenal bernama ROY PONTOH di bunuh dengan cara dipotong, 
yang menurut saksi mata, karena ketika Roy di tanya "kamu siapa?" maka secara 
berulang kali ia menjawab "saya tentara Allah". bersamaan dengan itu peserta 
lain masing-masing HENGKY PATTIWAEL, HERMANUS KURSAIN dan seorang pengawas 
pekerjaan galian parit dalam kompleks Field Station-Universitas Pattimura, yang 
diidentifikasi bernama JOSUA, ikut dibunuh oleh penyerang. Tragisnya setelah 
mereka dibunuh oleh penyerang, mayat-mayat mereka dilemparkan ke dalam got dan 
ditinggalkan begitu saja selama beberapa hari, kemudian baru dievakuasi oleh 
petugas keamanan. Rombongan yang tadi-tadinya digiring keluar ruangan 
(kira-kira 90 orang), kemudian di suruh masuk lagi ke ruangan. Mereka kemudian 
disandera dan bersamaan dengan itu penyerang mengambil/menjarah uang-uang yang 
ada di dalam tas mereka.

Kira-kira pukul 15.00 WIT, terdengar suara speed boat di pantai dan 2 (dua) 
orang penyerang keluar menuju pantai sedangkan penyerang lainnya keluar dan 
mengatakan akan pergi ke Benteng Karang. Ketika para penyerang meninggalkan 
mereka, datang 1 (satu) orang Buton dan mengatakan kepada rombongan yang ada, 
kalau ada mobil yang lewat supaya segera melarikan diri. 

Melihat kondisi tersebut, rombongan segera terpecah menjadi beberapa kelompok, 
diantaranya kelompok anak-anak yang berumur 5 s/d 15 tahun sebanyak 8 (delapan) 
orang yang lari ke arah pantai dan dengan mempergunakan perahu yang sudah 
bocor, mereka berenang ke tengah laut dan kemudian di tolong oleh pengemudi 
perahu motor yang bernama Pak SALEH, warga Asilulu dan disembunyikan di dalam 
kapal rusak di pantai dan selanjutnya atas bantuan Bapak USMAN ELLY, Bapak ASIS 
MAHULETE dan beberapa penduduk, mereka ditampung untuk beberapa hari dan 
akhirnya diserahkan kepada petugas untuk diantar ke Ambon.

Kelompok berikut adalah kelompok anak-anak yang berumur 7 s/d 14 tahun dan 
berjumlah 11 (sebelas) orang, yang melarikan diri ke pantai dan setelah 
berenang beberapa jam di laut, beberapa orang dari mereka kembali ke pantai dan 
meminta bantuan dari seorang kakek dan anaknya yang diketahui sebagai warga 
suku Buton. Rombongan anak-anak ini kemudian ditampung oleh kakek dan anaknya 
tadi, mereka tidur semalam dan kemudian besok paginya tanggal 21 Januari 1999 
mereka di antar lewat hutan menuju Desa Hative-Besar dan di sana mereka 
diserahkan kepada pihak keamanan.

Kelompok lain adalah beberapa kelompok kecil yang melarikan diri ke hutan. 
Kelompok ini, setelah keadaan agak tenang ada yang kembali bergabung dengan 
kelompok yang tetap tinggal di kompleks Field Station-Universitas Pattimura, 
yang kemudian dievakuasi oleh pihak keamanan pada tanggal 21 Januari 1999 di 
Koramil Hitu, sedangkan kelompok lain tetap tinggal di hutan hingga keadaan 
tenang barulah mereka melaporkan diri kepada pihak keamanan dan dibawa ke 
Ambon. Termasuk dalam kelompok ini adalah Ny. TALAHATU dan anaknya yang 
kemudian dievakuasi oleh petugas keamanan ke asrama tentara Waiheru. Khusus 
rombongan yang tetap tinggal di kompleks Field Station-Universitas Pattimura - 
Hila, menurut saksi mata, pada tanggal 20 Januari 1999 pada jam 17.00 WIT, ada 
rombongan penyerang yang berjumlah kira-kira 10 (sepuluh) orang mendatangi 
mereka dan meminta maaf dan mengatakan bahwa yang mereka cari orang laki-laki 
besar (dewasa) bukan anak-anak atau wanita. Jam 23.00 WIT juga datang penyerang 
dan mereka hanya merusak gedung. Dan pada jam 04.00 WIT pagi, tanggal 21 
Januari 1999, ada rombongan penyerang yang datang dengan senter, tetapi mereka 
tidak melihat rombongan "Bible Camp" tersebut. Saksi mata juga menyebutkan pada 
jam 07.00 WIT, tanggal 21 Januari 1999 ada 2 (dua) orang warga Buton yang 
datang dan mengatakan bahwa yang menyerang adalah orang-orang Wakal.

Akibat dari penyerangan tersebut, rombongan "Bible Camp" GKPB mengalami 
kerugian sebagai berikut :

A. Korban meninggal 6 orang, masing-masing :

  a.. Pdt. Ir. MECKY SAINYAKIT (dibunuh)DEREK MATAHERU (dibunuh)ROY PONTOH 
(dibunuh)HENGKY PATTIWAEL (dibunuh)HERMANUS KURSAM Kursam (dibunuh)JOSUA, 
Seorang pengawas pekerjaan parit di dalam kompleks Field Station - Universitas 
Pattimura, Hila (dibunuh)
B. Korban luka ringan karena dipukul dan diseret (hingga kini belum terdata)

C. Hilangnya sejumlah uang karena dijarah oleh penyerang.

3. Dusun Wahatu (Desa Wakal)

Dusun Wahatu (Desa Wakal) pada umumnya berpenduduk warga masyarakat Buton yang 
beragama Islam. Di dusun ini bermukim juga 3 (tiga) keluarga atau 13 
(tigabelas) jiwa yang beragama Kristen, karena para kepala keluarganya 
berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar. Mereka ini ikut menjadi korban kerusuhan 
Ambon, tanggal 20 januari 1999. Menurut para saksi mata sebelum terjadinya 
peristiwa kerusuhan, tanggal 20 Januari 1999, ada seorang warga Desa Wakal yang 
berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar pada Dusun Wahatu, yang bernama MUHAMAD 
PATAH, yang telah memberikan informasi sepanjang Dusun Wahatu menuju desa Hila 
bahwa "siap-siap, ada orang mau serang". 

Dengan informasi ini, para korban terutama ke tiga keluarga Kristen tersebut 
memikirkan bagaimana cara agar mereka dapat menghindarkan diri dari ancaman 
tersebut. Kesempatan mana mereka gunakan untuk bersembunyi pada keluarga 
keluarga asal suku Buton di Dusun Wahatu, diantaranya keluarga LA USU, LA 
MUSLIM dan HASAN.

Kira-kira jam 14.00 WIT, tanggal 20 Januari 1999, ada seorang warga Desa Wakal, 
yang kemudian dikenal bernama YUSUF JAMAL, berteriak-teriak di dalam Dusun 
Wahatu bahwa : "kamu orang Wahatu jangan sembunyi itu orang-orang Kristen, 
keluarkan mereka untuk di bunuh. Orang Kristen itu tidak punya perasaan 
manusia. Dorang cincang anak-anak bayi dalam kandungan ibunya. Katorang orang 
Islam ini punya perasaan manusia sangat tinggi dibandingkan dengan mereka. 
Orang Benteng Karang itu sangat biadab, dorang bakar mesjid Sapuri". (catatan : 
Sapuri terletak antara Dusun Hulung dan Dusun Benteng Karang).

Kemudian kira-kira pada jam 18.00 WIT, muncul seorang warga desa Wakal (tinggal 
di Wahatu), yang dikenal bernama HARIS mencoba untuk merusak rumah keluarga 
LEHA (salah satu dari 3 keluarga kristen yang menyembunyikan diri), namun tidak 
berhasil.

Menurut saksi mata, pada tanggal 21 Januari 1999, terjadi pelemparan pada 
rumah-rumah guru oleh para pemuda Desa Wakal dan mereka mengancam untuk 
membakar rumah-rumah guru tersebut. Namun usaha mereka ini di halang-halangi 
oleh warga Buton Dusun Wahatu yang masih simpati kepada 3 (tiga) keluarga guru 
yang beragama kristen tersebut. Sementara itu datang informasi bahwa sekitar 
malam hari, rumah-rumah warga Dusun Wahatu akan di geledah, jangan sampai ada 
warga Dusun Wahatu yang menyembunyikan orang-orang Kristen. Mengantisipasi 
informasi tersebut, maka pada hari kamis, tanggal 21 Januari 1999, beberapa 
warga suku Buton Dusun Wahatu mengantar (melarikan) para guru tersebut bersama 
keluarganya ke hutan dan bersembunyi di rumah-rumah kebun mereka secara 
terpisah antara satu kelaurga dengan keluarga lainnya. 

Selanjutnya, pada hari Jumat, tanggal 22 Januari 1999, keluarga guru-guru 
tersebut disatukan lagi dan mereka diungsikan ke hutan yang jauh dari petuanan 
Desa Wakal untuk menghindari diri dari kejaran para perusuh (warga desa Wakal). 
Ketiga keluarga tersebut ditempatkan oleh para orang Buton Dusun Wahatu 
tersebut di atas gunung yang agak curam, yang berjarak kurang lebih 3 (tiga) km 
dari Dusun Wahatu. 

Bersamaan dengan itu, diperoleh informasi bahwa rumah keluarga LEHA sudah 
dirusak beserta barang-barangnya, malah orang-orang Wakal mengancam untuk 
membakarnya, namun dihalang-halangi oleh warga Dusun Wahatu.

Kemudian pada hari minggu, tanggal 24 Januari 1999, kira-kira jam 17.00 WIT, 
beberapa orang Buton menyampaikan kepada para keluarga tersebut bahwa mereka 
sudah melapor kepada pihak keamanan (Koramil Leihitu), dan para keluarga 
tersebut segera turun dari gunung dan tiba di Dusun Wahatu kira-kira jam 18.00 
WIT, dan setelah agak malam, dengan bantuan 2 (dua) orang anggota Koramil, 
mereka di antar ke Pos Koramil Leihitu. Besoknya tanggal 25 Januari 1999, 
kira-kira jam 12.00 WIT, ketiga keluarga tersebut kemudian diantar ke tempat 
penampungan Den Zipur 5, Desa Rumah Tiga.

Akibat penyerangan tersebut, 1 (satu) buah rumah hancur akibat di rusak oleh 
warga masyarakat Desa Wakal dan korban mengungsi 3 KK atau 13 jiwa.



4. Desa Hative-Besar dan Dusun Kamiri

Kerusuhan kota Ambon yang dimulai tanggal 19 January 1999 telah mengakibatkan 
pengungsian warga masyarakat ke beberapa desa pinggiran yang untuk sementara 
dianggap aman. Bersamaan dengan itu, pada tanggal 20 Januari 1999, kira-kira 
jam 04.00 s/d 10.30 WIT, Dusun Kamiri - Desa Hative Besar berdatangan warga 
masyarakat dari pantai pasar (pasar Ambon lama) dengan mempergunakan angkutan 
laut, speed boat. 

Menyikapi kondisi tersebut, maka Kepala Desa Hative Besar dengan dibantu oleh 
aparat keamanan (Kapolsek Baguala) berusaha untuk menekan arus pengungsian 
tersebut dengan meminta agar pengungsi tidak turun ke darat di Dusun Kamiri. 
Namun usaha ini sia-sia, karena ketika Kepala Desa dan pihak keamanan 
meninggalkan lokasi, para pengungsi tetap tinggal dan malah tetap berlabuh di 
tengah-tengah laut.

Sekitar kira-kira jam 12.00 WIT, para pengungsi yang berada di tengah laut 
tersebut merapat dan kembali menurunkan masyarakat di Dusun Kamiri. Kehadiran 
para pengungsi di Dusun Kamiri tersebut, oleh warga masyarkat Desa Hative Besar 
yang beragama Kristen di sekitar Dusun Kamiri di anggap sebagai ancaman 
terhadap mereka. 

Karena itu, kira-kira pukul 14.00 WIT, mereka meminta bantuan warga Kristen 
dari Dusun Souhuru dan Dusun Waalia untuk menjaga perbatasan antara orang-orang 
Islam dan orang-orang Kristen di Desa Kamiri.

Menjelang pukul 17.30 WIT, ada tindakan saling melempar batu dari kedua belah 
pihak, tanpa diketahui siapa yang melempar lebih dulu, diikuti dengan tindakan 
saling menyerang diantara warga kedua belah pihak terjadi pada pukul 17.30 WIT, 
dengan mempergunakan berbagai alat tajam seperti parang, tombak, panah dan 
batu. 

Dalam penyerangan ini, warga Kristen Hative Besar sempat membakar sebuah kios 
milik warga Buton yang terletak di ujung kali Wailete. Tindakan pembakaran kios 
tersebut dibalas dengan pembakaran 1 (satu) buah gudang milik toko Mas Umum, 4 
(empat) buah rumah guru diluar pagar tembok sekolah, 2 (dua) buah rumah milik 
warga kristen yang berdekatan dengan rumah guru dan merusak 2 (dua) rumah warga 
Kristen beserta segala isinya oleh warga Buton, Bugis dan Makasar, yang 
berdomisili di Dusun Kamiri bersama-sama dengan para pengungsi yang datang dari 
Ambon. Kejadian ini berlangsung hingga pukul 23.30 WIT.

Setelah itu keadaan menjadi tenang, datang informasi (tidak diketahui siapa 
yang membawa informasi tersebut) bahwa orang-orang Buton, Bugis dan Makasar 
akan kembali menyerang warga Hative Besar pada jam 04.00 WIT, tanggal 21 
Januari 1999. 

Informasi tersebut ternyata benar, pada tanggal 21 Januari 1999, kira-kira jam 
05.00 WIT, warga masyarakat Buton, Bugis dan Makasar (beragama Islam) kembali 
membakar 8 (delapan) buah rumah guru yang ada di dalam kompleks sekolah dan 7 
(tujuh) buah rumah penduduk yang beragma Kristen. Pembakaran tersebut di balas 
oleh warga masyarakat Kristen Hative Besar dengan membakar habis seluruh rumah 
penduduk, rumah ibadah dan berbagai sarana/prasarana lainnya di Dusun Kamiri. 

Para saksi mata menjelaskan, dalam serangan pagi itu, masyarakat Buton, Bugis 
dan Makasar di Dusun Kamiri sempat mempergunakan 6 (enam) buah lampu sorot, dan 
sebagian lampu itu dirusak oleh warga masyarakat Hative Besar. 

Terlepas dari alasan-alasan yang sudah dijelaskan diatas, yang menjadi pemicu 
dalam peristiwa ini, namun perlu diperhatikan bahwa sebelum terjadinya 
peristiwa ini, pada bulan Desember 1998, pernah terjadi pembakaran sebuah kios 
minyak milik warga Buton di dusun Kamiri oleh warga Hative Besar setelah 
terjadinya suatu peristiwa kriminal biasa, yang juga dapat dijadikan salah satu 
sebab terjadinya peristiwa tersebut.

Akibat dari peristiwa tersebut, jatuh korban dan kerugian materil lain yang 
dapat diperinci sebagai berikut :

I. Pihak Desa Hative Besar (warga Kristen)

     Rumah terbakar : 30 buah 
     Sekolah terbakar : 1 buah 
     Gudang toko Mas Umum terbakar: 1 buah 
     Rumah yang dirusak: 4 buah 
     Korban mengungsi : 31 KK (Kepala Keluarga) atau 137 jiwa 

II. Pihak Dusun Kamiri

     Korban meninggal : 4 orang, namanya belum diketahui 
     Korban luka berat: 10 orang (dirawat di rumah sakit) 
     Korban luka ringan: ± 100 orang (pengobatan di asrama 733 Waiyame) 
     Rumah terbakar: 122 buah rumah 
     Mesjid terbakar: 1 buah 
     Mushola terbakar: 1 buah 
     Speed Boat terbakar: 3 buah 
     Korban mengungsi: 163 KK (Kepala Keluarga) atau 654 jiwa 



5. Dusun Hila Kristen - Desa Kaitetu

Kerusuhan Ambon yang dimulai tanggal 19 Januari 1999 berdampak pula di Dusun 
Hila Kristen - Desa Kaitetu.

Pada tanggal 19 Januari 1999, antara jam 14.00 s/d 15.00 WIT, ada beberapa 
warga Dusun Hila Kristen yang menerima informasi dari Ambon bahwa di Kota Ambon 
telah terjadi kerusuhan antara warga Desa Batu Merah dengan warga masyarakat 
Mardika. Berdasarkan informasi tersebut, staf perangkat Dusun Hila Kristen, 
saudara FERDINAND LEIWAKABESSY serta seorang tokoh masyarakat Kristen Dusun 
Hila Kristen, saudara PETRUS TAMTELAHITU, mengambil prakarsa mengadakan 
pertemuan dengan para pemuda dusun Hila Kristen yang direncanakan akan 
berlangsung pada jam 20.00 WIT bertempat dirumah saudara FERDINAND 
LEIWAKABESSY. 

Rapat tersebut akhirnya berlangsung pada jam 20.00 WIT, dimana dalam pertemuan 
tersebut saudara H. LESBASA SH memberikan pengarahan yang pada prinsipnya 
meminta agar para pemuda Dusun Hila Kristen tidak perlu terpancing dengan 
peristiwa di kota Ambon, namun perlu mewaspadai setiap perkembangan. Untuk itu 
perlu digiatkan siskamling.

Pada tanggal 20 Januari 1999, kira-kira jam 08.00 WIT, saudara ISMAIL SELLANG 
(warga Desa Hila Islam) memberitahukan kepada beberapa warga Dusun Hila Kristen 
bahwa warga Desa Wakal akan menyerang warga Dusun Hila Kristen, tetapi jangan 
takut, karena warga Desa Hila Islam akan siap untuk menghadapi / mengusir 
mereka. Jadi tenang saja di rumah masing-masing.

Kira-kira jam 09.30 WIT datang seorang anggota Polres P. Ambon, warga Desa 
Kaitetu yang bernama IMRAN TATISINA, yang memberitahukan kepada saudara H. 
LESBASA SH, bahwa Bapak dan warga Desa Hila Kristen harap tenang saja di rumah 
masing-masing tidak perlu terpengaruh dengan berita-berita yang tidak jelas 
sumbernya. 

Kemudian, sekitar jam 09.45 WIT, saudara ISMAIL SELLANG (warga Desa Hila Islam) 
kembali mendatangi saudara H. LESBASA SH dan mengatakan bahwa Bapak serta warga 
Desa Hila Kristen tetap tenang saja di rumah masing-masing karena warga Desa 
Hila Islam yang akan siap untuk menghadapi orang-orang Wakal apabila mereka 
masuk menyerang warga Dusun Hila Kristen. Selanjutnya, saudara ISMAIL SELLANG 
mengatakan bahwa apabila melihat orang-orang yang bukan warga Desa Hila, potong 
(bacok) saja dan buang mayatnya.

Kira-kira jam 10.30 WIT, saudara SALEH OLLONG memberitahukan kepada saudara H. 
LESBASA SH bahwa "bung, jangan takut, tenang saja dirumah masing-masing, nanti 
orang Hila Islam yang akan menhadang orang Wakal apabila mereka berani masuk 
menyerang warga Dusun Hila Kristen".

Namun, apa yang dijanjikan oleh warga Desa Hila Islam, masing-masing ISMAIL 
SELLANG dan SALEH OLLONG maupun anggota Polres P. Ambon warga Desa Kaitetu, 
saudara IMRAN TATISINA itu tidak menjadi kenyataan.

Hal ini disebabkan karena pada kira-kira jam 12.00 s/d 13.00 WIT, mulai tampak 
beberapa warga Desa Hila Islam dengan memakai ikat kepala berwarna putih 
memasuki dan berkeliaran di ujung-ujung jalan perbatasan antara Desa Hila Islam 
dan Dusun Hila Kristen.

Menurut saksi mata, pada kira-kira jam 01.30 WIT, tanggal 21 Januari 1999, 
tampak masa dari Desa Hila Islam dengan menyerukan "ALLAHU AKBAR .... ALLAHU 
AKBAR" secara berulang kali, mulai melakukan pelemparan batu terhadap 
rumah-rumah penduduk warga Dusun Hila Kristen yang diikuti dengan pembakaran 
beberapa buah rumah penduduk Dusun Hila Kristen serta gedung Gereja Tua Imanuel.

Akibat penyerangan tersebut (pembakaran rumah penduduk dan Gereja Tua Imanuel), 
maka warga Dusun Hila Kristen menjadi panik serta lari dan menghindarkan diri 
di rumah-rumah penduduk Desa Kaitetu (beragama Islam), sedangkan ada beberapa 
warga Dusun Hila Kristen lainnya yang berusaha untuk mempertahankan gedung 
Gereja Imanuel, namun usaha mereka menjadi sia-sia akibat serbuan yang 
datangnya secara bergelombang dari warga Desa Hila Islam.

Menurut saksi mata, beberapa dari warga Desa Hila Islam yang sempat mereka 
kenal dalam peristiwa pembakaran rumah-rumah penduduk dan Gedung Gereja Imanuel 
ini, antara lain :

  a.. MOKHTAR TATISINABUANG SELAYARRAJAB ELLYMUSTAFA SOPALIUMUCHLIS 
LATINGSALMAN TATISINAJUSUF LOLI alias TAKUT NASIMUDRIK MAHULAUISNAEN 
TATISINAJUSUF LATINGJUNEN HATALAARIFIN LATINGIBRAHIM HATALAUMAR HASAWALASAIFUL 
KAPITANHITUAKHMAD LATINGDUMAIN ULUSELANGSAMIUN LATING (wanita)
Para saksi mata juga menjelaskan bahwa pada saat terjadinya aksi pelemparan 
batu terhadap rumah-rumah penduduk warga Dusun Hila Kristen yang dilakukan oleh 
warga Desa Hila Islam, tampak ada beberapa anggota ABRI dan salah satu 
diantaranya adalah Babinsa, dimana anggota-anggota ABRI tersebut tidak 
melakukan upaya apa-apa untuk mencegah atau menghalangi para penyerang/perusuh 
tersebut.

Selain itu, beberapa saksi mata yang turut dalam evakuasi mayat korban AGUS 
MATINAHORU sempat menyaksikan bagian depan mimbar Gereja Imanuel, setelah 
Gereja tersebut dibakar, terdapat bekas galian besar. Diduga, para penyerang 
(perusuh) ingin mengetahui apa benar ada harta karun yang disimpan didalam 
Gereja Tua tersebut.

Akibat dari penyerangan tersebut, warga Desa Hila Kristen mengalami kerugian 
sebagai berikut :

     Korban meninggal : 1 orang 
     Korban luka berat: 2 orang 
     Korban luka ringan: 1 orang 
     Rumah penduduk terbakar: 60 buah 
     Gereja terbakar: 1 buah 
     Korban mengungsi: 119 KK (Kepala Keluarga) atau 551 jiwa 





HASIL ANALISA SEMENTARA

ADVOKASI KERUSUHAN UNTUK BERAPA LOKASI

DI LUAR PULAU AMBON

(Telaga Kodok, Benteng Karang, Wahatu, Kelompok "Bible Camp",

Hilla Kristen dan Hative Besar)

Berdasarkan kronologis peristiwa sebagaimana diuraikan di muka, maka dapat 
dilakukan analisis sebagai berikut :

I. PRA PERISTIWA KERUSUHAN

Dari data yang ada, ditemukan beberapa fakta sebagai berikut :

  a.. Pada tanggal 16 Januari 1999 Kepala Dusun Benteng Karang dan seorang 
warganya dilaporkan oleh Kepala Dusun Hulung, seorang warga Suku Bugis dan 
Buton yang berdomisili di Dusun Hulung dan Sapuri ke Polsek Hitu bahwa Dusun 
Benteng Karang akan menyerang Dusun Hulung, padahal laporan ini tidak benar.
  b.. Pada pagi hari sebelum penyerangan terhadap Dusun Telaga Kodok dan Dusun 
Benteng Karang, muncul informasi yang disampaikan di Dusun Wahatu Desa Wakal 
kepada 3 (tiga) kepala keluarga (KK) guru yang beragama Kristen dari seorang 
warga Wakal bahwa "siap-siap ada orang mau serang".
  c.. Sebelum terjadi penyerangan di lokasi Telaga Kodok dan Benteng Karang, 
maka berdasarkan informasi bahwa akan ada penyerangan kepada masyarakat Benteng 
Karang. Hal tersebut telah dilaporkan kepada petugas Kepolisian pada Pos 
Simpatik di Telaga Kodok. Tetapi Polisi memberikan jaminan tidak akan ada 
apa-apa.
  d.. Sebelum penyerangan ditemukan seorang warga Desa Hitu yang mengendarai 
mobil di ujung Dusun Benteng Karang ke arah Ambon dan yang bersangkutan pada 
tanggal 21 Januari 1999 pukul 04.00 WIT diserbu masa di desa Rumahtiga karena 
diduga sebagai pemberi informasi ke Desa Hitu tentang kerusuhan di Ambon dan 
Rumahtiga.
  e.. Adanya tindakan akal-akalan dari penyerang yang dengan sengaja mengelabui 
petugas dan masyarakat bahwa mereka tidak akan menyerang, tetapi akan pergi 
takbiran ke Ambon.
Dari fakta-fakta di atas kesimpulan sementara adalah naluri intelejen keamanan 
kurang profesional untuk menangkap dan mengkaji isu-isu dalam masyarakat dan 
seyogianya polisi harus segera melakukan penyelidikan dan penyidikan kepada 
Kepala Dusun Hulung, serta 2 (dua) orang warga Buton/Bugis yang menyebarkan isu 
yang tidak benar, sekaligus warga Desa Wakal yang setidak-tidaknya mengetahui 
adanya informasi penyerangan tersebut atau warga Hitu yang melakukan hubungan 
komunikasi ke Desa Hitu demikian pula kepada Pegawai Kantor Pariwisata yang 
menerangkan mereka akan takbiran ke Ambon untuk membuka tabir peristiwa ini.

II. SAAT KEJADIAN

  1. Dari data yang ditemukan di lapangan ditemukan beberap fakta yang perlu 
diungkapkan :

    1.1. Kerusuhan terjadi hampir dalam waktu yang bersamaan, yaitu pada 
tanggal 20 Januari 1999, antara jam 09.00 s/d 10.00 WIT.

    1.2. Perusuh dalam jumlah yang cukup banyak dengan mempergunakan alat-alat 
tajam seperti parang, samurai, panah-panah, tombak, bom dan lain-lainnya dalam 
jumlah yang banyak.

    1.3. Penyerang datang dari berbagai desa yang jarak antara lokasi yang satu 
dengan lokasi yang lain cukup berjauhan, sehingga dipertanyakan bagaimana 
mereka dapat dikumpulkan dalam waktu yang relatif singkat untuk melakukan 
penyerangan.

    1.4. Pola penyerangan yang dilakukan penyerang sangat rapi. Contoh pada 
Dusun Telaga Kodok dan Benteng Karang, penyerang membentuk beberapa kelompok 
setidak-tidak 3 (tiga kelompok), dimana kelompok pertama berperan sebagai 
orang-orang yang mengusir rakyat yang mempertahankan diri kemudian memberi 
tanda pada rumah yang muslim dan non muslim. Kelompok kedua berperan sebagai 
orang-orang yang membunuh, membom dan membakar rumah-rumah rakyat, rumah-rumah 
ibadah serta sarana prasarana umum lain dan kelompok ketiga adalah orang-orang 
yang menjarah (mencuri harta milik rakyat).

    1.5. Pada umumnya penyerang mempergunakan tanda-tanda khusus seperti ikat 
kepala putih di kepala dan lengan, malah di Dusun Benteng Karang bendera merah 
putih kebanggaan kita dirobek dan diambil bagian putihnya untuk mengikat kepala.

    1.6. Pada lokasi tertentu seperti Dusun Kemiri Desa Hative Besar, penyerang 
yang berasal dari Dusun Kemiri dalam penyerangan mempergunakan 6 (enam) buah 
lampu sorot.

    1.7. Kaum wanita dari kelompok penyerang ada yang membawa makan (bekal) 
kepada penyerang.

    1.8. Pada beberapa lokasi kejadian ada warga dari golongan agama tertentu 
beberapa hari sebelum terjadinya peristiwa telah meninggalkan ruman dan 
keluarganya.

    Dari data-data di atas, kesimpulan sementara yang dapat ditarik adalah 
penyerangan sudah disiapkan dan atau direncanakan lebih dahulu.

  2. Saat penyerangan berlangsung ditemukan fakta-fakta sebagai berikut :

    2.1. Sasaran penyerangan adalah membunuh warga, membakar rumah penduduk, 
rumah ibadah dan prasarana umum lainnya antara kelompok non muslim dan kelompok 
bukan non muslim (Islam dan Kristen).

    2.2. Dalam penyerangan terdapat sejumlah warga yang dibunuh dan mayatnya 
dibuang dan dibakar ke dalam reruntuhan rumah yang sementara dibakar, wanita 
hamil yang dibunuh perutnya dibelah dan dikeluarkan janinnya, anak kecil 
disandera untuk dijadikan tameng.

    2.3. Adanya keterlibatan beberapa Pegawai Negeri (instansi pemerintah dan 
guru-guru) dalam penyerangan ini.

    Dari data-data di atas, kesimpulan sementara yang dapat ditarik adalah 
adanya niat para penyerang datang dari berbagai kelompok masyarakat yang 
berusaha melakukan tindakan-tindakan sadis tanpa memandang bulu dan berusaha 
untuk menghilangkan jejak pada korban.

  3. Yang dapat dijadikan tersangka

    Terlepas dari pernyatan pemerintah khususnya aparat keamanan bahwa 
kerusuhan ini didalangi oleh provokator, namun siapa itu provokator, akhirnya 
juga tidak jelas, dan mungkin saja bisa dijadikan kambing hitam terhadap 
kerusuhan ini dan akhirnya hilang tanpa jejak. 

    Sehubungan dengan itu, dan berdasarkan data-data di lapangan, dimohon 
perhatian terhadap hal-hal sebagai berikut :

      3.1. Segera dilakukan koordinasi dengan aparat keamanan di daerah untuk 
mengungkapkan siapa sebenarnya provokator yang disebut-sebut dalam kerusuhan 
ini.

      3.2. Perlu mengungkap kasus kerusuhan ini, melalui beberapa nama yang 
sudah disebut-sebut korban, sebagai yang ikut membunuh, membakar dan menjarah 
warga masyarakat yang menjadi korban kerusuhan. 

    4. Peran Aparat Keamanan.

    Dari data yang dikumpulkan, terungkap fakta sebagai berikut :

      4.1. Sebelum terjadinya peristiwa kerusuhan, Aparat Keamanan (Telaga 
Kodok dan Benteng Karang) memberi jaminan kepada masyarakat bahwa tidak akan 
terjadi apa-apa. Namun setelah kejadian, mereka meninggalkan lokasi kejadian.

      4.2. Di Dusun Benteng Karang, ada 4 petugas Keamanan yang datang saat 
terjadinya penyerangan, namun setelah melakukan beberapa tembakan ke udara, 
petugas tersebut malah memperlihatkan nama yang ada di dadanya kepada perusuh, 
saling berpelukan dengan perusuh kemudian pergi meninggalkan tempat kejadian.

      4.3. Di antara Desa Hunuth dan Waiheru menuju ke Nania, terdapat 2 (dua) 
asrama tentara besar. Perlu dipertanyakan mengapa perusuh lolos membunuh, 
membakar rumah-rumah ibadah dan berbagai fasilitas umum lainnya.

    Dari fakta-fakta di atas, perlu diungkapkan sejauh mana peranan pihak 
keamanan dalam kerusuhan ini.

  5. Korban kerusuhan

    Dari data yang dikumpulkan di lapangan, maka untuk sementara dapat 
disampaikan informasi sebagai berikut :

    5.1. Dusun Telaga Kodok

         Luka berat: 3 orang 
         Luka ringan: 4 orang 
         Rumah penduduk terbakar: 29 buah 
         Gereja Katolik terbakar: 1 buah 
         Korban mengungsi: 42 KK (Kepala Keluarga) atau 174 jiwa 

    5.2. Dusun Benteng Karang

         Korban meninggal: 15 orang (4 orang teridentifikasi dan 11 orang tidak 
teridentifikasi) 
         Hilang/belum diketahui nasibnya : 9 orang 
         Luka berat: 21 orang 
         Luka ringan: 28 orang 
         Rumah terbakar: 207 buah 
         Gereja: 3 buah 
         Pastori: 3 buah 
         Balai Pengobatan: 1 buah 
         Balai Serba Guna: 1 buah 
         Sekolah: 1 buah 
         Korban mengungsi : 209 KK (Kepala keluarga) atau 1166 jiwa 

    5.3. Desa Hative Besar

         Rumah terbakar: 30 buah 
         Sekolah terbakar: 1 buah 
         Gudang terbakar: 1 buah 
         Rumah yang dirusak: 4 buah 
         Korban mengungsi: 31 KK (Kepala Keluarga) atau 137 jiwa 

    5.4. Dusun Kamiri

         Korban meninggal: 4 orang 
         Luka berat: 10 orang 
         Luka ringan: ± 100 buah 
         Rumah terbakar: 122 buah 
         Mesjid terbakar: 1 buah 
         Mushola terbakar: 1 buah 
         Speed Boat terbakar: 3 buah 
         Korban mengungsi: 163 KK (Kepala Keluarga) atau 654 jiwa 

    5.5. Rombongan "Bible Camp" di kompleks Field Station, Universitas 
Pattimura - Hila

         Korban meninggal : 6 orang 

    5.6. Dusun Wahatu (desa Wakal)

         Rumah dirusak: 1 buah 
         Korban mengungsi: 3 KK (Kepala Keluarga) atau 13 jiwa 

    5.7. Desa Hila Kristen

         Korban meninggal : 1 orang 
         Luka berat: 2 orang 
         Luka ringan: 1 orang 
         Rumah terbakar: 60 buah 
         Gereja terbakar: 1 buah 
         Korban mengungsi: 119 KK (Kepala Keluarga) atau 551 jiwa 

III. PASCA KERUSUHAN

Kini pihak keamanan menyatakan 'keadaan telah aman terkendali', tetapi ada 
beberapa hal yang perlu diperhatikan :

  a.. Perasaan tidak aman dari masyarakat/banyak isu tentang kemungkinan 
terjadi kerusuhan lagi,
  b.. Masih terdapat mayat-mayat yang tidak jelas asal-usul pembunuhannya,
  c.. Belum adanya Tim Pencari Fakta yang dibentuk secara independent dan 
representatif untuk mengungkap kasus kerusuhan ini, termasuk mendata korban dan 
kerugian yang diderita,
  d.. Aparat Kepolisian tidak berperan maksimal untuk memulai pemeriksaan kasus 
(kalaupun ada hanya menangkap dan memproses orang-orang yang terlibat sebagai 
akibat mereka mempertahankan diri dan harta mereka,
  e.. Pemeriksaan terhadap orang-orang yang menjadi akibat dari kerusuhan, 
karena mempertahankan diri, dilakukan secara tidak prosedural dengan melibatkan 
POM ABRI, yang menurut Undang-Undang tidak berwenang dalam proses penyidikan,
  f.. Menurut informasi, Pihak Keamanan telah melakukan pelanggaran Hak-hak 
Asasi Manusia (HAM) terhadap tersangka yang diperiksa atau mereka yang dimintai 
keterangan, dalam bentuk penganiayaan (pemukulan dan lain-lain sebagainya),
  g.. Telah terjadi penjarahan secara besar-besaran terhadap harta milik 
penduduk, tanpa ada perlindungan dari pihak keamanan,
  h.. Pemakaman terhadap korban yang meninggal dilakukan tanpa melalui prosedur 
hukum (tidak diidentifikasi),
  i.. Belum ada usaha untuk mencari korban-korban yang hilang (yang belum 
ditemukan),
  j.. Belum ada upaya untuk meminta keterangan dari pihak keamanan yang tidak 
melindungi rakyat, malah membiarkan perusuh menyerang, membunuh dan membakar 
rumah-rumah penduduk,
  k.. Diantara pengungsi, ada anak sekolah dan pegawai yang belum mengetahui 
bagaimana nasib mereka selanjutnya.
  l.. Penanganan korban belum dilakukan sebagaimana mestinya dalam kedudukan 
dan martabatnya sebagai seorang manusia dan seorang warga negara, antara lain : 

    12.1. Penempatan korban untuk beberapa lokasi tertentu, masih dilakukanpada 
lapangan terbuka.

    12.2. Makanan yang disediakan oleh pemerintah (Departemen Sosial) 
hanyaberupa beras dan supermi.

    12.3. Kesehatan kurang mendapat perhatian.

    12.4. Korban masih dibebani membayar harga rumah sakit.

  m.. Bantuan-bantuan yang diberikan belum jelas penyalurannya kepada korban.



IV. HAL-HAL LAIN

Memperhatikan latar belakang kerusuhan Ambon, berikut pola kerjanya maka dapat 
dikemukakan beberapa hal sebagai berikut :

  a.. Secara nasional kerusuhan Ambon tidak dapat dilepaskan dari beberapa 
kerusuhan lain yang terjadi akhir-akhir ini di beberapa daerah lain. Karena itu 
pemerintah dan pihak keamanan perlu mengambil langkah-langkah untuk 
mengungkapkan hubungan antara kerusuhan Ambon dengan kerusuhan di daerah-daerah 
lain, latar belakang, siapa-siapa saja yang berada di belakang kerusuhan ini, 
kemudian menjelaskannya secara transparan serta mengajukan pelakunya ke depan 
Pengadilan.
  b.. Perkembangan akhir-akhir ini menunjukan adanya kecenderungan dari 
berbagai pihak untuk mengalihkan perhatian masyarakat, seakan-akan kerusuhan 
Ambon didalangi oleh gerakan separatis RMS. Hal ini tidak benar, karena itu 
diperlukan tindakan-tindakan konkrit untuk mengklarifikasinya.
V. REKOMENDASI

Dari hal-hal yang diuraikan di atas dirasa perlu untuk merekomendasikan hal-hal 
sebagai berikut :

  1. Agar mendesak Pemerintah Pusat dan Daerah serta pihak keamanan untuk 
segera mengungkapkan :

    1.1. Hubungan antara kerusuhan Ambon dengan beberapa kerusuhan di daerah 
lain, mengungkapkan latar belakang kerusuhan, mengungkapkan para pelakunya 
serta menjelaskan hal-hal tersebut secara transparan kepada masyarakat.

    12. Agar segera memberikan klarifikasi secara transparan tentang isu-isu 
yang tidak benar seakan-akan kerusuhan Ambon didalangi oleh RMS.

  2. Agar Pemerintah Daerah, Aparat Keamanan di daerah segera membentuk Tim 
Pencari Fakta yang idenpendent (diharapkan melibatkan unsur LSM) untuk :

    2.1. Mencari fakta yang jelas tentang latar belakang terjadinya kerusuhan 
di Pulau Ambon, jumlah kerugian materil (rumah penduduk, rumah ibadah/sarana 
parasarana lainnya, harta milik rakyat), korban meninggal, korban hilang dan 
korban luka (berat, ringan, dll).

    2.2. Mengungkapkan data-data tersebut secara transparan kepada masyarakat.

  3. Agar aparat Kepolisian di daerah dapat dan segera :

    3.1. Memproses secar hukum para pelaku kerusuhan baik mereka yang diduga 
sebagai provokator, yang memberikan isu-isu yang tidak benar, para pelaku 
pembunuhan, penganiayaan, pembakaran dan penjarahan selama kerusuhan 
berlangsung.

    3.2. Melakukan pencarian data dan identifikasi korban meninggal menurut 
prosedur hukum yang berlaku serta melakukan pencarian terhadap terhadap korban 
hilang atau yang hingga kini belum ditemukan.

    3.3. Mengumumkan hasil-hasilnya secara transparan kepada masyarakat.

  4. Agar aparat keamanan didalam penanganan kasus kerusuhan tetap menghargai 
"azas praduga tidak bersalah" serta menjaga harkat dan martabat Hak Azasi 
Manusia. Demikian pula tidak melakukan tindakan-tindakan dalam rangka 
mengungkapkan kasus kerusuhan Ambon dengan cara melanggar hukum.

  5. Agar segera dilakukan proses hukum untuk memeriksa anggota keamanan yang 
memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat, namun pada saat terjadi 
kerusuhan meninggalkan lokasi kejadian.

  6. Agar pihak keamanan dapat melakukan pengamanan di tempat kejadian untuk 
melindungi harta milik masyarakat yang ada.

  7. Agar Pemerintah Daerah segera melakukan koordinasi dengan berbagai pihak 
untuk :

    7.1. Menangani korban di lokasi-lokasi pengungsian dengan memperha-tikan 
tempat penampungan, kesehatan (gizi), perawatan korban yang luka, pakaian dan 
lain-lain sebagainya.

    7.2. Menangani para pegawai negeri dan anak-anak sekolah yang tidak dapat 
melaksanakan tugasnya atau belum dapat kembali mengecap pendidikan, karena 
sarana pendidikan (sekolah) terbakar, lokasi sekolah di tempat-tempat yang 
rawan kerusuhan atau karena harta benda mereka musnah terbakar.



    Ambon, 1 Pebruari 1999

    YAYASAN SALA WAKU MALUKU



    HENGKY HATTU, SH.

    Direktur Eksekutif





  ----- Original Message ----- 
  From: Mhoel 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, September 27, 2006 10:50 AM
  Subject: Re: [ppiindia] Tibo dkk : Eksekusi Kami Didepan Umum!!



  Bos, wilayah timur itu paling rawan dan sering bergolak, ya Ambon, Poso,
  NTT. Soal bom-bom bbrp tahun lalu, itu terjadi merata di Indonesia, termasuk
  di Jakarta. Yang berbeda adalah saya tidak membela pelakunya. Saya sangat
  sangat setuju pelakunya dihukum mati. Saya tidak peduli kalo dia muslim
  sekali pun....

  Tidak ada yg se-seram2 seperti yang juga pernah terjadi di Maluku...

  source: http://www.mer-c.org/mc/ina/news/1999/nw_hlr0099_fakta.htm

  TRAGEDI HALMAHERA, SEBUAH FAKTA

  1999

  ----------------------------------------------------------
  ----

  Maluku adalah salah satu propinsi di Republik Indonesia yang dikenal
  dengan kawasan Seribu Pulau serta memiliki keanekaragaman sosial budaya dan
  kekayaan alam yang berlimpah. Secara historis, Maluku terdiri dari
  kerajaan-kerajaan Islam yang menguasai pulau-pulau tersebut. Oleh karena
  itu, diberi nama Maluku yang berasal dari kata Al Mulk yang berarti Tanah
  Raja-raja.

  Abad ke-16 Portugis datang ke Maluku melakukan penjajahan sambil menyebarkan
  agama Kristen. Awal abad ke-7, Belanda datang mengusir Portugis, menjajah
  Maluku, dan menyebarkan misi yang sama. Dengan datangnya kedua negara ini,
  agama Kristen mulai berkembang di Maluku. Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI,
  pada tahun 1950 terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh masyarakat Kristen

  . 
   

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke