AKSI  MOGOK  MAKAN  MENENTANG  EKSEKUSI  TAPOL PKI
      
Sepercik Kisah Perlawanan Anak Negeri di Rantau    
   
  Oleh  NGADIRAN
 
 
Memasuki dekade terakhir abad XX banyak teman di Belanda dihadapkan pada 
tan­tangan keras ketika bertekad meneruskan perjuangan ke arah perbaikan 
situasi HAM di Indo­ne­sia. Kami tidak mampu mengimbangi gemuruh 
pemberitaan pergolakan seru di Eropa Ti­mur. Dan perlawanan di tanah air 
pun tak menampakkan batang hidungnya, bak sedang ber­tia­rap. Tiba-tiba 
gairah pun muncul ketika sementara cendekia-aktivis muda di tanah air 
ber­ha­sil mengak­tual­kan Sumpah Pemuda: Satu tanah air, tanah 
air yang bebas dari penindasan; satu bangsa, bangsa yang cinta damai; satu 
bahasa, bahasa yang menjunjung kebenaran.
   
  Segera kami berusaha mengulangi niat untuk lebih menyatukan diri dengan derap 
usaha teman-teman di tanah air. Serangkaian gerak tampak bermunculan bagai 
silih berganti. Risalah Demi Demokrasi kami terbitkan, namun Jaksa Agung 
Sukarton cepat sekali melarang peredarannya. Teman-teman Bandung amat sigap dan 
tampak menjawab dengan menyiarkan Neraca HAM. Kelompok diskusi merebak di 
mana-mana, demikian pula dengan pembentukan ormas guna menangani masalah kaum 
tani dan buruh. Kampus ITB bergolak dan para maha­sis­wa Yogya pun 
gencar melakukan aksi protes. Gerak perlawanan terasa hidup.
   
  Belum tuntas mengolah bentuk interaksi yang lebih efektip dengan 
teman-te­man di ta­nah air, kami dicekam oleh berita eksekusi tapol PKI 
yang datang bertubi-tubi ba­gai­kan me­nan­­tang. Bagi 
khalayak Belanda, berita eksekusi terdengar absurd. Para tapol, terma­suk 
sa­nak-ke­luarga dan segenap relasinya, telah menanggung derita ketika 
di penjara selama ber­­ta­hun-tahun, bahkan ada yang lebih dari 20 
tahun, yang akhirnya harus siap hanya untuk di­bu­nuh. Aksi protes 
terhadap eksekusi 2 tapol (akhir 1989) dan 4 tapol lainnya (Februari 1990) itu 
tidak lebih dari cerminan ketidak-berdayaan kami menghadapi rezim fasis 
Soeharto.
   
  Namun, teman Jusfiq terus-menerus menyatakan kegusarannya dan tak henti-henti 
me­nil­­pon kami untuk bertukar-pikiran sembari mengantisipasi bila 
Soeharto hendak meng­ekse­­kusi tapol lagi. Jusfiq memiliki firasat 
seperti itu. Dan dia tidak dapat hanya berpangku-tangan sembari menunggu berita 
perkembangan. Tak urung berbagai pertemuan darurat di­gelar untuk menjawab 
pertanyaan tunggal: Apa yang harus dikerjakan? Berbagai sisi masalah 
ekse­ku­si ka­mi soroti: perkembangan gerak perlawanan di tanah 
air; situasi politik in­ter­nasional; dan per­­kem­bangan 
ekonomi-politik dalam negeri. Kesimpulan cenderung meng­arah pada 
paut­­an ek­se­kusi dengan bantuan IGGI. Isu eksekusi digunakan 
Suharto sebagai alat peras un­tuk mem­­peroleh (komisi) dana 
bantuan/hutang lebih besar.
   
  Belum sempat menemukan bentuk antisipasi yang mantab, tiba-tiba teman Jusfiq 
me­ne­­­rima berita dari sumber sahih: terdapat gelagat bahwa 6 
tapol PKI (Ruslan W. dkk) akan dieksekusi dalam wak­­tu dekat. Bak 
petir di siang bolong. Tak pelak, giliran kawan Basuki Re­so­bo­wo 
menunjukkan si­­­kap lugasnya. Dia menuntut agar kami jangan hanya 
tenggelam ber­bi­cara yang meng­a­rah pa­da kekenesan 
intelektualisme. Pak Bas bersikeras pula agar kami se­ge­ra 
me­­ninggalkan ca­­­ra-cara pro­tes konvensional bila, 
meski dari Belanda, sungguh-sungguh ber­­ni­at 
men­co­­ba me­nen­tang rezim fasis-militeristik itu.
 
Sejatinya, tuntutan Pak Bas tersebut menjadi landasan kami bersikap. Maka, dari 
jam ke jam kami di­ce­­kam oleh ketegangan, karena tidak ingin 
didahului oleh berita baru yang me­nya­takan bahwa 6 tapol PKI telah 
dieksekusi. Ini berlangsung berhari-hari, ketika ka­mi men­da­yuh 
sepe­da menuju kampus, di tengah-tengah kuliah, serta ketika 
menyu­su­ri kera­mai­an ko­ta Leiden dan Amsterdam untuk 
berembug dengan berbagai pihak yang me­naruh per­ha­tian pa­da 
isu ek­se­kusi tapol PKI. Bentuk aksi yang jitu belum juga dapat kami 
temukan.
   
  Syahdan, dalam suatu perjalanan pulang pada pagi buta seusai kerja sebagai 
pelayan rumah makan, tiba-tiba pleidoi Enin datang menyelinap dalam benak. 
Perasaan masih asyik meng­ulang-ulang bait lirik dari Police/Sting seperti 
terkutip, dan belum selesai pula melerai gemuruh semangat dan sistematika 
argumentasi seperti tersusun dalam lembar-lembar pleidoi itu, tiba-tiba 
melintas pula kronologi mogok makan mahasiswa ITB. Ondos dilaporkan tak sadar 
diri dan diangkut ke rumah sakit. Terinspirasi oleh bentuk aksi 
de­mi­kian, ma­ka ba­thin pun menggelinjang berteriak: Kami 
siap menggelar mogok makan di Am­ster­dam un­tuk 
me­nen­­tang eksekusi Ruslan W. dkk. Hampir saja arah pulang 
kubelokkan me­nuju sebuah kelder, tem­pat Pak Bas bermukim di belahan 
timur Amsterdam. Namun, se­ge­ra ku­sadari bah­wa aku 
ha­rus pulang menemui istri untuk menyerahkan upah kerja yang baru 
kuperoleh.
   
  Pagi hari pada Maret 1990 itu, cuaca tidak menyambut kami dengan ramah. 
Namun, te­tap kuputuskan menuju ke Pak Bas sebelum ke kampus. Setibanya, 
kuketok jendela mungil be­rkali-kali, namun tak dibuka. Sahutan suara lirih 
Pak Bas pun tak terdengar. Aku yakin Pak Bas di rumah. Kuingat pesan dia 
tentang ‘jalan ti­kus’ menuju kamarnya. Kulewati jalan itu. Aku harus 
menemuinya untuk menyampaikan te­muan pagi buta tadi. Memasuki kamar, tidak 
se­perti biasa aku menghirup bau cat minyak/lu­kis, namun kali ini 
disergap oleh bau balsam. Ka­ruan, Pak Bas terbaring da­lam keadaan 
lemah sekali, muka tampak pucat, dan bibir berge­rak-gerak seperti ingin 
me­nyam­­pai­kan sesuatu. Sebuah jari tangan kanan 
ber­ge­tar­an menun­juk perut. Pak Bas se­dang 
ber­urus­­an dengan perutnya. Dalam kondisi be­gini, 
pan­tas kah aku membahas ide mogok makan? 
   
  Kepada Pak Bas akhirnya hanya kuberitahu adanya tekad mogok makan untuk 
menen­tang eksekusi tapol PKI, tanpa menela­ah seluk-beluk persoalan 
teknis keorganisasian, apalagi me­nuntut keikut-sertaan dia yang 
ke­ti­ka itu usianya menuju 75.
   
  Mendengar tekad demikian, Pak Bas dalam keadaan menahan sakit perut, urat 
raut mu­­­kanya tiba-tiba tampak mengendur. Sorot matanya terasa 
menembus mataku. Sembari meng­­­ang­­gukkan kepalanya 
perlahan, perlahan sekali, dia berusaha menggerakkan bibir, na­mun gagal 
menyuarakan sesuatu. Aku segera menangkap maksudnya. Kuminta dia 
te­­nang ber­­­­is­tirahat. Setelah kubuatkan 
seteko teh hangat dan meninggalkan pe­­­san pa­­da 
pe­milik ru­mah, agar sesekali menengok Pak Bas yang sedang sakit 
perut, aku meneruskan perjalanan me­nuju kampus.
   
  Usai kuliah, kami memberitahu teman Jusfiq tentang tekad mogok makan 
terse­but. Dia mendukung dan akan berusaha menghidupkan simpul-simpul yang 
da­pat meng­­elola ak­si tersebut secara organisatoris. 
Pimpinan PPI Amsterdam, Reza, sege­ra ka­mi temui menjelang sore hari, 
di sela-sela kuliahnya, untuk dukungan dan keikut-ser­taan­nya secara 
aktip. Dengan Reza, kami merasa cepat dapat saling meyakinkan arti penting aksi 
itu.
   
  Seperti biasa, Komite Indonesia pun sangat gelisah dengan ancaman eksekusi, 
dan kali ini mengundang sejumlah kawan untuk bertemu guna membicarakan dan 
menentukan bentuk aksi. Gayung pun bersambut. Kami memutuskan untuk menghadiri 
pertemuan terbatas terse­but. Di situ muncul pula Reza (PPI Amsterdam), 
juga Lex selaku wakil ASVA, sebuah serikat buruh-mahasiswa Universitas 
Amsterdam. Terdapat pula dua orang Indonesia in exile lan­jut usia. Seorang 
di antaranya tampak mewakili establishmen yang ada, sedangkan yang lain 
me­wa­kili kelompok ‘sempalan’. Selain itu hadir pula beberapa kalangan 
lain yang mewa­kili or­mas dan orpol progresip Belanda. 
   
  Satu jam lebih telah lewat, pertemuan belum juga berhasil menelorkan bentuk 
ak­si yang mantap. Kalau pun sempat terucap, tidak lebih dari menjentreng 
spanduk di pusat ke­ra­mai­an kota Amsterdam. Itu hanya menarik 
sebagai obyek tontonan wisatawan saja, komentar sinis dari pihak Komite yang 
sekaligus memegang kendali pimpinan rapat. Petisi pun dirasa­kan tidak akan 
efektip lagi.
   
  Ketika pertemuan tampak jenuh dan cenderung buntu, maka kami tanpa ragu 
sedikit pun mengajukan aksi dalam bentuk mogok makan. Seluruh hadirin tertegun 
sejenak. Silih berganti akhirnya satu demi satu menyatakan dukungannya. 
Seseorang tampak berhati-hati dengan men­­­coba menempatkan masalah 
eksekusi dalam konteks polarisasi dalam tubuh ten­tara. Ini 
ter­­jadi ketika kami mencoba merumuskan tuntutan aksi mogok makan: 
Stop eksekusi ta­pol PKI!; Hargai HAM dan tegakkan demokrasi! Stop IGGI!!! 
Pertemuan me­nye­tu­­jui­ tuntutan aksi ini. Komi­te 
Indonesia disepakati se­ba­gai pi­hak organisator aksi mogok 
ma­kan. Kemudian, kami bersama Reza segera be­rem­bug un­tuk 
me­nentukan hari H.
  
Sungguh tidak mudah melaksanakan tekad mogok makan tersebut, karena 
masing-ma­sing belum berhasil mengatasi tanggung-jawab dan beban 
universitas, belum lagi persoalan pri­badi lainnya. Pihak tertentu 
memandang aksi mogok makan terlalu ekstrim, dan teman Jus­fiq 
mem­peroleh cap kontrev. Dalam situasi begitu, muncul usulan dari 
se­orang be­kas fung­sio­na­­ris Komite agar segera 
dilakukan mogok makan oleh 6 aktivis secara ber­gilir se­lama 6 hari, 
sebagai protes simbolik terhadap rencana Suharto mengeksekusi 6 tapol. Tak 
urung, di sela-sela istirahat seminar di Atrium Universitas Amsterdam, ‘Mira’, 
se­orang pu­tri eks tapol 1965 men­de­kati kami sembari 
menyatakan ketidak-setujuannya ter­hadap bentuk ak­si 
sim­bo­lik-prag­ma­tik seperti diusulkan tersebut. Sembari 
mengacu filsafat mo­gok makan, ‘Mira’ me­nun­tut agar kemurnian 
misi dipertahankan secara sungguh-sungguh!
   
  Mencoba konsisten, maka proses yang kemudian dimasuki menjadi agak rumit, 
na­mun akhirnya kami, empat mahasiswa Indonesia di Belanda, berhasil 
menyatukan diri untuk se­ge­ra melaksanakan mogok makan. Pada 5 April 
pagi hari, selembar surat wasiat telah kami susun, ber­isikan bila akhirnya 
kami meninggalkan dunia fana ini akibat aksi mogok makan me­nen­tang 
eksekusi 6 tapol PKI, maka buku kami sejumlah 2.305 judul harap dise­rahkan 
kepada Enin c.s. di Bandung dan 3 B di Yogya. 
  
Bersama dengan delegasi Komite Indonesia, kami bersama ‘Mira’ bertemu di 
bandara Schiphol pada siang 5 April itu, untuk melepas Menteri Pronk selaku 
ketua IGGI menuju Ja­kar­­ta. Bersama pimpinan delegasi c.q. 
Komite, kami berpesan agar dalam pertemuan dengan Soe­harto, Pronk 
mengajukan tuntutan kami. Diberitahukan pula bahwa begitu pesawat 
meng­ang­kasa menuju Jakarta, kami pun bertolak ke Amsterdam untuk 
memulai aksi mogok ma­kan, dan kami hanya berhenti mogok makan, bila 
rencana mengeksekusi 6 tapol PKI diba­tal­kan. Usai melepas Pronk di 
bandara, kami segera menyusul 2 peserta mogok makan lain­nya, Reza dan 
‘Dahlan’ (putra bungsu eks tapol 1965) yang telah menunggu di lokasi, yakni 
Beurs­plein, sebuah pela­taran umum di pusat keramaian kota Amsterdam. 
Pelataran tersebut menghadap salah satu jalan protokol, dan diapit oleh 
sejumlah bangunan perdagangan bursa dan pertokoan mewah. Ah, pandai juga 
pimpinan Komite memilih
 lokasi sembari berusaha me­maknai aksi kami, pikirku.
   
  Tiba di pelataran, kami berempat memasuki sebuah tenda, dan dengan 
khid­­mat saling ber­pe­gang-tangan mengukuhkan niat ingsun 
bersama: apa pun risikonya, kami ti­dak akan ber­henti mo­gok makan 
sebelum Soeharto membatalkan niat mengeksekusi 6 tapol PKI. Di lu­ar tenda, 
berkerumun sejumlah aktivis Komite. Ketika kami bersama-sama ke­luar, 
me­reka me­­nyam­­but dengan hangat dan kami pun 
menggabungkan diri mengikuti per­te­muan se­bagai tan­­da 
pembukaan aksi mogok makan secara resmi. Kemudian, kami menerima 
se­­­tang­kai bunga mawar merah mungil yang sedang merekah 
dengan indahnya dari pengurus Ko­mite: perhatian yang sungguh menguatkan 
keteguhan yang baru kami kukuhkan. Setiap ma­lam hingga subuh, pa­ra 
pimpinan Komite secara bergilir selalu berjaga-jaga di sekitar tenda. 
  Pada pagi hari pertama mogok makan, 6 April, matahari menjulang tinggi bak 
siap mem­­bekali tenaga yang kami butuhkan. Gemuruh gelinding roda besi 
kereta listrik bernomor 9 per­­­tama pagi itu baru saja lewat 
menuju pusat pemberhentian kereta, memecah kesenyapan jalan protokol Rokin yang 
belum juga menampakkan kehidupan nyata kota. Tak lama ke­mu­dian, kami 
melihat dari kejauhan seorang laki-laki lanjut usia bertubuh tinggi, berjalan 
sedikit terhuyung, tapi lurus ke arah tenda mogok makan. Akh, itu pasti Pak 
Bas, gumam kami se­rem­pak. Benar! Dari jarak sekitar 30 meter tampak 
Pak Bas melempar senyum ringan­nya yang khas, sembari menyorotkan kedua 
matanya ke arah kami dengan hangat se­ka­li. Sua­sa­na menjadi 
amat menggairahkan. Sejak itu Pak Bas selalu bersama kami, sembari 
menye­lesaikan lukisan tentang Ruslan W. serta 5 kawan lainnya yang sedang 
terancam eksekusi.
   
  Tanpa subutir nasi pun masuk ke dalam perut, hari-hari pertama kami lewati 
dengan ti­dak mu­dah. Hanya keteguhan tekad dan dukungan moral ratusan 
kawan-kawan, misi mogok ma­­kan terawat baik. Jam demi jam, hari demi 
hari akhirnya berlalu tak terasa. Kami si­buk berbincang-bincang dengan 
para pengunjung yang berasal dari macam-ma­cam lapisan ma­syarakat 
Belanda, termasuk sesama mahasiswa dan dosen universitas kami, 
ang­­gota par­lemen dan per­wakilan berbagai ormas dan orpol.
 
Permintaan wawancara da­ri media ce­tak, tv, dan radio pun datang silih 
berganti. Pelbagai pernyataan media pun sempat kami tayangkan, a.l. sebagai 
tanggapan perselisihan menlu V.d. Broek dengan ketua IGGI Pronk di seputar 
stile di­plo­matie vs. Démarche yang menyangkut tuntutan pencabutan 
ekse­ku­si tapol PKI. Tak ku­rang dari 10 hari berturut-turut, 
media massa Belanda sempat memu­sat­kan di­ri pada isu 
ekse­kusi tapol PKI. Ketika memasuki hari ke 6, peserta aksi sempat 
berkembang menjadi 10.
   
  Di pelataran mogok makan, terdapat pula aktivis Komite yang setiap hari 
dengan te­kun sekali men­jaring kerumunan massa untuk dimintai 
tanda-tangan sebagai bentuk dukung­an tun­tutan aksi. Ra­tusan 
lembar A4 penuh berisi tanda-tangan sempat ter­kum­pul. Dengan setia 
teman Jusfiq selalu datang memasok kami dengan berita-berita aktual dari tanah 
air. Dan di pe­lataran itu pula, setiap hari berdatangan berbagai kelompok 
orang Indone­sia yang sebe­lum­nya susah akur satu sama lain. 
Seiring dengan tuntutan aksi, mereka saling me­­­nya­tukan 
di­­ri, juga bersama kami, terma­suk dan terutama dengan Pak Bas 
selaku bapak rokha­­ni kami. Se­buah impuls positip pun 
mun­­cul, dan sempat membawa kami selama ber­ta­hun-ta­hun 
ke suatu di­na­­mi­ka disertai pasang-surut gerak. Ini 
memerlukan pengungkapan tersendiri.
   
  Kemudian, pada 16 April pagi hari, Pronk tiba kembali dari Jakarta. Bersama 
dengan se­jumlah regu tv, dia langsung dari bandara mendatangi tenda kami. 
Pronk menyampaikan bah­­wa tuntutan kami didengar serius oleh Soeharto, 
dan dia memohon agar ka­mi se­ge­ra meng­­­akhi­ri 
aksi mogok makan. Menjelang magrib pada hari itu, sebuah pesan telah sampai ke 
kami, berisi ucap­an teri­makasih dari para tapol dan keluarganya. 
Sungguh melegakan telah me­ne­rima sebuah isyarat 
ke­hi­dup­an dari tanah air. Pada saat itu, mogok makan pun dengan 
ikhlas kami akhiri untuk sementara.
   
  ***     



      
http://www.geocities.com/herilatief/
  [EMAIL PROTECTED]
  Informasi tentang KUDETA 65/Coup d'etat '65 
Klik: http://www.progind.net/   
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 
   




 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke