terimakasih bingkisannya pak
bahagialah orang yang mengingatkan
tinggalkan keburukan, raih kebaikan

saya kira Moderator pun inginnya
begitu ya ?

jadi kita doakan saja
setelah Lebaran ini
tiada posting yang mulai muntah 'sampah'-serapah 'promosi kliru 
tempat'
ungkapan isi hati, apalagi karena keciutan-religius subyektifnya
mengumpati keyakinan MANUSIA lain sesama mahluk
betul begitu Moderator ?

sebaliknya, info dan sharing
untuk memperbaiki keadaan bangsa ini
dari keterpurukan, secara nyata
kian diarah juga oleh Moderator dan pemilis lain
sesuai MOTTO milis itu sendiri, kalau tak mau kian degrading

obyektif : kemiskinan, kebodohan, korupsi dll merajalela,
pertanian kehutanan industri makin belum tambah baik,
kok tega-teganya ada yang masih bicara kesombongan diri/kelompok
merasa benar sendiri, top, bekoar-jari "sikat yang lain" ?
sedih kan Moderator ?
jangan ada lagi yang mulai 'bicara ke lubang hitam' lagi-lah

IdulFitri semoga momen perubahan bersama 
makin baik dan dewasa milisnya juga

yah, kita semua simak dan ikuti saja....
semoga Motto milis dijaga konstruktif

salam
maaf lahir dan batin
antar semua dan masing-masing
(maaf saya bukan Moderator loh)





--- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya tambahkan sebuah renungan sunyi hening mas:
> 
> Masih Terpenjarakah Kita 
> oleh UP Dharma Mitra 
> 
> 
>         "Di dunia ini, apabila seseorang dikuasai oleh keinginan 
> kotor dan beracun, kesedihan niscaya berkembang bagaikan rumput 
> birana, yang tumbuh subur karena tersirami air hujan"Tanha Vagga 
> XXIV : 335.
> 
>        Penjara merupakan salah satu sarana (alat), untuk menghukum 
> atau menyadarkan segelintir orang-orang, yang tindak tanduknya di 
> luar dari jalur kebenaran. Di dalam penjara ini, nantinya para 
> pelaku kejahatan, menerima sanksi (hukuman) yang disesuaikan 
dengan 
> derajat kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. Yang pasti, di 
> kondisi yang kurang menyenangkan ini, segala bentuk aktivitas jadi 
> serba terbatas, keinginan-keinginan yang didambakan, juga tidak 
bisa 
> dipenuhi dan di samping itu, apa yang telah direncanakan, tidaklah 
> bisa direalisasikan. Itulah yang disebut dengan penjara duniawi. 
> Singkatnya, sukkha (kebahagiaan) yang dirasakan, kadarnya jauh 
lebih 
> sedikit dari pada dukkha (derita) yang diterima. Dan di luar dari 
> penjara duniawi ini, masih terdapat lagi sebuah penjara, yang 
> akibatnya jauh lebih dukkha (menderita). Akibatnya, bukan saja 
bisa 
> dirasakan di kehidupan ini, tetapi juga kehidupan-kehidupan 
> mendatang. Penjara tersebut dikenal dengan sebutan penjara bathin, 
> yang terciptakan oleh kebodohan (moha) diri kita sendiri. Di dalam 
> kitab suci Digha Nikaya III : 230 dan 276, Samyutta Nikaya V : 59 
> dan Vibhanga 374, disebutkan bahwa salah satu pencetus 
terbentuknya 
> penjara bathin ini adalah upadana (kemelekatan) diri kita akan 
> keduniawian. Dan secara garis besarnya, upadana ini dapat dibagi 
> atas 4 (empat) bagian besar, yang terdiri dari: 
> 
> 
> Kamupadana : kemelekatan akan nafsu indera.
> Menurut konsep Buddhis, setiap manusia memiliki 6 (enam) indera, 
> yang terdiri dari : 
> 
> mata 
> telinga 
> hidung 
> lidah 
> jasmani(kulit) dan 
> pikiran. 
> 
> Yang dimaksudkan dengan kamupadana adalah timbulnya kemelekatan 
dan 
> keinginan, untuk menguasai (memiliki) atau menghancurkan sesuatu 
> dikala : 
> 
> melihat yang disukai atau tidak 
> mendengar yang menyenangkan atau tidak 
> mencium aroma yang wangi atau tidak 
> mengecap yang enak atau tidak 
> merasakan sentuhan yang lembut atau tidak 
> berpikir yang indah atau tidak. 
> 
> Terjadinya kemelekatan setelah adanya kontak antara indera dengan 
> objek-objek (sasaran- sasaran) yang tersentuh, itulah penjara. 
> Seseorang yang begitu melekat dengan apa yang dia inginkan, 
berhasil 
> diraih atau tidak, suatu saat pasti akan menimbulkan derita. 
> Mengapa…? Jika berhasil diraih, dia diharuskan mencurahkan 
> perhatian, untuk merawat dan menjaganya. Dalam hal ini, apakah 
semua 
> kondisi yang terdiri dari perpaduan unsur-unsur, kekal 
> keberadaannya…? Benda apapun yang berada di sekitar kita, cepat 
> maupun lambat, apakah dikehendaki atau tidak, pasti akan mengalami 
> proses kehancuran. Jika proses kehancuran ini sampai terjadi 
> sedangkan diri kita begitu terlekat olehnya, apakah yang bakal 
> terjadi…? Tiada lain adalah dukkha (derita). Begitu juga 
sebaliknya, 
> jika tidak berhasil mendapatkan, apa yang telah diidam-idamkan, 
> derita lah yang dirasakan. Mengapa bisa demikian…? Karena 
> kemelekatan yang demikian eratnya mencengkram bathinnya, akan 
selalu 
> menimbulkan kecewaan, kesedihan dan kefrustasian. Oleh karena itu, 
> agar nafsu indera tidak berkesempatan membelenggu bathin ini, 
> tebaslah setiap wujud (bentuk) dari kemelekatan. Bagaimana 
caranya…? 
> Caranya yaitu dengan menyadari sebaik-baiknya bahwa benda apapun 
> yang terdapat di alam semesta ini, tidaklah kekal keberadaannya. 
> Dapatpun belum tentu bahagia dan apalagi tidak dapat, logiskah 
kita 
> terlekat olehnya…? Di dalam sabda-Nya Sang Buddha 
> menyabdakan : "Makhluk-makhluk yang terjerat pada keinginan, 
meronta-
> ronta seperti kelinci yang terperangkap oleh pemburu. Mereka yang 
> terjerat dalam belenggu dan ikatan bathin, niscaya mengalami 
> penderitaan berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama".
>        Berdasarkan pada kesunyataan (kebenaran) ini, masih 
logiskah 
> kita terbelenggu oleh nikmatnya ikatan ikatan duniawi…?
> 
> 
> 
> Ditthupadana : kemelekatan akan pandangan salah.
>        Pandangan salah dalam hal ini adalah tidak bisa menerima 
atau 
> mengerti, akan kebenaran kebenaran yang berlaku di alam semesta 
ini.
> Kebenaran kebenaran tersebut, misalnya adalah : 
> 
> setiap perbuatan, pasti akan menimbulkan akibat 
> 
> benda apapun yang terdapat di alam semesta ini, tidaklah kekal 
> keberadaannya 
> 
> perbuatan baik akan menimbulkan kebahagiaan dan yang jahat akan 
> menghasilkan penderitaan. 
> 
> 
> Tidak sedikit dijumpai, yang hanya dikarenakan kesalahan pandangan 
> hidup, seseorang enggan dan menolak, untuk mau berdana (beramal). 
> Baginya, berdana itu adalah suatu perbuatan yang sia sia saja 
serta 
> mubazir. Dan jika sakit, bukannya segera ke dokter, eeeeh malahan 
ke 
> orang orang yang bisa kesurupan. Dikarenakan pandangan salahnya, 
dia 
> pun berkeyakinan bahwa orang orang yang bisa kesurupan adalah 
orang 
> orang yang hebat, pilihan dan suci. Apakah benar demikian…? 
Didalam 
> konsep Buddhis ditegaskan, bahwa seseorang yang mengalami 
kesurupan 
> atau tubuhnya bisa disusupi oleh makhluk makhluk dari alam halus, 
> tidaklah terlepas karena sati (kesadaran) nya sangat lemah sekali. 
> Sati (kesadaran) ini, istilah awamnya dikenal dengan sebutan roh 
> atau arwah. Mengapa sati (kesadaran) ini bisa melemah…? Faktornya 
> adalah :
> 
> kekuatan kebajikan yang dimiliki telah mulai berkurang, yang bisa 
> saja dikarenakan tidak pernah berbuat baik atau suka melakukan 
> perbuatan perbuatan jahat .
> 
> suka memakan atau meminum, sesuatu yang mana bisa menyebabkan 
> hilangnya kesadaran/menimbulnya ketagihan (kecanduan), misalnya : 
> jenis jenis obat penenang (morphin, ganja, ekstasi atau minuman 
> minuman berkadar alkohol tinggi). 
> 
> 
> Berdasarkan pada fakta kebenaran ini maka bagi seseorang yang 
> tubuhnya, bisa disusupi oleh makhluk makhluk dari alam halus, 
> tidaklah akan bisa meraih proses kesucian di kehidupan ini. 
> Singkatnya, orang orang yang tubuhnya bisa disusupi oleh makhluk 
> makhluk dari alam halus adalah jenis orang orang yang pantas 
> dikasihani. Hingga saat ini, bagi anggota Sangha (persaudaraan 
para 
> bhikkhu/ni) yang "vinaya : peraturan peraturan yang 
dipedomanin "nya 
> terawat dengan baik, tidak akan ada peluang sedikitpun bagi 
makhluk 
> makhluk dari alam halus, untuk bisa (mampu) menyusupi tubuh 
> (jasmani) mereka. Selanjutnya, pandangan salah yang cukup dominan 
> kita dengar adalah "orang baik, pada umumnya lebih menderita dari 
> pada orang jahat ".
> Didalam kitab suci Anguttara Nikaya I : 227, Sang Buddha 
> menyabdakan : "Sesuai dengan benih yang telah ditabur, demikianlah 
> buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebajikan akan mendapat 
kebajikan 
> (kebahagiaan) dan pembuat kejahatan akan memetik kejahatan 
> (penderitaan) pula. Tertaburlah olehmu biji biji dan engkau pula 
> yang akan merasakan buah buah dari padanya." Berdasarkan pada 
sabda 
> Sang Buddha ini, tidaklah mungkin perbuatan baik akan menimbulkan 
> penderitaan, sedangkan perbuatan jahat mengakibatkan kebahagiaan. 
> Kalau disaat berbuat jahat, seseorang kelihatannya berbahagia, 
> semuanya bisa saja terjadi, tidaklah terlepas karena:
> 
> dia lagi menikmati hasil dari karma (perbuatan) baik, yg pernah 
> diperbuat dimasa sebelumnya.
> 
> bisa saja luarnya kelihatan bahagia, tetapi dalamnya siapa tahu….? 
> 
> 
> Sesuai dengan konsep hukum karma, apapun yg diperbuat maka itulah 
> yang akan dipetik (diterima) hasilnya. Menanam jambu maka jambulah 
> yg akan dipanen, dan tidaklah mungkin menghasilkan kelapa. Dan 
> siapapun yg menyemai kejahatan, pasti akan dicengkram oleh 
> kekecewaan, ketakutan dan kecemasan. Mungkinkah kondisi kondisi 
ini 
> menimbulkan kebahagiaan…….? Selanjutnya, di dalam agama Buddha 
> ditegaskan pula bahwa kebahagiaan itu, bukan hanya bisa dinikmati 
di 
> alam manusia tetapi juga di alam Dewa, Brahma atau Nibbana 
> (Nirvana). Setiap makhluk yang terlahirkan (berada) di salah satu 
> dari 31 alam kehidupan adalah disesuaikan dengan kekuatan dari 
karma 
> (perbuatan) yang dimiliki. Kalau kwantitas (jumlah) karma 
> (perbuatan) nya, tidak sesuai lagi di alam manusia, apakah di 
> inginkan atau tidak, maka dia diharuskan pindah ke alam lain, yang 
> disesuaikan dengan kekuatan dari karma (perbuatan) yg dimiliki. 
> Ibarat memiliki uang yang jumlahnya hanya 50 juta maka rumah yang 
> didiami, bentuknya adalah sederhana. Tetapi jika suatu saat, 
uangnya 
> telah mencapai ratusan juta maka dikondisi ini, akan membuat 
dirinya 
> mencari rumah yang jauh lebih indah dan mewah, dari yang 
sebelumnya. 
> Jadi bisa disimpulkan, bahwa kematian di usia yang dini dikala 
> berbuat baik, akan membuka peluang bagi diri seseorang, untuk 
> terlahirkan di alam yang lebih baik, dibandingkan yang sebelumnya. 
> Didalam sabdaNya, Sang Buddha menyabdakan bahwa lebih baik hidup 
> sehari, yang dipenuhi dengan kebajikan, daripada hidup ratusan 
tahun 
> lamanya, yang dicengkram oleh kejahatan. Hidup yang senantiasa 
> dipenuhi oleh kejahatan, akan menjerumuskan diri seseorang ke 
> lautan " samsara : kelahiran dan kematian", yang tiada 
> akhirnya. "Selama perbuatan jahat belum menghasilkan buah, orang 
> sesat menganggapnya manis seperti madu. Tatkala perbuatan itu 
> menghasilkan buah, ia niscaya mengalami penderitaan" Bala Vagga 
V : 
> 69. Jadi, berdasarkan pada fakta kebenaran ini, perbuatlah 
kebajikan 
> sedini mungkin dan yakinilah dengan sebaik baiknya, bahwa kematian 
> itu bukanlah suatu hal yang menakutkan atau merupakan jalur yang 
> akan menuntun kita, untuk terlahirkan di alam derita.
> 
> 
> 
> Silabbatupadana : kemelekatan akan upacara upacara.
>        Yang dimaksud dengan silabbatupadana adalah suatu pandangan 
> salah, yang meyakini bahwa dengan hanya memberikan (meletakkan) 
> persembahan persembahan (sajian sajian), di altar suci Para 
Buddha, 
> Bodhisattva dan Dewa, akan bisa mendapatkan pahala pahala atau 
> berkahan berkahan. Dan yang lebih fatal lagi adalah 
mempersembahkan 
> daging dagingan (sebagai hasil dari pengorbanan makhluk hidup) di 
> altar suci Para Buddha, Bodhisattva dan Dewa. Apakah hal ini 
pantas 
> atau logis dilakukan…? Di dalam kitab suci ditegaskan bahwa salah 
> satu syarat utama, agar kita bisa terlahirkan /mendiami 
> alam "suggati : bahagia " adalah dengan mengembangkan "metta : 
cinta 
> kasih universal ", yang mengharamkan segala bentuk kebrutalan, 
> kekejaman, kesadisan dan pembunuhan. Tanpa adanya pengembangan 
cinta 
> kasih yang sifatnya universal, maka alam "suggati : bahagia ", 
> tidaklah mungkin bisa dicapai atau kesucian akan jauh 
keberadaannya. 
> Cara yang terbijaksana menghaturkan persembahan persembahan di 
altar 
> suci Para Buddha, Bodhisattva dan Dewa adalah dalam bentuk sayur 
> sayuran atau buah buahan. Logikanya, jika persembahan daging 
> dagingan rutin dihaturkan maka yang namanya makhluk makhluk suci, 
> akan segera kabur dari tempat tersebut dan tidaklah mungkin 
sanggup 
> bertahan untuk jangka waktu yang lama, ditempat itu lagi. Dan 
tidak 
> tertutup kemungkinan, tempat tersebut akan dipenuhi (diisi) oleh 
> makhluk makhluk, yang kesadarannya jauh lebih rendah daripada 
> manusia. Makhluk makhluk yang kesadarannya di bawah alam manusia 
> adalah peta (setan), asura (raksasa/jin), niraya (neraka) dan 
> tiracchana (hewan). Sedangkan makhluk makhluk yang kesadarannya, 
di 
> atas alam manusia (makhluk makhluk suci) adalah para Buddha, 
Arahat, 
> Bodhisattva, Brahma dan Dewa. Jadi, persembahan persembahan 
(sajian 
> sajian) dalam bentuk apapun (daging dagingan, sayur sayuran atau 
> buah buahan), yang diiringi dengan sejumlah pengharapan 
pengharapan, 
> mis : ingin mendapatkan kekayaan, jodoh, kekuasaaan atau kesucian 
> adalah merupakan pandangan yang salah. Semuanya itu adalah wujud 
> dari pengharapan yang sia sia saja. Didalam agama Buddha, terdapat 
4 
> (empat) jenis persembahan wajib, yang selalu dihaturkan, di altar 
> suci Para Buddha, Bodhisattva dan Dewa. Ke empat persembahan wajib 
> tersebut adalah:
> 
> air yang melambangkan kerendahan hati atau kesucian 
> (menyucikan "kilesa kilesa : kekotoran kekotoran batin " dari 
> kegelapan ke jalur yang terang)
> 
> lilin yang melambangkan penerangan 
> bunga yang melambangkan ketidak-kekalan dan 
> dupa yang melambangkan harumnya kebajikan yang diperbuat. 
> Dari ke empat persembahan wajib yang tertera di atas, tidak 
satupun 
> yang bermakna atau mengandung unsur meminta (bagaikan pengemis) 
atau 
> mendambakan hal hal yang diluar dari kelogikaan. Makna 
sesungguhnya 
> dari persembahan, yang dihaturkan di altar suci Para Buddha, 
> Bodhisattva dan Dewa adalah untuk mengikis kesombongan diri, 
dengan 
> menyadari bahwa segala sesuatunya, tidaklah kekal keberadaannya. 
> Oleh karena itu, tidak ada satu kelebihan pun, yang pantas 
> disombongkan ! Disamping itu, jadilah pelita di dalam kehidupan 
ini, 
> yang mana bisa menuntun atau menerangi siapapun juga, agar 
terbebas 
> dari aneka bentuk kejahatan, melalui banyaknya kebajikan yang 
> diperbuat. Persembahan (sajian) apapun yang dihaturkan, di altar 
> suci Para Buddha, Bodhisattva dan Dewa, yang perlu direnungkan 
> adalah 
> 
> janganlah dari hasil pembunuhan 
> janganlah sampai terdapat unsur barternya. Misalnya dengan 
> mengutarakan " "JIKA PERMINTAANKU TERKABULKAN MAKA AKAN KUPERSEM-
BAH-
> KAN, YANG LEBIH LUAR BIASA LAGI !", ini adalah salah satu contoh 
> dari ungkapan (janji) yang sangat salah, yang tidak sesuai dengan 
> konsep Buddhis ! 
> 
> jadikanlah persembahan tersebut, hanya sebagai wujud rasa terima 
> kasih (katannukatavedi) dan mengurangi ke EGOIS an serta 
> meningkatkan tekad untuk menimbun kebajikan sedini mungkin.
> 
> "Orang tersucikan, bukanlah karena kelahiran (keturunan) atau 
harta 
> benda, melainkan perbuatan, pengetahuan, dharma (kebenaran), 
> kesilaan (moral yang baik) dan penghidupan yang luhur ," Samyutta 
> Nikaya, Sagathavagga 147.
> 
> 
> 
> 
> Attavadupadana : kemelekatan akan ke egois an 
>        ""Semakin banyak yang diketahui maka akan semakin banyak 
> pula, yang tidak diketahui ". Dari pribahasa yang singkat ini, 
bisa 
> ditarik suatu kesimpulan bahwa, tidak ada seorangpun yang serba 
tahu 
> atau sempurna, di dalam kehidupan ini. Dan berdasarkan pada 
> kebenaran ini, pantaskah kita melekat dengan ke EGOIS an diri…? 
> Terlahir kaya, pintar, berkuasa, sehat dan lain sebagainya, 
> pantaskah dilekati atau disombongkan…? Tanpa adanya dukungan atau 
> timbunan karma (perbuatan) baik, yang telah disemai di kehidupan 
> kehidupan sebelumnya, tidaklah mungkin kita bisa menikmati 
kelebihan 
> kelebihan disaat ini. Mengapa ke EGOIS an bisa timbul….? Ke EGOIS 
an 
> bisa timbul, umumnya karena adanya kebanggaan yang berlebihan atas 
> kelebihan kelebihan yang telah dimiliki, misalnya terlahir kaya, 
> pintar, cantik dan berkuasa. Menyombongkan kelebihan kelebihan 
yang 
> telah dimiliki, cepat maupun lambat, akan menuntun seseorang ke 
> liang derita.
>        Fakta telah membuktikan bahwa orang yang ke EGOIS an sangat 
> menonjol, akan mudah sekali mengalami frustasi, kecewa dan patah 
> semangat. Kalau kaya, dia hanya akan memanfaatkan kekayaannya, 
untuk 
> melampiaskan kepuasan dirinya semata mata. Dan dengan 
kepintarannya, 
> dia selalu memperdaya pihak lain. Kerupawanan yang dimiliki, hanya 
> dimanfaatkannya untuk menghancurkan pihak lain dan jika berkuasa, 
> otoriternya luar biasa, siapa yang menentang maka akan langsung 
> disingkirkan. Di akhirnya, apakah yang akan terjadi….? Tiada lain 
> yang akan dia rasakan, selain dari pada penderitaan. Jadi, 
> attavadupadana dalam kondisi dan keadaan yang bagaimanapun juga, 
> tidaklah akan memberikan dampak yang positif, disamping 
menimbulkan 
> penderitaan yang berlarut larut. Oleh karena itu, agar terbebas 
dari 
> kondisi yang tidak baik ini, sadarilah dengan sebaik baiknya bahwa 
> kemelekatan akan apapun juga (termasuk diri sendiri) adalah 
> derita. " Kamehilokamhi na hatthi titti : di dunia ini, tidak ada 
> kepuasan dalam penikmatan nafsu inderawi ", Majjhima Nikaya, 
> Majjhima pannasaka 451. 
> 
> 
> Kesimpulam
>        Setelah beragama Buddha sekian tahun lamanya dan belum juga 
> merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, mengapakah kondisi ini 
bisa 
> terjadi….? Kondisi ini bisa terjadi, tidaklah terlepas karena 
bathin 
> kita masih terpenjara. Terpenjara dalam hal ini, maknanya adalah 
> terbelenggu atau buta sama sekali, akan fakta fakta kebenaran. 
Yang 
> benar bisa saja dikatakan salah dan yang salah dikatakan benar. 
> Bagaikan si buta yang jalannya meraba raba dan pasti cenderung 
> melakukan kesalahan kesalahan, itulah gambaran yang sesungguhnya, 
> bagi seseorang yang bathinnya terpenjara. Penjara bathin yang 
> membuat diri kita menderita, pada umumnya adalah : 
> 
> 
> Kamupadana : kemelekatan akan nafsu indera. 
> Adanya keinginan untuk mau memiliki (menguasai) atau menghancurkan 
> dikala melihat, mendengar, membaui, mengecap, merasa dan berpikir, 
> itulah kemelekatan akan nafsu indera, yang pasti berdampak negatif 
> (penderitaan). Tetapi jika kita bisa mengontrol diri agar indera 
> kita, tidak sampai terlekat oleh objek objek (sasaran sasaran) 
yang 
> tersentuh, maka yang namanya "dukkha : derita", tidak akan 
> berkesempatan lagi mendera bathin kita. 
> 
> Ditthupadana : kemelekatan akan pandangan salah.
> Agar ditthupadana ini bisa dihindari, milikilah sedini mungkin 
makna 
> dari kebenaran, dengan mau mempelajari, menyelami dan mengamalkan 
> dharma (kebenaran) di setiap derap langkah yang akan dilalui. Umat 
> Buddha yang telah mengenal Buddha Dharma, tidak akan mencari hal 
hal 
> yang aneh jika sakit. Dia tidak akan mencari dukun atau orang yang 
> bisa kesurupan, untuk menangani sakitnya. Pilihan utamanya, hanya 
> kepada seorang dokter dan memakan obat yang telah diresepkan. Dan 
> jika ingin berlindung maka perlindungannya, hanyalah kepada Sang 
Tri 
> Ratna (Sang Buddha, Dharma dan Sangha) serta para Bodhisattva 
> Mahasattva lainnya. Dia tidak akan mencari perlindungan, yang 
diluar 
> dari kelogikaan, misalnya pada benda benda keramat, dukun dukun 
atau 
> orang orang yang katanya sakti, yang mana bisa kesurupan ini dan 
itu.
> 
> Silabbatupadana : kemelakatan akan upacara-upacara. 
> Agar terbebas dari kondisi yang salah ini, yakinilah terlebih 
dahulu 
> dengan sebaik-baiknya, bahwa persembahan persembahan (sajian-
sajian) 
> yang dihaturkan di hadapan altar suci Para Buddha, Bodhisatva dan 
> Dewa, bukanlah untuk mendapatkan ini dan itu, di kemudian hari. Di 
> samping itu, persembahan-persembahan yang diberikan, janganlah 
> sampai terdapat unsur pembunuhan (mis. : daging-dagingan). 
> Persembahan-persembahan yang sepantasnya dihaturkan dialtar suci 
> Para Buddha, Bodhisattva dan Dewa adalah dupa (melambangkan 
harumnya 
> kebajikan), lilin (melambangkan penerangan ke jalur yang benar), 
> bunga (melambangkan ketidak-kekalan), air (melambangkan kerendahan 
> hati/kesucian), buah-buahan (melambangkan buah-buah karma 
> (perbuatan) yang baik) dan lain sebagainya. Pada prinsipnya, 
> persembahan-persembahan yang dihaturkan di altar suci Para Buddha, 
> Bodhisattva dan Dewa adalah untuk memotivasi dan menyadarkan diri 
> kita, agar senantiasa mau berbuat dan berlaku, yang baik-baik.
> 
> Attavadupadana : kemelekatan akan ke egois an.
> Agar terbebas dari kondisi ini, sadarilah dengan sebaik-baiknya 
> bahwa tiada suatu makhluk pun, yang belum mencapai kesucian, yang 
> lahir sempurna di alam semesta ini dan juga tiada satupun 
kelebihan 
> kelebihan yang telah dimiliki, pantas dan logis disombongkan. 
> Mengapa……? Semuanya tidaklah kekal keberadaannya dan suatu hari 
> kelak, apakah diinginkan atau tidak, pasti (harus) ditinggalkan.
> Semoga dengan terbebasnya diri kita dari penjara bathin ini, hidup 
> yang terjalani penuh dengan hal-hal yang baik, bermanfaat bagi 
diri 
> sendiri dan makhluk lain. Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu - 
> sabbe satta bhavantu sukhitata : Semoga semua makhluk terbebaskan 
> dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia….sadhu,
….sadhu,
> ….sadhu,…… 
> 
> Salam
> 
> danardono
> 
> 
> 
> 
> --- In [email protected], "antonhartomo" <antonhartomo@> 
> wrote:
> >
> > dear all
> > ada beberapa tanya, saya jawab :
> > 
> > saudara masyarakat HinduBali sebagaimana HinduJawa memang
> > rayakan galungan kuningan nyepi dll, tetapi saudara yang
> > Singaraja (juga sebagian Tangerang) merayakan DIPAVALI.
> > 
> > jangan hendaknya kita terjungkir tiupan sembilu eksklusif
> > mikirnya minoritas-mayoritas belaka, karena semua adalah
> > saudara kita sebangsa.
> > viwa bhinneka tunggal ika, jangan biarkan provokasi eksklusif
> > diskriminatif makin membabibuta
> > 
> > salam
> > 
> > 
> > ---------------------------
> > 
> > yang muslim (idulfitri) yang hindu (divali)
> > pada mudik, juga yang budhis dan kristiani
> > rukun damai
> > hahaha, salam bakdan riyayan lebaran
> > oleh-oleh penganan tempo doeloe jang lupa borong
> > 
> > ---
> >
>





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke