--- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> --- In [email protected], "Lina Dahlan" <linadahlan@> wrote:
> >
> > Kasih, cinta...itu suatu yang immateri. Suatu yang berhubungan 
> > dengan hati. Sulit sekali bicara soal hati ya? Seingat saya Nabi 
> > SAWpun berpasrah diri kepada Sang Pemilik ketika Nabi harus adil 
> > dalam hal hati?? cmiiw...
> > 
> > Saya mencintai/kasih suami saya dengan cinta yang berbeda dengan 
> > saya mencintai/kasih anak-anak saya, dan berbeda pula dengan 
> > cinta/kasih yang saya miliki untuk ibu dan ayah saya, kakak2 
saya. 
> > Namun saya masih memiliki cinta buat saudara seiman saya yang 
juga 
> > berbeda dgn cinta/kasih saya kepada semua umat manusia, sama-
sama 
> > mahluk Allah. Cinta itu dapat berbagi dan terbagi. Sebagaimana 
> Cinta 
> > Allah kepada umatnya. Cinta yg tanpa syarat. 
> > 
> > Hmmm...Ketika saya mencintai suami, dapatkah saya 
> > mencintai/mengasihi laki-laki lain?. Dapat saja! namun saya tak 
mau 
> > membuka hati untuk itu. Jadi, tak terjadilah pembagian cinta 
itu. 
> > Jadi intinya...mau kah kita membuka hati untuk berbagi. 
> > 
> > wass.,
> >
> 
> 
> 
> Mungkin, daripada kehilangan sang suami yang menjadi pencari 
nafkah, > isteri pertama atau terdahulu, merelakan suami menikah 
lagi. Tetapi > apakah kerelaan berarti kemampuan berbagi?

RELA=IKHLAS=bersih dari segala pamrih selain dari mengharap ridha-
Nya. 

Kalau yang mbah katakan diatas itu sih bukan rela, tapi ya terpaksa 
karena sesuatu hal, bukan mencari ridhaNya. Tapiiiii, saya masih 
berharap kepada istri2 spt itu terus belajar mendapatkan ikhlas tsb. 
Semoga berhasil.

Hal seperti ini memang harus dilihat kasus per kasus.

Mencapai kerelaan/keikhlasan itu sulit dan sulit. Jadi, kalau 
imbalannya juga gede, ya wajar aja. 

wassalam,

Kirim email ke