Terimakasih mas Radityo dan mas Batara,

Saya jadi tertarik sejarah ini, perkembangan Wahabi, dalam kerangka 
adegan ditempat lain, yakni Perang Diponegoro.

Faham apakah yang beliau anut? Mungkin dapat pula disoroti 
perkembangan Islam abangan, yang berkaitan dengan falsafah Syekh 
Lemah Abang?

Setahu saya, sampai kini dynasti Arab Saudi sangat memerangi 
perluasan pengaruh Syiah, dan ini juga yang membuat raja Arab geram 
sehubungan dengan konflikt Hamas dan Israel di Lebanon, tanah Syiah.

Bagaimana pengaruh para ulama Mesir dalam sejarah masuknya Islam di 
Nusantara?

Mungkin sekali, berakhirnya periode Hindu Buddha yang jaya itu, 
disebabkan kurang mengangkarnya kehidupan Buddha dalam masyarakat di 
Nusantara, dibandingkan misalnya, dengan pemahaman Buddha yang 
sangat kukuh sampai kini di Myanmar, Thailand, Tibet. Tapak tilas 
puncak pemahaman ajaran Buddha adalah perguruan Buddha di zaman 
Shrivijaya (200 - 1400).

Kerajaan Srivijaya kala itu nerupakan benteng daripada aliran Buddha 
Vajrayana Buddhism, dimana para pilgrims dan mahasiswa berdatangan 
dari semua pelosok Asia. Termasuk biarawan asal Tiongkok, Yijing, 
yang singgah kemari dalam perjalanan ke Universitas Nalanda di India 
pada 671 dan 695. 

Salam hangat

Danardono



--- In [email protected], radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Terima kasih, Pak Batara, kisahnya amat menarik, walau cuma 
singkat saja. 
> Bagaimana ya cara mendapatkan buku itu? Saya coba ke Gramedia 
tidak ada.
>   Harapan saya, semoga kisah ini dapat ditambahkan dalam 
perjalanan sejarah Indonesia.
> 
>   Intinya, penyebaran agama langit (samawi) - baik itu Islam 
maupun 
> Kristen (Katholik/Protestan) -  di Nusantara dan di manapun di 
pelbagai
> pelosok dunia sebenarnya tidak berjalan dengan damai, tetapi penuh 
> pertumpahan darah dan jalan kekerasan. Dan itu terjadi di semua 
wilayah. Dengan memahami  kisah sejarah yang sebenar-benarnya, tanpa 
ditutup-tutupi, semoga kita 
> semua bisa lebih arif dalam meniti perjalanan di masa depan.
>    
>   Juga perlu sedikit untuk memperjelas, ketiga haji yang 
mengislamkan
> wilayah Minangkabau sebelumnya beraliran Hanafi karena mereka ikut
> pasukan Turki yang menduduki Makah. Kemudian ketiga haji tersebut
> diindoktrinasi aliran Wahabi, lalu melanjutkan perjuangannya untuk
> mengislamkan Sumatra Barat. Akan lebih menarik apabila ada kisah 
semasa
> Sumatra menganut Hindu. Sepertinya peninggalan Hindu/Budha di 
Sumatra 
> sudah musnah tak bersisa ya?
>    
>   Biar lebih lengkap, kalau bisa ditambahkan riset pustaka di 
Belanda. Mungkin rekan-rekan kita seperti Oom Danny Lim, Mang Ucup, 
Ida Khouw, teman-teman di Ranisi, dan lainnya yang  mukim di Belanda 
bisa membantu. Soalnya kalau saya baca di catatan kaki, pak 
Parlindungan Siregar  hanya akan meminta T.B. Simatupang, Ali 
Budiarjo, SH dan dr. Wiliater  Hutagalung untuk memberi masukan-
masukan dan koreksi terhadap naskah buku  tersebut. Relevansinya apa 
ya pak sederet tokoh-tokoh tersebut dengan sejarah pengislaman di 
Minangkabau dan pengislaman/pengkristenan  di Tanah Batak (Sumut)?
>    
>   Juga ingin saya tambahkan, jauh sebelum masuknya aliran Hambali 
di 
> Minangkabau, pada 1128 telah menyebar aliran Syi'ah yang menjalar 
dari
> Aceh. Jadi sekira 700 tahun sebelum terjadi Perang Paderi. Pada 
waktu 
> itu, laksamana Nazimudin Al-Kamil mengadakan gerakan militer dari 
pantai Aceh ke sungai Kampar Kanan dan Kiri, untuk menguasai hasil 
lada di daerah tersebut. Nazimudin gugur saat ekspedisi pada 1128. 
Daerah sungai Kampar dikuasai oleh pedagang-pedagang asing yang 
menganut aliran Syi'ah, dan disokong oleh dinasti Fathimiah di 
Mesir. Mereka ingin memonopoli hasil lada. Hasil lada itu diangkut 
ke bandar  Perlak, terus dibawa ke pasaran Gujarat.
>    
>   Pada 1513, Tuanku Burhanudin Syah di Pariaman yang dikuasai 
Aceh, mulai
> mengislamkan daerah Minangkabau secara intensif. Burhanudin adalah 
putra
> sultan Syamsul Syah dari Mahkota Alam, yang ikut mendirikan 
kesultanan
> Aceh. Para tokoh setempat dididik menjadi ulama yang kemudian akan
> menyebarkan ajaran Syi'ah di antara penduduk Minangkabau. Para 
pengajar
> didatangkan dari Kambayat, Gujarat. Pengawasan terhadap pendidikan 
ulama
> di Pariaman, sampai 1697, dilakukan oleh Tuanku Burhanudin Syah 
turun
> temurun. Sementara sebagian tidak senang dengan pengislaman yang 
dilakukan
> Tuanku Burhanudin Syah. 
>    
>   Pada 1803, tiga tokoh beraliran Wahabi bermazhab Hambali, Haji 
Piobang, 
> Haji Sumanik, dan Haji Miskin, membentuk gerakan pembersihan 
agama. 
> Gerakan mereka disponsori oleh Abdullah ibn Saud di Riyadh. 
Sebagai catatan,
> ketiga haji tersebut pernah menjadi tentara di Turki. Timbullah 
ketegangan 
> antara golongan kaum adat, penganut aliran Syi'ah dan para 
pengikut 
> gerakan Wahabi. Akhirnya mereka berhasil membasmi kaum Hindu dan 
> kaum Syi'ah di Minangkabau, nyaris tak tersisa. Di Irak, pada 1801,
> gerakan Wahabi juga sibuk memberantas kaum Syi'ah, dan berhasil
> merebut Karbala. Masjid-masjid Syi'ah dan makam-makam keturunan 
Hasan
> Husein, cucu Nabi Muhammad, dibumihanguskan. Pada 1802, tentara 
Wahabi
> di bawah pimpinan Abdullah ibn Saud, putra Abdul Aziz ib Saud, 
berhasil
> merebut kota Makah dan Madinah, serta mengusir tentara Turki dari
> jazirah Arab. Karena pembebasan kota Makah dan Madinah dari 
kekuasaan
> Turki yang beraliran Hanafi itu, maka gerakan Wahabi menjadi 
terkenal
> di dunia internasional. 
>    
>   Ketiga haji asal Minangkabau yang ikut dalam pasukan Turki yang 
menduduki 
> Makah dan Madinah, ditangkap kelompok Wahabi. Karena mereka adalah 
orang 
> asing, bukan orang Turki, mereka tidak dibunuh. Ketiga orang 
tersebut 
> segera diindoktrinasi dalam gerakan Wahabi, lalu melepas aliran 
Hanafi-nya.  
> Sekembalinya dari Makah pada 1803, mereka membentuk gerakan Wahabi 
di Minangkabau.
> 
>   Timbullah ketegangan antara golongan kaum adat, penganut Hindu, 
penganut aliran 
> Syi'ah dan para pengikut gerakan Wahabi. Puncaknya, meletuslah 
Perang Padri.
> Akhirnya mereka berhasil membasmi kaum adat, umat Hindu, dan 
pengikut
> aliran Syi'ah di Minangkabau, nyaris tak tersisa.
>    
>   salam,
>    
>   RD
>    
>   _________________________________________________________________
>    
>   Tuanku Rao: Teror Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 
>   oleh: Batara R. Hutagalung 
>  
> Perang Paderi (Ada yang berpendapat kata ini berasal dari Pidari 
di 
> Sumatera Barat, dan ada yang berpendapat kata Paderi berasal dari 
> kata Padre, bahasa Portugis, yang artinya pendeta, dalam hal ini 
> adalah ulama) di Sumatera Barat berawal dari pertentangan antara 
> kaum adat dengan kaum ulama. Sebagaimana seluruh wilayah di Asia 
> Tenggara lainnya, sebelum masuknya agama Islam, agama yang dianut 
> masyarakat di Sumatera Barat juga agama Buddha dan Hindu. Sisa-
sisa 
> budaya Hindu yang masih ada misalnya sistem matrilineal (garis 
ibu), 
> yang mirip dengan yang terdapat di India hingga sekarang. Masuknya 
> agama Islam ke Sumatera Utara dan Timur, juga awalnya dibawa oleh 
> pedagang-pedagang dari Gujarat dan Cina. 
>    
>   Setelah kembalinya beberapa tokoh Islam dari Mazhab Hambali yang 
> ingin menerapkan alirannya di Sumatera Barat, timbul pertentangan 
> antara kaum adat dan kaum ulama, yang bereskalasi kepada konflik 
> bersenjata. Karena tidak kuat melawan kaum ulama (Paderi), kaum 
adat 
> meminta bantuan Belanda, yang tentu disambut dengan gembira. Maka 
> pecahlah Perang Paderi yang berlangsung dari tahun 1816 sampai 
1833.
>  
> Selama berlangsungnya Perang Paderi, pasukan kaum Paderi bukan 
hanya 
> berperang melawan kaum adat dan Belanda, melainkan juga menyerang 
> Tanah Batak Selatan, Mandailing, tahun 1816 - 1820 dan kemudian 
> mengIslamkan Tanah Batak selatan dengan kekerasan senjata, bahkan 
di 
> beberapa tempat dengan tindakan yang sangat kejam. 
>    
>   Sebelum masuknya agama Islam dan Kristen ke Tanah Batak, selain 
agama 
> asli Batak yaitu Parmalim, seperti di hampir di seluruh Nusantara, 
agama yang berkembang di Sumatera Utara adalah agama Hindu dan 
Buddha. Sedangkan di Sumatera Barat pada abad 14 berkembang aliran 
Tantra Çaivite (Shaivite) Mahayana dari agama Buddha, dan hingga 
tahun 1581 Kerajaan Pagarruyung di Minangkabau masih beragama Hindu. 
>   
> Agama Islam yang masuk ke Mandailing dinamakan oleh penduduk 
setempat 
> sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para penyerbunya datang 
> dari Bonjol. Seperti juga di Jawa Timur dan Banten rakyat setempat 
> yang tidak mau masuk Islam, menyingkir ke utara dan bahkan akibat 
> agresi kaum Paderi dari Bonjol, tak sedikit yang melarikan diri 
> sampai Malaya. 
>    
>   Penyerbuan Islam ke Mandailing berawal dari dendam keturunan 
marga 
> Siregar terhadap dinasti Singamangaraja dan seorang anak hasil 
> incest (hubungan seksual dalam satu keluarga) dari keluarga 
> Singamangaraja X. 
>    
>   Ketika bermukim di daerah Muara, di Danau Toba, Marga Siregar 
sering 
> melakukan tindakan yang tidak disenangi oleh marga-marga lain, 
> sehingga konflik bersenjatapun tidak dapat dihindari. Raja Oloan 
Sorba 
> Dibanua, kakek moyang dari Dinasti Singamangaraja, memimpin 
penyerbuan 
> terhadap pemukiman Marga Siregar di Muara. Setelah melihat 
kekuatan 
> penyerbu yang jauh lebih besar, untuk menyelamatkan anak buah dan 
> keluarganya, peminpin marga Siregar, Raja Porhas Siregar meminta 
Raja 
> Oloan Sorba Dibanua untuk melakukan perang tanding -satu lawan 
satu- 
> sesuai tradisi Batak. Menurut tradisi perang tanding Batak, rakyat 
> yang pemimpinnya mati dalam pertarungan satu lawan satu tersebut, 
> harus diperlakukan dengan hormat dan tidak dirampas harta bendanya 
> serta dikawal menuju tempat yang mereka inginkan. 
>    
>   Dalam perang tanding itu, Raja Porhas Siregar kalah dan tewas di 
> tangan Raja Oloan Sorba Dibanua. Anak buah Raja Porhas ternyata 
tidak 
> diperlakukan seperti tradisi perang tanding, melainkan diburu oleh 
> anak buah Raja Oloan sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke 
> tebing-tebing yang tinggi di belakang Muara, meningggalkan 
keluarga 
> dan harta benda. Mereka kemudian bermukim di dataran tinggi 
Humbang. 
> Pemimpin Marga Siregar yang baru, Togar Natigor Siregar 
mengucapkan 
> sumpah, yang diikuti oleh seluruh Marga Siregar yang mengikat 
untuk 
> semua keturunan mereka, yaitu: Kembali ke Muara untuk membunuh 
Raja 
> Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya. 
>    
>   Dendam ini baru terbalas setelah 26 generasi, tepatnya tahun 
1819, 
> ketika Jatengger Siregar –yang datang bersama pasukan Paderi, di 
> bawah pimpinan Pongkinangolngolan (Tuanku Rao)- memenggal kepala 
> Singamangaraja X, keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, dalam 
penyerbuan 
> ke Bakkara, ibu kota Dinasti Singamangaraja. 
>    
>   Ibu dari Pongkinangolngolan adalah Gana Sinambela, putri dari 
> Singamangaraja IX sedangkan ayahnya adalah Pangeran Gindoporang 
> Sinambela adik dari Singamangaraja IX. Gindoporang dan 
Singamangaraja 
> IX adalah putra-putra Singamangaraja VIII. Dengan demikian, 
> Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Putri 
Gana 
> Sinambela dengan Pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela. 
>   Gana Sinambela sendiri adalah kakak dari Singamangaraja X. 
Walaupun 
> terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat 
mengasihi 
> dan memanjakan keponakannya. Untuk memberikan nama marga, tidak 
> mungkin diberikan marga Sinambela, karena ibunya bermarga 
Sinambela. 
> Namun nama marga sangat penting bagi orang Batak, sehingga 
> Singamangaraja X mencari jalan keluar untuk masalah ini. 
>   
> Singamangaraja X mempunyai adik perempuan lain, Putri Sere 
Sinambela, 
> yang menikah dengan Jongga Simorangkir, seorang hulubalang. Dalam 
> suatu upacara adat, secara pro forma Pongkinangolngolan "dijual" 
> kepada Jongga Simorangkir, dan Pongkinangolngolan kini bermarga 
> Simorangkir. 
>    
>   Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh 3 orang Datu 
> (tokoh spiritual) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manurung. 
Mereka 
> meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh 
> pamannya, Singamangaraja X. Oleh karena itu, Pongkinangolngolan 
harus 
> dibunuh. 
>    
>   Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman 
mati 
> atas keponakan yang disayanginya. Namun dia memutuskan, bahwa 
> Pongkinangolngolan tidak dipancung kepalanya, melainkan akan 
> ditenggelamkan di Danau Toba. Dia diikat pada sebatang kayu dan 
> badannya dibebani dengan batu-batu supaya tenggelam. 
>    
>   Di tepi Danau Toba, Singamangaraja X pura-pura melakukan 
pemeriksaan 
> terakhir, namun dengan menggunakan keris pusaka Gajah Dompak ia 
> melonggarkan tali yang mengikat Pongkinangolngolan, sambil 
menyelipkan 
> satu kantong kulit berisi mata uang perak ke balik pakaian 
> Pongkinangolngola. Perbuatan ini tidak diketahui oleh para Datu, 
> karena selain tertutup tubuhnya, juga tertutup tubuh Putri Gana 
> Sinambela yang memeluk dan menangisi putra kesayangannya. 
>   Tubuh Pongkonangolngolan yang terikat kayu dibawa dengan rakit 
ke 
> tengah Danau dan kemudian di buang ke air. Setelah berhasil 
melepaskan 
> batu-batu dari tubuhnya, dengan berpegangan pada kayu 
> Pongkinangolngolan berhasil mencapai sungai Asahan, di mana 
kemudian 
> di dekat Narumonda, ia ditolong oleh seorang nelayan, Lintong 
> Marpaung. 
>    
>   Setelah bertahun-tahun berada di daerah Angkola dan Sipirok, 
> Pongkinangolngolan memutuskan untuk pergi ke Minangkabau, karena 
> selalu kuatir suatu hari akan dikenali sebagai orang yang telah 
> dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak. 
>    
>   Di Minangkabau ia mula-mula bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo 
> sebagai perawat kuda. Pada waktu itu, tiga orang tokoh Islam 
Mazhab 
> Hambali, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik baru 
kembali 
> dari Mekkah dan sedang melakukan penyebaran Mazhab Hambali di 
> Minangkabau, yang menganut aliran Syi'ah. Haji Piobang dan Haji 
> Sumanik pernah menjadi pewira di pasukan kavaleri Janitsar Turki. 
>   Gerakan mereka mendapat dukungan dari Tuanku Nan Renceh, yang 
> mempersiapkan tentara untuk melaksanakan gerakan Mazhab Hambali, 
> termasuk rencana untuk mengislamkan Mandailing. 
>   
> Tuanku Nan Renceh yang adalah seorang teman Datuk Bandaharo 
Ganggo, 
> mendengar mengenai nasib dan silsilah dari Pongkinangolngolan. Ia 
> memperhitungkan, bahwa Pongkinangolngolan yang adalah keponakan 
> Singamangaraja X dan sebagai cucu di dalam garis laki-laki dari 
> Singamangaraja VIII, tentu sangat baik untuk digunakan dalam 
rencana 
> merebut dan mengIslamkan Tanah Batak. Oleh karena itu, ia meminta 
> kawannya, Datuk Bandaharo agar menyerahkan Pongkinangolngolan 
> kepadanya untuk dididik olehnya. 
>    
>   Pada 9 Rabiu'ulawal 1219 H (tahun 1804 M), dengan syarat-syarat 
> Khitanan dan Syahadat, Pongkinangolngolan diislamkan dan diberi 
nama 
> Umar Katab oleh Tuanku Nan Renceh. Nama tersebut diambil dari nama 
> seorang Panglima Tentara Islam, Umar Chattab. Namun terselip juga 
asal 
> usul Umar Katab, karena bila dibaca dari belakang, maka akan 
terbaca: 
> Batak! 
>    
>   Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan 
> keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso, yang menolak aliran baru 
> tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal 
> kepalanya oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Lelo, yang nama 
> asalnya adalah Idris Nasution. Hanya beberapa orang saja yang 
dapat 
> menyelamatkan diri, di antaranya adalah Yang Dipertuan Arifin 
Muning 
> Alamsyah yang melarikan diri ke Kuantan dan kemudian meminta 
bantuan 
> Belanda. Juga putrinya, Puan Gadis dapat menyelamatkan diri, dan 
pada 
> tahun 1871 menceriterakan kisahnya kepada Willem Iskandar. 
>    
>   Umar Katab alias Pongkinangolngolan Sinambela kembali dari 
Mekkah dan 
> Syria tahun 1815, di mana ia sempat mengikuti pendidikan 
kemiliteran 
> pada pasukan kavaleri janitsar Turki. Oleh Tuanku Nan Renceh ia 
> diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan diberi gelar Tuanku 
Rao. 
> Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera 
> seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang 
Tanah 
> Batak. 
>    
>   Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadhan 1231 H 
> (tahun 1816 M), dengan penyerbuan terhadap benteng Muarasipongi 
yang 
> dipertahankan oleh Marga Lubis. 5.000 orang dari pasukan berkuda 
> ditambah 6.000 infanteri meluluhlantakkan benteng Muarasipongi, 
dan 
> seluruh penduduknya dibantai tanpa menyisakan seorangpun. 
Kekejaman 
> ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror 
dan 
> rasa takut agar memudahkan penaklukkan. Setelah itu, satu persatu 
> wilayah Mandailing ditaklukkan oleh pasukan Paderi, yang dipimpin 
> oleh Tuanku Rao dan Tuanku Lelo, yang adalah putra-putra Batak
> sendiri. Selain kedua nama ini, ada sejumlah orang Batak yang 
telah 
> masuk Islam, ikut pasukan Paderi menyerang Tanak Batak, yaitu 
Tuanku 
> Tambusai (Harahap), Tuanku Sorik Marapin (Nasution), Tuanku 
> Mandailing (Lubis), Tuanku Asahan (Mansur Marpaung), Tuanku 
> Kotapinang (Alamsyah Dasopang), Tuanku Daulat (Harahap), Tuanku 
> Patuan Soripada (Siregar), Tuanku Saman (Hutagalung), Tuanku Ali 
> Sakti (Jatengger Siregar), Tuanku Junjungan (Tahir Daulay) dan 
Tuanku 
> Marajo (Harahap). 
>    
>   Penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara, 
dilaksanakan 
> tahun 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin oleh 
> Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang, guna memenuhi 
sumpah 
> Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja 
Oloan 
> Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar menantang 
> Singamangaraja untuk melakukan perang tanding. Walaupun sudah 
berusia 
> lanjut, namun Singamangaraja tak gentar dan menerima tantangan 
> Jatengger Siregar yang masih muda. Duel dilakukan dengan 
menggunakan 
> pedang di atas kuda. 
>   
> Duel yang tak seimbang berlangsung tak lama. Singamangaraja kalah 
dan 
> kepalanya dipenggal oleh pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi sudah 
> dendam yang tersimpan selama 26 generasi. Kepala Singamangaraja X 
> ditusukkan ke ujung satu tombak dan ditancapkan ke tanah. Orang-
orang 
> marga Siregar masih belum puas dan menantang putra-putra 
> Singamangaraja X untuk perang tanding. Sebelas putra-putra 
> Singamangaraja memenuhi tantangan ini, dan hasilnya adalah 7 – 4 
untuk
> kemenangan putra-putra Singamangaraja. Namun setelah itu, 
penyerbuan 
> terhadap Benteng Bakkara terus dilanjutkan, dan sebagaimana di 
> tempat-tempat lain, tak tersisa seorangpun dari penduduk Bakkara, 
> termasuk semua perempuan yang juga tewas dalam pertempuran. 
>    
>   Penyerbuan pasukan Paderi terhenti tahun 1820, karena 
berjangkitnya 
> penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang 
tentara 
> Paderi yang memasuki Tanah Batak tahun 1818, hanya tersisa sekitar 
> 30.000 orang dua tahun kemudian. Sebagian terbesar bukan tewas di 
> medan petempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit. 
>   
> Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, tahun 1820 Tuanku Rao 
bermaksud 
> menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga 
> rencana pengIslaman seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan. 
Namun 
> Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama 
pasukannya 
> tetap di Tanah Batak, untuk menghadang masuknya tentara Belanda. 
> Ketika keadaan bertambah parah, akhirnya Tuanku Rao melakukan 
> pembangkangan terhadap perintah Tuanku Imam Bonjol, dan 
memerintahkan 
> sisa pasukannya keluar dari Tanah Batak Utara dan kembali ke 
Selatan. 
>    
>   Enam dari panglima pasukan Paderi asal Batak, yaitu Tuanku 
Mandailing, 
> Tuanku Asahan, Tuanku Kotapinang, Tuanku Daulat, Tuanku Ali Sakti 
dan 
> Tuanku Junjungan, tahun 1820 memberontak terhadap penindasan asing 
> dari Bonjol/Minangkabau dan menanggalkan gelar Tuanku yang 
dipandang 
> sebagai gelar Minangkabau. Bahkan Jatengger Siregar hanya 
menyandang 
> gelar tersebut selama tiga hari. Mereka sangat marah atas perilaku 
> pasukan Paderi yang merampok dan menguras Tanah Batak yang telah 
> ditaklukkan. Namun hanya karena ingin balas dendam kepada 
> Singamangaraja, Jatengger Siregar menahan diri sampai 
terlaksananya 
> sumpah Togar Natigor Siregar dan ia behasil membunuh 
Singamangaraja X. 
>   Mansur Marpaung (Tuanku Asahan) dan Alamsyah Dasopang (Tuanku 
> Kotapinang) dengan tegas menyatakan tidak mau tunduk lagi kepada 
> Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Nan Renceh, dan kemudian mendirikan 
> kesultanan/kerajaan sendiri. Marpaung mendirikan Kesultanan Asahan 
> dan mengangkat dirinya menjadi sultan, sedangkan Dasopang 
mendirikan 
> Kerajaan Kotapinang, dan ia menjadi raja. 
>    
>   Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air Bangis pada 5 
September 
> 1821, sedangkan Tuanku Lelo (Idris Nasution) tewas dipenggal 
> kepalanya dan kemudian tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti, 
> salah satu tawanan yang dijadikan selirnya. 
>    
>   http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=4737 
>  
> ---------------- -----------------------------
> Catatan: 
> Tulisan ini merupakan cuplikan dari buku yang ditulis oleh 
> Mangaradja Onggang Parlindungan Siregar, "Pongkinangolngolan 
> Sinambela gelar Tuanku Rao, Terror Agama Islam Mazhab Hambali di 
> Tanah Batak", Penerbit Tanjung Pengharapan, Jakarta, 1964. 
>  
> Tuanku Lelo/Idris Nasution adalah kakek buyut dari Mangaraja 
> Onggang Parlindungan ( hlm. 358). Dari ayahnya, Sutan Martua Raja 
> Siregar, seorang guru sejarah, M.O. Parlindungan memperoleh 
warisan 
> sejumlah catatan tangan yang merupakan hasil penelitian dari 
Willem 
> Iskandar, Guru Batak, Sutan Martua Raja dan Residen Poortman. 
>   
> Sebenarnya ia hanya bermaksud menulis buku untuk putra-putranya. 
> Buku tersebut memuat banyak rahasia keluarga, termasuk kebiadaban 
> yang dilakukan oleh Tuanku Lelo tersebut. Mayjen TNI (purn.) 
T.Bonar 
> Simatupang menilai, bahwa tulisan tersebut banyak mengandung 
sejarah 
> Batak, yang perlu diketahui oleh generasi muda Batak. Parlindungan 
> Siregar setuju untuk menerbitkan karyanya untuk publik. 
Parlindungan 
> Siregar meminta T.B. Simatupang, Ali Budiarjo, SH dan dr. Wiliater 
> Hutagalung memberi masukan-masukan dan koreksi terhadap naskah 
buku 
> tersebut.
>    
>   =============================
> 
> 
>               
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
>  Everyone is raving about the  all-new Yahoo! Mail.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke