Kantor Berita Common Ground
Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK) 
  Bagi Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh
                 20 - 26 Oktober 2006
                       Jika halaman ini tidak tampil sebagaimana mestinya, klik 
di sini.
    
  Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews - MK) bertujuan 
mendorong perspektif dan dialog konstruktif yang berkaitan dengan hubungan 
Muslim-Barat. Layanan ini juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan 
bahasa Perancis. Untuk berlangganan, klik di sini.
    
  Untuk arsip artikel CGNews dan informasi lainnya, silahkan kunjungi website 
kami: www.commongroundnews.org.
    
  Kecuali jika ditentukan khusus, ijin hak cipta telah diperoleh dan semua 
artikel bisa dipublikasikan kembali oleh media massa atau surat kabar. Silahkan 
memberitahukan kepada sumber artikel asli dan Kantor Berita Common Ground 
(CGNews).
         Dalam edisi ini           1) Agama sebagai Denominator Umum oleh Faiz 
Khan
  Dalam artikel keenam dari serangkaian tulisan mengenai kebangkitan kembali 
agama dan hubungan Muslim-Barat ini, Faiz Khan seorang akademisi Muslim, 
pendidik, sekaligus dokter ahli gawat darurat dan penyakit dalam, menjabarkan 
beberapa hubungan dan kesamaan dasar antara "dunia Muslim" dan Barat: "…Ada 
hubungan-hubungan mendasar antara dua dunia yang kini seakan-akan terpisah ini. 
Hubungan-hubungan itu hidup di dalam pondasi-pondasi kebudayaan mereka." Ia pun 
menyimpulkan bahwa, "Seluruh manusia–terlepas apakah mereka berketuhanan atau 
tidak ber-Tuhan—memiliki keinginan untuk menghabiskan waktu mereka di muka bumi 
dengan hak-hak yang terjamin, kebebasan menikmati hasil peluh mereka dalam 
sebuah masyarakat yang adil, makmur, dan sentausa."
(Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 17 Oktober 2006)

              2) Iman & Akal dalam Islam oleh Asma Afsaruddin
  Asma Afsaruddin, seorang mitra profesor dalam bidang bahasa Arab dan kajian 
Islam di University of Notre Dame, membahas hubungan antara akal dan iman dalam 
Islam sebagai tanggapan atas seruan Paus Benedict XVI di Regensburg. Sambil 
mengklarifikasi sejarah dan pandangan terhadap Islam berkaitan dengan isu 
tersebut, ia memperingatkan, "Ada bahaya yang mengancam, ketika setiap orang 
menyatakan bahwa agama dan peradaban merekalah yang memonopoli dunia pemikiran 
dan telah mengakibatkan sintesis terbaik antara keyakinan dan pemikiran." Ia 
pun menyimpulkan, "Kunci untuk bekerja sama dengan liyan adalah mempelajari 
keyakinan satu sama lain tetapi menghindari tukar menukar stereotype yang 
merusak."
(Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 17 Oktober 2006)

              3) ~PANDANGAN KAUM MUDA~ Memahami Iran oleh Rehan Rafay Jamil
  Menjabarkan peluang-peluang bagi gerakan diplomatik antara Amerika Serikat 
dan Iran, Rehan Rafay Jamil, seorang mahasiswa senior di Oberlin College, 
memberikan kita sekilas pandangan ke sisi lain dari Iran lebih dari sekedar 
“mullah berwajah suram” dan kaum perempuan yang terselubung chador yang 
disajikan media-media Amerika Serikat, dan memperbincangkan suatu masa ketika 
hubungan antara Iran-AS tidak terlalu tegang. "Mendorong hubungan antara 
Amerika dan masyarakat madani Iran melalui pembaharuan pertukaran pendidikan 
dan kebudayaan merupakan satu langkah penting dan benar… Kinilah saatnya bangsa 
Amerika dan Iran untuk duduk bersama."
(Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 17 Oktober 2006)

              4) Celana Seksi dan Jilbab: Ketika Akal dan Jiwa Bertemu oleh 
Julia Suryakusuma
  Julia Suryakusuma, seorang Indonesia, menulis dari pandangan pribadi tentang 
keragaman masyarakat Muslim Indonesia tidak tercerminkan dalam upaya-upaya 
sebagian kalangan pemerintah untuk memaksakan pengguunaan jilbab bagi 
perempuan. "Tragedi dari usaha pengulangan untuk menciptakan satu ukuran yang 
cocok untuk seluruh bangsa Indonesia adalah ia tidak sesuai dengan kenyataan 
sosial Indonesia, yang jauh terlalu rumit untuk dikungkung dalam kotak-kotak 
kecil yang kaku."
(Sumber: Jakarta Post, 11 Oktober 2006)

              5) Tiupkan Melodi Terompet Amerika, Membangun Kerukunan oleh John 
Ferguson
  John Ferguson, direktur eksekutif dari American Voices, menemukan cara 
inovatif untuk terlibat dalam dialog Muslim-Barat melalui musik. "Melalui 
dialog artistik, kita dapat membawa satu sama lain keluar dari kegelapan yang 
membekap kita akibat rasa saling curiga. Kemungkinan dari pertukaran seperti 
ini tidak ada habisnya, dan bangsa Amerika, dibandingkan dengan bangsa lainnya, 
mempunya sarana dan kepentingan untuk terus berkomunikasi."
(Sumber: Christian Science Monitor, 10 Oktober 2006)

                         1)  Agama sebagai Denominator Umum
Faiz Khan         Hershey, Pennsylvania — Dunia Barat dan Muslim, terlepas dari 
berbagai pandangan sempit mengenai keduanya, merupakan dua dunia yang memiliki 
beragam wajah, budaya, dan keyakinan. Jutaan umat Muslim hidup di Barat, dan 
jutaan orang dari tradisi keimanan yang berbeda makan dan bernafas di "dunia 
Muslim"; Ada hubungan-hubungan mendasar antara dua dunia yang kini seakan-akan 
terpisah ini. Hubungan-hubungan itu hidup di dalam pondasi-pondasi kebudayaan 
mereka; kebangkitan agama berada di jantung keduanya dan terus muncul sepanjang 
sejarah.

Tujuan dari religiusitas adalah kesalehan, dan dampak temporal dari kesalehan 
adalah peningkatan terus menerus dari diri seseorang maupun kelompok dalam 
mencapai nilai-nilai dan etika-etika universal. Menimbang hubungan antara 
ketakwaan dan waktu ini—etika dan nilai yang dihargai, siapapun yang punya niat 
baik, orang Barat atau bukan, seharusnya merasa didukung oleh doktrin-doktrin 
Islam yang mendukung pengembangan ketakwaan melalui praktik-praktik keagamaan, 
yang akan membawa sebuah etika antar manusia sebagaimana juga diyakini oleh 
tradisi-tradisi Kristen-Yahudi, Hindu, Parsi dan Budha.

Kesamaan-kesamaan di antara berbagai kebudayaan dapat ditemukan dalam dunia 
religius dan theosentris. Bahkan pada kebudayaan-kebudayaan yang tampaknya 
saling bertabrakan pun dapat ditemukan landasan-landasan yang sama. Warisan 
Amerika memiliki dasar ketuhanan yang kuat. Saya ingat, ketika masih sekolah, 
setiap hari mengucapkan keras-keras, "Satu bangsa, di bawah Ketuhanan Maha Esa, 
dengan kemerdekaan dan keadilan bagi semua," seperti yang diajarkan oleh 
American Pledge of Allegiance . Ide ini serupa dengan ajaran Al Qur'an. Bahkan 
lebih jauh, perasaan bahwa lembaga-lembaga eksekutif, legislatif, dan 
pengadilan harus bersikap netral terhadap agama manapun namun juga mengakui 
keilahian dan memperkuat ketakwaan dan kesucian, tidak peduli tampilan luarnya 
(entah Kristen atau Buddha atau Islam, dsb), sesuai dengan pemahaman 
operasional pemerintahan yang diambil dari prinsip-prinsip Al Qur'an. 
Prinsip-prinsip ini diperinci dan dijalankan oleh Nabi Muhammad dan para 
sahabatnya.

Meski berbagai kesamaan dapat ditarik, Timur tentu tetap memelihara 
prinsip-prinsip ketuhanan mereka sesuai dengan wajah kebudayaan mereka, 
sementara Barat tanpa henti mengembangkan kebudayaan yang lebih sekuler. Secara 
ideologis, sebenarnya sedikit sekali yang perlu dipelajari "Dunia Muslim" dari 
Barat modern. Pembangunan pemerintahan dan masyarakat yang secara ideologis 
baik terletak pada pelaksanaan dari shariah Timur sendiri, Sebuah aturan hukum 
yang ditentukan oleh Al Qur'an yang merangkul kemajemukan. Apakah elemen 
syariah ini diwakili, didorong, dan didukung oleh kekuatan geopolitik domestik 
atau transnasional yang berkuasa itu persoalan berbeda.

Merek Barat—berdasarkan humanisme sekuler Barat yang memandang ekspresi 
keyakinan atau menyebutkan nama Tuhan di depan publik sebagai gangguan 
membahayakan dari agama—terasa menjijikan bagi paradigma Islam. Toh 
bagaimanapun, seorang Muslim di Barat tetap dituntut memenuhi nilai-nilai dan 
teladan hukum setempat. Ambillah sebuah contoh hiperbolik, jika, melalui proses 
yang benar, ditetapkan bahwa agama atau penyebutan nama Tuhan merupakan urusan 
yang murni pribadi, maka umat Muslim, dengan mandat dari etika yang ditetapkan 
oleh syariah, harus hidup dan mencari penghidupan di tempat lain.

Di dunia Muslim, seperti di tempat lain di seluruh dunia ketiga, terdapat 
sebuah gangguan dari Barat, rezim-rezim dan aristokrasi klien-korporasi Barat, 
melalui penggunaan operasi perang tertutup maupun terbuka. Kemampuan penentuan 
nasib sendiri yang melemah, akibat krisis socio-politik dan ekonomi, 
menyebabkan berbagai golongan masyarakat di negara-negara tersebut merasa 
pelanggaran itu wajar. Ketika warga "dunia Muslim" ini mengungkapkan diri 
mereka sendiri secara intelektual dan lisan menghadapi berbagai ketidakadilan 
yang sungguh nyata, mereka melakukannya dengan seperangkat bahasa dan paradigma 
intelektual dari sebuah syariah—etika yang menjanjikan mereka hak-hak atas 
kehidupan, kemerdekaan, kepemilikan, keamanan, kesejahteraan, dan keadilan 
sosial. Syariah berlandaskan pada agama, oleh karena itu kebangkikan agama 
dalam konteks ini tak berbeda dengan seorang Amerika yang menuntut "hak-hak 
konstitusional" mereka di tengah penindasan sosiopolitik dan ekonomi. Berbagai
 gerakan perlawanan didasarkan pada dinamika ini. Hubungan antara 
operasi-operasi dan kejahatan-kejahatan actual yang di satu pihak dihubungkan 
dengan berbagai gerakan perlawanan, dan dipihak lain dengan perusahaan lintas 
nasional atau agenda-agenda Barat, memerlukan kajian lebih jauh.

Agama, ketika dilaksanakan dengan benar, menurut definisi, akan membangun 
jembatan antar penganut-penganutnya, tak peduli apa cap agama mereka. Al Qur'an 
secara jelas menyinggung fenomena ini dalam berbagai contoh. Salah satu 
kepercayaan salah kaprah yang paling berbahaya (yang bahkan orang beragama 
dengan niat baik pun jatuh menjadi korbannya) adalah kepercayaan bahwa hanya 
agamanyalah yang benar (tak peduli bentuknya). Inilah sebab utama perselisihan 
antara agama atau kepercayan. Kepercayaan tersebut seperti menuntut sesuatu 
yang inheran dalam eksistensi sebuah pluralitas ras atau etnik yang menyebabkan 
kasus-kasus sectarian dalam wilayah tersebut. 

Kemunafikan agama, ras, etnis, dan sebagainya, bagaimanapun merupakan sebuah 
penyimpangan psikologis. Memang agama, warna kulit, dan suku bangsa, secara 
semantik terkait dengan kemunafikan masing-masing, tetapi mereka tidak memiliki 
hubungan sebab-akibat. Seorang Yahudi, Kristen atau Muslim yang beriman secara 
ideologis akan bersikap sama menyangkut etika-etika antar pribadi. Cara-cara 
peribadatan mungkin berbeda–tetapi perlakuan seorang Kristen, Muslim, Yahudi, 
Hindu, Parsia atau Buddhis yang saleh terhadap sesama manusia akan sama.

Seluruh manusia–terlepas apakah mereka berketuhanan atau tidak 
ber-Tuhan—memiliki keinginan untuk menghabiskan waktu mereka di muka bumi 
dengan hak-hak yang terjamin, kebebasan menikmati hasil peluh mereka dalam 
sebuah masyarakat yang adil, makmur, dan sentausa. Ini adalah jembatan 
penghubung bersama antar mereka relijius dan tidak. Ada kesamaan mendasar yang 
tersimpan dalam segi-segi kemanusiaan setiap bangsa, kebudayaan, dan agama di 
dunia. Diperlukan kampanye publik besar-besaran untuk mendukung peruntuhan 
hambatan antara "kedua dunia" (Barat-Muslim). Jurnalisme yang jujur harus 
didorong, pendidikan dan pemahaman kebudayaan harus dimajukan. Ini saatnya bagi 
kita untuk berhenti mencari perbedaan-perbedaan dan mulai
memusatkan perhatian pada persamaan-persamaan.

###

* Faiz Khan adalah seorang akademisi Muslim, pendidik, sekaligus dokter ahli 
gawat darurat dan penyakit dalam. Ia juga merupakan salah satu pendiri 
MUJCA—NET, Persekutuan Muslim-Yahudi-Kristen bagi Kebenaran 11/9. Ini adalah 
artikel keenam dari serangkaian tulisan mengenai kebangkitan kembali agama dan 
hubungan Muslim-Barat untuk Common Ground News Service 
(www.commongroundnews.org).

Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 17 Oktober 2006, 
www.commongroundnews.org
Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh.                      2)  Iman & Akal 
dalam Islam
Asma Afsaruddin         Notre Dame, Indiana - Setelah kasus Pidato Paus 
Benedict XVI di Regensburg, cukup bermanfaat kiranya menyarikan 
pandangan-pandangan dari seorang ahli sejarah Muslim abad ke-10 bernama 
al-Mas'udi (wafat 956) mengenai hubungan antara kaimanan dan akal, yang terasa 
semakin penting dewasa ini.

Dalam sebuah karya historis terkenal, al-Mas'udi menyatakan bahwa umat Kristen 
Byzantine pada masanya mengalami kemunduran peradaban karena menolak ilmu para 
penyembah Dewa Yunani yang tidak sesuai dengan Kristen, sementara peradaban 
Muslim maju karena berhasil menguasai ilmu pengetahuan kuno dan 
mengembangkannya. Dengan kata lain, justru umat Muslim yang berhasil menyatukan 
akal dengan iman, dan karenanya meninggalkan umat Kristen di belakang. Sangat 
ironis jika Paus Benedict mengutip perkataan seorang kaisar Byzantine Abad XIV 
untuk mengarahkan kembali tuduhan yang sama kepada umat Muslim pada Abad Kedua 
Puluh Satu.

Pada masa al-Mas'udi, gerakan penerjemahan besar-besaran, yang dimulai di 
Baghdad pada Abad IX, menghasilkan buah yang ranum berupa tulisan-tulisan 
filosofis Yunani yang dapat dipahami oleh umat Muslim berbahasa Arab dan 
menciptakan sebuah revolusi intelektual murni dalam dunia Islam. Pada masa ini, 
kaum Muslim memperlihatkan penerimaan luar biasa terhadap pengetahuan dan 
pembelajaran, terlepas dari mana sumbernya. Karya-karya kesusasteraan dan 
filosofi Persia serta risalah-risalah India dalam matematika juga diterjemahkan 
dan dipelajari bersama-sama dengan karya-karya Yunani. Beberapa dari para 
filsuf terkenal pada Abad Pertengahan adalah orang Muslim, sebut saja Ibnu 
Sina, Ibnu Rusdi, dan Al-Farabi, pemikiran mereka sangat berpengaruh pada Eropa 
Abad Pertengahan. Tanpa warisan intelektual dan kebudayaan yang dunia Islam ke 
Eropa, mungkin takkan pernah ada zaman Renaisans di Eropa!

Pernyataan Paus Benedict menunjukkan kurangnya pengetahuan tentang kelanjutan 
organik antara pembelajaran dunia Islam pra-modern dan Barat pasca Pencerahan. 
Ia tidaklah sendirian dalam hal ini. Banyak kalangan intelek Barat (juga 
Muslim) yang tak memahami hubungan kesejarahan ini. Ada kaum Muslim dewasa ini 
yang tak bias mengakui bahwa pemikiran dan pendidikan Islam telah dipengaruhi 
oleh sumber-sumber non-Islami. Mereka juga perlu memperoleh pengetahuan yang 
lebih seksama mengenai keterkaitan antara dunia Barat dan Muslim. Itulah 
mengapa banyak orang melihat tesis "benturan peradaban" dipercayai dewasa ini.

Ada bahaya yang mengancam, ketika setiap orang menyatakan bahwa agama dan 
peradaban merekalah yang memonopoli dunia pemikiran dan telah mengakibatkan 
sintesis terbaik antara keyakinan dan pemikiran. Paham triumphalism seperti ini 
merupakan penghalang serius bagi dialog dan bagi berbagai wacana sipil. Jika 
dialog merupakan tujuan Paus, kegegabahan menggambarkan Islam sebagai sesuatu 
yang rendah untuk mengangkat keunggulan peradaban Barat dan nilai-nilainya, 
yang seharusnya unik, bukanlah sebuah awal yang menjanjikan. Sebuah dialog 
lebih baik disajikan melalui pengakuan yang rendah hati akan kesamaan-kesamaan, 
dosa-dosa kita sendiri, dan keterkaitan antara satu sama lain.

Untuk meluruskan sejumlah hal berkaitan dengan Islam yang diangkat oleh Paus, 
penting menunjukkan bahwa umat Muslim sepanjang waktu telah menyumbangkan 
beraneka ragam pandangan mengenai dialektik antara iman dan akal. Dua tema yang 
tetap berpengaruh dalam pemikiran Muslim Sunni dewasa ini. Satu diwakili oleh 
mazhab Ash'ari dan begitu fideistik sehingga agama atau wahyu selalu 
mengalahkan akal. Yang lain diwakili oleh mazhab Maturidi yang percaya bahwa 
tanpa kewahyuan, pemikiran dapat sampai pada kebenaran yang sama. Kedua mazhab 
tersebut dianggap sama "ortodoks"-nya dalam Islam Sunni. Kaum Mu'tazila 
(Rasionalis) pada masa sebelumnya menyatakan bahwa tidak ada keseuaian antara 
agama dan pemikiran dan kaum Syi’ah juga berdasarkan sejarah menekankan 
landasan rasional dari mazhab mereka. Karena itu, orang tidak dapat, 
menyederhanakan dan mengurangi gambaran Islam untuk memenangkan pihak tertentu, 
seperti keyakinan atas akal atau sebaliknya, demikian pula orang tak boleh
 menggambarkan umat Kristen, atau mungkin tradisi keagamaan lain, dengan cara 
seperti ini.

Kunci untuk bekerja sama dengan liyan adalah mempelajari keyakinan satu sama 
lain tetapi menghindari tukar menukar stereotype yang merusak. Profesor Richard 
Bulliet dari Columbia University belum lama ini telah menggunakan itilah 
"peradaban Islamo-Kristen" untuk menggambarkan kesamaan warisan kita. Sebuah 
istilah dan konsep yang layak mendapatkan nilai tukar lebih luas.

Untuk menghadapi kondisi dunia yang semakin memburuk dan masalah yang 
ditengarai sebagai ekstremisme keagamaan, kita harus melakukan pengentasan 
kemiskinan global dan peningkatan martabat manusia biasa sebagai prioritas 
utama. Kita musti memasukan kembali nilai-nilai moral dan etika dalam wilayah 
publik dan diplomasi internasional, dan menuntut tanggung jawab para pemimpin 
terhadap nilai-nilai tersebut. Itulah cara terbaik untuk melemahkan program 
kelompok ekstremis yang subur di kalangan kaum miskin dan tak berdaya. Dengan 
landasan bersama, yang dibangun di atas prinsip-prinsip etika universal ini, 
beragam kelompok, yang “beriman” dan yang sekuler, dapat hidup berdampingan.

###

* Asma Afsaruddin adalah seorang mitra profesor dalam bahasa Arab dan kajian 
Islam di University of Notre Dame. Ia akan menerbitkan tulisannya yang berjudul 
The First Muslims: History and Memory (Oxford: OneWorld, 2007). Artikel ini 
disebarluaskan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan dapat dibaca di 
www.commongroundnews.org.

Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 17 Oktober 2006,
www.commongroundnews.org
Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh.                      3)  ~PANDANGAN 
KAUM MUDA~ Memahami Iran
Rehan Rafay Jamil         Oberlin, Ohio – Kebuntuan terakhir antara Amerika 
Serikat dan Iran mengenai program nuklir Iran menunjukan semakin jauhnya 
hubungan kedua negara tersebut dalam beberapa dekade terakhir. Dari sudut 
pandang Amerika, masa depan Iran yang memiliki persenjataan nuklir mengubah 
keseimbangan kekuasaan di Timur Tengah dan akan menurunkan pengaruh Amerika di 
wilayah tersebut. Di sisi lain, bagi orang Iran usaha mengejar penguasaan 
tekonologi nuklir baik bagi kepentingan sipil maupun militer mewakili hak 
mereka sebagai bangsa berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan kebutuhan ekonomi 
negara, selain kebutuhan akan perlindungan diri dari iklim internasional yang 
semakin penuh permusuhan.

Kebuntuan terakhir menyisakan sangat sedikit ruang bagi gerakan diplomatik 
ketika kedua pemerintahan yang kelihatannya sama-sama keras kepala dan enggan 
mencari jalan tengah. Taruhan yang tinggi karena perselisihan dengan Iran 
berpotensi menimbulkan dampak yang serius. Tidak hanya bagi harga minyak global 
tetapi juga bagi kestabilan wilayah Timur Tengah secara luas. Dalam hal ini, 
pemahaman akan kerumitan dan dinamika internal masyarakat Iran – sebuah negara 
yang secara berkala dicemarkan namanya oleh media Amerika, yang hanya 
menggambarkan Iran dengan wajah para mullah berwajah suram dan kaum perempuan 
berselubung chador sembari menyerukan slogan-slogan anti-Amerika – merupakan 
hal yang sangat mendasar bagi pembentukan berbagai kebijakan AS yang efektif di 
Timur Tengah.

Washington dan Teheran sejak dulu memiliki hubungan yang rumit dan bergolak, 
tetapi ada saat-saat ketika hubungan mereka tidak terlalu tegang. Masih jelas 
dalam ingatan bahwa kurang dari tiga dekade yang lalu, Iran merupakan sekutu 
utama Amerika Serikat di Timur Tengah dan dipandang sebagai pemain kunci bagi 
stabilitas dan modernisasi ekonomi di wilayah tersebut. Semua itu berubah 
secara dramatis pada tahun 1979, ketika revolusi rakyat Islam menggulingkan 
pemerintahan Mohammad Reza Shah Pahlavi, mengakhiri masa tiga ribu tahun 
monarki Persia dan menghantarkan pemerintah teologis Islam pertama di zaman 
modern yang dipimpin oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini. Dukungan pemerintah AS 
kepada Shah sejak lama dengan menutup mata terhadap catatan pelanggaran hak 
asasi manusianya yang mengerikan dan gaya pemerintahan yang anti-demokrasi 
telah menyebabkan kebencian yang meluas terhadap kebijakan-kebijakan AS.

Setelah revolusi Iran pada 1979, Amerika Serikat menetapkan tiga dekade isolasi 
ekonomi dan politik bagi Iran. Keengganan pemerintah Amerika untuk terlibat 
dengan rezim Iran harus dibayar mahal, termasuk dengan terpilihnya kandidat 
garis keras, Mahmoud Ahmadinejad, sebagai Presiden.

Kegagalan pemerintahan reformis mantan presiden Khatami dalam mewujudkan 
janji-janji politik dan ekonomi memainkan peranan penting dalam aliran dukungan 
rakyat pada Ahmadinejad. Naiknya Ahmadinejad ke pucuk kekuasaan melalui suatu 
kampanye yang jelas disukai rakyat dan kaum nasionalis bersamaan dengan tekanan 
AS atas Iran untuk menunda program nuklirnya dan membukanya bagi pemeriksaan 
internasional. Lebih jauh, beriringan dengan kehadiran militer AS di Teluk 
Persia, Afghanistan dan Irak telah membuat banyak pihak berkuasa di Iran 
mencurigai bahwa Amerika Serikat sedang mengejar sebuah kebijakan pengepungan 
militer, dan memuncaknya tekanan internasional terhadap program nuklir Iran 
menaikan dukungan politik bagi Ahmadinejad di tanah air. Ahmadinejad pun 
menggunakan setiap kesempatan untuk menggambarkan dirinya sebagai seorang 
Muslim dan nasionalis Iran yang berjuang melawan agresi Amerika, posisi yang 
berhasil membuatnya popular, tidak hanya di kalangan rakyat Iran tetapi
 juga di dunia Muslim yang lebih luas.

Pertumbuhan kekuatan regional Iran paling jelas diperlihatkan musim panas ini, 
ketika bonekanya, milisi sekaligus partai politik Lebanon, Hisbullah, berhasil 
memperoleh kemenangan politik besar di tengah perang yang terus dilancarkan 
Israel untuk menyingkirkan kelompok tersebut. Serangan militer Israel membawa 
akibat meninggalnya warga sipil Lebanon dan kehancuran infrastruktur yang luar 
biasa dari negara tersebut, tetapi Hisbullah sendiri tetap tak tergoyahkan. 
Rezim Iran juga memiliki ikatan yang dekat dengan pemerintah yang didominasi 
Syi’ah di Irak – yang anggotanya kebanyakan berada dalam pengasingan di Iran 
selama masa-masa terburuk tirani Saddam–selain terpilihnya pemerintahan Hamas 
belum lama ini di wilayah otorita Palestina. Bagi banyak pengamat, persenjataan 
Iran yang paling berbahaya adalah kemampuannya menggunakan teror untuk 
menghancurkan stabilitas di wilayah Arab dan meningkatkan ketegangan antara 
Israel dan para tetangganya.

Namun Iran modern adalah sebuah masyarakat yang memilki berbagai pertentangan 
yang aneh. Ia tidak hanya merupakan negara pertama di wilayah Arab yang 
mengalami revolusi Islam, tetapi juga negara tertua yang berusaha mewujudkan 
sebuah pemerintahan yang berdasarkan konstitusi, semenjak tahun 1911. Revolusi 
Islam 1979 memberikan mandat agar perempuan menggunakan cadar di depan umum, 
namun kaum perempuan Iran termasuk yang paling tinggi pendidikannya di Timur 
Tengah. Lebih dari setengah mahasiswa universitas di Iran adalah perempuan. 
Dan, walaupun ada pembatasan tertenut secara kelembagaan, mereka turut berperan 
dalam hampir setiap aspek kehidupan masyarakat, dan bahkan dapat duduk dalam 
parlemen Iran. 

Memang rezim Iran yang berkuasa terus melanggar hak-hak asasi manusia, seperti 
kebebasan berpendapat dan berkumpul. Harian-harian independen secara berkala 
ditutup, dan para pembangkang politik sering dipenjarakan karena menyuarakan 
kecaman-kecaman terhadap pemerintah. Kebijakan AS terhadap Iran harus secara 
hati hati menyeimbangkan kebutuhan utnuk menciptakan insentif bagi rezim Iran 
agar dapat berdialog secara serius mengenai program nuklir Iran, tanpa terlihat 
menundukan kepala di depan rezim Iran.

Mendorong hubungan antara Amerika dan masyarakat madani Iran melalui 
pembaharuan pertukaran pendidikan dan kebudayaan merupakan satu langkah penting 
ke arah yang benar. Dalam jangka panjang, kepentingan-kepentingan AS paling 
baik dilayani oleh kalangan bangsa Iran tersebut yang dengan sungguh-sungguh 
berjuang bagi pembaharuan politik di negara mereka dan bagi hubungan yang lebih 
baik dengan Barat. Mengambil kedudukan konfrontasi melawan Iran dengan 
menyiratkan ancaman akan kemungkinan tindakan militer hanya akan semakin 
memperburuk sentimen umat Muslim yang telah terbakar terlebih dulu terhadap 
Amerika Serikat dan memperkuat elemen-elemen garis keras pemerintahan Iran. 
Saat bagi bangsa Amerika dan Iran berbicara adalah sekarang juga.

###

* Rehan Rafay Jamil adalah seorang mahasiswa senior di Oberlin College, 
tempatnya belajar ilmu sejarah dan politik. Artikel ini disebarluaskan oleh 
Common Ground News Service (CGNews) dan dapat dibaca di 
www.commongroundnews.org.

Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 17 Oktober 2006,
www.commongroundnews.org
Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh.                      4)  Celana 
Seksi dan Jilbab: Ketika Akal dan Jiwa Bertemu
Julia Suryakusuma         Jakarta -"Semakin banyak perubahan, semakin banyak 
yang kekeh." Kalimat tersebut disampaikan pertama kali oleh orang Perancis, 
tetapi juga bisa keluar dari mulut seorang Indonesia. Reformasi merupakan 
sebuah reaksi terhadap Orde Baru tetapi dalam banyak hal ia justru menjadi 
kelanjutannya – kadang lebih buruk.

Orde Baru, misalnya, terkenal karena usahanya untuk memaksakan keseragaman. 
Sekarang, delapan tahun setelah mundurnya Soeharto, elit baru dalam 
pemerintahan lokal kita kembali melakukan hal yang sama, kali ini dengan 
menggunakan peraturan yang diilhami Islam untuk memaksakan keseragaman. Kali 
ini bukan lagi keseragaman ala militer tetapi jilbab (selendang penutup kepala) 
dan "pakaian Muslim" dengan memaksa perempuan mengenakannya. Dan seperti halnya 
Orde Baru, walau tanpa paksaan, ada tekanan untuk mematuhinya. Apa yang katanya 
merupakan "pakaian Muslim" telah menjadi sebuah "seragam" baru yang dipaksakan 
oleh sekelompok otoriter baru.

Tragedi dari usaha pengulangan untuk menciptakan satu ukuran yang cocok bagi 
seluruh rakyat Indonesia tidak sesuai dengan kenyataan sosial Indonesia, yang 
jauh terlalu rumit untuk dikungkung dalam kotak-kotak kecil yang kaku. Itu sama 
saja dengan mencoba memasukkan seekor gajah ke dalam lubang semut. Tak peduli 
apa yang dilakukan oleh pihak berwenang, orang tidak ditentukan oleh apa yang 
mereka kenakan, dan pakaian menyembunyikan sebanyak apa yang mereka buka.

Ambillah saya dan salah seorang sahabat saya sebagai contoh. Orang bingung 
dengan persahabatan kami, karena dari luar kami begitu berbeda. Mulai dari 
penampilan fisik. Tinggi saya 1,72 meter dan dia hanya 1,53. Ya Neng memang 
mungil. Saya mengenakan perhiasan dan bersolek, sementara Neng tidak pernah 
mengenakan itu semua. 

Kadang suami saya Tim memanggil saya si "celana seksi" karena saya suka 
berdandan dan mengenakan pakaian ketat. Neng mengenakan celana longgar yang 
sederhana dan atasan, dalam warna-warna kalem. 

Ia memiliki rambut pendek yang ia tutup dengan jilbab. Rambut saya panjang 
hingga ke pinggang dan tak pernah ditutup. Bersama, kami sungguh-sungguh 
pasangan aneh!

Neng berkata bahwa mengenakan jilbab membuatnya mudah diterima dalam masyarakat 
Muslim ketika ia melakukan pelatihan jender bagi kalangan bawah, memberikan 
seminar atau menghadiri pengajian Al Qur'an, dan kegiatan-kegiatan keagamaan 
lain. Ini juga merupakan bagian dari latar kebudayaannya, karena ia berasal 
dari wilayah benteng Islam di Labuan, Banten, dan berasal dari tradisi 
pesantren yang kuat. Jadi ia terbiasa dan merasa nyaman mengenakannya. Seperti 
saya dengan kaos kutang saya.

Ayah Neng adalah seorang pemilik tanah, petani, yang hanya mengenyam sekolah 
dasar. Terlepas dari ini, ia adalah seorang yang tercerahkan. Sebagai seorang 
kyai, ia sangat mementingkan pendidikan, mendirikan sekolah, bahkan sebuah 
universitas di Labuan. Ia mendorong anak-anaknya untuk mengejar pendidikan 
setinggi mungkin. Saat ini, empat dari lima anaknya memegang gelar pasca 
sarjana. Neng sendiri meraih gelarnya dalam perbandingan agama dari Universitas 
Islam Negeri Syarif Hidayatullah dan gelar pasca sarjananya dalam sosiologi 
dari Universitas Indonesia. 

Ironisnya, walaupun saya berasal dari latar belakang internasional, diplomatic, 
dan kedua orang tua saya, yang juga berasal dari Jawa Barat, hidup di sebuah 
dunia yang lebih sekuler, mereka tidak pernah menekankan pentingnya pendidikan. 
Ayah saya akan tetap bahagia jika saya menjadi seorang sekretaris, penerjemah, 
atau pramugari (betapa runyamnya jika itu terjadi!). Untungnya, kedua orang tua 
saya berasal dari wilayah Jawa Barat yang selalu menjadi sumber pemberontakan – 
termasuk kelompok militan Islam Darul Islam! - dan kelihatannya saya mewarisi 
sebagian gen tersebut. Tetapi pemberontakan saya adalah memperoleh pendidikan 
dan melakukan jihad intelektual, bukan jihad yang 
mengebom-orang-yang-tidak-kita-suka.

Jadi Neng dan saya adalah dua orang Muslim Jawa Barat yang sangat berbeda. Kami 
mungkin berbicara satu sama lain menggunakan bahasa Sunda, tetapi bukan 
kebudayaan dan suku bangsa yang membuat kami dekat; melainkan hubungan 
intelektual dan spiritual. Kami berbagi hasrat akan ilmu pengetahuan dan 
keyakinan dalam demokrasi, yang terlepas dari segala kekurangannya, lebih baik 
dibanding otoritarianisme, relijius maupun tidak. Dan kami saling mengagumi!

Saya mengagumi Neng karena banyak hal, termasuk pemahamannya tentang Islam, 
baik dalam tulisan maupun praktik. Saya mengagumi kenyataan bahwa karena 
asal-usul pedesaannya dan pencapaian akademisnya, ia dapat hidup dalam dua 
dunia Indonesia, menengahi dan menerjemahkan antara yang teori dan empiris.

Saya juga mengagumi perannya sebagai salah seorang pimpinan Fatayat NU, sayap 
perempuan Nahdlatul Ulama, yang didedikasikan untuk memberdayakan kaum 
perempuan Muslim di perdesaan.

Terlebih-lebih, saya mengagumi Neng karena melaluinya saya pertama kali 
merasakan keindahan Islam, khususnya spiritualitasnya dan kerumitannya yang 
halus dalam konteks Indonesia. Ia percaya bahwa fundamentalisme Islam merupakan 
"Islam padang pasir", dan tidak sesuai dengan Indonesia. Ia memimpikan suatu 
Islam yang terbuka, bahkan bagi orang-orang dari berbagai latar belakang, 
pandangan, dan jalan hidup yang berbeda. Ini sebabnya mengapa ia mengaku dapat 
merasa dekat dengan saya. Jika orang lain melihat saya hanya sebagai seorang 
intelektual dan sensualitas diri saya, ia melihat spiritualitas dan hal-hal 
asketis dalam diri saya. Yang paling utama, ia mengagumi sikap saya yang 
menyerahkan segalanya kepada Tuhan, yang katanya merupakan inti sari dari 
Islam. 

Dapatkah orang mengetahui ini semua jika mereka melihat kami berdiri 
berdampingan? Dapatkah orang menduga bahwa dua orang Indonesia yang begitu 
berbeda ternyata saling mengagumi? Akankah mereka menduga kami menganut agama 
yang sama?

Satu hal yang saya yakini adalah para lelaki berpikiran sempit dalam seragam 
Islam yang merancang peraturan yang memaksakan perempuan mengenakan jilbab 
tidak dapat menduga dan mungkin juga tidak akan peduli. Dan itu membuat mereka 
tidak ada bedanya dengan para laki-laki berpikiran sempit dalam seragam militer 
yang merancang peraturan yang melarang jilbab di bawah Orde Baru.

Bedanya, kini kita yang memilih mereka – dan mudah-mudahan kita juga yang akan 
menurunkan mereka nanti!

###

* Julia Suryakusuma adalah penulis buku Sex, Power, and Nation: An Anthology of 
Writings, 1979 - 2003 . Artikel ini disebarluaskan oleh Common Ground News 
Service (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Jakarta Post, 11 Oktober 2006, www.thejakartapost.com
Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh.                      5)  Tiupkan 
Melodi Terompet Amerika, Membangun Kerukunan
John Ferguson         Bangkok –Pada 12 September 2001, kebudayaan Amerika 
mendadak menjadi sebuah
produk ekspor premium. Serangan yang merupakan tragedi sekaligus kebangkitan 
bagi bangsa kita menggerakkan LSM saya, American Voices, menjadi penambah 
kecepatan dan di atas pentas Tashkent, Uzbekistan; Almaty, Kazakhstan; dan 
Beirut, Lebanon. Misi kami adalah membawa para musisi dan budayawan Amerika ke 
bagian-bagian dunia yang baru bangkit dari keterasingan atau perselisihan. 
Dalam semalam, kami telah berubah dari sebuah upaya kuno sebagai akibat perang 
dingin menjadi alat yang sangat penting dalam penyampaian siapa kami sebagai 
rakyat dan bangsa.

Saya pindah ke Eropa pada 1989 untuk mengejar karir sebagai pianis konser. 
Dengan cepat, saya tersedot ke dalam sebuah dialog kebudayaan dengan 
masyarakat-masyarakat terbuka baru dari Eropa Timur dan bekas Uni Soviet.

American Voices bekerja erat dengan Badan Informasi Amerika Serikat (USIA) 
membuat berbagai pergelaran. Kami juga menyumbangkan partitur-partitur musik 
dan bahan-bahan pendidikan dari jenis-jenis musik Amerika seperti teater 
musikal, country, ragtime, jazz, blues dan opera.

Dialog yang bersemangat di awal 1990-an perlahan melambat hingga berhenti sama 
sekali ketika Kongres membuat USIA tutup pada 1999, dengan alasan bahwa kita 
telah "memenangi perang dingin." Kepicikan keputusan ini sedihnya menjadi 
semakin jelas ketika kita terbangun di dalam kenyataan dan tanggung jawab baru 
akibat serangan-serangan World Trade Center.

Sebagai satu dari sedikit organisasi seni AS dengan pengalaman luas di Timur 
Tengah dan Asia Tengah, American Voices mampu menanggapi dengan cepat tantangan 
tantangan baru penyampaian budaya dan nilai-nilai Amerika di luar negeri. Dalam 
waktu beberapa bulan setelah malapetaka tersebut, kami menyelenggarakan 
festival jazz, pertunjukan-pertunjukan Broadway, dan pergelaran opera dengan 
orang-orang Azerbaijan, Kazakh, Uzbek, Kyrgyz, Turkmen, Lebanon, dan Omani.

Puncak dari segala upayah ini adalah proyek Jazz Bridges Afghanistan Oktober 
lalu – konser pertama musik Amerika bagi pendengar Afghanistan dalam lebih dari 
25 tahun. Sungguh minggu yang menghangatkan hati ketika kami membawa sebuah 
kuartet pemusik jazz dan lima orang pemusik tradisional dan trio pop 
Afghanistan. Konser kami membuat para penonton Afghanistan menari-nari di gang, 
dan gambaran penuh kegembiraan ini disiarkan secara nasional oleh radio dan TV. 
Proyek ini akan mulai menjangkau penonton lebih besar di Barat melalui konser 
kami mendatang bulan Februari 2007 pada festival kebudayaan Muslim di London.

Setelah aliran dukungan awal dari Kongres dan Gedung Putih pada 2002, pendanaan 
bagi diplomasi kebudayaan kembali kehilangan tenaga. Namun, kebutuhan untuk 
mengkomunikasikan visi dan nilai-nilai kita tidak pernah lebiht terasa mendesak 
seperti sekarang. Melihat besarnya penonton yang ditarik program kebudayaan 
Amerika, media lokal dengan senang hati menyiarkan pergelaran interaktif kami 
dan kecilnya anggaran pemerintah federal yang disedot program-program ini, 
mengekspor budaya kita adalah efektif secara biaya dalam jangka panjang untuk 
memajukan saling pengertian dan, karenanya, keamanan.

Budaya kita sangat kuat. Bentuk-bentuk seni musik yang dibangun Amerika telah 
tumbuh dari perpaduan tradisi dan suku bangsa kita yang begitu kaya raya. 
Itulah cara-cara terbaik yang kita miliki untuk menyampaikan apa yang terbaik 
dari kita sebagai sebuah bangsa ke seluruh dunia.

Mungkin agak berlebihan, tetapi cobalah sejenak membayangkan harapan dan 
inspirasi yang didapat dari sebuah pergelaran Broadway, festival blues, 
lokakarya break-dance atau konser bagi suatu bangsa yang baru bangkit dari 
keterasingan atau perselisihan.

Sebuah komentar yang sering dilontarkan orang Afghanistan yang menyaksikan 
pergelaran tersebut di Kabul adalah, "Konser anda membuat kami merasa normal 
lagi." Jika anda menghitung para pemusik lokal yang memainkan genre musik ini 
dengan sejumlah solois Amerika, atau lebih baik lagi, memadukan musik 
tradisional mereka dengan kita, ia benar-benar menjadi sangat menggetarkan.

Masih ada sumur yang dalam dari penghargaan bagi budaya dan nilai-nilai kita. 
Akan lebih bijak jika kebijakan publik berusaha menyuburkan penghargaan ini. 
Melalui dialog artistik, kita dapat membawa satu sama lain keluar dari 
kegelapan yang mengumpul akibat saling tidak percaya. Kemungkinan dari 
pertukaran seperti ini tidak ada habisnya, dan bangsa Amerika, dibandingkan 
dengan bangsa lainnya, mempunya sarana dan kepentingan untuk terus 
berkomunikasi.

###

* John Ferguson adalah direktur eksekutif American Voices, sebuah LSM bermarkas 
di Houston yang membawa diplomasi kebudayaan Amerika ke 80 negara lebih di 
seluruh dunia. Artikel ini disebarluaskan oleh Common Ground News Service 
(CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Christian Science Monitor, 10 Oktober 2006, www.csmonitor.com
Copyright (c) The Christian Science Monitor.
Untuk izin penerbitan kembali silakan hubungi [EMAIL PROTECTED]              
Pandangan Kaum Muda    
CGNews-MK juga secara berkala mempublikasikan tulisan-tulisan para mahasiswa 
jurnalis yang memperkuat pemahaman antar budaya dan mendorong perspektif dan 
dialog konstruktif di lingkungan mereka sendiri. Mahasiswa jurnalis dan para 
penulis di bawah usia 27 tahun dianjurkan untuk menulis kepada Chris Binkley 
([EMAIL PROTECTED]) untuk informasi lebih lanjut tentang pengiriman tulisan.    
     Tentang CGNews-MK    
Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK) mempublikasikan 
berita, opini, feature dan analisis oleh para ahli baik lokal maupun 
internasional mengenai berbagai masalah yang berkaitan dengan hubungan 
Muslim-Barat. CGNews-MK mengumpulkan artikel-artikel yang berimbang dan 
berorientasi-solusi dari media massa di seluruh dunia. Dengan dukungan dari 
Pemerintah Norwegia dan United States Institute of Peace, layanan ini merupakan 
inisiatif nir-laba dari Search for Common Ground, sebuah Lembaga Swadaya 
Masyarakat (LSM) internasional yang bergerak di bidang transformasi konflik.    
Layanan ini merupakan salah satu hasil dari serangkaian pertemuan kerja yang 
diadakan dengan kemitraan bersama Pangeran HRH El Hassan bin Talal di Jordania, 
pada bulan Juni 2003.    
Kantor Berita Common Ground juga membuat dan menyebarluaskan artikel-artikel 
berorientasi-penyelesaian masalah yang ditulis oleh para ahli baik lokal maupun 
internasional demi memajukan perspektif yang membangun dan mendorong dialog 
mengenai masalah-masalah Timur Tengah dewasa ini. Layanan ini, Kantor Berita 
Common Ground - Timur Tengah (CGNews-TT), juga tersedia dalam bahasa Arab, 
bahasa Inggris dan bahasa Hebrew. Untuk berlangganan, klik di sini.    
Pandangan yang disampaikan dalam artikel-artikel ini merupakan pandangan para 
pengarangnya, dan bukan pandangan CGNews-MK atau afiliasinya.    
Kantor Berita Common Ground
1601 Connecticut Avenue, NW Suite #200
Washington, DC 20009 USA
Ph: +1(202) 265-4300
Fax: +1(202) 232-6718

Rue Belliard 205 Bte 13 B-1040
Brussels, Belgia
Ph: +32(02) 736-7262
Fax: +32(02) 732-3033

Email : [EMAIL PROTECTED]
Website : www.commongroundnews.org

Editor
Emad Khalil (Amman)
Juliette Schmidt (Beirut)
Chris Binkley (Dakar)
Emmanuelle Hazan (Geneva)
Nuruddin Asyhadie (Jakarta)
Leena El-Ali (Washington)
Andrew Kessinger (Washington)

Penerjemah
Olivia Qusaibaty (Washington)
Rio Rinaldo (Jakarta)
Zeina Safa (Beirut)


CGNews adalah kantor berita nir-laba.
Anda saat ini terdaftar sebagai [EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari layanan ini, klik disini.


                
---------------------------------
Get your email and more, right on the  new Yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke