Suatu masalah, seperti terungkap dalam judul diatas, gampang2-susahnya hidup
di-alam multikultural. Di alam multukultural di biasakan agar kita semua
menghormati/menghargai kebudayaan orang/pihak lain. Dan ini di alam demokrasi,
di alam multikultural ketentuan menghormati kultur pihak/golongan lain di
dukung oleh keabsahannya dalam peraturan dan undang2.
Tapi bisa2 multikultural ini bisa menjadikan penduduk setempat jadi bingung
dan bisa2 juga ahirnya banyak orang yang dulunya punya niat baik dalam
mengembangkan/menghormati multikultural bisa berbalik haluan.
Contoh dibawah adalah suatu kejadian yang sangat sensitip dan ini bisa
dianggap sebagai kejadian yang bisa dan akan banyak terjadi apabila masing2
pengemban kultur yang berbeda bersikap kaku dan mau dan ingin pendiriannya
selalu dimenangkan.
Contoh dibawah bisa dikatakan secara singkat.....multikultural yang
kebablasan. Multikultural yang karena loophole-nya yang menganga besar bagi
orang yang punya ...ill will/niat jahat/para fundamentalist ....memperkosa
ketentraman antar penduduk yang bermulti dimensi kulturnya.
Apalagi apabila urusan yang sebenarnya bisa mengikat semua kultur dalam
kehidupan harmonis bisa bisa di jegal oleh suatu kepercayaan atau agama yang
hendak di aplikasikan ketentuan2/kaidah2nya kedalam kehidupan se-hari2,
Dan yang lebih parah yalah satu agama yang hendak di aplikasikan di alam
multikultural.Agama dan urusan praktis seperti terbaca dalam topik dibawah ini
harus dipisahkan. Agama hanya untuk di panuti apabila kita dirumah dan tidak
mengganggu kesejahkteraan orang lain.
Seperti disini, didaerah tidak jauh tempat kediamanku pernah ada usaha untuk
mendirikan tempat ibadah, sebuah masjid. Boro2 bisa beli sebidang tanah, lantas
orang2 ini ingin mendirikan sebuah masjid. Di daerah residential tidak boleh
ada toko, apalagi masjid atau gereja atau tempat pertemuan yang bisa mngundang
banyak pengunjung. Semua ada aturannya. Memang susah apabila golongan tertentu
ingin dan berniat mau meng-eksploit filsafat multikultural ini.
Ada contoh lain, golongan Islam minta agar di tempat pemandian umum diadakan
segregasi anatar yang pria dan wanita. Inilah suatu contoh lagi dimana kita
sudah tidak bersikap simpatik. Mau minta yang sudah lama kebiasaan negara ini,
negara klas kapirun memang demikian tata cara kehidupannya. Mau berenang ya
campur2, laki perempuan satu swimming pool.
Juga perkara masuk rumah sakit golongan Muslim minta agar semua barang di
halal kan termasuk di dalamnya makanan buat para pasien.
Kalau semua niat dari tiap komuniti harus disikapi, lha disini Australia ada
100-an lebih etnis grup. Bisa2 negara cuman ngurusi kebudayaannya masing2
pendatang. Kalau sudah mau jadi tamu lha perlu sang tamu itu punya aturan,
menghormati sang host country. Kalau ngak suka ya ....boleh ambil jalan
pintas....balik kandang saja. Simple kan!
Juga rame2 di negara kita soal paksaan memakai pakaian jilbab. Ini kan sudah
ketelanjur. Di negara panas dan humidity bisa sampai 90% pakaian jilbab tidak
cocok, apalagi kalau dilihat dari segi higienis. Tubuh yang di bungkus dari
pucuk rambut sampai telapak kaki bisa menyebarkan bau badan yang ngak
ketulungan.
Pernah akau naik tram, ada seorang wanita yang memakai jilbab dan waktu itu
musin panas, disini panas bisa mencapai 40 derajat celcius. Wah bau yang keluar
dari tubuh itu, bikin aku hampir groggy, keluar tram aku lompat buru2 sipat
kuping. Minta ampun. Inilah sekali lagi kalau perkara kultur itu juga perlu
lihat dimana kita berada.
Selamat membaca.
Harry Adinegara
function printable() { focus() print() } function
windowOpener(theURL,winName,features) {
window.open(theURL,winName,features); } function openWin(theURL,features) {
window.open(theURL,features); }
---------------------------------
---------------------------------
Minneapolis's Muslim cabbies show multiculturalism's myths
FLYING to Minneapolis-St. Paul in the US any time soon? Unless you wish to add
some drama to the trip, don't swan out of the terminal swinging a sack of duty
free alcohol and expect to hop into a waiting taxi. Chances are the first cab
off the rank will be driven by a Muslim immigrant from Somalia who will refuse
the fare on the grounds that alcohol is forbidden by his religion and therefore
in his vehicle. And that the driver will tip off his mates to your infidel
ways, making you wait that much longer for a ride home. It is a situation which
both demonstrates the global nature of the debate on values and which presents
a textbook case of how not to deal with Islamic fundamentalists in the West.
Rather than threatening such cabbies with fines or loss of licence for refusing
to carry fares, the Metropolitan Airports Commission has proposed special
colour-coded lights to indicate which taxis are driven by non-Muslims and those
willing to tote alcohol and those where sharia
applies bumper to bumper. This is exactly the wrong solution. It opens
moderate Muslim taxi drivers who are willing to carry passengers possessing
alcohol open to harassment from their more radical co-religionists. It violates
the long-enshrined legal principle that taxis are a public conveyance open to
all. And it uses a particularly strict interpretation of Muslim sharia law to
create second-class citizens who are forced to endure hassles and delays
because they have offended Islamic sensibilities - in the heart of the American
midwest.
What is happening at the airport in Minneapolis-St. Paul is just as much of an
indictment of multiculturalism as other incidences of self-censorship and
self-flagellation that occur on a near-daily basis among Westerners seeking to
avoid or atone for offending the most prudish or outlandish of Islamic
sensibilities. And it shows what can happen when a culture allows immigrants to
behave as conquerors, instead of politely but firmly suggesting that newcomers
who wish to impose their theocratic ways on a secular community try their luck
elsewhere. One wonders what Minneapolis's cabbies will demand next. The right
not to drive passengers home from the supermarket if they are carrying bacon?
That couples present a marriage licence before holding hands in the back seat?
(In that case, perhaps Margaret Whitlam could get a retirement job driving
taxis in the Twin Cities.)
All this suggests the present debate on Australian values could not be more
timely. Contrary to the shock and horror of inner-city postmodernists and
progressives, there are core values that make Australia what it is and is not.
Individualism, freedom to speak and even offend, equality of the sexes, the
rule of law, the primacy of secular democracy and loyalty to all of the above
are all part of this equation. John Howard has been right to stand up for these
concepts, and the cultural confidence this demonstrates has prevented the
widespread ghettoisation of Muslims that has plagued Europe with violent
results. And the electorate agrees. A recent Newspoll found 77 per cent of
respondents backed a citizenship test on language, Australia and our way of
life. Immigration is largely a success story in the West. But it will only
remain so for as long as newcomers continue to assimilate - rather than the
other way around.
.
privacy terms © The Australian
=252) refR=refR.substring(0,252)+"..."; //--> ';
if(navigator.userAgent.indexOf('Mac')!=-1){document.write(imgN); }else{
document.write(''+ '
'+'
'+imgN+''); } } document.write(""); //-->
---------------------------------
On Yahoo!7
Music: Create your own personalised radio station.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/