orang yang biasa memforward tulisan dari republika
kok kali ini absen ya? tanya kenapa?



At 06:39 AM 11/27/2006, you wrote:

>Oleh : Ahmad Syafii Maarif
>
>Republika, Selasa, 21 Nopember 2006
>
><http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=272485&kat_id=19>http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=272485&kat_id=19
>
>Pada suatu hari bulan November 2006 datanglah sebuah pesan singkat dari
>seorang jenderal polisi yang sedang bertugas di Poso menanyakan tentang
>maksud ayat 62 surat al-Baqarah. Kata jenderal ini pengertian ayat ini
>penting baginya untuk menghadapi beberapa tersangka kerusuhan yang
>ditangkap di sana. Karena permintaan itu serius, maka saya tidak boleh
>asal menjawab saja, apalagi ini menyangkut masalah besar yang di
>kalangan para mufassir sendiri belum ada kesepakatan tentang maksud ayat
>itu. Ayat yang substansinya serupa dapat pula ditemui dalam surat
>al-Maidah ayat 69 dengan sedikit perdedaan redaksi. Beberapa tafsir saya
>buka, di antaranya Tafsir al-Azhar karya Hamka yang monumental itu.
>
>Sebenarnya saya cenderung untuk menerima penafsiran Buya Hamka dari
>sekian tafsir yang pernah saya baca, baik yang klasik maupun yang
>kontemporer. Dalam perkara ini Hamka bagi saya adalah fenomenal dan
>revolusioner. Agar lebih runtut, saya kutip dulu makna kedua ayat itu
>menurut tafsir Hamka.
>
>Al-Baqarah 62: "Sesungguhnya orang-orang beriman, dan orang-orang yang
>jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi'in, barangsiapa yang beriman kepada
>Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, maka untuk mereka
>adalah ganjaran dari sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas
>mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita."
>
>Kemudian al-Maidah 69: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan
>orang-orang Yahudi dan (begitu juga) orang Shabi'un, dan Nashara,
>barangsipa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan dia pun
>mengamalkan yang shalih. Maka tidaklah ada ketakutan atas mereka dan
>tidaklah mereka akan berdukacita."
>
>Ikuti penafsiran Hamka berikut: "Inilah janjian yang adil dari Tuhan
>kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka
>hidup, atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka
>masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepadan
>dengan iman dan amal shalih yang telah mereka kerjakan itu. 'Dan tidak
>ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita (ujung
>ayat 62), hlm.211.
>
>Yang menarik, Hamka dengan santun menolak bahwa ayat telah dihapuskan
>(mansukh) oleh ayat 85 surat surat Ali 'Imran yang artinya: "Dan
>barangsiapa yang mencari selain dari Islam menjadi agama, sekali-kali
>tidaklah tidaklah akan diterima daripadanya. Dan di Hari Akhirat akan
>termasuk orang-orang yang rugi." (Hlm. 217). Alasan Hamka bahwa ayat ini
>tidak menghapuskan ayat 62 itu sebagai berikut: "Ayat ini bukanlah
>menghapuskan (nasikh) ayat yang sedang kita tafsirkan ini melainkan
>memperkuatnya. Sebab hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dan Hari
>Akhirat. Percaya kepada Allah, artinya percaya kepada segala firmannya,
>segala Rasulnya dengan tidak terkecuali. Termasuk percaya kepada Nabi
>Muhammad s.a.w. dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang shalih."
>(Hlm 217).
>
>"Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan oleh ayat 85 surat Ali
>'Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik; mengakui diri Islam,
>walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu hanya dijamin untuk
>kita saja. Tetapi kalau kita pahamkan bahwa di antara kedua ayat ini
>adalah lengkap melengkapi, maka pintu da'wah senantiasa terbuka, dan
>kedudukan Islam tetap menjadi agama fitrah, tetap (tertulis tetapi)
>dalam kemurniannya, sesuai dengan jiwa asli manusia." (Hlm. 217).
>
>Tentang neraka, Hamka bertutur: "Dan neraka bukanlah lobang-lobang api
>yang disediakan di dunia ini bagi siapa yang tidak mau masuk Islam,
>sebagaimana yang disediakan oleh Dzi Nuwas Raja Yahudi di Yaman Selatan,
>yang memaksa penduduk Najran memeluk agama Yahudi, padahal mereka telah
>memegang agama Tauhid. Neraka adalah ancaman di Hari Akhirat esok,
>karena menolak kebenaran." (Hlm. 218).
>
>Sikap Hamka yang menolak bahwa ayat 62 al-Baqarah dan ayat 69 al-Maidah
>telah dimansukhkan oleh ayat 85 surat Ali 'Imran adalah sebuah
>keberanian seorang mufassir yang rindu melihat dunia ini aman untuk
>didiami oleh siapa saja, mengaku beragama atau tidak, asal saling
>menghormati dan saling menjaga pendirian masing-masing. Sepengetahuan
>saya tidak ada Kitab Suci di muka bumi ini yang memiliki ayat toleransi
>seperti yang diajarkan Alquran. Pemaksaan dalam agama adalah sikap yang
>anti Alquran (lih. al-Baqarah 256; Yunus 99).
>
>Terima kasih Buya Hamka, tafsir lain banyak yang sependirian dengan
>Buya, tetapi keterangannya tidak seluas dan seberani yang Buya berikan.
>Saya berharap agar siapa pun akan menghormati otoritas Buya Hamka,
>sekalipun tidak sependirian.
>
>




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke