Date: Fri, 24 Nov 2006 08:27:15 +0100 From:"Hok An" <[EMAIL PROTECTED]> <http://address.mail.yahoo.com/yab?.rand=22801&v=SA&A=t&em=hokan%40t%2donline.de&.done=http%3a%2f%2fus.f501.mail.yahoo.com%2fym%2fShowLetter%3fMsgId%3d5416%5f4278471%5f18678985%5f1579%5f1737%5f0%5f336650%5f3556%5f2865335480%26Idx%3d0%26YY%3d64438%26y5beta%3dyes%26inc%3d50%26order%3ddown%26sort%3ddate%26pos%3d0%26view%3d%26head%3d%26box%3dInbox> <http://us.f501.mail.yahoo.com/ym/ShowLetter?MsgId=5416_4278471_18678985_1579_1737_0_336650_3556_2865335480&Idx=0&YY=64438&y5beta=yes&inc=50&order=down&sort=date&pos=0&view=&head=&box=Inbox#> To:"djon diapari" <[EMAIL PROTECTED]> Subject: lapindo
Bisnis Indonesia: Jumat, 24-NOV-2006 Bursa Energi Mega cari utang US$600 juta JAKARTA: Di tengah kontroversi penjualan Lapindo Brantas Inc, perusahaan migas PT Energi Mega Persada Tbk justru mencari pinjaman US$600 juta yang sebagian dananya untuk membiayai kembali utangnya. Beberapa pekan terakhir, manajemen Energi Mega dibantu oleh pengaturnya Deutsche Bank mencoba menjajaki kemungkinan mendapatkan utang tersebut. "Pencarian pinjaman itu terus berjalan, tetapi saya tidak mengetahui uang itu untuk apa," tutur Nirwan D. Bakrie, salah satu anggota keluarga Bakrie yang mengendalikan Energi Mega, dalam kunjungannya ke redaksi Bisnis, kemarin. Dia menjelaskan untuk dapat menutup perjanjian jual beli 100% saham Lapindo ke perusahaan investasi berbasis di British Virgin Islands Freehold Group Ltd diperlukan persetujuan kreditor. Hingga kini, Energi masih berbicara dengan kreditor yang arahnya mendekati persetujuan. Mengenai keharusan melunasi utang kepada kreditor itu, Nirwan mengatakan tidak mengetahui hal itu secara detail. Ketika Energi Mega meneken perjanjian jual beli Lapindo dengan perusahaan terafiliasi Grup Bakrie, Lyte Limited, transaksi itu akan efektif jika ada penyelesaian atas seluruh utang Malacca Brantas Finance B.V. Satu bankir yang mengetahui transaksi itu mengatakan Energi akan menggunakan pinjaman yang kini dicari oleh Deutsche Bank untuk melunasi kewajiban itu. "Tanpa pelunasan utang itu, kreditor kemungkinan sulit merestui penjualan Lapindo ke Freehold Group," katanya. Namun, dengan kondisi keuangan Lapindo yang tergerus biaya dalam menangani semburan lumpur panas di sumur Banjar Panji-1 dan membebani Energi Mega, kreditor tentu mematok bunga tinggi karena terlalu berisiko. Dia mengatakan Deutsche Bank kini dikabarkan menyerah dalam mencari pinjaman bagi Energi Mega. "Saya tidak mengetahui apakah sudah menyerah atau tidak," tutur Nirwan. Bankir tadi menambahkan Energi Mega kini juga mendekati Credit Suisse guna meminta bank investasi asing itu. Tidak mudah Dalam riset Danareksa Sekuritas yang dirilis pada 10 November tentang Grup Bakrie disebutkan menjual Lapindo bukanlah perkara mudah. Energi Mega harus mendapatkan persetujuan dari kreditor utang US$61 juta yang diperoleh dari Merrill Lynch dan US$43 juta dari empat institusi keuangan di Cayman Islands. Pelaksanaan divestasi Lapindo akan sulit karena melanggar beberapa pembatasan keuangan dalam perjanjian utang itu. Dalam perjanjian pinjaman, saham Lapindo telah dijadikan jaminan dan adanya keharusan menjaga tidak ada perubahan dalam struktur kepemilikan saham. Persoalan lainnya datang dari Badan Pengawas Pasar Modal yang melarang penjualan Lapindo. Namun, Danareksa melihat divestasi Lapindo akan berlanjut meski hanya masalah waktu. Divestasi itu akan melemahkan pendapatan Energi tahun ini dan laba sebelum bunga dan pajak masing-masing 11% dan 9%. Sekuritas itu memprediksi laba naik 3% karena Energi tidak lagi membukukan provisi. Neraca Energi Mega juga ketat, padahal perusahaan itu mempunyai rencana yang ambisius. Yang terpenting adalah kebutuhan kas untuk mengembangkan dan menjaga produksinya. Sejauh ini, Energi mampu mendapatkan pembiayaan dengan sekuritisasi asetnya. Namun, Danareksa Sekuritas yakin kas emiten itu bakal ketat karena biaya utang yang tinggi dan lonjakan biaya produksi. Dalam dua tahun ke depan, Energi diprediksi memerlukan US$644 juta untuk mempertahankan dan menjadikan produksinya di seluruh blok menghasilkan kas. ([EMAIL PROTECTED]) Oleh Wisnu Wijaya Bisnis Indonesia-- **************************************************** "Ada dua hal yang tidak terbatas, yaitu: Alam Semesta ini dan Kebodohan Manusia; namun mengenai Alam Semesta tersebut masih saya ragukan . . ." (Albert Einstein) **************************************************** [Non-text portions of this message have been removed]

