Saya kurang nangkep siapa yang salah menempatkan keikhlasan dan kompleks inferioritas ini.
Kalau keikhlasan dipaksakan masuk dalam konteks kemiskinan, korupsi, penjajahan...ya gak begini ceritanya dong? Kalau dalam hal2 seperti ini bukan keikhlasan yang harus ada tapi kesabaran. Perhatikan konteks secara keseluruhannya lho ya? Soale..kalo gak, pasti ntar ngeyel,"loh miskin kok sabar, dikorup kok sabar, dijajah kok sabar??? Kita kudu' introspek diri masing2: "emang kite siape?". Gitu maksute Tapi saya tergelitik pula tuk berkomentar kutipan anda dibawah ini: Karna: "atau semua istri lebih baik sarankan para suami untuk mencari sebanyak> banyaknya madhu,....sambil mimpi akan dapat pahala berlipat?> hihii kalau ini sih ndak mungkinla yau Lina: andaikanpun semua istri telah menyarankan kepada semua para suami tuk berpoligami, belum tentu semua suami mau kok!. Dah tau ndak mungkin, lah ya kok masih disarankan?...:-)) Menyarankan suami tuk mencari istri lagi karena istri pertama merasa 'tak mampu melayani' suami adalah hal yang baik dan tidak egois. Tentu ada pahalanya juga...:-) tapi gak usah dimimpiin. Ikhlas karena Allah aja dan sadar bhw ada hak suami untuk bahagia. Kalau suaminya gak mau, ya alhamdulillah ..semoga suami mendapatkan pahala juga atas kesabarannya...:-)asal jangan jajan diluaran... wassalam, --- In [email protected], "karna -" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ikhlas, rela, atau terpaksa karena takut, atau karena tidak berdaya melawan? > > dulu bangsa indonesia rela dijajah belanda makanya jadi 350 tahun? > atau, rela kekayaan alamnya dieksploitasi oleh negara-negara tertentu, > makanya sampai sekarang juga tetap miskin? > rakyat rela dikorupsi, rela dikontrol kebebasannya, rela dirampas hak dan > martabatnya sebagai anak bangsa jadi tetap bodoh sampai sekarang? > > keikhlasan dan kompleks inferioritas jangan disalahtempatkan toh... > > dalam keikhlasan selalu ada kebebasan dan confidence untuk memilih, > sedangkan dalam ketakberdayaan kebebasan itu juga terpaksa dipasrahkan > > dalam keikhlasan ada kejujuran bahwa pilihan pengorbanan diambil untuk > kesejahteraan bersama > sedangkan dalam ketaklukan tak ada pilihan, pengorbanan adalah > sebagai cara untuk mencapai rasa aman, menghindari kekalahan yang lebih parah > dan berharap akan mendapat pahala di surga sana?` > > lebih baikkah jika demikian serahkan semua harta kita kepada koruptor > so pahala nanti di surga lebih banyak? > > atau semua istri lebih baik sarankan para suami untuk mencari sebanyak > banyaknya madhu,....sambil mimpi akan dapat pahala berlipat? > hihii kalau ini sih ndak mungkinla yau > > salam, > Karna > > > On 12/5/06, Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > --- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO" > > <rm_danardono@> wrote:

