wah, ini tulisan bang mahendra hariyanto yg saat ini lagi megawe di merck spore danlagi ngerjain proyek di bangkok. di milis sma tulisan dia kemarin dikritisi temen temen ... :p
sedikit berbagi ... dari mas oggy gue memandang dari sisi lain. 1. keadaan indonesia yang susah dan orang2 nay yang terbiasa susah membuat bangsa indonesia menjadi bangsa yang gampang di "bully". Kalau orang Jerman perjalanan lebih dari 10 jam langsung dapet business class, kenapa orang indonesia gak merasa berhak mendapat perlakuan sama ? mikirnya: masi untung gak disuruh jalan kaki ? 2. Keadaan di indonesia yang seperti sekarang ini bukan hal yang bagus. Beda ama training camp/padepokan yangs engaja dibikin susah untuk mengasah kualitas. Keburukan ini perlu diperbaiki. Sayangnya, masi banyak yang rela naik kereta super ekonomi dengan kondisi gak manusiawi. Gak papa.. kan jadi tahan banting :) On 10/3/06, Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > dari milis sebelah........ > > >Indonesia dari sisi lain. > > > >Anda orang Indonesia ? > >Masih tinggal di Indonesia ? > >Di Jakarta? > >Ke kantor naik bis umpel-umpelan? > >Lalu lintas macet? > >Pernah Naik kereta super ekonomi ke Yogya or Surabaya ? > >Pernah kebajiran? > >Pernah dipalakin di bus sama gerombolan preman? > > > >Ok, sekarang saya serius. > > > >Kalau ada yang bertanya: apa sih yang bisa dibanggakan for being > Indonesian? > >Maka jawaban saya adalah : Kita. > > > >Kita harus bangga karena kita orang Indonesia. Bisa dan Biasa hidup > susah!!! > >Becanda lagi nih? > > > >Nggak, saya Serius!! Saya nggak boong. > > > >Kalau saya boong biarkan Tuhan memberikan cobaan yang berat pada saya > >(red : katanya harta yang berlimpah merupakan cobaan yang berat) > > > >Kemampuan untuk hidup susah (saya sebut aja "survival ability" ya) > >tidak dimiliki orang-orang yang lama hidup di negara-negara mapan. > >Boss saya (orang India) pernah cerita: suatu ketika teman-nya-sebut > >saja Sarukh dan keluarganya pamit pada boss saya pulang ke negara > >asalnya ? India yang murah meriah untuk menikmati pensiun dini, > >setelah 15 tahun kerja di Singapore . > > > >Eeeeeee? ... belum satu tahun pamitan pulang ke India ? si Sarukh > >sudah balik lagi ke Singapore dan kali ini minta bantuan Boss saya > >untuk dicariin kerjaan lagi di Singapore. > > > >What happened? Tanya boss saya. > > > >Sarukh bercerita, setelah pulang ke India , anak remajanya yang > >dibesarkan di Singapore menjadi rada-rada stress dan menjadi pasien > >tetap psikiater di sana. Selidik-punya selidik agaknya hal itu > >disebabkan karena Anaknya Sarukh tidak bisa menyesuaikan diri > >terhadap perubahan lingkungan dari kondisi yang sangat mapan ( > >Singapore ) ke kondisi yang sebaliknya (India ). Jadi, dalam hal > >ini, anak si Sarukh yang sudah biasa hidup dalam kemapanan tidak > >punya "kemampuan bertahan waras" untuk hidup di negara yang belum > >mapan. Demi kebaikan anaknya, akhirnya si Sarukh memutuskan menunda > >pensiun dini-nya dan kembali kerja di Singapore . > > > >Kalau kita-kita yang sudah biasa hidup susah di Jakarta , pindah or > >berkunjung ke India sih nggak ada masalah. > > > >Saya jadi ingat, 2 tahun lalu ketika saya dan rekan-2 kerja saya > >berkunjung ke India, boss saya wanti-wanti untuk : bawa obat sakit > >perut, dan selama di India hanya minum-minuman dari botol/kaleng. > >Kalau ke restoran local jangan sekali-kali minum air putih yang > >disediakan dari dari Teko/ceret di restoran tersbut, karena > >Kebersihan Airnya tidak terjamin, dan biasanya perut orang asing > >tidak siap untuk itu; begitu nasehat boss > >saya. > > > >Pada waktu itu satu rombongan yang berangkat ke India terdiri dari 5 > >orang. Satu orang Jepang ? dari Jepang, dua orang Singapore dan dua > >orang Indonesia (termasuk saya baru sebulan kerja di Singapore ). > >Dalam 2 minggu kunjungan ke India, kolega dari Singapore dan Jepang > >langsung menderita diare di Minggu pertama ke India ?diselidiki, > >kemungkinan penyebabnyat adalah mereka pernah memesan kopi atau the > >di restoran local pada saat makan siang (yang tentunya tidak dari > >botol), Sementara si orang Jepang, walaupun secara ketat dia hanya > >minum-minuman botol atau kaleng selama makan di restoran-restoran > >lokal, terkena diare diduga karena si orang jepang ini menggunakan > >air keran dari hotel untuk berkumur-kumur selama sikat gigi. > > > >Sedangkan saya dan satu orang rekan lagi dari Indonesia , sehat > >walafiat tidak menderita suatu apapun selama di sana (mungkin karena > >di Indoneisa, sudah terbiasa jajan es dipinggir jalan yang mungkin > >airnya tidak lebih bersih dari air di restoran-restoran India ) > > > >What is the moral of the story? > > > >Kita harus bangga karena Kita bisa lebih baik dari orang Jepang dan > >Singapore!!!! (at least, dalam hal ketahanan perut). > > > >Cerita lainnya lagi, bulan lalu saya di kirim kantor (yang base-nya > >di Singapore) untuk mengikuti sebuah workshop di Rio de Janeiro > >Brazil . Total waktu trempuh saya dari Singapore ke hotel saya di > >Rio de Janeiro Brazil adalah 36 jam (termasuk 5 jam transit di > >Eropa). Sebenarnya, dari Singapore ke Brazil , jalur yang paling > >umum dan cepat adalah ke arah Timur, transit di Amerika, terus ke > >Brazil . Dengan jalur ini saya perkirakan, dalam 26-30 Jam saya > >sudah bisa mencapai Brazil . Cuma, karena saya orang Indonesia , > >untuk transit di Amerika pun saya butuh apply VISA Amerika, yang > >mana proses aplikasi visa tersebut memerlukan waktu sedikitnya 2 > >minggu. Padahal, saya tidak punya waktu sebanyak itu. Alhasil, yah > >begitulah, saya harus memilih rute yang sebelaliknya, mengeliling > >belahan bumi bagian barat, transit di Amsterdam, dengan waktu > >tempuhnya 6- 10 jam lebih lama. Jadinya, cukup melelahkan, tapi > >nggak apa-apa, namanya juga orang Indonesia , harus terbiasa dengan > >hal-hal yang susah-susah. > > > >Saya sampai di hotel di Rio, hari minggu jam 11 Malam. Dan keesokan > >paginya saya langsung mengikuti workshop di sana. Walaupun masih > >terasa lelah, saya tetap berusaha untuk terlibat aktif dalam > >workshop pagi itu, dengan mengajukan pertanyaan atau memberi masukan > >atas pertanyaan peserta lainnya. > > > >Pada saat istirahat, saya sempat berbincang-bincang dengan > >kolega-kolega dari Jerman peserta workshop itu. Beberapa dari mereka > >mengeluh kecapaian dan menderita "jet lag", karena mereka telah > >menempuh 12 jam perjalanan dari Jerman, dan baru saja tiba di Brazil > >hari minggu siang, sehingga belum cukup waktu istirahat untuk > >adaptasi Jet lag, begitu keluh mereka. > > > >Lalu, saya berkata pada mereka, bahwa sebenarnya mereka lebih > >beruntung dari saya, karena saya harus menempuh 36 jam perjalanan > >dari Singapore, dan baru tiba di hotel pukul sebelas malem, kurang > >dari 12 jam sebelum workshop dimulai. Mereka tertegun, salah seorang > >dari mereka bertanya pada saya: "Tapi kamu naik pesawat, di kelas > >Bisnis khan?" "Tidak, jatah saya Cuma kelas ekonomi", jawab saya > >lagi. Mereka terlihat semakin terkagum-kagum (atau kasihan?), dan > >salah seorang dari mereka memuji. "Its very impressive, you guys > >Singaporean are really-really hard workers" . "I'm not Singaporean, > >I'm Indonesian working in Singapore " jawab saya dengan bangga. > > > >Agaknya, hari itu saya menjadi cukup terkenal di kalangan kolega > >dari Jerman, hanya karena terbang selama 36 jam dari Singapore 12 > >jam sebelumnya dan masih bisa secara aktif mengikuti workshop > >tersebut.Saya tahu kalau saya menjadi pembicaraan mereka, karena > >sewaktu makan malam, kolega dari jerman lainnya - yang saya tidak > >pernah ceritakan mengenai perjalanan saya dari Singapore ? bertanya > >pada saya tips and trick supaya bisa tetap segar setelah menempuh > >perjalanan begitu lama (ini berarti dia mendapatkan cerita saya dari > >kolega jerman lainnya). Saya bingung jawabnya. Ingin sekali saya menjawab > : > > > >"Berlatihlah dengan naik kereta api super ekonomi dari Jakarta ke > >Surabaya di saat-saat mendekati hari lebaran. Kalau Anda terbiasa > >dengan alat transportasi ini- di mana tidak hanya species "Homo > >Sapiens" yang bisa menjadi penumpangnya dan di tambah lagi waktu > >tempuhnya yang lama sekali karena hampir di setiap setasion harus > >berhenti, maka Anda akan bisa menaklukkan semua alat transportasi > >terbang apapun yang ada di muka bumi ini". > > > >Namun, saya urungkan memberi jawaban di atas, karena saya khawatir > >dia tidak akan mengerti atas apa yang saya jelaskan, dan saya yakin > >mereka tidak bisa "survive" dengan alat transportasi ini, yang > >fasilitasnya tentu jauh dari kelas Bisnis pesawat terbang (Note : > >kolega saya dari jerman, otomatis mendapat fasilitas kelas bisnis di > >pesawat apabila waktu tempuhnya lebih dari 10 jam). > > > >Seminggu, setelah saya pulang dari Workshop di Brazil, entah karena > >terkagum-kagum dengan "kemampuan hidup susah" (dari sudut pandang > >mereka) yang saya miliki, atau karena alasan lainnya, kolega saya > >dari Jerman yang saya temui di Brazil , menghubungi atasan saya yang > >intinya meminta saya untuk ditugaskan ke Jerman, membantu project > >yang saat ini sedang berjalan di sana. > > > >Alhasil, bulan September ? November saya akan bergabung dengan > >kolega-kolega di Jerman menyelesaikan project di sana. Cukup > >membanggakan, karena, kata boss saya, ini kali pertama "Kantor > >Pusat" meminta bantuan dari kantor cabang untuk mensupport project > >yang sedang mereka kerjakan di kantor pusat. > > > >Jadi setelah membaca tulisan ini, saya harap pembaca sekalian punya > >alasan semakin bangga menjadi orang Indonesia . > > > >Kalau anda lagi di luar negeri dan ditanya "Anda dari mana?" > > > >Jawablah dengan bangga: > > > >Ya, Saya dari Indonesia , > >Negara yang lagi susah, > >Saya juga hidupnya susah > >Tapi saya bisa "survive", Dan saya bangga karenanya!!! > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

