Sayang ya samurai-samurai jepang itu nggak membunuh semua antek-antek kompeni... Coba kalau semuanya dibabat sampai bonggolnya... Mantap jo.... Gigi balas gigi mata balas mata... DG
On 10/16/06, Batara Hutagalung <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mencermati diskusi yang makin menghangat mengenai VOC (Verenigde > Oost-Indische Compagnie), apakah suatu perusahaan dagang atau penjajah, > sebagaimana dimuat di website Radio Nederland, saya sampaikan di bawah ini > tulisan mengenai VOC. Bahwa VOC hancur karena korupsi, hal ini ditulis > sendiri oleh para sejarawan Belanda, dan bahkan kolusi dan nepotisme telah > dipraktekkan sejak zaman VOC. Jadi masalah KKN bukan hal baru bagi Belanda. > Silakan menilai sendiri. > Tulisan ini adalah cuplikan dari naskah buku saya berikutnya mengenai > sejarah Nusantara. Naskah tersebut telah selesai 95 %, dan akan setebal > sekitar 1.000 halaman. Buku ini akan menjadi tulisan sejarah "versi lain", > yang berbeda dengan penulisan sejarah, yang selama ini hanya dibuat oleh > penguasa, atau untuk mempertahankan dan melanggengkan kekuasaan. Untuk > penerbitannya masih menanti adanya sponsor. > Beberapa bagian dari naskah tersebut dapat dibaca di: > http://batarahutagalung.blogspot.com, > dan juga beberapa tulisan saya ada di website Komite Utang Kehormatan > Belanda (KUKB): http://www.kukb.nl. > Pada 20 Maret 2002, bertepatan dengan puncak acara perayaan 400 tahun > berdirinya VOC, saya memimpin Komite Nasional Pembela Martabat Bangsa > Indonesia (KNPMBI) melakukan demonstrasi di Kedutaan Belanda dan mengajukan > protes atas glorifikasi VOC, yang di Belanda dinyatakan sebagai zaman > keemasan (de gouden eeuw). KNPMBI menyatakan, bahwa VOC merupakan awal dari > penjajahan, perbudakan, kesengsaraan dan kematian jutaan rakyat di > Nusantara. > Duta Besar Belanda waktu itu, Baron Schelto van Heemstra, menyetujui > usulan untuk bersama-sama menyelenggarakan seminar yang membahas dua sisi > VOC. > Seminar dengan judul: "VOC. The Two Faces of the World's First > Multinational Company", diselenggarakan oleh Komite Nasional Pembela > Martabat Bangsa Indonesia (KNPMBI) bersama Kedutaan Besar Kerajaan Belanda > di Hotel Peninsula, Jakarta, pada 3 dan 4 September 2002. > Seminar dua hari yang dihadiri oleh sekitar 250 peserta (sebagian besar > adalah guru-guru, dosen dan mahasiswa jurusan sejarah), menghadirkan 10 > pembicara, yaitu 6 pakar sejarah dari Indonesia (Prof. Dr. Adrian Lapiaan, > Prof. Dr. R.Z. Leirissa, Prof. Dr. A.M. Djuliati Suroyo, Prof. Dr. Bambang > Purwanto, Dra. Soemartini dan Mona Lohanda, Mphil.) dan 4 pakar sejarah dari > Belanda (Prof. Dr. Leonard Blusse, Dr. Gerrit Knaap, Dr. Femme Gaastra dan > Dr. Lodewijk Wagenaar). > (P.S. Kalau tak salah, Ida Khouw hadir pada acara perkenalan dengan mereka > tanggal 2 September 2002 di kediaman Maarten Mulder, Atase Pers dan > Kebudayaan Kedutaan Belanda/Direktur Erasmus Huis. Mohon konfirmasi dari Ida > Khouw). > Kedutaan Besar Belanda menanggung sekitar 95% biaya penyelenggaraan > seminar. > Hasil seminar diterbitkan dalam bentuk buku yang memuat 10 makalah dalam > dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Karena keterbatasan dana, buku dicetak > hanya sebanyak 700 eksemplar, dan 500 eksemplar dijual untuk umum yang kini > sudah terjual habis. Buku tersebut merupakan kajian mengenai VOC, YANG > PERTAMA DALAM BAHASA INDONESIA! > Eksemplar terakhir ada pada saya, sebagai PEMEGANG HAK CIPTA. > Apabila ada sponsor, saya bersedia menerbitkan CETAKAN KE II (!). > > Salam Nusantara > > Batara R. Hutagalung > ------------------------------------------ > > Pada 20 Mei 2005, KOMITE UTANG KEHORMATAN BELANDA (KUKB) menuntut > Pemerintah Belanda untuk: > Pertama, Mengakui Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945; dan > Kedua, Meminta Maaf Kepada Bangsa Indonesia atas Penjajahan, > Perbudakan, Pelanggaran HAM Berat dan Kejahatan Atas Kemanusiaan. > Bagi yang mendukung petisi tersebut melalui internet (petisi-online), > silakan mengisi nama dalam daftar petisi. > Klik: http://www.PetitionOnline.com/brh41244/petition.html. > Lalu Klik: Sign the petition, > Lalu klik: Preview your signature, > Terakhir klik: Approve signature dan selesai. (Email Anda tidak muncul > pada display). > > Catatan: Ketika Menlu Belanda Ben Bot berkunjung ke Jakarta, pada 16 > Agustus 2005 dia menyatakan, bahwa Pemerintah Belanda, yang selama ini hanya > mengakui Republik Indonesia serikat (RIS), kini menerima 17.8.1945 secara > moral dan politis, hanya de facto, namun tidak secara yuridis (de jure). > Jadi bagi Pemerintah Belanda, Republik Indonesia merupakan ANAK HARAM, yang > diterima keberadaannya, namun tidak diakui legalitasnya! > > ============================================================== > > VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) > > Datangnya orang Eropa melalui jalur laut diawali oleh Vasco da Gama, yang > pada 1407-1408 berhasil berlayar dari Eropa ke India melalui Semenanjung > Harapan (Cape of Good Hope) di ujung selatan Afrika, sehingga mereka tidak > perlu lagi bersaing dengan pedagang-pedagang Timur Tengah untuk memperoleh > akses ke Asia Timur, yang selama ini ditempuh melalui jalur darat yang > sangat berbahaya. > Pada awalnya, tujuan utama bangsa-bangsa Eropa ke Asia Timur dan Tenggara > termasuk ke Nusantara adalah untuk perdagangan, demikian juga dengan bangsa > Belanda. Misi dagang yang kemudian dilanjutkan dengan politik pemukiman > kolonisasi- dilakukan oleh Belanda dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, > Sumatera dan Maluku, sedangkan di Suriname dan Curaçao, tujuan Belanda sejak > awal adalah murni kolonisasi (pemukiman). > Bangsa Portugis, yang terlebih dahulu datang ke Indonesia sebelum Belanda, > selain di Malakka, memusatkan perhatian mereka di kepulauan Maluku, yang > kaya akan rempah-rempah komoditi langka dan sangat mahal di Eropa. Setelah > dapat mematahkan perlawanan rakyat Maluku tahun 1511, Portugis menguasai > perdagangan rempah-rempah di kepulauan Maluku selama sekitar 100 tahun. > Pada akhir abad 16, Inggris dan Belanda mulai menunjukkan minatnya di > wilayah Asia Tenggara dan melakukan beberapa pelayaran ke wilayah ini, > antara lain dilakukan oleh James Lancaster tahun 1591, dua bersaudara > Frederik dan adiknya, Cornelis de Houtman tahun 1595 dan kemudian tahun > 1599, Jacob van Neck tahun 1598. Lancaster datang lagi tahun 1601. Ketika de > Houtman bersaudara tahun 1596 pertama kali tiba di Banten, mereka disambut > dengan sangat ramah, demikian juga dengan para pedagang lain, yang setelah > itu makin banyak datang ke Jawa, Sumatera dan Maluku. Sebelum Belanda > membuat Jayakarta/Sunda Kalapa (setelah menduduki Jayakarta, Belanda > kemudian menamakannya Batavia) menjadi pelabuhan yang merupakan basis > perdagangan dan kubu militernya, pelabuhan Banten adalah pelabuhan > internasional yang terbesar di Asia Tenggara dan menjadi pusat perdagangan > antar benua. > Ketika kembali ke Asia Tenggara tahun 1599, Houtman bersaudara terlibat > pertempuran melawan kerajaan Aceh, di mana Cornelis tewas dan Frederik > ditawan, dan setelah dibebaskan tahun 1602, ia kembali ke Amsterdam. Selama > di penjara, ia sempat belajar bahasa Melayu dan menerbitkan kamus Melayu > pertama pada tahun 1603. > Adalah para pedagang Inggris yang memulai mendirikan perusahaan dagang di > Asia pada 31 Desember 1600 yang dinamakan The Britisch East India Company > dan berpusat di Calcutta. Kemudian Belanda menyusul tahun 1602 dan Prancis > pun tak mau ketinggalan dan mendirikan French East India Company tahun 1604. > Pada 20 Maret 1602, para pedagang Belanda mendirikan Verenigde > Oost-Indische Compagnie - VOC (Perkumpulan Dagang India Timur). Di masa itu, > terjadi persaingan sengit di antara negara-negara Eropa, yaitu Portugis, > Spanyol kemudian juga Inggris, Perancis dan Belanda, untuk memperebutkan > hegemoni perdagangan di Asia Timur. Untuk menghadapai masalah ini, oleh > Staaten Generaal di Belanda VOC diberi wewenang memiliki tentara yang harus > mereka biayai sendiri. Selain itu, VOC juga mempunyai hak, atas nama > Pemerintah Belanda yang waktu itu masih berbentuk Republik- untuk membuat > perjanjian kenegaraan dan menyatakan perang terhadap suatu negara. Wewenang > ini yang mengakibatkan, bahwa suatu perkumpulan dagang seperti VOC, dapat > bertindak seperti layaknya satu negara. > Hak-hak istimewa yang tercantum dalam Oktrooi (Piagam/Charta) tanggal 20 > Maret 1602 meliputi: > a. Hak monopoli untuk berdagang dan berlayar di wilayah > sebelah timur Tanjung Harapan dan sebelah barat Selat Magelhaens serta > menguasai perdagangan untuk kepentingan sendiri; > b. Hak kedaulatan (soevereiniteit) sehingga dapat > bertindak layaknya suatu negara untuk: > 1. memelihara angkatan perang, > 2. memaklumkan perang dan mengadakan perdamaian, > 3. merebut dan menduduki daerah-daerah asing di luar Negeri Belanda, > 4. memerintah daerah-daerah tersebut, > 5. menetapkan/mengeluarkan mata-uang sendiri, dan > 6. memungut pajak. > > (Catatan penulis: Saya punya satu coin VOC dari tahun 1790) > Tahun 1603 VOC memperoleh izin di Banten untuk mendirikan kantor > perwakilan, dan pada 1610 Pieter Both diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC > pertama (1610-1614), namun ia memilih Jayakarta sebagai basis administrasi > VOC. Sementara itu, Frederik de Houtman menjadi Gubernur VOC di Ambon (1605 > 1611) dan setelah itu menjadi Gubernur untuk Maluku (1621 1623). > Belanda konsisten menggunakan kekuatan bersenjata untuk memuluskan > perdagangannya dan menjalankan taktik divide et impera (memecah-belah dan > kemudian menguasai). Apabila ada konflik internal di satu kerajaan, atau ada > pertikaian antara satu kerajaan dengan kerajaan tetangganya, Belanda > membantu salah satu pihak untuk mengalahkan lawannya, dengan imbalan yang > sangat menguntungkan bagi Belanda, termasuk antara lain memperoleh sebagian > wilayah yang bersama-sama dikalahkan. Dengan tipu muslihat dan bantuan > penguasa setempat, Belanda berhasil mengusir Portugis dari wilayah yang > mereka kuasai di Maluku, yang sangat kaya akan rempah-rempah, yang mahal > harganya di Eropa. > > Jayakarta, Jajahan VOC Pertama > > Bukti tertua mengenai eksistensi pemukiman penduduk yang sekarang bernama > Jakarta adalah Prasasti Tugu yang tertanam di desa Batu Tumbuh, Jakarta > Utara. Prasasti terebut berkaitan dengan 4 prasasti lain yang berasal dari > zaman kerajaan Hindu, Tarumanegara ketika diperintah oleh Raja Purnawarman. > Berdasarkan Prasasti Kebon Kopi, nama Sunda Kalapa (Sunda Kelapa) sendiri > diperkirakan baru muncul abad sepuluh. > Pemukiman tersebut berkembang menjadi pelabuhan, yang kemudian juga > dikunjungi oleh kapal-kapal dari mancanegara. Hingga kedatangan orang > Portugis, Sunda Kalapa masih di bawah kekuasaan kerajaan Hindu lain, Pakuan > Pajajaran. Sementara itu, Portugis telah berhasil menguasai Malakka, dan > tahun 1522 Gubernur Portugis d'Albuquerque mengirim utusannya, Enrique Leme > yang didampingi oleh Tome Pires untuk menemui Raja Sangiang Surawisesa. Pada > 21 Agustus 1522 ditandatangani perjanjian persahabatan antara Pajajaran dan > Portugis. Diperkirakan, langkah ini diambil oleh Raja Pakuan Pajajaran guna > memperoleh bantuan dari Portugis dalam menghadapi ancaman kerajaan Islam > Demak, yang telah menghancurkan beberapa kerajaan Hindu, termasuk Majapahit. > Namun ternyata perjanjian ini sia-sia saja, karena ketika diserang oleh > Kerajaan Islam Demak, Portugis tidak membantu mempertahankan Sunda Kalapa. > Sebagaimana telah dikemukakan di atas, pelabuhan Sunda Kalapa diserang > oleh tentara Demak yang dipimpin oleh Fatahillah, Panglima Perang asal > Gujarat, India, dan jatuh pada 22 Juni 1527, dan setelah berhasil direbut, > namanyapun diganti menjadi Jayakarta. Setelah Fatahillah berhasil > mengalahkan dan mengislamkan Banten, Jayakarta berada di bawah kekuasaan > Banten, yang kini menjadi kesultanan. > Ironisnya, kini tanggal 22 Juni ditetapkan sebagai hari "kelahiran" > Jakarta. Jelas tanggal ini tidak mencerminkan berdirinya kota Jakarta, > karena dari berbagai prasasti, telah terbukti bahwa Sunda Kalapa telah ada > sejak abad 10. Ironis, karena hari penaklukkan Jakarta yang dipimpin oleh > seorang asing, ditetapkan sebagai hari "kelahiran" Jakarta. > Pieter Both yang menjadi Gubernur Jenderal VOC pertama, lebih memilih > Jayakarta sebagai basis administrasi dan perdagangan VOC daripada pelabuhan > Banten, karena pada waktu itu di Banten telah banyak kantor pusat > perdagangan orang-orang Eropa lain seperti Portugis, Spanyol kemudian juga > Inggris, sedangkan Jayakarta/Sunda Kalapa masih merupakan pelabuhan kecil. > Pada tahun 1611 VOC mendapat izin untuk membangun satu rumah kayu dengan > fondasi batu di Jayakarta, sebagai kantor dagang. Kemudian mereka menyewa > lahan sekitar 1,5 hektar di dekat muara di tepi bagian timur Sungai > Ciliwung, yang menjadi kompleks perkantoran, gudang dan tempat tinggal orang > Belanda, dan bangunan utamanya dinamakan Nassau Huis. > Ketika Jan Pieterszoon Coen menjadi Gubernur Jenderal (1618 1623), ia > mendirikan lagi bangunan serupa Nassau Huis yang dinamakan Mauritius Huis, > dan membangun tembok batu yang tinggi, di mana ditempatkan beberapa meriam. > Tak lama kemudian, ia membangun lagi tembok setinggi 7 meter yang > mengelilingi areal yang mereka sewa, sehingga kini benar-benar merupakan > satu benteng yang kokoh, dan mulai mempersiapkan untuk menguasai Jayakarta. > Dari basis benteng ini pada 30 Mei 1619 Belanda menyerang tuan rumah, yang > memberi mereka izin untuk berdagang, dan membumihanguskan keraton serta > hampir seluruh pemukiman penduduk. Berawal hanya dari bangunan separuh kayu, > akhirnya Belanda menguasai seluruh kota, dan kemudian seluruh Nusantara. > Semula Coen ingin menamakan kota ini sebagai Nieuwe Hollandia, namun de > Heeren Seventien di Belanda memutuskan untuk menamakan kota ini menjadi > Batavia, untuk mengenang bangsa Batavir, yaitu bangsa Germania yang bermukim > di tepi Sungai Rhein yang kini > dihuni oleh orang Belanda. Dan nama Batavia ini digunakan oleh Belanda > selama lebih dari 300 tahun. > Dengan demikian, Batavia (Sunda Kalapa, Jayakarta, Jakarta) adalah jajahan > Belanda pertama di Nusantara. Entah sejak kapan, penduduk di kota Batavia > dinamakan atau menamakan diri- orang Betawi, yang mengambil nama dari > Batavia tersebut. Dilihat dari sejarah dan asal-usulnya, jelas penamaan ini > keliru. > Tanggal 30 Mei 1619 dapat ditetapkan sebagai awal penjajahan Belanda di > bumi Nusantara, yang berakhir tanggal 9 Maret 1942, yaitu dengan resmi > menyerahnya Pemerintah India Belanda kepada Jepang di Kalijati, Subang, Jawa > Barat. > > Legalisasi Perbudakan dimulai oleh VOC > > Perbudakan memang telah ada sebelum orang-orang Eropa datang ke Asia > Tenggara, namun di masa VOC, berdasarkan Bataviase Statuten (Undang-Undang > Batavia) tahun 1642, perbudak diresmikan dengan adanya Undang-Undang > Perbudakan. > Sebagian besar perbudakan terjadi di Jawa, namun budak-budak tersebut > berasal dari luar Jawa, yaitu para tawanan dari daerah-daerah yang > ditaklukkan Belanda, seperti dari pulau Banda tahun 1621, di mana 883 orang > (176 orang mati dalam perjalanan) dibawa ke pulau Jawa dan dijual sebagai > budak. > Perdagangan budak di seluruh dunia memang telah terjadi sejak ribuan tahun > lalu, terutama di zaman Romawi. Yang diperdagangkan di pasar budak adalah > rakyat, serdadu, perwira dan bahkan bangsawan dari negara-negara yang kalah > perang dan kemudian dijual sebagai budak. Selama Perang Salib/Sabil yang > berlangsung sekitar 200 tahun, ratusan ribu orang dari berbagai etnis yang > ditawan, dijual sebagai budak sehingga membanjiri pasar budak, dan > mengakibatkan anjloknya harga budak waktu itu. > Dari abad 15 sampai akhir abad 19, seiring dengan kolonialisme > negara-negara Eropa terhadap negara-negara atau wilayah yang mereka duduki > di Asia, Afrika dan Amerika, perdagangan budak menjadi sangat marak, juga > terutama untuk benua Amerika, di mana para penjajah memerlukan tenaga kerja > untuk menggarap lahan pertanian dan perkebunan. Di Amerika Serikat negara > yang mengklaim sebagai sokoguru demokrasi- perbudakan secara resmi baru > dihapus tahun 1865, namun warga kulit hitam masih harus menunggu seratus > tahun lagi, sampai mereka memperoleh hak memilih dan dipilih. > Di Afrika, Belanda memiliki 2 portal perdagangan budak. Satu di St. George > d'Elmina, Gold Coast (sekarang Ghana) dan satu lagi di Pulau Goree, Senegal. > Melalui kedua portal tersebut Belanda membawa budak-budak yang mereka beli > dari orang-orang Arab pedagang budak. Pedagang-pedagang budak orang Arab > bekerjasama dengan orang-orang Afrika menculik warga Afrika dari desa-desa > di pedalaman Afrika -tak pandang bulu, laki-laki, perempuan dan anak-anak- > dan kemudian menjual mereka sebagai budak. > Selama kurun waktu lebih dari 300 tahun, berjuta-juta orang Afrika diculik > dan kemudian dijual sebagai budak. Sebelum dibawa dengan kapal ke > negara-negara tujuan pembeli, mereka disekap secara tidak manusiawi dan > berjejal-jejal termasuk anak-anak dan perempuan- di penjara-penjara, tanpa > adanya sinar matahari, udara dan air bersih. Biasanya sekitar 20% dari > budak-budak tersebut mati di tengah jalan, karena penyakit, mogok makan, > siksaan atau bunuh diri, namun yang dibawa ke benua Amerika, jumlah yang > mati dalam perjalanan mencapai 40-50%. > Selain mengontrak orang-orang Eropa dan pribumi untuk menjadi serdadu di > dinas ketentaraan India-Belanda, juga terdapat pasukan yang terdiri dari > yang dinamakan Belanda Hitam (zwarte Nederlander), yaitu mantan budak yang > dibeli dari Afrika. > Mulai tahun 1830, di Gold Coast (Ghana) Afrika Barat, Belanda membeli > budak-budak, dan melalui St George d'Elmina dibawa ke India Belanda untuk > dijadikan serdadu. Untuk setiap kepala, Belanda membayar f 100,- kepada Raja > Ashanti. Sampai tahun 1872, jumlah mereka mencapai 3.000 orang dan > dikontrak untuk 12 tahun atau lebih. Berdasarkan Nationaliteitsregelingen > (Peraturan Kewarganegaraan), mereka masuk kategori berkebangsaan Belanda, > sehingga mereka dinamakan Belanda Hitam (zwarte Nederlander). Karena mereka > tidak mendapat kesulitan dengan iklim di Indonesia, mereka menjadi tentara > yang tangguh dan berharga bagi Belanda, dan mereka menerima bayaran sama > dengan tentara Belanda. Namun dari gaji yang diterima, mereka harus mencicil > uang tebusan sebesar f 100,-. Memang orang Belanda tidak mau rugi, walaupun > orang-orang ini telah berjasa bagi Belanda dalam mempertahankan kekuasaan > mereka di India Belanda. > Sebagian besar dari mereka ditempatkan di Purworejo. Tahun 1950, tersisa > sekitar 60 keluarga Indo-Afrika yang dibawa ke Belanda dalam rangka > "repatriasi." > Walaupun kekuasaan dari VOC berpindah kepada Pemerintah India-Belanda, > perdagangan budak berlangsung terus, dan hanya terhenti selama beberapa > tahun ketika Inggris berkuasa di India-Belanda (British Inter-regnum). > Perang koalisi di Eropa juga berpengaruh terhadap masalah perbudakan di > India-Belanda. Ketika Inggris menaklukkan Belanda dan mengambil alih > kekuasaan di India Belanda tahun 1811, pada tahun 1813 Letnan Gubernur > Jenderal Thomas Stamford Raffles melarang perdagangan budak. Namun dengan > adanya perjanjian perdamaian di Eropa, kembali membawa perubahan di India > Belanda di mana Belanda "menerima kembali" India-Belanda dari tangan Inggris > pada tahun 1816. Pada tahun itu juga Pemerintah India Belanda memberlakukan > kembali perdagangan budak. > Tahun 1789 tercatat 36.942 budak di Batavia dan sekitarnya. > Tahun 1815 tercatat 23.239 budak, ketika di bawah kekuasaan Inggris. > Tahun 1828 tercatat 6.170 budak. > Tahun 1844 masih terdapat 1.365 budak di Batavia. > Dari data/tabel di bawah ini terlihat, bahwa antara tahun 1679 1699, > lebih dari 50% penduduk Batavia adalah budak (!). > Tabel 1. Jumlah penduduk dan jumlah budak di berbagai pemukiman Belanda > di Samudra India akhir abad 17. > (Tabel 1 & 2, lihat: > http://www.historycoop.org/journals/jwh/14.2/vink.html) > > Tabel 2. Jumlah budak VOC dan jumlah seluruh budak Belanda dengan > rata-rata jumlah perdagangan budak per tahun oleh Belanda, sekitar tahun > 1688. > > Barulah pada 7 Mei 1859 dibuat Undang-Undang untuk menghapus perbudakan, > yang mulai berlaku pada 1 Januari 1860. Namun ini tidak segera diberlakukan > di seluruh wilayah India-Belanda. Di Bali pembebasan budak baru berlangsung > tahun 1877, dan di beberapa daerah lain masih lebih belakang dari ini. > Di Belanda sendiri, perbudakan baru secara resmi dihapus pada 1 Juli 1863. > Pada bulan Agustus 2001, dalam Konferensi internasional di Durban, Afrika > Selatan, baru beberapa negara Eropa secara resmi menyampaikan permintaan > maaf atas perbudakan tersebut, namun belum ada satupun negara bekas penjajah > yang memberi kompensasi. > > Pembantaian oleh Belanda di Pulau Banda. Hongi Tochten > > Tidak lama setelah kedatangan mereka di Maluku, para pedagang Belanda > melakukan cara-cara yang kejam untuk menguasai wilayah yang sangat banyak > memberi kenguntung bagi mereka, seperti yang dilakukan oleh Gubernur > Jenderal Jan Pieterszoon Coen terhadap pulau Banda pada tahun 1621 (lihat: > Willard A. Hanna, "Indonesian Banda", Colonialism and its Altermath in the > Nutmeg Islands, Yayasan Warisan dan Budaya Banda Neira, Maluku, 1991, > Reprint), > Dari Batavia, dia membawa armada yang terdiri dari 13 kapal besar, tiga > kapal pengangkut perlengkapan serta 36 kapal kecil. Pasukannya terdiri dari > 1.655 orang Eropa (150 meninggal dalam perjalanan) dan diperkuat dengan > 250 orang dari garnisun di Banda. Ini adalah kekuatan terbesar yang > dikerahkan Belanda pada waktu itu ke wilayah Maluku, sehingga tidak > diragukan lagi keberhasilannya. 286 orang Jawa dijadikan pengayuh kapal. > Selain itu terdapat 80 100 pedagang Jepang; beberapa diantaranya adalah > pendekar Samurai yang kemudian berfungsi sebagai algojo pemenggal kepala. > Ini merupakan kerjasama pertama antara Belanda dan Jepang dalam penjajahan > di Indonesia. > Dalam waktu singkat, perlawanan rakyat Banda dapat dipatahkan oleh tentara > Belanda. Penduduk kepulauan Banda yang tidak tewas, ditangkap dan mereka > yang tidak mau menyerah kepada Belanda, melompat dari tebing yang curam di > pantai sehingga tewas. > Semua pimpinan rakyat Banda yang tidak mau bekerjasama dengan Belanda > dijatuhi hukuman mati yang segera dilaksanakan. Mengenai pelaksanaan > eksekusi terhadap pimpinan rakyat Banda pada 8 Mei 1621, Letnan (Laut) > Nicholas van Waert menulis antara lain: > " Keempatpuluhempat tawanan dibawa ke Benteng Nassau, delapan Orang > Kaya (pemuka adat di Banda) dipisahkan dari lainnya, yang dikumpulkan > seperti domba. Dengan tangan terikat, mereka dimasukkan ke dalam kerangkeng > dari bambu dan dijaga ketat. Mereka dituduh telah berkonspirasi melawan Tuan > Jenderal dan telah melanggar perjanjian perdamaian. > Enam serdadu Jepang melaksanakan eksekusi dengan samurai mereka yang > tajam. Para pemimpin Banda dipenggal kepalanya kemudian tubuh mereka dibelah > empat. Setelah itu menyusul 36 orang lainnya, yang juga dipenggal kepalanya > dan tubuhnya dibelah empat. Eksekusi ini sangat mengerikan untuk dilihat. > Semua tewas tanpa mengeluarkan suara apa pun, kecuali satu orang yang > berkata dalam bahasa Belanda "Tuan-tuan, apakah kalian tidak mengenal belas > kasihan", yang ternyata tidak ada gunanya. > Kejadian yang sangat menakutkan itu membuat kami menjadi bisu. Kepala dan > bagian-bagian tubuh orang-orang Banda yang telah dipotong, ditancapkan di > ujung bambu dan dipertontonkan. Demikianlah kejadiannya: Hanya Tuhan yang > mengetahui siapa yang benar. > Kita semua, sebagai yang menyatakan beragama Kristen, dipenuhi rasa > kecemasan melihat bagaimana peristiwa ini berakhir, dan kami merasa tidak > sejahtera dengan hal ini ..". > > Laporan ini dikutip oleh Willard A. Hanna dari "De Verovering der > Banda-Eilanden," Bijdragen van het Koninklijke Institut voor de Taal-, > Land-, en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie, Vol. II (1854), hlm. 173. > Laporan ini semula beredar secara anonim di Belanda, namun cendekiawan > Belanda yang terkenal, H.T. Colenbrander menghubungkan ini dengan salah > seorang perwira dari Gubernur Jenderal Coen, yaitu Nicholas van Waert > tersebut. > Para pengikut tokoh-tokoh Banda beserta seluruh keluarga mereka dibawa > dengan kapal ke Batavia untuk kemudian dijual sebagai budak. Jumlah seluruh > warga Banda yang dibawa ke Batavia adalah 883 orang terdiri dari 287 pria, > 356 perempuan dan 240 anak-anak. 176 orang meninggal dalam perjalanan. > Banyak di antara mereka yang meninggal karena siksaan, kelaparan atau > penyakit. > Demikianlah pembantaian massal pertama yang dilakukan oleh Belanda di Bumi > Nusantara. Kekejaman Belanda tidak terbatas terhadap pribumi di Maluku, > melainkan juga terhadap para pesaing mereka, dalam hal ini orang-orang > Inggris. Persaingan antara Belanda dan Inggris untuk menguasai rempah-rempah > di Maluku mencapai puncaknya pada tahun 1623, dua tahun setelah pembantaian > rakyat Banda, di mana para pedagang Inggris juga dibantai oleh serdadu > bayaran VOC. Para pedagang Inggris tersebut dibunuh secara kejam oleh > Belanda; leher mereka disembelih seperti anjing, sebagaimana diungkapkan > oleh Laurens van der Post (lihat: Laurens van der Post: "The Admiral's > Baby", John Murray, London, 1996.): > " It was on Ambon in 1623 that the Dutch slaughtered the English traders > they found there, cutting their throats like dogs " > > Secara perlahan-lahan, Belanda menyingkirkan pesaing-pesaing perdagangan > mereka dari Eropa, yaitu Portugis, Spanyol dan Inggris, dan dengan demikian > berhasil memegang monopoli atas perdagangan rempah-rempah dari wilayah > Maluku ke Eropa. Para penguasa setempat yang tidak bersedia memenuhi > keinginan VOC disingkirkan dengan segala cara, dan kemudian diganti dengan > Raja, Sultan atau penguasa lain yang patuh kepada Belanda. Dengan cara ini > VOC dapat memaksa penguasa setempat untuk membuat kebijakan dan peraturan > yang sangat menguntungkan VOC, namun merugikan rakyat setempat. Para > penguasa boneka Belanda, disamping memperoleh "kekuasaan", juga mendapat > keuntungan materi. Dengan mereka, VOC membuat perjanjian yang dinamakan > "kontrak extirpatie", yaitu menebang dan memusnahkan semua pohon cengkeh dan > pala di wilayahnya, dan tidak mengizinkan rakyat mereka untuk menanam > kembali dan memelihara pohon rempah-rempah tersebut. Sebagai imbalannya, > para penguasa memperoleh uang sebagai > pengganti kerugian yang dinamakan recognitie-penningen. > Di bawah Gubernur Jenderal Mattheus de Haan (1725 1729) dan kemudian > dilanjutkan oleh Diederik Durven (1729 dipecat tahun 1732) dilakukan > extirpartie secara besar-besaran, guna menjaga agar harga rempah-rempah > tetap tinggi. Untuk melaksanakan extirpatie tersebut, setiap tahun VOC > melakukan pelayaran hongi atau "Hongi tochten", yaitu armada yang terdiri > dari sejumlah kora-kora, kapal tradisional Ternate-Tidore. > Menurut catatan statistik Kompeni, sebagai hasil extirpatie dari Hongi > tochten yang hanya berlangsung satu tahun, yaitu dari 10 Desember 1728 > sampai 17 Desember 1729 telah dimusnahkan lebih dari 96.000 pohon dan dari > 14 Juli 1731 sampai 27 Juli 1732 telah habis dimusnahkan 117.000 pohon > rempah-rempah di Pulau-Pulau Makian, Moti, Weda, Maba dan Ternate. > > Pembantaian Etnis Tionghoa di Batavia > > Kekejaman bangsa Belanda tidak hanya dirasakan oleh rakyat jajahannya atau > pesaing-pesaing mereka dari Eropa saja, melainkan juga dirasakan oleh etnis > Tionghoa yang ada di Batavia, sebagaimana dilakukan oleh Adriaen Valckenier, > yang menjadi Gubernur Jenderal India Belanda dari tahun 1737 - 1741. Selain > melanjutkan budaya korupsi dan penindasan serta eksploitasi rakyat > jajahannya, Valckenier juga menilai, peningkatan yang sangat pesat jumlah > orang Tionghoa yang ada di Batavia telah menjadi ancaman bagi orang Belanda. > Sebenarnya pada mulanya Belanda mendatangkan orang-orang Tionghoa dari > Tiongkok ke India Belanda terutama untuk menjadi kuli di perkebunan. Namun > banyak dari mereka yang berhasil menjadi pedagang, pengusaha dan rentenir > uang, dengan kedudukan sebagai lapisan menengah yang berfungsi sebagai > perantara antara orang Eropa dan pribumi. > Sekitar tahun 1690, penguasa VOC mencoba mulai membatasi masuknya orang > Tionghoa ke Batavia/Jawa, namun tidak berhasil, karena adanya kolusi antara > para pengusaha yang terus mendatangkan kuli dari Tiongkok dan pejabat > administrasi VOC yang menerima suap. Para pengusaha Belanda juga memperoleh > manfaat dengan adanya kuli murah, rajin dan patuh, dibandingkan dengan > pribumi yang sering membangkang, melawan dan bahkan melakukan pemberontakan. > Namun, lama kelamaan jumlah mereka semakin meningkat dan mencapai puluhan > ribu orang, dan menjelang tahun 1740, separuh penduduk di Batavia > dan sekitarnya adalah orang Tionghoa. Mereka juga telah menguasai berbagai > bidang ekonomi dan usaha, yang menjadi ancaman bagi orang-orang Belanda dan > Eropa lainnya, karena dengan adanya pesaing etnis Tionghoa, keuntungan > mereka menjadi sangat berkurang. Salah satu bidang usaha yang dikuasai oleh > etnis Tionghoa adalah perkebunan tebu di sekitar Batavia. > Tahun 1720, pasar gula mengalami kemerosotan karena selain adanya > persaingan dari Brasilia yang menjual gula lebih murah, juga pasar di Eropa > telah jenuh. Puluhan pedagang gula mengalami kebangkrutan dan harus > memberhentikan kuli-kuli mereka dari Tiongkok. Pengangguran besar-besaran > yang mendadak ini memunculkan kelompok-kelompok yang menjurus kepada gang > (komplotan) kriminal. Gang-gang tersebut juga tidak segan-segan untuk > melakukan tindak kekerasan, sehingga menimbulkan keresahan di kalangan > orang-orang Belanda dan Eropa lainnya. > Para penguasa VOC kemudian mulai mengambil langkah-langkah untuk mengatasi > hal ini, dengan mendeportasi kuli-kuli dari Tiongkok tersebut ke Ceylon dan > Afrika Selatan, yang juga koloni VOC waktu itu. Deportasi dengan kapal laut > ini dimulai pada bulan Juli 1740. Tak lama setelah dimulainya deportasi > kuli-kuli Tionghoa ke Ceylon, muncul desas-desus, bahwa kuli-kuli itu > dibunuh dan kemudian dilemparkan ke laut. Terpancing dengan isu tersebut, > banyak kuli Tionghoa mempersenjatai diri mereka dan mulai mengadakan > perlawanan, dan bahkan merencanakan akan menyerang Batavia. Tanggal 8 > Oktober malam, suasana di Batavia sangat mencekam, karena diberitakan, bahwa > orang-orang Tionghoa di dalam kota Batavia akan bergabung dengan warga > Tionghoa dari sekitar Batavia. > Pada 9 Oktober 1740 Gubernur Jenderal Valckenier mengeluarkan perintah > untuk menggeledah 5.000 keluarga Tionghoa yang tinggal di lingkungan > benteng Batavia dan sekitarnya. Namun yang terjadi dalam 3 hari kemudian > adalah pembantaian terhadap semua orang Tionghoa di Batavia. Setiap orang > Tionghoa yang ditemui langsung dibunuh, dan bahkan yang berada di rumah > sakit juga dibantai (lihat: Vermeulen, J.Th., De Chineezen Turbulenten te > Batavia, 1938). > Georg Bernhard Schwarz, seorang Jerman yang berasal dari Remstal, dekat > Stuttgart, Jerman, pada 1751 dalam tulisan yang diterbitkan di Heilbronn, > Jerman, dengan judul "Merkwürdigkeiten" menuturkan pengalamannya ketika ia > ikut dalam pembantaian etnis Tionghoa di Batavia. Ia menuliskan, bahwa ia > membunuh orang Tionghoa beserta seluruh keluarganya di Batavia, yang adalah > tetangganya sendiri, walaupun mereka sebenarnya adalah kenalan baik dan > tidak mempunyai masalah pribadi satu dengan lainnya. (lihat: Seemann, > Heinrich, Spuren einer Freundschaft. Deutsch Indonesische Beziehungen vom > 16. bis 19. Jahrhundert. Cipta Loka Caraka, Jakarta, 2000). > Diperkirakan sekitar 24.000 orang etnis Tionghoa yang tewas dibantai oleh > orang-orang Belanda dan Eropa lainnya pada bulan Oktober 1740. Dari sisa > yang hidup, banyak yang melarikan diri ke Jawa Tengah dan bergabung dengan > kelompok pemberontak di bawah pimpinan Raden Mas Said. Mereka kemudian > menyerang pos pertahanan Belanda di Semarang dan Rembang. Sebagian lagi > melarikan diri ke Kalimantan Barat. > Ini merupakan pembantaian etnis (genocide) terbesar pada waktu itu, dan > ketika berita ini sampai di Eropa, hal ini sangat memalukan bangsa Belanda > yang bertepuk dada sebagai penganut ajaran Kristen yang taat, namun bukan > saja melakukan perbudakan, melainkan juga pembantaian etnis secara massal. > Gubernur Jenderal Valckenier dan Wakil Gubernur Jenderal Baron von Imhoff > saling menyalahkan atas terjadinya genocide tersebut. Valckenier sendiri > kemudian dipanggil pulang dan meninggal ketika dalam tahanan. Setelah > Valckenier dipanggil pulang tahun 1741, jabatan Gubernur Jendral untuk > sementara dipegang oleh Johannes Thedens, sebelum diganti oleh Gustaf > Wilhelm Baron van Imhoff (1743 1750), yang adalah orang Jerman. Masalah > pembantaian etnis Tionghoa yang sangat mencoreng wajah Belanda, berhasil > ditutup-tutupi dan kemudian hilang begitu saja. Tak ada satu orang pun dari > pelaku pembantaian yang dimajukan ke pengadilan. > Di Den Haag, Belanda, sejak Januari 2003 International Criminal Court - > ICC (Pengadilan Kejahatan Internasional) memulai kegiatannya, dan Menlu > Belanda waktu itu, van Aartsen menyatakan, bahwa dengan demikian "Den Haag > is the capital of international justice." (Den Haag adalah pusat keadilan > dunia), karena sebelumnya di Den Haag juga terdapat Intenational Court of > Justice. Dalam Statuta Roma yang menjadi landasan dari ICC disebutkan, bahwa > kejahatan tertinggi adalah pembantaian etnis (genocide), dan setelah itu, > kejahatan terbesar kedua adalah Kejahatan Atas Kemanusiaan (crimes against > humanity). > Ironis sekali, bahwa di negara yang telah melakukan kejahatan terbesar, > genocide, dan kejahatan atas kemanusiaan, yaitu perbudakan, pembantaian > massal seperti di Sulawesi Selatan dan Rawagede, menjadi tempat kedudukan > lembaga-lembaga peradilan internasional, dan Menlunya bertepuk dada, > seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di masa lalu. Satu bangsa yang > mengalami amnesia dan pengingkaran kolektif! > > Runtuhnya VOC. Penjajahan Pemerintah India-Belanda > > Sejak tahun 1780-an terjadi peningkatan biaya dan menurunnya hasil > penjualan, yang menyebabkan kerugian perusahaan dagang tersebut. Hal ini > disebabkan oleh korupsi, kolusi dan nepotisme yang dilakukan oleh para > pegawai VOC di Asia Tenggara, dari pejabat rendah hingga pejabat tinggi, > termasuk para residen. Misalnya beberapa residen Belanda memaksa rakyat > untuk menyerahkan hasil produksi kepada mereka dengan harga yang sangat > rendah, dan kemudian dijual lagi kepada VOC melalui kenalan atau kerabatnya > yang menjadi pejabat VOC dengan harga yang sangat tinggi. > Karena korupsi, lemahnya pengawasan administrasi dan kemudian konflik > dengan pemerintah Belanda sehubungan dengan makin berkurangnya keuntungan > yang ditransfer ke Belanda karena dikorupsi oleh para pegawai VOC di > berbagai wilayah, maka kontrak VOC yang jatuh tempo pada 31 Desember 1979 > tidak diperpanjang lagi dan secara resmi dibubarkan tahun 1799. Setelah > dibubarkan, plesetan VOC menjadi Vergaan Onder Corruptie (Hancur karena > korupsi). > Setelah VOC dibubarkan, daerah-daerah yang telah menjadi kekuasaan VOC, > diambil alih termasuk utang VOC sebesar 134 juta gulden- oleh Pemerintah > Belanda, sehingga dengan demikian politik kolonial resmi ditangani sendiri > oleh Pemerintah Belanda. Yang menjalankan politik imperialisme secara > sistematis, dengan tujuan menguasai seluruh wilayah, yang kemudian dijadikan > sebagai daerah otonomi yang dinamakan India-Belanda (Nederlands-Indië) di > bawah pimpinan seorang Gubernur Jenderal. > Gubernur Jenderal VOC terakhir, Pieter Gerardus van Overstraten (1797 > 1799), menjadi Gubernur Jenderal Pemerintah India-Belanda pertama (1800 > 1801). > > > --------------------------------- > Why keep checking for Mail? The all-new Yahoo! Mail shows you when there > are new messages. > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia > > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Reading only, http://dear.to/ppi > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

