Lydia kawanku yang hilang..... (6)
   
  Keesokan pagi harinya aku berangkat dari rumah menuju kesekolah. Sesampainya 
aku di pintu gerbang sekolah aku belum melihat tanda-tanda kehadiran temanku 
berdiri di mulut pintu masuk sekolah. Padahal biasanya kami selalu bertemu di 
tempat tersebut. Lantas aku menghampiri bapak penjaga pintu gerbang sekolah dan 
berdiri disampingnya maksudnya untuk menunggu kedatangan Lydia. 
“Nak, kemarin saya ditegur suster kepala sekolahmu karena membiarkan kau dan 
temanmu itu pergi meninggalkan sekolah sebelum waktu pelajaran dimulai.”
“Wah...lantas Bapak bilang apa?”
“Saya bilang kalian begitu cepatnya berlari keluar sebelum pintunya tertutup 
rapat. Sudah sekarang kau masuk saja kedalam.”
“Ya...nantilah karena aku mau tunggu temanku dulu...”
“Nak...pelajaran sekolah hampir di mulai, lebih baik kau tunggu didalam saja...”
Lantas aku menoleh kearah pintu Gereja yang selalu kulihat terbuka lebar itu, 
lalu aku berjalan menuju arah gereja dengan harapan aku bisa menunggu temanku 
di Gereja. Sembari aku berjalan perlahan-lahan menelusuri arah Gereja, 
sekali-kali aku menoleh kebelakang. Namun yang kulihat bukan Lydia melainkan 
mobil mercedes berwarna putih memasuki pintu gerbang meluncur masuk kompleks 
sekolah, yang maksudnya ingin menuju kearah depan pintu masuk kelas. Memang 
sudah menjadi tradisi, yang setiap harinya mobil tesebut di ijinkan memasuki 
kompleks sekolah. Padahal setahuku mayoritas anak-anak lainnya di sekolah 
selalu diantar pula dengan mobil tapi mobil-mobilnya tak pernah di perbolehkan 
memasuki pintu gerbang sekolah. Tiba-tiba mobil tersebut meluncur perlahan dan 
kemudian mulai berhenti persis disebelahku yang sedang melangkah pelan-pelan 
menuju gereja. Jendela pintu mobil belakang terlihat terbuka dan didalam 
mobilnya ternyata ada teman sekelasku bernama Debi, yang disampingnya
 duduk sahabat karibnya. Aku tahu persis bahwa mobil mercedes itu kepunyaan 
sahabat karibnya. 
“Tih, buruan masuk mobil biar cepet nyampe ke depan kelas...”
“Aaah... engga usah, duluan saja! “ jawabku singkat sambil tetap melangkahkan 
jejakku ke arah Gereja.  
   
  Entah sudah berapa lama aku menunggu Lydia di dalam gereja namun temanku itu 
masihlah tak kunjung tiba. Aku tetap duduk bersimpuh sambil memikirkan 
kekhawatiranku terhadap temanku ini. Tiba-tiba kurasakan sentuhan lembut yang 
menghusap-husap belakang punggungku, lalu aku menoleh kebelakang dan kulihat 
Suster kepala sekolahku dengan senyum ramahnya sambil membungkuk dan 
menganggukan kepalanya yang ditujukan ke aku. Aku mencoba tersenyum tapi 
kurasakan bibirku terasa kaku dan susah untuk menyambut senyuman Suster itu. 
Seketika ku rasakan sesak nafasku yang sepertinya aku merasa tak berdaya lagi. 
Lantas aku beranjak dari kursi bersimpuhku dan langsung berdiri menghadap 
Suster tersebut kemudian kupeluknya Suster itu erat-erat. Tanpa bisa kutahan 
lagi lalu aku menangis tersengguk-sengguk, serasa isak tangisku ini tak bisa 
lagi kuhentikan. Sekali lagi aku merasakan husapan tangannya yang lembut di 
kepalaku. Ternyata semakin aku merasakan sentuhan kelembutannya, semakin keras
 pula suara tangisku. Aku semakin merasa tak berdaya menghadapi belaian kasih 
sayangnya yang kurasakan begitu tulus ikhlas. Sepertinya Suster tersebut mampu 
menggantikan belaian kasih sayang Ibuku yang selama ini selalu kudambakan. 
Menurutku peristiwa drama ini merupakan pengalaman pertamaku, yang sebelumnya 
tak pernah kualami setelah perpisahan lama ku dengan orangtuaku. 
“Suster, maáfkan aku yang nakal ini...” Namun aku tidak mendengar sepatah 
katapun ucapan dari Susternya. Tak lama kemudian Suster mengangkat mukaku 
dengan kedua tangannya yang lembut itu serta menghadapkan wajahnya ke arah 
wajahku. Dengan pancaran matanya yang tajam tapi penuh arti yang sepertinya 
mengerti dan memahami  rasa kesedihanku itu. Tapi aku tak tahu apakah Suster 
itu sudah mengetahui kebutuhanku akan belaian kasih sayangnya. Lalu 
kuperhatikan raut wajahnya yang ternyata masih memancarkan kecerahan pada 
wajahnya, juga bibirnya yang selalu tersenyum ria masihlah mencerminkan 
sikapnya sebagai Ibu yang bijaksana. Tanpa kusangka lantas pipiku di ciumnya 
dengan lembut sambil beliau mengambil saputangan warna putihnya dari saku 
pakaian biarawatinya. Kemudian saputangannya itu dihusapnya ke wajahku secara 
perlahan. Seakan-akan beliau telah mengetahuinya bahwa aku disetiap harinya 
memang selalu terserang penyakit sakit kepala yang nyeri. Dan, untuk kesekian 
kalinya aku
 digandengnya untuk berjalan menuju kelasku. Kali ini Suster mengantarku sampai 
ke dalam kelas. Semua anak-anak sekelasku memperhatikan kehadiranku yang 
diantar oleh Suster Kepala Sekolah sampai ke tempat duduk. Secara kebetulan aku 
di tempatkan untuk duduk disebelah Debi.
“Kau habis dimarahin Suster yah?” tanya Debi yang membisikan ke telingaku. Aku 
hanya menggelengkan kepalaku sambil tetap diam merunduk karena merasa malu yang 
wajahku kelihatan habis menangis. Memang sudah lama sekali aku tidak menangis. 
Padahal sejak kecil aku dikenal sebagai anak cengeng tapi  sejak aku duduk di 
kelas 4 sekolah dasar aku tidak pernah lagi menangis. Dan, di usiaku 9 tahun 
itulah aku di perbolehkan pula oleh Mbah Putriku untuk melakukan sendiri 
sembahyang lima waktu karena aku dianggap sudah bisa melakukan sholat wajib 
tanpa pendampingan Mbah Putriku. Dan setiap aku melakukan sholat Isya dan 
sholat Tahajud sekaligus kupakai pula waktunya itu buat aku bermeditasi. Sejak 
saát itu aku tak pernah lagi memikirkan untuk menangis. Karena dalam 
menjalankan sholat wajib dan sholat tahajud itulah aku merasakan adanya 
ketenangan dalam bathinku. Dalam ketenangan bathin itulah aku selalu 
mendapatkan kesempatan waktu, yang kuanggap pula sebagai tempat priveku dalam
 kesendirianku itu, yang kupakai buat berkomunikasi pada diriku sendiri. 
   
  Bersambung....
   
  MiRa
  Amsterdam, 23 Oktober 2006


Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 






                
---------------------------------
 All-new Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things done 
faster. 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke