Mas Ikhsan,
Terima kasih, saya agak ndak enak mas bilang jangan bawa-bawa agama. Saya kira 
tempatkan hukum agama juga pada proporsional. Saya juga berkeyakinan bahwa ada 
orang poligami bukan semata-mata karena birahi juga ada. Tapi juga karena 
keyakinan dan kemanusiaan. Entahlah karena setiap fakta tentang poligami yang 
saya peroleh dari beberapa rekan bukan landasan birahi. Dan itu juga tuduhan 
buruk bagi pelaku poligami jika demikian. Untuk Aa Gym, dia menikahi janda anak 
tiga. Pernahkah kita berpikir, tentang nasib tiga anak tersebut ditangan yang 
salah. 

Kalau tentang IQ, kesalihan dan kecantikan istri kedua Aa Gym, saya kira 
normal, lelaki menginginkan keluarganya harmonis bahkan setelah berpoligami. 
INi adalah contoh bagus, bahwa ketika orang pun berpoligami dia tidak 
semata-mata memilih istri untuk hawa nafsunya. Tapi memikirkan penerimaan istri 
kedua, capabilitasnya dalam mengelola rumah tangga bersama istri lain dst 

 Rasulullah dan para shahabat ketika berpoligami juga mereka sangat menimbang 
istri-istrinya, mayoritas adalah perempuan atau janda yang bukan sembarangan. 
Setidaknya kemuliaan disisi agama, kekerabatan (istri sahabatnya), kedudukan 
dan kehormatan sang janda juga dipertimbangkan mereka. Jangan sampai 
berpoligami dengan sembarangan perempuan yang malah menghancurkan RT yang 
dibangun.

btw mas Ikhsan, saya menunggu analisis ekonomi mas mengenai kelangkaan minyak 
tanah, saya bingung kenapa Menteri ESDM mengatakan perbedaan harga minyak non 
subdisi dan subsidi menjadi penyebab kelangkaan minyak di masyarakat, bagaimana 
nalarnya mas. 

Bingungn nih? Mohon pencerahannya, syukron
salam,
aris



Mohamad Ikhsan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
 Nah setuju sama Mbak Aris. Harus proporsional, menempatkan pada
 tempatnya. Jadi sekali lagi jangan bawa-bawa agama dong. Kayaknya
 sangat murah deh melampiaskan birahi dengan kemudian mengatasnamakan
 agama, sunnah etc. Kalau Kanjeng Nabi masih hidup saya pikir akan
 sangat marah beliau mendengar ini. 
 
 Begitu juga, Dari berbagai diskusi seharusnya jelas bahwa Poligami itu
 hukumnya adalah mubah, alias boleh dilakukan boleh tidak. Dan bukannya
 sunnah, yang artinya membawa kebaikan.
 
 Kenapa mubah dan bukannya sunnah karena memang poligami adalah satu
 alternatif diantara dua alternatif yang sama-sama membawa kejelekan. 
 Dampak kejelekan poligami, secara sosial budaya maupun bagi keluarga,
  saya pikir sudah banyak diteliti secara global. Begitu juga di
 Indonesia, penelitian-penelitian dari pusat studi wanita UI, UGM dan
 Unair, maupun terakhir dari Mbak Nina (dari Uni Melbourne), saya pikir
 juga sudah mengkonfirmasi masalah ini. Bawa poligami dewasa ini adalah
 satu hal yang membawa banyak kejelekan.
 
 Poligami harus ditempatkan pada tempatnya yang benar. Poligami adalah
 sekedar solusi bagi kaum pria yang sudah bener-bener kebelet. Seperti
 AA Gym yang konon sudah 'lima tahun' memendam keinginan birahinya
 (lihat pikiran rakyat).  Jadi bukannya satu hal yang dianjurkan dalam
 agama karena membawa kebaikan, baik yang laki-laki maupun perempuan
 yang dipoligami.
 
 Saya pikir masalah ini harus jelas dan para poligamiers, dan para
 pendukungnya,  harus jantan mengakuinya. Sebab agak kurang fair dan
 tendensius untuk mengatakan bahwa seseorang berpoligami sekedar untuk
 mengikuti sunnah nabi. Akui saja dengan jantan bahwa saya ngak tahan
 dengan birahi dimana dengan itu saya berpoligami. Full Stop.
 
 Jangan bawa-bawa karena agama, sunnah nabi etcetera. Sementara wanita
 yang menolah dipoligami sebagai wanita yang tidak taat pada suami dan
 tidak solehah. Apalagi kemudian mempersoalkan Aqidah dan Akhlak.
 Please dong...Dont be that cheap untuk masalah ini. Terlalu rendah
 saya pikir membungkus birahi dengan pernak-pernik agama,
 menjustifikasi  dengan satu dua buah ayat,  dan apalagi kemudian
 justru membalik keadaan dan mengatakan pihak wanita yang tidak
 sholehah. Apa bener wanita yang solehah adalah seperti ini. Wanita
 solehah adalah wanita yang mau dipoligami, mau ditindas suami, mau
 dipotong kemaluannya, harus nurut dengan suami apapun itu juga
 keadaanya . Kalau definisi sholehah adalah yang seperti ini, maka saya
 berdoa, istri dan anak saya bukan termasuk orang yang sholehah.
 
 Salam, 
 
 --- In [email protected], aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 >
 > Mbak Indah dan Jimmy,
 > saya sepakat dengan Anda sekaliyan untuk menempatkan segala sesuatu
 sesuai proporsional. Begitu pula poligami. Saya juga kecewa dengan
 media masa yang berusaha terus-menerus membuat stigma negatif mengenai
 poligami, seakan-akan itu adalah kejahatan mbak. Selalu dicari-cari
 sisi negatifnya. Ini masalah individual.Mari kita amati apa kata para
 presenter infoteinment di TV-TV dan testimoni mereka
 > 
 > Saya melihat orang berpoligami, oh poligami tho, ya sudah cukup itu
 saja. BIasa-biasa saja. Karena itu sebenarnya biasa saja.
 > 
 >  Saya hanya ingin menempatkan poligami pada tempatnya. Sesuatu yang
 saya juga tak habis berpikir, kenapa juga ada rekan-rekan yang
 berusaha melakukan upaya pelegalan pelarangan poligami. cek disini:
 pada poin 2 dan 3
 > 
 > http://www.lbh-apik.or.id/amandemen_UUP-usulan.htm
 > 
 > Mbakyu Indah,
 > HUkum dalam aturan agama pun tak akan berubah ketentuannya
 berdasarkan atas hasil survey yang mohon maaf sekali, yang belum tentu
 metode survey dan penelitiannya benar. Penelitian ilmu sosial agak
 berbeda dengan ilmu eksakta. Ini mohon maaf ya mbak, karena Insya
 Allah aris akan sering berhubungan dengan hasil penelitian baik
 eksakta dan sosial.
 > 
 > KAlau mengikuti survey penelitian seperti dibawah kegadisan
 mahasiswa Yogya :
 > 
 > http://www.free-webspace.biz/konseling/indonesia_seks9.htm
 > 
 > Maka orang akan berpikir gila benar Yogya, gimana kalau respondennya
 adalah muslimah aktivis dakwah diberbagai organisasi misalnya, bisa
 jadi kebalik. 
 > 
 > Mas Jimmy, hati-hati untuk perkataan Anda mengenai Fedopihilia Siti
 Aisyah.salam,
 > aris
 > 
 > 
 > 
 > Jimmy Okberto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                             
                 Wis tho Mba Indah, ...
 >  
 >  Memang Mba Aris ini orang aneh ...
 >  
 >  Educated People but never with her Capacity ... 
 >  
 >  just soaring and boasting ...
 >  
 >  Gw jadi gak habis pikir kalau Mba Aris ini mendukung Poligami
 >  
 >  Berarti juga pendukung fedophilia sunnah yang dialami Siti Aisah ... 
 >  
 >  Jimmy
 >  
 >  _____  
 >  
 >  From: indah nuritasari [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
 >  
 >  Mbak Aris, anda sah-sah saja untuk berpendapat demikian. Tapi sebaiknya
 >  pendapat Anda itu disertai argumen yang jelas, setidaknya seperti
 >  tulisan yang Anda komentari itu. Kalau cuma sekedar yakin, hati-hati,
 >  jangan-jangan itu karena Anda masih muda dan belum tahu seluk-beluknya
 >  laki-laki dan pernikahan? 
 >  
 >  Anda kan bergelut di bidang akademis, kenapa tidak cari tahu data yang
 >  kredibel soal ini? Setahu saya program Kajian Wanita UGM dan UI pernah
 >  membuat penelitian soal dampak negatif poligami dan hasilnya telah
 >  dimuat di media massa.
 >  
 >  Masih banyak wilayah untuk berjihad, jika Anda berniat untuk berjihad
 >  demi kebesaran Islam. Poligami memang boleh dalam Islam, tapi siapa
 >  pelakunya, kapan, dan bagaimana pelaksanaannya bisa menyiratkan niat di
 >  balik poligami itu meski niat sesungguhnya hanya Allah saja yang tahu.
 >  Saya pikir, poligami Rasulullah bisa dibedakan dari poligami tokoh2
 >  publik Indonesia yang Anda kagumi itu. 
 >  
 >  Sorry jika ada kata yang tak berkenan,
 >  
 >  salam dari Philly yang dingiiiinn,
 >  
 >  Indah
 >  
 >  aris solikhah <[EMAIL PROTECTED] <mailto:fm_solihah%40yahoo.com> >
 >  wrote: Wa'alaikumsalam wr wb
 >  Terima kasih atas postingannya. Saya memahami poligami sampai kapan pun
 >  boleh. Saya bersyukur pada Allah bahwa para tokoh publik melakukan
 >  poligami dengan baik dan pada proporsi yang tepat. Saya berkeyakinan
 >  beliau-beliau orang-orang yang memang layak berpoligami terlepas siapa
 >  pun istri keduanya. 
 >  
 >  BAgi yang mengkritisi kenapa istri keduanya begitu dan begini, dan
 >  harusnya begini dan begitu, saya kira kita tak berhak melakukan hal
 >  tersebut. Pelaksanaan poligami ini menjadi bukti tak terbantahkan bagi
 >  yang mengatakan poligami tak relevan dan dilarang dalam Islam, atau
 >  orang-orang yang berusaha membuat pandangan negatif mengenai poligami.
 >  Dan rekan-rekan yang ingin merevisi UU perkawinan dan memasukkan pasal
 >  pelarangan poligami, hendaklah mengevaluasi ulang keinginan mereka.
 >  wallahu'alam bishawab
 >  
 >  salam,
 >  aris
 >  
 >  [Non-text portions of this message have been removed]
 >  
 >  
 >      
 >                        
 > 
 > 
 > Bila lidah kelu, tulisan menjadi perlu
 > Pena lebih tajam dari pedang
 > Tinta seorang  berilmu lebih mulia dari darah seorang syahid
 > 
 > 
 >   pustaka tani 
 >   nuraulia
 > 
 >  
 > ---------------------------------
 > Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.
 > 
 > [Non-text portions of this message have been removed]
 >
 
 
     
                       


Bila lidah kelu, tulisan menjadi perlu
Pena lebih tajam dari pedang
Tinta seorang  berilmu lebih mulia dari darah seorang syahid


  pustaka tani 
  nuraulia

 
---------------------------------
Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small Business.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke