Mbak lina yg baik,

1. komentar mbak lina ttg suku tionghua ini cerminan buat umat muslim di
negara barat yg ndak mau melebur lho ....

2. jaman sekarang, di indoensia, apakahmelebur itu berarti ikut mayoritas yg
seang ebrislamisasi.  lalu bagaimana ketika china kristen pakai koko dan
kebaya ?  bukankah ada polemik baru, katanya ini kristenisasi gaya baru ?


3. ada beda lho, melebur pol, totalitas, dengan menjadi bagian dari
indoensia, tapi tetap punya budaya sendiri.  jsutru kalau budaya khas
dihilangkan, kita menghilangkan identitas sendiri.

aku justru mendukung kalau suku tionghua tetap mempertahankan dan memelihara
budayanya (ini akan memperkaya budaya kita), namun juga bisa membaur dengan
berbagai suku yg lain.  hasilnya, makanan indonesia kan banyak yg fusion
dari masakan china.  iya nggak ?  bakso, somay, mie, nasi goreng, dll banyak
sekali,  jgn lupa lho.


4. aku mendukung sikap negara yg ingin antara suku bangsa yg ada bisa
membaur secara damai, namun tetap memiliki dan melestarikan ragam budaya
masing masing.  dan ini konteks yg ampang gampang susah.


5. beberapa waktu yg lalu di milis ini, malah ada diskusi, orang islam
pengen bikin segregasi sosial,  kepingin lingkungannya hanya ada orang silam
tok.  orang agama lain silakan tinggal di cluster clurter tersendiri.  nah,
kalo yg kayak gini, salah siapa hayo ?.



salam,
Ari Condro
On 10/3/06, Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Udah deh gak usah rasialis gitu. Kalo minoritas terpinggirkan, ya
> wajar. Emang sih se-ideal2nya gak ada diskriminasi, tapi mana ada
> sih negara yg gak diskriminasi.
>
> Mengenai keturunan cina, kadang merekapun yang gak mau
> bersosialisasi or melebur. Menikah maunya sesama cina juga. Di rumah
> masih pake bhs cina. Sesama mereka di Indonesia masih pake bhs cina.
> Budaya cinanya masih gak mau ditinggalkan.
>
> Makanya saya ingin mengatakan salut kepada cina-cina yang mau
> melebur menjadi orang Indonesia. He..he...memuji ibu saya sendiri
> yang keturunan cina, tapi dah jadi orang Sunda menikah ama si
> Betokaw.
>
> wassalam,
> --- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>, Nugroho
> Dewanto <[EMAIL PROTECTED]>
>
> wrote:
> >
> >
> > Diskriminasi, Kata Lee Kuan Yew
> >
> > Harry Tjan Silalahi*)
> >
> > ***-
> > DALAM sebuah forum di negaranya, menteri mentor Singapura Lee Kuan
> > Yew menyatakan: Indonesia dan Malaysia mempunyai masalah dengan
> kaum
> > Cina karena mereka (orang Cina) itu sukses. Mereka adalah pekerja
> > keras dan dengan demikian mereka dipinggirkan secara sistematis.
> > Pernyataan tersebut sangat mengejutkan dan mendapat reaksi keras
> dari Malaysia.
> >
> > Sebagai catatan pertama, dapat dikatakan bahwa di Singapura, etnis
> > Tionghoa memang tidak terpinggirkan karena merekalah yang
> mayoritas.
> > Namun bagaimana halnya dengan kelompok Melayu yang menjadi
> minoritas
> > di sana? Apakah kaum Melayu tidak merasa terpinggirkan? Apakah
> mereka
> > tidak merasa berada di emperan dan paviliun rumah orang Singapura?
> > Semoga hal ini bisa menjadi permenungan bagi menteri guru
> Singapura,
> > Lee Kuan Yew.
> >
> > Malaysia memang dalam struktur kebangsaannya mendasarkan diri atas
> > pengelompokan rasial atau etnis, sehingga jika berbicara tentang
> > usaha mencapai keharmonisan bangsa ada kemungkinan terdapat
> > kebijakan yang menyinggung masalah rasial, baik secara positif
> maupun
> > negatif. Lain halnya dengan Indonesia, yang mendasarkan paham
> > kebangsaannya dalam pengertian non-etnis (non-rasial), tetapi etis
> > dan politis.
> >
> > Kebangsaan atau nationhood Indonesia itu baru terbentuk dan
> dibentuk
> > secara bersama-sama--termasuk keturunan asing, seperti etnis
> > Tionghoa--pada hari pernyataan kemerdekaan Indonesia secara formal
> > konstitusional 17 Agustus 1945. Ya, secara yuridis formal di dalam
> > paham kebangsaan Indonesia tidak terkandung diskriminasi rasial,
> > meskipun dalam realitas kehidupan sehari-hari diskriminasi rasial
> itu
> > terjadi dan dirasakan oleh warga keturunan Tionghoa, seirama
> dengan
> > pasang-surut rasa kebangsaan kita.
> >
> > Keikutsertaan etnis Tionghoa dalam pembentukan kebangsaan
> Indonesia
> > itu telah dimulai dengan peran serta orang seperti Liem Koen Hian
> dan
> > tiga orang Tionghoa lainnya, yakni Oei Tjong Hauw, Oei Tiang
> Tjoei,
> > dan Mr. Tan Eng Hoa dalam keanggotaan BPUPKI (Badan Penyelidik
> > Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Usaha nation-
> building
> > Indonesia ini dilanjutkan Yap Tjwan Bing, Siaw Giok Tjhan, dan Tan
> Po
> > Gwan, Auwjong Peng Koen, Yap Thiam Hien, Oh Sien Hong, dan Thio
> Thiam
> > Tjong. Generasi berikutnya adalah K. Sindhunata dan Yunus Yahya
> > beserta kawan-kawan.
> > Mereka ini dalam waktu dan caranya telah secara intens
> mengusahakan
> > terbentuknya nation-building Indonesia.
> >
> > Pada zaman reformasi ini terjadi perkembangan yang positif dalam
> > masalah etnis Tionghoa di Indonesia. Tokoh nasional seperti Amien
> > Rais bersama PAN, Akbar Tandjung bersama Golkar, Megawati
> > Soekarnoputri dengan PDI Perjuangan, KH Abdurrahman Wahid dari NU,
> > Ahmad Syafi'i Ma'arif dan Din Syamsuddin bersama Muhammadiyah,
> mampu
> > memberikan makna tentang kebangsaan secara lebih jelas dan
> > menyediakan ruang yang lebih luas, serta menyejukkan kepada warga
> > keturunan Tionghoa.
> >
> > Berkat usaha dan inspirasi mereka itu, terjadilah kemajuan yang
> > berarti dalam perumusan perundang-undangan. Kata "asli" yang
> memang
> > terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945, yang bisa ditafsirkan
> > sebagai diskriminasi rasial, misalnya, dapat lebih diklarifikasi
> dan
> > dijelaskan. Undang-Undang Kewarganegaraan yang baru disahkan dapat
> > merumuskan bagaimana kedudukan warga Tionghoa sehingga dapat
> mengikat
> > mereka dalam rasa kebangsaan yang nir-diskriminatif. Perlu dicatat
> > pula kesungguhan Slamet Effendy Yusuf, anak NU di Golkar, dan
> > tokoh-tokoh Tionghoa di DPR sekarang, seperti Murdaya Widyawimarta
> > Poo, Alvin Lie Ling Piao, Rudianto Tjen, Enggartiasto Lukita, yang
> > turut memperjuangkan UU Kewarganegaraan yang baru dan disambut
> dengan
> > baik oleh warga keturunan Tionghoa.
> >
> > Proses legislasi masih akan dilanjutkan dengan pembahasan
> Rancangan
> > Undang-Undang Antidiskriminasi, yang menurut Menteri Hukum dan Hak
> > Asasi Manusia Hamid Awaludin akan diprioritaskan. Kemudian RUU
> > Kependudukan dan Catatan Sipil yang kini sedang dibahas untuk
> > menggantikan undang-undang yang berlaku sekarang yang secara
> kolonial
> > memang bersifat rasial. Demikian pula dengan pembahasan RUU
> > Keimigrasian. Kalau ketiga rancangan undang-undang tersebut
> nantinya
> > disahkan menjadi undang-undang dan juga mempunyai semangat dan
> jiwa
> > seperti UU Kewarganegaraan ini, secara formal yuridis masalah
> rasial
> > di Indonesia akan teratasi dan wawasan kebangsaan akan semakin
> bulat.
> >
> > Setelah adanya undang-undang yang baik itu di kemudian hari,
> > tergantung bagaimana ini dilaksanakan di masyarakat. Semua
> > undang-undang ini menjadi penting justru pada saat bangsa
> Indonesia
> > mengarah pada disintegrasi. Kemudian yang tidak kalah pentingnya
> > adalah bagaimana warga keturunan Tionghoa dapat memahami
> > undang-undang ini bersama-sama dengan warga yang lain. Jangan
> sampai
> > mereka, khususnya orang Tionghoa, hanya menuntut haknya tetapi
> > melalaikan kewajibannya. Bagaimana dalam masyarakat, etnis
> Tionghoa
> > ini memiliki rasa senasib dan sepenanggungan, serta solidaritas
> > nasional. Kemudian diharapkan pula bahwa masyarakat lainnya dapat
> > menerima kehadiran etnis Tionghoa ini secara ikhlas sebagai sesama
> > warga sebangsa. Karena hanya dengan sikap yang non-diskriminatif,
> > rasial, dan etnislah dapat dibangun nation-building Indonesia yang
> > memenuhi tuntutan zaman modern ini yang memenuhi tuntutan hak
> asasi,
> > rule of law, dan dasar negara hukum.
> >
> > *Penulis dari CSIS (Centre of International Studies)
> >
> >
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke