tks ceritanya mbak listy. mata saya berkaca-kaca ingat ibu di rumah.
At 02:09 PM 12/7/2006, you wrote: >-----Original Message----- >From: >Sent: >To: >Subject: Titip Ibuku ya Allah > >_____ > >Titip Ibuku ya Allah > >" Nak, bangun... udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja... " >Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa >mengingat. >Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang karyawan disebuah >Perusahaan Tambang, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah. > >" Ibu sayang... ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa " > >pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. >Pun ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru >kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama >ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan. >Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin >sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari >sebuah artikel yang kubaca ... orang yang lanjut usia bisa sangat >sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak ..... tapi >entahlah.... Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. >Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa > >Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya, > >" Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin >Ibu sedih ? " >Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana . >Terbata-bata Ibu berkata, > >" Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian >sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh >lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin >kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri " > >Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani >putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. > >Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan >bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak >berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari >sudut pandang masing-masing. >Diam-diam aku bermuhasabah... Apa yang telah kupersembahkan untuk >Ibu dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada >putera putrinya ? Ketika itu kutanya pada Ibu, Ibu menjawab, > >" Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. >Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan . Kalian >berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian >berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu . Setelah >dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu >kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan >kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua." >Lagi-lagi aku hanya bisa berucap, >" Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan >yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu >menginginkan sesuatu. " > >Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang >wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku >untuk "cuti" dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada >pembantu. Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga, >merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu >yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu >bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke >dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi... >Ah, maafin kami Ibu ... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak >pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ? > >" Nak... bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin dimeja.. " >Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu >sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap >matanya lekat-lekat dan kuucapkan, > >" Terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, >ijinkan aku membahagiakan Ibu...". >Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu, >Ibu... Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum >bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu.. > >Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan >kalimat "aku sayang padamu... ", > >namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta >yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah. > >Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita ... >Ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada. >Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia. > >Wallaahua'lam > >"Ya Allah, cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa >membahagiakan Ibu..., dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, >panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala >dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku selagi >aku kecil " > >"Titip Ibuku ya Allah" > >[Non-text portions of this message have been removed] > > [Non-text portions of this message have been removed]

