Mas Bobby dan rekan-rekan milis yang baik, Saya ada sedikit bahan pemikiran sehubungan dengan masalah penggunaan kata/istilah. Saya jadi teringat dengan buku wacana panggung politik orde baru yang memuat berbagai artikel dari KOMPAS. Penggunaan istilah yang pada masa sebelum orde baru berkuasa adalah susatu yang biasa dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat tetapi ketika orde baru berkuasa menjadi "benda nista", misalnya kata buruh, terutama sejak berdirinya SPSI yang pertama. Istilah buruh secara sistematis dihilangkan bahkan diubah kesannya, dari rasa merendahkan derajat sosial hingga menimbulkan keterancaman karena bisa diidentikkan sebagai pengikut PKI. Sekitar 8 tahun yang lalu saya pernah mencoba survey interview sedikit mengenai hal ini kepada beberapa orang yang bekerja di sektor perbankan, hotel, tekstil/garmen, automotif, pertambangan, transportasi, keamanan, bangunan dan tukang angkut barang. Hampir semuanya menjawab tidak nyaman jika dibilang sebagai buruh, mereka lebih suka dibilang karyawan atau pegawai---saya hanya memberikan pilihan kata buruh, karyawan, dan pegawai. Tetapi, sekitar 3-4 tahun yang lalu, ketika banyak terjadi PHK massal dan banyak aksi penuntutan pesangon dan upah yang belum dibayar, sangat jarang saya temukan penggunaan kata karyawan sebagai identitas oleh mereka yang terkena PHK. Ketika melakukan unjuk rasa mereka lebih banyak mengenakan istilah buruh sebagai identitas kolektifnya, tetapi ketika mereka masih bekerja dan tidak terkena masalah perselisihan perburuhan mereka lebih suka disebut sebagai karyawan atau pegawai. Maaf ya Mas, saya juga ingin masukan pandangan dari teman-teman lain di milis ini, sehubungan dengan masalah kesejahteraan dan penindasan terhadap kelas pekerja. Menurut saya, salah satu masalah yang menyebabkan kesejahteraan buruh selalu sulit diperjuangkan adalah karena lemahnya daya tawar buruh. Ketika terjadi kasus perburuhan, kecil kemungkinan buruh untuk memenangkan haknya, dan seringkali keputusan hakim atau polisi apalagi pemerintah lebih berpihak pada pengusaha. Sejarah menunjukkan bahwa daya tawar buruh dapat diperhitungkan oleh para pengusaha jika mereka mampu menghimpun kekuatan diri mereka sendiri, contohnya adalah pemogokan buruh yang dipimpin oleh berbagai serikat buruh pada tahun 1920-an, terlepas dari berbagai kelemahannya tetapi aksi ini merupakan aksi perlawanan pertama kali bangsa Indonesia yang dilakukan secara terorganisir dan berskala luas di berbagai daerah terhadap penjajahan bangsa Belanda. Namun sekarang, identitas buruh yang juga memberi arti sebagai kelompok masyarakat yang tidak berpunya sudah tidak disukai untuk diakui oleh kebanyakan buruh itu sendiri bahkan istilah buruh sebagai identitas semakin sulit untuk ditemukan relevansi pemakaiannnya sejak proses fleksibilisasi pasar tenaga kerja yang semakin massif diberbagai sektor industri. Dari persoalan identitas kelas ini, usaha pengorganisasian kekuatan serikat buruh menjadi terbelah-belah, dan ini mudah terlihat dari UU No.21 Th 2000 tentang serikat buruh/serikat pekerja. Mungkin dari teman-teman disini ada yang mau berbagi pandangan dan ilmunya berkenaan dengan masalah ini. Dari kebaikan semua orang disini, saya ucapkan terimakasih.
Tabik Alex Robertus Budiarto <budiartobobby@ yahoo.com> wrote: Mbak Aris, terlepas dari ketidak samaan kita mengenai Negara Islam dan perbedaan yang lainnya, mudah-mudahan kita bisa sepakat dalam hal ini. Aku harap kita bisa pelan-pelan membiasakan tidak menggunakan istilah babu.. Saya terus terang juga pernah disapa teman saya mengenai hal ini, walaupun waktu itu aku merasa tidak enak, karena aku memakai istilah babu bukan untuk merendahkan, tetapi kenyataannya istilah itu memang sering dipake secara pejoratif, merendahkan. Walaupun saya ini WNI Asli Etnis Cina dan beragama Katolik, dan Pembantu saya beretnis jawa beragama Islam, tapi hubungan kami sangat baik. Sewaktu dia dihamili Pacarnya secara tidak bertanggungjawab, kami menasihatinya tidak untuk menggugurkan bayi yg di dalam kandungannya. Lalu kami berusaha sebisa mungkin membantunya secara ekonomis. Bukannya aku mau cerita bahwa aku ini orangnya sangat baik, BUKAN!!!! Tapi karena "Mbak"ku ini orangnya memang rajin dan jujur. Aku hanya mau cerita bahwa hubungan kami sekeluarga menjadi "dekat". Karenanya makin lama, rasanya makin tidak enak mendengar istilah Babu. (jadi bukannya saya ini orang yg sangat sopan dan baik hati). Mengikuti lagu ngetop anak muda jaman sekarang: PRT juga manusiaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaa! !!! Punya rasa punya hati........ ......... ... (Grup Band Seurieus). Saya tahu pasti Mbak Aris tidak bermaksud merendahkan, namun kebanyakan di masyarakat istilah itu dipake secara memandang rendah. Jadi ada baiknya kita pelan-pelan berusaha menghilangkan istilah ini. Sekian dan terima kasih atas pengertiannya Bobby Budiarto,___ [Non-text portions of this message have been removed]

