LUMPUR, LUMPUR, LUMPUR, PANAS…! ( I )
   
  Musibah luapan lumpur panas akibat ketidak-profesionalisme-an PT. Lapindo 
Brantas, semakin memaksa presiden SBY dan jajaran kabinetnya untuk mengambil 
langkah-langkah bersifat “force majeur” untuk membuang lumpur langsung menuju 
ke laut, tanpa harus dikelola terlebih dulu. Yang menjadi pertanyaan adalah 
kenapa pemerintah tiba-tiba mengambil langkah yang terlalu gampang seperti itu? 
Hal ini juga tidak terlepas dari “amburadulnya” kualitas berpikir para ahli 
pemerintah dan tim penanggulangan lumpur panas. Yang kesemuanya sangat 
diragukan kapabilitasnya untuk me-manage musibah kelalaian kerja. 
   
  Faktor kinerja “hantam kromo” telah menjadi budaya mapan pemerintahan 
Indonesia, dan telah menjadi salah satu branded negatif untuk umpan kritikan 
pedas dan cercaan negara luar. Inilah realita pemerintahan Indonesia, yang 
sulit untuk diajak berpikir lebih panjang dan bijaksana. Mungkin dapat 
dikatakan, bahwa tingkat kecerdasan mereka lebih rendah ketimbang pemerintahan 
negara-negara lainnya dalam mengelola manajemen bencana akibat kelalaian. It's 
so funny there's nothing to laugh about! Karakter “hantam kromo” ini telah 
menjadi salah satu icon budaya pemerintah Indonesia.   
   
  Sedangkan ketika luapan itu terjadi pada waktu awalnya, tidak ada tawaran 
alternatif utama bahwa lumpur itu akan dibuang ke laut dan harus menyediakan 
peralatan dan sarana pengelolaan lumpur terlebih dahulu. Dari sekian banyak 
alternatif yang dikemukakan untuk dilakukan, kenapa alternatif pengadaan alat 
pengelolaan lumpur tidak diadakan? Dan kenapa tidak ada kejujuran pemerintah 
untuk membuka secara transparan kepada publik, apakah lumpur tersebut 
mengandung unsur-unsur racun (B3) yang berdampak membahayakan bagi kesehatan, 
lingkungan, dan kehidupan? Semuanya terlalu dirancukan.
   
  Anehnya, untuk pangadaan panser bagi TNI yang akan turut berpartisipasi 
sebagai pasukan penjaga perdamaian di Lebanon, langkah pemerintah begitu 
taktis, menjadikan alternatif jitu untuk “mengeruk” anggaran negara secara 
eksploitatif. Fiuuu… Ini adalah pembodohan manis versi kabinet SBY-MJK. Kalau 
diperbandingkan dengan pada waktu awal (sekitar sebulan) setelah lumpur panas 
meluap di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur; pemerintah hanya mampu memberikan 
argumen-argumen sweetener kepada masyarakatnya, beserta dengan bumbu 
janji-janji. Terlebih itu cuma perdebatan-perdebatan elitis yang tidak 
bersentuhan dengan substansi permasalahan. Menunggu waktu untuk akhirnya harus 
dibuang ke laut juga dengan cara-cara paling efisien.   
   
  Tentu kita juga memiliki hak untuk suatu jawaban yang bersifat “force 
majeur”, dan harus dilemparkan balik kepada pemerintah, yaitu pemerintah 
berusaha untuk efisien dan mencari jalur gampang dalam penanganan lumpur panas. 
Sedangkan pemerintah tidak mau ambil pusing dengan tuntutan manajemen 
pengelolaan, apalagi anggaran penanganan luapan lumpur itu tidak sebesar 
anggaran bencana gempa dan tsunami tempo hari. Jika anggaran penanganan luapan 
lumpur itu diambil dari pos bencana di APBN, maka mau tidak mau pemerintah akan 
bekerja lebih giat lagi. Intinya, ini adalah urusan “proyek” dilingkaran 
pejabat istana.    
   
  Keseganan pemerintah makin bertambah dengan adanya keluarga Bakrie sebagai 
pemilik sahamnya. Ketepatan juga salah satu anggota keluarganya saat ini ada 
yang “duduk-duduk” di kursi Menteri Koordinator Bidang Kesra. Tentunya presiden 
dan wakilnya tidak bisa berkata apa-apa, karena “hutang” politik harus dilunasi 
dalam tempo lima tahun ini, sewaktu mereka mencalonkan diri sebagai Capres dan 
Cawapres lalu. Inilah susahnya demokrasi kaum borjuis di Indonesia, dimana saat 
ini telah memperoleh anggapan optimis oleh sebagian kalangan. 
   
  Ironisnya, ketika pemerintah dan aparatur hukum tidak menemukan kesalahan 
apa-apa dari PT. Lapindo Brantas. Ada praduga awal: sangat luar biasa proteksi 
pemerintah kepada kaum konglomerat. Bagaimana mungkin luapan lumpur panas bisa 
terjadi kalau tidak ada pengeboran oleh PT. Lapindo Brantas? Ada apa dibalik 
langkah “force majeur” pemerintah? Dan kenapa pemerintah selama ini terkesan 
mengulur-ulur waktu dalam penanganan luapan lumpur? Sedangkan saham PT. Lapindo 
Brantas secara perlahan akan dilepas ke sesama pemodal yang berputar di 
lingkaran keluarga Bakrie juga. Ha ha… Ini cara klasik, namun tetap efektif 
dipraksiskan di negara ini. (bersambung)
   
  September 2006, Leonowens SP

                
---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low  PC-to-Phone call rates.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke