(Tulisan ini juga disajikan dalam website

      http://perso.club-internet.fr/kontak.)



      Indonesia Rindu Pemimpin

      Seperti Bung Karno





      Baru-baru ini ada  kejadian yang cukup menarik, dan yang juga
barangkali cukup mengejutkan bagi banyak orang, karena termasuk “luar biasa”
. Oleh karena itu seyogianyalah kita semua menghadapinya dengan pandangan
kritis, atau dengan sikap hati-hati, serta berusaha menganalisanya dari
berbagai segi. Sebab, kita belum mengetahui latar-belakang dan juga arah
yang sebenarnya dari kejadian yang bisa dikategorikan “baru” atau belum
pernah terjadi ini.

      Kejadian yang menarik ini adalah ceramah Ketua Umum Pengurus Besar
Muhammadiah, Prof. Dr. H. Din Syamsuddin  pada acara silaturahim dan buka
puasa bersama yang dilaksanakan Presidium Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa
Nasional Indonesia (PPA GMNI) di Jakarta, tanggal 20 Oktober 2006.

      Menurut Media Indonesia 21 Oktober, dalam ceramahnya itu Prof. Dr Din
Syamsuddin berbicara  bahwa “Bangsa Indonesia merindukan sosok pemimpin
seperti Bung Karno yang mampu mengendalikan manajemen politik nasional
dengan rasa percaya diri tinggi, bahkan berani menghadapi neo kolonialisme
(nekolim) dan imperialisme dunia.

      "Pemerintah Indonesia harus memiliki kepercayaan diri tinggi dan
berani meneriakkan anti-nekolim serta bertindak tegas dalam membangun tata
dunia baru yang damai, berkeadaban, dan berkeadilan, sebagaimana pernah
ditunjukkan Bung Karno," katanya. Keberanian menentang liberalisme absolut
saat ini, menurut Din, sangat diperlukan, karenanya butuh kepemimpinan
nasional yang tangguh serta memiliki rasa percaya diri tinggi.

      Masih menurut Media Indonesia, ia juga mengatakan bahwa neo
liberalisme absolut yang berekspresi melalui sendi-sendi ekonomi, politik,
dan budaya, akan menjadi faktor yang sangat dahsyat meruntuhkan keutuhan
NKRI.

      "Apalagi ada pendorong di belakangnya yaitu neo kolonialisme,
imperialisme, dan kapitalisme, yang memaksakan pendesakan penerapan
kapitalisme global yang telah menjadi biang kerok berbagai masalah dunia
berupa kesenjangan-kesenjangan dan ketidakadilan," katanya.  Din Syamsudin
juga dengan tegas mengatakan pendesakan penerapan liberalisme absolut telah
mengganggu sendi-sendi kehidupan politik budaya bangsa.

      "Di bidang politik antara lain telah memunculkan dikotomi antar-agama,
antar-etnik, dan antar-suku. Di bidang budaya terjadi penerabasan imoralitas
yang semua ini butuh perhatian serius kita semua," katanya.

      Untuk mengatasi semua ini, Din Syamsuddin mengatakan segeralah meniru
konsep agung Bung Karno mengenai nation and character building sebagai
sebuah paradigma etik untuk membangkitkan harkat martabat serta kepercayaan
diri. Baik dalam bersikap membangun negerinya, maupun dimanifestasikan dalam
bertarung di era pasar bebas global. ((kutipan selesai, huruf tebal oleh
penulis).

      Seperti bahasanya golongan “kiri”

      Setelah membaca ucapan-ucapannya seperti tersebut di atas, mungkin
banyak orang menjadi terkejut atau heran bahwa pimpinan Muhammadiyah bisa
atau berani bicara positif sekali tentang konsep agung Bung Karno, tentang
neo-kolonialisme dan imperialisme dunia, tentang liberalisme , tentang
kapitalisme. Dan adalah juga sangat  menarik perhatian ketika ia mengatakan
:” Apalagi ada pendorong di belakangnya yaitu neo kolonialisme,
imperialisme, dan kapitalisme, yang memaksakan pendesakan penerapan
kapitalisme global yang telah menjadi biang kerok berbagai masalah dunia
berupa kesenjangan-kesenjangan dan ketidakadilan,"

      Ia juga mengatakan bahwa “di bidang politik antara lain telah
memunculkan dikotomi antar-agama, antar-etnik, dan antar-suku. Di bidang
budaya terjadi penerabasan imoralitas.

      Barangkali,  banyak orang menganggap bahwa ungkapan-ungkapan tentang
neo-kolonialisme, imperialisme dunia, kapitalisme, liberalisme, biang kerok
kesenjangan dan keadilan, pasar bebas global, neo-liberalisme absolut adalah
bahasa atau ungkapan-ungkapan yang biasanya sering  dipakai oleh
golongan-golongan kiri seperti PRD, Walhi, International Global Justice dll
dll.. Atau,  barangkali banyak orang juga meng-kategorikan  ungkapan atau
bahasa yang “kiri”  semacam itu sebagai ciri golongan-golongan yang menganut
berbagai politik Bung Karno.

      Karena itu, ketika Ketua Umum Muhammadiah, Prof. Dr Din Syamsuddin
memberi ceramah yang isinya begitu kiri, bisalah kiranya orang-orang lalu
bertanya-tanya; apa ucapan-ucapannya itu betul-betul dari lubuk hatinya yang
tulus? Atau pertanyaan : apakah Din Syamsuddin yang pernah menduduki
departemen Litbang Partai Golkar sudah berubah pandangan politiknya? Atau :
apakah ungkapan-ungkapannya yang begitu kiri itu hanya satu taktik untuk
mencapai tujuan tertentu saja? Atau : apakah pimpinan Muhammadiah sudah
menjadi “kiri” dan juga mendukung politik Bung Karno? Atau: apakah mantan
sekretaris MUI ini (Din Syamsuddin) sekarang sudah “ganti baju”?  Semuanya
masih belum jelas, dan kita semua perlu bersikap waspada terus, sambil
menunggu perkembangan selanjutnya.

      Kalau tulus, perkembangan ini sangat penting

      Pernyataan Prof. Dr. Syamsuddin ini kalau betul-betul tulus (harap
diperhatikan, di sini dipakai perkataan   k a l a u !), dan bukan taktik
busuk untuk mengelabui mata banyak orang saja, bisa merupakan perkembangan
yang maha penting (!!!) bagi kehidupan negara dan bangsa kita. Sebab, ini
diucapkan oleh pimpinan tertinggi Muhammadiah, suatu organisasi dari
golongan Islam yang besar jumlahnya, yaitu sekitar 30 juta.  Kedudukan
Muhammadiah adalah sama pentingnya dalam masyarakat di samping Nahdatul
Ulama.

      Dan juga, kalau (awas, sekali lagi : k a l a u ) mantan Litbang Partai
Golkar dan sekretaris MUI ini, dengan tulus dan dari lubuk hatinya  sudah
berani bicara soal nekolim  -- ingat kata-kata ini sering sekali dipakai
dalam pidato-pidato Bung Karno – , soal neo-liberalisme, soal globalisasi,
soal kapitalisme, dan soal imperialisme maka juga merupakan perubahan yang
besar, yang pantas kita sambut dengan gembira. Sebab, perubahan sikap
politik pimpinan Muhammadiah yang menjadi pro-politik Bung Karno berarti
bahwa pimpinan organisasi besar Islam ini sudah  meninggalkan “sikap
anti-Sukarno”, yang sudah dianutnya selama 40 tahun. Ini penting sekali,
sangat penting, karena sebagian besar ummat Islam di Indonesia tergabung
dalam berbagai organisasi Muhammadiah dan Nahdatul Ulama.

      Meninggalkan sikap anti politik Bung Karno, bisa diartikan mengambil
jarak atau menjauhi Orde Baru-nya Suharto dkk (baca segolongan pimpinan
TNI-AD dan GOLKAR). Menyetujui konsep-konsep agung Bung Karno berarti tidak
menyetujui atau menolak politik rejim militer Suharto, yang mengkhianati
cita-cita revolusi 45, yang menggulingkan Presiden Sukarno, dan yang melibas
kekuatan kiri di Indonesia selama lebih dari 32 tahun.

      Konsep-konsep agung Bung Karno

      Arti penting lainnya pernyataan  Din Syamsuddin adalah ketika ia
mengatakan : “Untuk mengatasi semua ini, segeralah meniru konsep agung Bung
Karno mengenai nation and character building sebagai sebuah paradigma etik
untuk membangkitkan harkat martabat serta kepercayaan diri. Baik dalam
bersikap membangun negerinya, maupun dimanifestasikan dalam bertarung di era
pasar bebas global”

      Perlulah kiranya sama-sama kita ingat bahwa konsep agung Bung Karno
bukan hanya mengenai  nation and character building saja, melainkan banyak
sekali. Konsep-konsep agung Bung Karno ini tercermin sejak dalam pidato
pembelaannya di pengadilan kolonial Belanda yang berjudul “Indonesia
menggugat” ketika ia masih muda belia, kemudian disusul dengan lahirnya
Pancasila, pidato-pidatonya yang terkumpul dalam buku “Di bawah bendera
revolusi”, politik NASAKOM, kumpulan pidato-pidatonya sesudah G30S (yang
dikumpulkan dalam buku “Revolusi belum selesai”), Konferensi AA di Bandung,
KWAA (Konferensi Wartawan Asia-Afrika), KIAPMA (Konferensi Internasional
Anti Pangkalan Militer Asing).

      Kalau (ma’af, sekali lagi  kalau ) Din Syamsuddin betul-betul
menganjurkan kepada kita semua supaya “meniru konsep agung Bung Karno Karno
mengenai nation and character building” , maka ia seyogianya juga
menganjurkan ummat Islam (dan kita semua) untuk menghormati dan mematuhi
konsep-konsep atau berbagai gagasan-gagasan besar Bung Karno lainnya (
umpamanya, dan antara lain : Manipol, Berdikari, persatuan Nasakom dll dll).
Nation  and character building yang diperjuangkan Bung Karno dengan gigih
sepanjang hidupnya bagi bangsa Indonesia adalah juga patriotisme,
nasionalisme kerakyatan, persatuan Nasakom, dan sikap anti-imperialis.

      Rejim militer Suharto memanipulasi golongan Islam

      Kemungkinan terjadinya perkembangan baru atau perubahan besar  (Insya
Allah!) di kalangan pimpinan Muhammadiah mengenai sikap terhadap sosok Bung
Karno akan mempunyai dampak yang besar sekali bagi kehidupan politik bangsa.
Sebab, bersama-sama Nahdatul Ulama yang juga besar jumlah pengikutnya
(sekitar 30 juta) , dua organisasi Islam ini bisa memperbaiki
kesalahan-kesalahannya di masa lalu, ketika rejim militer Suharto bisa
memanipulasi sebagian golongan Islam untuk ikut menentang dan menghancurkan
kekuatan politik Bung Karno beserta pendukung utamanya, antara lain PKI.

      Rejim militer Orde Baru (artinya: pimpinan TNI AD dan Golkar) telah
menggunakan sebagian golongan Islam sebagai kaki-tangannya untuk melakukan
kampanye anti-komunis dan anti-Sukarno selama 32 tahun lebih. Sebagian
golongan Islam ini telah berhasil dicekoki racun-racun anti-Nasakom dan
anti-Manipol, yang merupakan juga konsep agung Bung Karno. Begitu hebatnya
usaha rejim militer Suharto dkk dalam memanipulasi sebagian golongan Islam,
sehingga sampai sekarang pun golongan-golongan  tersebut masih tetap anti
Bung Karno dan anti-PKI.

      Padahal, perkembangan situasi internasional  -- dan juga situasi
nasional di Indonesia -- sudah menunjukkan dengan jelas bahwa apa yang
dicanangkan Bung Karno mengenai nekolim dan kapitalisme dunia ternyata benar
dan karena itu masih relevan. Artinya, nekolim adalah tetap musuh utama bagi
kepentingan nasional dan bagi kesejahteraan rakyat banyak, baik di Indonesia
maupun bagi rakyat di Timur Tengah atau Amerika Latin.

      Merindukan sosok pemimpin seperti Bung Karno

      Kalau dikatakan bahwa bangsa Indonesia sekarang ini merindukan sosok
pemimpin seperti Bung Karno, maka ada dasarnya. Sebab, negara dan bangsa
kita telah dikerangkeng atau diborgol oleh Suharto dkk selama 32 tahun
lebih. Berbagai pemerintahan kemudian secara berturut-turut dipimpin oleh
Habibi, Gus Dur, Megawati dan sekarang SBY-Jusuf Kalla. Semua presiden itu
tidak ada yang bisa menyamai atau menandingi kebesaran sosok atau keagungan
ketokohan Bung Karno, baik dalam menangani masalah-masalah nasional maupun
menghadapi perjuangan melawan nekolim dan kapitalisme global.

      Banyaknya masalah-masalah nasional yang tetap tidak tertangani secara
baik (antara lain : kemiskinan yang meluas, pengangguran yang terus
membengkak, korupsi yang merajalela, pertentangan agama dan suku atau
golongan etnis, utang dalam negeri dan luar negeri yang menjadi beban sangat
berat bagi rakyat, kemerosotan moral yang melanda seluruh negeri dll dll)
menimbulkan kesimpulan banyak orang bahwa Indonesia memerlukan pimpinan yang
sosoknya seperti Bung Karno. Sebab dengan pimpinan negara dan pemerintahan
seperti yang sudah silih berganti sejak jatuhnya Suharto, sangat tipislah
harapan akan adanya perbaikan menyeluruh dan radikal atau perubahan yang
mendasar.  Bahkan,  tidak mungkin !

      Jelaslah kiranya bahwa dalam menghadapi perjuangan nekolim dan
neo-liberalisme diperlukan oleh bangsa Indonesia adanya tokoh seperti yang
sudah ditunjukkan oleh Bung Karno.  Yaitu, tokoh yang dengan gagah berani
bisa meneriakkan dengan lantang  “Go to hell with your aid” (yang ditujukan
kepada Amerika Serikat beserta sekutu-sekutunya). Sikap yang begini ini sama
sekali bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh Wakil Presiden Jusuf
Kalla (yang juga Ketua Umum Partai GOLKAR)  yang dengan getol mengundang
gembong-gembong neo-liberalisme (terutama dari AS) untuk  menguras kekayaan
bumi kita.

      Mengingat hal-hal itu semua, maka nampaklah dengan jelas  betapa besar
arti pernyataan pimpinan utama Muhammadiah mengenai Bung Karno ( kalau
memang betul-betul tulus, serius, dan jujur!). Sebab, bangkitnya kesedaran
politik di kalangan ummat Islam tentang neo-liberalisme, tentang
globalisasi, tentang kapitalisme, dan tentang imperialisme, akan membawa
perubahan yang sangat besar (sekali lagi, sangat besar!) dalam kehidupan
politik dan kenegaraan bangsa kita. Dan karena negara kita sebagian terbesar
terdiri dari ummat Islam (dan juga merupakan negara yang terbesar pemeluk
Islamnya di dunia) maka kebangkitan ummat Islam Indonesia ke arah yang
demikian itu akan mendorong lahirnya geo-politik yang baru. Baik secara
nasional maupun secara internasional. Kita semua berharap memang demikianlah
hendaknya.

      Marilah sama-sama kita cermati, apakah semua pernyataan-pernyataan
pimpinan Muhammadiah yang seperti disajikan di atas itu memang merupakan
tanda-tanda lahirnya perkembangan baru ( dan penting ) di kalangan
Muhammadiah (atau di kalangan sebagian besar ummat Islam umumnya) ataukah
hanyalah celotehan yang sebenarnya omong kosong yang  tidak lebih dari busa
sabun saja. Kita lihat saja perkembangan selanjutnya.

      Paris, 24 Oktober 2006.




















--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.408 / Virus Database: 268.13.9/490 - Release Date: 20/10/2006


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke