Sampah Obat-obatan Jerman Banjiri Negara Berkembang
Oleh: Purwaningsih dan Nugraha dari Dortmund
Sampah obat-obatan Jerman membanjiri negara-negara dunia ketiga. Indonesia
pun tak diluputkan. Ekspor obat-obatan tersebut merupakan metode pelenyapan
obat-obatan kadaluarsa ala industri farmasi Jerman.
Pernahkah Anda mengalami sakit, dan sesudah minum obat ternyata malah lebih
sakit, atau jadi menderita penyakit lain lagi yang lebih berat. Hati-hati,
mungkin obat yang Anda minum sudah kadaluwarsa, atau obat yang di negara
asalnya sudah dilarang karena efek sampingnya berbahaya.
BUKO Pharma-Kampagne, sebuah LSM Jerman memperingatkan, sejumlah perusahaan
farmasi Jerman mengekspor obat-obat kadaluarsa dan yang sudah dilarang, ke
berbagai negara miskin, termasuk Indonesia. Celakanya, di Indonesia tidak ada
standar pengaturan penjualan obat-obatan yang baik. Obat apapun bisa diperoleh
di pinggir jalan, tanpa kontrol.
Memanfaatkan Kemiskinan Rakyat Kecil
Obat kadaluarsa, memang bukan hal yang luar biasa di Indonesia. Harga obat
yang membumbung tinggi memaksa masyarakat kecil mau tak mau mencari obat
dengan harga murah. Mereka bahkan terkadang tak peduli lagi obat tersebut sudah
kadaluarsa atau belum. Indonesia hanya satu dari begitu banyak negara miskin
yang ketiban kiriman obat-obatan sampah ini.
Jutaan orang di negara dunia ketiga lainnya juga mengalami hal serupa. Setiap
tahunnya, jutaan orang di Afrika, Asia dan Amerika Latin kehilangan nyawa
akibat kondisi kesehatan yang memburuk. Penyakit yang tak diobati karena
kemiskinan menjadi sebab utama kasus kematian di negara-negara dunia ketiga.
Korban penyakit seperti malaria, tubercolosa dan diare terus bertambah.
Anak-anak menjadi korban utama, karena setiap tahunnya lebih dari 2 juta
anak-anak terenggut nyawanya akibat radang paru-paru atau pneumonia, 2 juta
anak mati akibat diare dan sekitar 1 juta anak meninggal akibat campak.
Berbagai obat-obatan diproduksi di negara-negara industri, seperti Jerman.
Namun harganya tidak murah. Maka ketika datang obat yang tidak layak atau
kadaluarsa dari Jerman, masyarakat miskin menyambutnya, karena harganya murah.
Perlahan-lahan sampah obat-obatan membanjiri negara-negara miskin. Demikian
laporan BUKO Pharma-Kampagne. Selama 25 tahun, organisasi ini berusaha mencegah
metode industri farmasi dalam mengkomersialkan obat-obatan kadaluarsa.
Permainan Kotor ala perusahaan farmasi Jerman
Organisasi ini pernah pula menyaksikan, bagaimana perusahaan Jerman Schering
menjual sebuah obat bernama Photabo kepada Filipina yang sedang dilanda
kelaparan. Photabo adalah obat pemacu pertumbuhan, namun efeknya dapat
menjurus kepada terhentinya pertumbuhan pada anak di usia dini. Gambaran yang
tidak jauh berbeda terdapat di India, di mana Tonikum Bayer dijual sebagai obat
kuat. Dr. Christiane Fischer dari BUKO mengatakan:
Fischer: Contoh yang parah adalah Tonikum milik Bayer. Obat itu mengandung
10 persen alkohol, ekstrak hati, beberapa Vitamine dan ragi. Jika orang yang
menderita kelaparan meminum setiap harinya satu sendok makan, itu tak beda
seperti dia meminum satu sloki minuman keras. Efeknya adalah pengerutan hati
dan terutama dirasakan oleh anak-anak, tapi juga orang dewasa
Bayangkan, anak kecil dicekoki alkohol setiap paginya! Jangan lupa, Tonikum
Bayer masih dengan mudah pula ditemui di pasar-pasar obat di Indonesia. Buko
tidak hanya berhenti sampai pada kasus di Filipina.
Organisasi itu juga berhasil mengungkap kasus pengiriman obat sampah ke Kenya
yang melibatkan perusahan Farmasi Jerman lainnya, Merz. Ketika itu, Merz
mengirimkan obat sakit perut alias muntaber yang dapat merusak sistem syaraf.
Kasus tersebut hanyalah satu dari sekitar 100 jenis obat-obatan lainnya yang
harus ditarik dari pasaran.
Skandal lainnya adalah merk Boehringer Ingelheim yang memproduksi obat
Buscopan dan Anador. Obat-obatan ini mengandung zat dipyrone, yang sudah
dilarang dijual di Eropa.
Masalahnya standarisasi soal obat di setiap negara berbeda-beda. Ada yang di
Eropa sudah dilarang, tapi di negara berkembang masih diperbolehkan untuk
diperdagangkan. Seperti dipaparkan Christian Wagner dari Buko.
Wagner: Masalahnya adalah, bahwa banyak obat-obatan ini yang memang pernah
dijual di Eropa. Tapi perundang-undangan tentang produksi obat-obatan Eropa
yang ketat, memaksa perusahaan-perusahaan farmasi menarik obat-obat itu dari
pasaran. Masalah yang kami lihat adalah standarisasi yang berbeda antara negara
industri dan negara-negara dunia ketiga. Jadi sulit untuk menghentikan
penjualan obat-obatan yang ditarik dari pasar Eropa namun akhirnya dijual di
negara dunia ketiga. Masalah lainnya adalah kontrol obat-obatan yang kurang
kuat di negara berkembang.
Regulasi dan Standarisasi yang Berbeda
Selain standar yang berbeda, pengawasan obat-obatan yang lemah juga jadi
penyebab maraknya obat gelap di negara dunia ketiga, seperti Indonesia. Seperti
dipaparkan ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia YPKKI Marius
Widjajarta.
Widjajarta: Campur aduk di sini, antara obat palsu atau obat gelap atau
tidak terdaftar dari negara maju bisa saja masuk ke Indonesia karena pengawasan
obat dan makanan di sini sangat amat lemah. Sekarang mereka ingin menertibkan,
dan membuat satu pengawasan obat dan makanan, yang betul-betul bisa menjamin
keselamatan dan keamanan untuk konsumen di Indonesia.
Modus lain yang digunakan oleh industri framasi negara berkembang adalah
dengan produsen memproduksinya di negara berkembang untuk kemudian
didistribusikan lagi ke negara-negara miskin. Kembali Christian Wagner dari
Buko:
Wagner: Banyak sekali undang-undang di negara berkembang yang meregulasi
pasar obat-obatan. Tapi masalahnya undang-undang ini tidak diterapkan dengan
benar. Tidak hanya itu, di Jerman pun ada aturan yang melarang ekspor
obat-obatan yang ditarik dari pasaran. Akan tetapi perusahaan-perusahaan
farmasi tidak mengekspor obat-obatan itu tapi mereka memproduksinya di negara
berkembang untuk pasaran obat negara yang bersangkutan. Jadi tidak dipayungi
oleh hukum Jerman.
Hal ini terjadi juga dengan pangsa pasar Indonesia. Kembali Marius
menjelaskan:
Widjajarta: Ya biasanya begini. Itu asli dari pabrik negara maju tetapi
diproduksi di Cina, atau di India, atau di Yunani, baru dijual di Indonesia.
Jadi misalkan pabriknya dari Jerman, mereka membeli produksi dari India atau
Cina. Jadi tidak langsung, seperti misalkan dari jerman langsung ke Indonesia.
Tidak, jadi ada semacam produsen antaran. Jelas saja mereka akan menyerbu ke
Indonesia karena untungnya sangat banyak. Misalkan, ada obat untuk dioretika,
itu harga di India kalau di kurs di sini harganya sekitar 10 sampai 20 rupiah.
Sedangkan di sini, pabrik yang sama dengan merek yang sama dan bahkan produksi
di Indonesia dijual dengan harga 2000 rupiah. Dan ini jelas, akan bertebaranlah
yang namanya obat-obatan palsu.
Pengawasan Menyeluruh di Negara Dunia Ke-Tiga
Kini tergantung kesungguhan dari masing-masing pemerintah di negara-negara
penerima obat-obatan sampah yang harus lebih tegas dalam mengawasi obat-obatan
yang beredar di negaranya. Indonesia sendiri baru mau bergerak ke arah sana.
Marius dari YPKKI mengabarkan:
Widjajarta: Ada rencana juga dari BPOM untuk menertibkan toko obat yang
menjual bebas obat dengan resep dokter atau obat daftar G di Indonesia
disebutnya, itu akan ditertibkan, dan kalau bisa dijadikan apotek. Jadi dengan
begitu pengawasannya akan lebih cepat lagi dibanding dengan yang lama.
Mudah-mudahan dengan rasional harga obat, perbandingan antara generik dengan
obat bermerek tidak terlalu banyak. Karena menteri kesehatan telah menetapkan,
maksimal tiga kali. Dan terakhir juga nanti di Indonesia ada yang disebut
dengan harga eceran tertinggi (HET Red.) dan kewajiban dari produsen, harus
mencantumkan HET itu di kemasan yang terkecil. Dengan begitu konsumen nanti
juga tahu kira-kira harga eceran tertingginya berapa. Dan apotek tidak boleh
menjual di atas harga eceran tertinggi. Tapi menjual di bawah HET itu bisa
dilakukan di Indonesia.
Obat dikonsumsi untuk menyembuhkan penyakit. Bila pemerintah hanya janji
surga dalam pengawasannya, maka jumlah korban akan terus berjatuhan. Sudah
waktunya bagi pemerintah untuk melindungi masyarakat dari mengkonsumsi produk
obat substandar atau kadaluarsa yang dapat membahayakan kesehatan. Belum lagi
zat-zat berbahaya yang bertebaran di dalam berbagai produk pangan. Luar biasa.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/