bismi-lLah wa-lhamdu li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu 'ala rasuli-lLah
wa 'ala alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah, 
amma ba'd, assalamu 'alaikum wa rahmatu-lLahi wa barakatuH,

lumayan nech tuk ngabuburit, tahu apa artinya khan? apa tuuch
nagbuburit?

silah dech!

wa bi-lLahi-ttaufiq wa-lhidayah, subhanaka-lLahumma wa bihamdiKa
asyhadu alla Ilaha illa Anta, astaghfiruKa wa atubu ilaiK. 
wassalamu 'alaikum

mang elan

Khalifah Umar bin Khaththab

Memang betul, Khalifah Umar bin Khaththab telah berubah ingatan. Banyak
yang melihatnya dengan mata kepala sendiri. Barangkali karena Umar di
masa mudanya sarat dengan dosa, seperti merampok, mabuk-mabukkan, malah
suka mengamuk tanpa berperi kemanusiaan, sampai orang tidak bersalah
banyak yang menjadi korban. Itulah yang mungkin telah menyiksa batinnya
sehingga ia ditimpa penyakit jiwa.
 
Dulu Umar sering menangis sendirian sesudah selesai menunaikan salat.
Dan tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, juga sendirian. Tidak ada
orang lain yang membuatnya tertawa. Bukankah hal itu merupakan isyarat
yang jelas bahwa Umar bin Kaththab sudah gila?
 
Abdurrahman bin Auf, sebagai salah seorang sahabat Umar yang paling
akrab,merasa tersinggung dan sangat murung mendengar tuduhan itu.
Apalagi, hampir semua rakyat Madinah telah sepakat menganggap Umar
betul-betul sinting. Dan, sudah tentu, orang sinting tidak layak lagi
memimpin umat atau negara.
 
Yang lebih mengejutkan rakyat, pada waktu melakukan salat Jum’at
yang lalu, ketika sedang berada di mimbar untuk membacakan
khotbahnya,sekonyon g-konyong Umar berseru, “Hai sariah, hai
tentaraku. Bukit itu, bukit itu, bukit itu!”Jemaah pun geger.
Sebab ucapan tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan isi
khotbah yang disampaikan. “Wah, khalifah kita benar-benar sudah
gila,” gumam rakyat Madinah yang menjadi makmum salat Jumat hari
itu.
 
Tetapi Abdurrahman tidak mau bertindak gegabah, ia harus tahu betul,
apa sebabnya Umar berbuat begitu. Maka didatanginya Umar, dan
ditanyainya,” Wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau berseru-seru
di sela-sela khotbah engkau seraya pandangan engkau menatap
kejauhan?” Umar dengan tenang menjelaskan, “Begini,
sahabatku. Beberapa pekan yang lewat aku mengirimkan Suriah, pasukan
tentara yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi kaum pengacau.
Tatkala aku sedang berkhotbah, kulihat pasukan itu dikepung musuh dari
segala penjuru. Kulihat pula satu-satunya benteng untuk mempertahankan
diri adalah sebuah bukit dibelakang mereka. Maka aku berseru: bukit
itu, bukit itu, bukit itu!”
 
Setengah tidak percaya, Abdurrahman megerutkan kening. “Lalu,
mengapa engkau dulu sering menangis dan tertawa sendirian selesai
melaksanakan salat fardhu?” tanya Abdurrahman pula. Umar
menjawab, “Aku menangis kalau teringat kebiadabanku sebelum
Islam. Aku pernah menguburkan anak perempuanku hidup-hidup. Dan aku
tertawa jika teringat akan kebodohanku. Kubikin patung dari tepung
gandum, dan kusembah-sembah seperti Tuhan.”
 
Abdurrahman lantas mengundurkan diri dari hadapan Khalifah Umar. Ia
belum bisa menilai, sejauh mana kebenaran ucapan Umar tadi. Ataukah hal
itu justru lebih membuktikan ketidakwarasannya sehingga jawabannya pun
kacau balau? Masak ia dapat melihat pasukannya yang terpisah amat jauh
dari masjid tempatnya berkhotbah?
 
Akhirnya, bukti itupun datang tanpa dimintanya. Yaitu manakala Sariah
yang dikirimkan Umar tersebut telah kembali ke Madinah. Wajah mereka
berbinar-binar meskipun nyata sekali tanda-tanda kelelahan dan
bekas-bekas luka yang diderita mereka. Mereka datang membawa
kemenangan.
 
Komandan pasukan itu, pada hari berikutnya, bercerita kepada masyarakat
Madinah tentang dasyatnya peperangan yang dialami mereka. “Kami
dikepung oleh tentara musuh, tanpa harapan akan dapat meloloskan diri
dengan selamat. Lawan secara beringas menghantam kami dari berbagai
jurusan. Kami sudah luluh lantak. Kekuatan kami nyaris terkuras habis.
Sampai tibalah saat salat Jumat yang seharusnya kami kejakan. Persis
kala itu, kami mendengar sebuah seruan gaib yang tajam dan tegas:
“Bukit itu, bukit itu, bukit itu!” Tigakali seruan tersebut
diulang-diulang sehingga kami tahu maksudnya. Serta-merta kami pun
mundur ke lereng bukit. Dan kami jadikan bukit itu sebagai pelindung di
bagian belakang. Dengan demikian kami dapat menghadapi serangan tentara
lawan dari satu arah, yakni dari depan. Itulah awal kejayaan
kami.”
 
Abdurrahman mengangguk-anggukka n kepala dengan takjub. Begitu pula
masyarakat yang tadinya menuduh Umar telah berubah ingatan. Abdurrahman
kemudian berkata, “Biarlah Umar dengan kelakuannya yang terkadang
menyalahi adat. Sebab ia dapat melihat sesuatu yang indera kita tidak
mampu melacaknya”

Dari buku Kisah Teladan - K.H. Abdurrahman Arroisi 
 
Wassalam,
 
* Artikel ini saya copy dari milis tetangga

"Fa maadza ba'da-lhaqq, illa-dl_dlalaal"Leo ImanovAbdu-lLahAllahsSlave


        
        
                
___________________________________________________________ 
Yahoo! Messenger - NEW crystal clear PC to PC calling worldwide with voicemail 
http://uk.messenger.yahoo.com





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke