Surat Mawar Merah Café Bandar: HALIM HD MASIH SEORANG PEMIMPI SETIA
7. Berikut adalah lanjutan dari artikel Halim HD tentang kebudayaan Mandar. Mandar dalam Strategi Budaya hingga Terorisme Ekologi (6) SILATURAHMI TRADISI Oleh: Halim HD. Pekerja Budaya Pada awalnya bermula dari suatu obrolan selingan yang santai namun mendalam di antara coffee break pada acara sarasehan kebudayaan yang bertajuk "Melacak Format Strategi Kebudayaan Mandar" pada tanggal 11 Agustus 2006 lalu. Pada selingan waktu itulah para pekerja senibudaya dari kalangan muda dan kaum tua bertemu dan mencurahkan berbagai gagasan yang selama ini selalu tertunda, setelah pertemuan berulangkali di beberapa kota, seperti di Yogyakarta (1998), Palu (2001), Yogya & Solo (2003-2004), serta beberapa pertemuan informal secara pribadi maupun komunitas antara saya dengan (alm) Alisyahbana serta da'i sastra Emha Ainun Najib yang berulangkali mengadakan silaturahmi secara intensif berusaha menggalang dukungan opini serta merumuskan suatu kerangka kerja untuk menggali dan membangkitkan kembali suatu tatanan kehidupan tradisi yang berangkat dari geografi kultural Mandar. Namun berulangkali pertemuan itu dicoba dikembangkan dan dirumuskan, selalu masuk ke dalam masalah klasik: birokrasi pemda yang dicoba didekati nampaknya tidak cukup peka untuk menerima berbagai gagasan dan rumusan walaupun hal itu sangat kuat kaitannya dengan usaha pengembangan kehidupan kebudayaan dan khususnya tradisi, dan sekaligus pula sebagai usaha pembentukan citra kebudayaan Mandar yang selama ini, diakui/disadari ataupun tidak tenggelam dan hanyut oleh opini kehidupan dan perkembangan senibudaya yang mengatasnamakan Sulsel. Dan kini, ketika suatu momentum pembentukan propinsi Sulbar telah berjalan dan kesadaran serta keinginan untuk mewujudkan itu kian kuat, dan kebetulan pula pihak pengelola kebudayaan dan pariwisata juga ikut membuka pikiran dan dirinya, maka lontaran gagasan dari obrolan yang mendalam di ruang makan hotel Ratih di Polewali itu bergulir bagai bola salju: di Tinambung berbagai kalangan selama kurang lebih seminggu mencoba melacak kembali akar tradisi yang pernah dicari selama bertahun-tahun dan selama itu pula tertunda oleh hambatan kesibukan individual dan birokrasi pemda. Dan pencarian itu menemukan suatu rumusan tema, yakni "Silaturahmi Tradisi" sebagai suatu usaha untuk kembali menggali secara kontinyu khasanah tradisi yang dimiliki oleh warga Mandar sebagai bagian dari penguatan kembali kehidupan kebudayaan yang selama ini terasa telah ditinggalkan oleh derap kehidupan ekonomi dan politik praktis. Dengan kata lain dan secara singkat apa yang menjadi isian utama dari tema "Silaturahmi Tradisi" itu adalah bagaimana menciptakan kehidupan dialogis antar warga, suatu tata kehidupan yang setara dan memandang sejarah masalampau dan masakini dengan cara kritis dan mendalam dan sekaligus pula berusaha untuk mempertemukan berbagai kalangan dan lapisan serta generasi dan latar belakang ideologi politik praktis yang kini telah masuk ke dalam suasana keterbelahan, agar kembali ke dalam pelukan ibu kandung tradisi yang telah melahirkannya. Kita berharap bahwa dengan "Silaturahmi Tradisi" itu kehidupan sosial warga yang berada di wilayah Sulbar tidak masuk ke dalam berbagai bentuk keterpecahan akibat perbedaan ideologi politik praktis akibat pilkada. Dan dengan spirit tradisi itu pula, sebagaimana kita mengetahui dan memaknai tradisi sebagai acuan nilai-nilai kehidupan sehari-hari: manusia dan warga tidak hanya dilihat dari posisi sosial-politik-ekonomi belaka. Lebih dari itu warga sebagai insan pengemban peradaban yang telah diciptakan selama ratusan tahun dan telah membentuk karakter manusia pesisir yang terbuka kepada berbagai nilai dan perubahan jaman. Itulah kira-kira rumusan singkat yang dicoba dipegang. Kini soal yang kita hadapi pada tahapan kerangka kerja yang perlu dipertajam dan perlu pula disinkronkan secara intensif dengan institusi kebudayaan & kepariwisataan serta kalangan eksekutif lainnya. Kita berharap kepada kalangan legislatif bahwa suatu kerangka kerja kebudayaan dengan tekanan penggalian dan pengembangan serta usaha merentangkan prospeknya untuk masadepan kehidupan khasanah tradisi hendaknya tidak hanya sampai ke dalam laporan dan ungkapan keprihatinan belaka. Kita membutuhkan bukan hanya political will tapi juga dibarengi oleh cultural will: langkah kerja yang konkrit. Untuk itulah maka kalangan pekerja senibudaya, khususnya yang berbasis kehidupan di Tinambung dan Polman berusaha merancang tahapan ke arah momentum yang ingin diraih dalam bentuk kegiatan kontinyu akan digelar secara bulanan di sekitar Tinambung yang akan mengundang para mpu pengemban berbagai jenis dan bentuk khasanah tradisi, yang telah dimulai secara spontan dan dorongan solidaritas oleh aktivis Komunitas Teater Flamboyant beserta alumninya di teras rumah (alm) budayawan Husni Jamaluddin pada tanggal 20 Agustus 2006, sehabis sholat Isya' Kerja dengan landasan solidaritas itu sangat menarik lantaran didasarkan kepada keprihatinan dan keinginan kembali menciptakan ruang dialog yang selama ini tersendat-sendat oleh berbagai kesibukan. Maka calong, sattung dan keke yang malam itu disajikan oleh pak Tombo dari desa Oting, Balanipa, beserta komunitasnya mengingatkan kita kepada bukan hanya keceriaan masyarakat yang bersilaturahmi, tapi lebih dari itu suatu pertemuan hati yang paling dalam, yang tersentuh oleh suatu ekspresi dari khasanah tradisi yang selama tiga dekade terakhir ini ter/di-gusur oleh media elektronika, teve, beserta hiburan elekton tunggal yang telah merasuki kehidupan birokrasi dan kalangan elite lokal. Dan makin menarik ketika diskusi, dialog yang santai namun mendalam itu juga dibarengi oleh berbagai pemikiran kritis serta rasa keprihatinan kaum muda, serta ditambah oleh lontaran gagasan dari pak Bole Jamaluddin (adik alm. Husni Jamaluddin), bahwa ruang teras yang disediakannya bukan sekedar ruang keluarga, tapi juga untuk warga masyarakat, dan lantaran itulah diharapkan bahwa pada waktu mendatang juga bisa menerima kehadiran berbagai jenis dan bentuk khasanah tradisi dari daerah lainnya. Keterbukaan dan kesiapan hal itu menjadi dasar dari yayasan Al Jamal yang memang dibentuk oleh keluarga besar Jamaluddin. Guliran ide ke arah kerja yang lebih konkrit juga dilontarkan oleh ustadz Amru Sa'dong yang melontarkan gagasan agar ruang-ruang tamu serta teras kalangan pejabat lokal (bupati, camat, lurah serta kepala dinas atau kantor di kabupaten Polman) terbuka bagi kehidupan dan sajian khasanah tradisi. Sementara itu Syariat Tajuddin, ketua Komunitas Teater Flamboyant dan salah satu motor penggerak kesenian di Polman menyatakan bahwa pihak kantor kebudayaan dan pariwisata kabupaten Polman mempunyai kewajiban moral dan perlu mewujudkan berbagai gagasan dari kalangan pekerja senibudaya itu ke dalam langkah yang riil, yang akan diwujudkan pada tahun 2007 dalam skala yang lebih luas dan komparatif dalam bentuk "Silaturahmi Tradisi" dari berbagai wilayah lainnya. Dan Tinambung beserta pekerja senibudayanya menyanggupi diri sebagai pilot project, suatu model pengembangan kehidupan khasanah tradisi. Dan kehendak kerja kebudayaan seperti itu bukan suatu kemustahilan. Sebab, setiap hati, memang menyimpan keinginan silaturahmi.*** Paris, Oktober 2006. --------------------------- JJ. Kusni [Bersambung......] [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

