Dalam kehidupan saya,  seringkali saya buat skenario film tentang diri saya. 
Temanya tentu saja kematian dan aktor yang memerankannya saya sendiri. 
Sekali waktu saya bayangkan saya mati tenggelam,  saya coba bagaimana 
rasanya detik2 ketika ajal hampir tercerabut akan betapa tersiksanya saya. 
Setelah saya mati maka tubuh ini pelan2 akan mendekati permukaan tanah nun 
di bawah sana, tak lama kemudian kaku dan pucat seluruh tubuh saya.  Saya 
banyangkan juga kalau tak ada orang yg tahu kalau saya tenggelam maka nasib 
tubuh saya sama saja kayak bangkai ikan di dasar air.  Secara pasti tubuh 
saya akan tercabik dengan sendirinya,  satu-satu anggota tubuh ini memisah 
dan mengambil posisi berlainan sesuai gejolak arus air yg menghanyutkannya. 
Saya tahu pastilah emak di rumah dan saudara2 saya menjadi panik karena saya 
tidak pulang beberapa hari.  Tak ada berita dan tak ada petunjuk bahwa saya 
lenyap dari muka bumi untuk keluarga saya.  Saya bayangkan kesedihan emak 
dan saudara2 yg bertahun-tahun tidak tahu bahwa saya sudah mati tenggelam 
dan mayatnya luruh bersama air.

Sekali waktu saya mengira saya akan mati karena kecelakaan lalu lintas. 
Tubuh saya terkapar dan banyak manusia merasa ngeri dan sedih. Saya 
bayangkan kemudian para keluarga saya diberi tahu oleh petugas kalau saya 
sudah menjadi mayat.  Saya bayangkan emak tentu akan sedih dan pastilah air 
matanya tak akan kering beberapa hari kemudian. Emak akan mulai 
menghitung-hitung betapa malangnya nasib saya. Masih muda, lajang, banyak 
bekerja keras membantu keluarga, tak punya harta yg ditinggalkan.  Emak 
pasti mengitung-hitung betapa hingga ajal menjemput saya belum merasa hidup 
dari hasil karya saya selama ini selain penderitaan dari kecil yang miskin 
dan hingga akhir hayat.

Sekali waktu saya mengira akan mati duduk.  Kini karena saya sudah 
berkeluarga maka saya melihat begitu anggota keluarga,  pasangan hidup,  dan 
anak-anak melihat orang tuanya terbujur kaku menjerit histerislah mereka. 
Dua anak yg masih kecil mungkin tidak begitu paham apa yg namanya kematian. 
Tapi saya sudah bayangkan emak saya akan menghitung-hitung betapa malangnya 
anak saya.  Kecil, polos, lugu dan miskin ketika orang tuanya telah tiada. 
Siapa yang akan memelihara mereka hingga besar kelak?  Emak dan saudara2 
saya pastilah berpikir anak2 saya betapa malangnya dan mereka mungkin merasa 
menyesal tidak berdaya untuk menampung kedua anak saya. Emak saya akan 
terus2 sering membelai rambut kedua anak saya yg masih kecil-kecil sekali. 
Pastilah emak saya akan sering2 bersenandung dan melagukan syair pilu. 
Dunia terasa kelam dan buram.

Ada banyak lagi skenario kematian yg mampir ke imajinasi saya. Setiap kali 
saya memerankan tokoh utama dalam film tersebut (kelak akan menjadi nyata) 
selalu saja saya sampai pada kehampaan.  Mati bukan harus disesali, begitu 
batin saya.  Tapi kesedihan memang bukan karena kematian yg saya alami, 
tetapi melihat yg ditinggalkan.  Kalau saya mati, maka sebtulnya itu hanya 
perulangan dari ketetapan dari Illahi pada org yg berbeda dalam setiap jeda 
beda waktu.

Allah maha pemurah dan tidak akan memberi derita yg paling berat pada 
hambanya di luar batas kemampuannya. Dan setiap akhir skenario kematian 
saya,  saya tahu segalanya akan berjalan sesuai kadar yg ditetapkan-Nya. 
Kita tak bisa mengelak dari kematian,  isteri/suami tak bisa mengelak dari 
kehilangan pasangannya.  Anak, orang tua kita, saudara dan lainnya akan 
secara alamiah menyesuaikan diri dengan kenyataan yg datang.  Tuhan Semesta 
Alam akan memberikan kekuatan pada masing-masing yg ditinggalkan menurut 
kehendak-Nya.

eLfiqa










***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke