Poligami Masalah Bangsa?
Oleh Moch. Iwan Januar
Keputusan berpoligami yang dilakukan Aa Gym telah mengundang perhatian
banyak pihak. Bukan saja masyarakat umum yang heboh membicarakan
pernikahan-kedua dai kondang ini, tapi pemerintah sampai merasa harus merevisi
undang-undang pernikahan.
Presiden SBY memanggil Menteri Negara Pemberdayaan Wanita Meutia Farida
Hatta dan Dirjen Bimas Departemen Agama untuk membahas secara serius masalah
poligami. Ada keinginan kuat dari pemerintah untuk lebih memperketat aturan
pernikahan agar bisa menghindarkan meluasnya praktik poligami. Sehingga
larangan berpoligami bukan saja berlaku bagi pejabat negara dan PNS, tapi juga
untuk masyarakat umum.
Sebuah Momok
Jarang wanita yang menerima kebolehan berpoligami. Sebagian suami/pria
juga tidak suka dengan kebolehan beristri lebih dari satu ini. Hingga saat ini
bisa dikatakan poligami masih menjadi momok, bahkan bagi bangsa Indonesia yang
mayoritas beragama Islam.
Penempatan poligami sebagai momok juga tampak pada berbagai pemberitaan
poligami Aa Gym. Hampir semua tayangan infotainment menggunakan kalimat atau
frase yang bertendensi negatif. Misalnya penggunaan kalimat âtak ada gading
yang tak retakâ, atau âsetelah 20 tahun setiaâ, dsb. Kalimat-kalimat
menunjukkan bahwa poligami tetap dipandang sebagai penyimpangan dan âmusuh
bersamaâ. Sekalipun yang melakukannya dai sekaliber dan selembut Abdullah
Gymnastiar. Pemberitaan seperti demikian bukan saja kian menyudutkan syariâat
poligami, tapi juga pribadi Aa Gym.
Penyudutan terhadap poligami juga dilontarkan Dirjen Bimas Departemen
Agama Nasaruddin Umar yang mengatakan bahwa, âBerdasarkan studi-studi yang
ada, poligami pada umumnya membawa kesengsaraan pada umat, negara dan
bangsa.â(Kompas, 6/12). Sebuah pernyataan yang masih bisa diperdebatkan dan
harus ditelusuri lebih jauh akurasinya.
Sikap bermusuhan terhadap praktik poligami juga sering dinyatakan
sebagai upaya melindungi perempuan. Mengesankan dalam poligami wanita
dipastikan bakal teraniaya hak-haknya. Sebaliknya, tanpa poligami kaum wanita
akan terjaga. Benarkah demikian?
Berpikir Jernih
Penulis tidak akan membahas dalil-dalil syara baik dalam Al Quran
maupun As sunnah yang telah jelas menghalalkan poligami. Tidak ada satupun
ulama salaf dari madzhab manapun yang mengharamkan poligami. Pendapat
sebaliknya baru datang di masa kemunduran Islam dari para sarjana muslim
kontemporer.
Hukum pernikahan termasuk berpoligami telah diatur dengan sangat jelas
dalam Islam. Termasuk di dalamnya peran dan tanggung jawab suami terhadap semua
anggota keluarganya. Tidak ada satupun aturan Islam dalam masalah ini yang
memberatkan pria apalagi wanita. Bahkan Islam menutup kemungkinan terjadinya
kezaliman dalam pernikahan, baik pada monogami ataupun poligami.
Bicara soal perasaan, maka itu amat relatif dan subyektif. Meminjam
pernyataan Nasarudin bahwa poligami kerap dijadikan dalih untuk keinginan
subyektif. Pernyataan sebaliknya juga semestinya dilontarkan pada mereka yang
membenci syariat poligami; bukankah sikap permusuhan dan pelarangan itu juga
subyektif? Penuh bias jender penganut feminisme? Realitanya tidak ada satupun
hukum yang tidak subyektif di muka bumi ini. Demokrasi, KUHP, undang-undang
pernikahan, dsb., seluruhnya subyektif
Begitupula pernyataan bahwa poligami pada umumnya membawa kesengsaraan,
adalah sumir dan absurd. Jangankan poligami, pernikahan monogami juga kerapkali
membawa bencana; bukankah sering diberitakan penganiayaan suami pada istri dan
anak, atau sebaliknya. Nah, apakah dengan begitu pernikahan monogami juga akan
dilarang?
Masalahnya bukan pada poligami atau monogaminya, tapi pada para pelaku
pernikahan yang tidak memahami visi dan misi pernikahan. Inilah tugas
Departemen Agama, khususnya Dirjen Pembinaan Masyarakat Islam untuk membina
setiap keluarga muslim di tanah air agar meraih sakinah, mawadah wa rahmah,
baik yang monogami maupun yang poligami. Bukannya justru membuat studi untuk
mencari data guna menyalahkan hukum Islam yang telah jelas aturannya.
Pernyataan bahwa larangan poligami akan melindungi wanita juga patut
diragukan. Pasalnya, praktik pemaksaan monogami justru bisa mendorong
terjadinya penganiayaan pada wanita. Bukankah banyak gadis ataupun janda yang
menjadi korban dari pria dengan pernikahan monogami? Tidak dinikahi tapi
dijadikan gundik, simpanan atau pelepas hasrat seksual sementara, baik dengan
zina ataupun dalih kawin kontrak (mutâah). Dugaan skandal seksual yang kini
berkecamuk di DPR RI harusnya jadi pelajaran berharga.
Lagipula, tidak sedikit wanita yang justru merasa terayomi dengan
poligami. Dinikahi secara sah, dinafkahi dan dijaga kehormatannya. Tidak
sedikit juga istri pertama yang justru mencarikan âmaduâ untuk suaminya.
Semestinya tokoh dan pejabat muslim yang anti-poligami malu dengan sikap tegar
para istri seperti Teh Ninih yang merelakan suaminya berpoligami. Daripada
menggunjingkan Aa Gym dan poligami, lebih baik membina istri-istri kita agar
bisa tegar menerima hukum Allah seperti Teh Ninih dan muslimah lainnya.
Terakhir, daripada sibuk dengan masalah poligami, sebaiknya pemerintah
mengurusi masalah yang lebih penting dan bermanfaat untuk masyarakat. Korupsi
yang masih merajalela, termasuk di departemen agama, yang jelas
menyesengsarakan puluhan juta rakyat Indonesia. Kemiskinan dan terbelakangnya
pendidikan yang masih berada dalam jumlah besar. Menyelamatkan sumber daya alam
yang dikuras kaum neo-imperialis dan menyehatkan BUMN.
Atau, daripada meributkan poligami lebih baik menyelamatkan nasib
rakyat yang sudah digerus pengrusakan moral dengan pornografi, free-sex,
perselingkuhan, aborsi, dsb. Itu adalah masalah serius yang harus ditangani
dengan sungguh-sungguh dan dijadikan masalah bangsa. Bukannya justru
mengutak-atik hukum-hukum Islam yang sudah jelas aturannya. Sayang, bangsa ini
masih juga belum mau belajar dari kesalahannya sendiri.�
Penulis adalah aktifis KEMUDI
(Kelompok Muda Untuk Dakwah Islam)
dan pemerhati masalah keluarga dan keislaman.
Bila lidah kelu, tulisan menjadi perlu
Pena lebih tajam dari pedang
Tinta seorang berilmu lebih mulia dari darah seorang syahid
pustaka tani
nuraulia
---------------------------------
Any questions? Get answers on any topic at Yahoo! Answers. Try it now.
[Non-text portions of this message have been removed]