hatur nuhun buat kang IrwanK,

    kalau tulisan di bawah ini dimaksudkan kang IrwanK
    utk. menanggapi apa yang saya tulis di bawah ini,
    penjelasan saya adalah demikian:

    (*) saya kebetulan selama ini bukan fans-nya Aa Gym :-)
        kalau mis. Aa Gym itu *film*, itu bukan jenis
        film yang saya minati :). 

        Jenis Ulama/scholar yang saya minati adalah mereka
        yang isi dakwahnya memuat banyak kandungan 
        science, phylosophy, sociology, archeology, etc.
        ( yang sampai saat ini masih sangat minim stock nya ).

        Ato sekalian juru 'dakwah' jenis 'Tontonan/Kethoprak'
        sepert grup Gamelan Kiai Kanjengnya Emha Ainun Najib :)

        tetapi di lain pihak saya mengakui dan menghargai 
        pentingnya peranan Aa Gym dalam kegiatan dakwah dan
        pendidikan Ummat di tanah air.

                                    ***

        Oleh karena itu, di dalam polemik ini, saya kurang
        begitu berminat untuk ikut-2 an mendukung secara
        pribadi maupun menyerang secara pribadi tokoh Aa Gym.
       
        Makanya kan saya mengatakan di bawah ini bahwa saya
        sebetulnya "kurang mendukung" isi tulisannya mas
        Irvany yang bagian alinea p.e.r.t.a.m.a.

        tetapi saya mendukung bagian isi tulisannya di 
        alinea k.e.d.u.a. Karena yaang lebih penting bukan
        soal "mengevaluasi" Aa Gym pribadi, tetapi justeru
        generalisasinya - apa implikasinya bagi Ummat, bagi
        setiap Muslim lainnya, about what we could learn from
        his case.

        wassalamu'alaikum wr. wb.

          ----( IM )----

--- In IrwanK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> http://layar.suaramerdeka.com/index.php?id=84
> 
> "..
> Resonansi
>
> 05-12-2006Surat untuk Aa Gym
> Maaf Jika Saya Kecewa
> .."
> 
> Satu hal yang tidak fair adalah pada saat ada kritikan 
> terhadap seseorang (mis: si x), seringkali disanggah hanya
> dengan 'ancaman' hadits soal makan daging saudara
> 
> sendiri atau yang paling seram adalah ' pahala diambil 
> oleh si x (dari tukang cerita), dan dosa diberikan dari 
> si x kepada yang menceritakannya'..
> 
> Dengan tujuan untuk meredam, tanpa sedikitpun menyentuh 
> substansi pembicaraan.. Sementara saat 'membela', kalau 
> perlu terjadi peng-kultus-an terhadap individu..
> si x selalu benar dan tidak pernah salah.. dan puja-puji 
> lainnya..
> 
> Saya kira kita harus belajar dewasa memandang diskusi/debat..
> seringkali banyak kalangan (termasuk saya.. :D) tidak mampu
> memberikan argumen yang tepat dalam mendukung sesuatu.. Yang
> terjadi adalah 'pokoknya ikut/dukung anu'..
>
> Hal ini sangat bergantung pada latar belakang dan lingkungan
> masing" kita..
> 
> Apakah kita akan terus mengikuti pola 'telan saja' atau berpikir
> logis dan kritis dalam mempercayai dan mendukung sesuatu.. 
> Khususnya di ranah publik (di luar kelompok)..
> Kalau dalam pemahaman pribadi/kelompok sih, siapa yang bisa 
> larang.. Bisa" anda dicap 'futur' kalau berani" beda atau 
> menyanggah ajaran guru..
> :-p
> 
> CMIIW..
> 
> Wassalam,
> 
> Irwan.K
> 
> On 12/12/06, imuchtarom <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >
> > bagus, mas Irvany, apa yang anda sampaikan
> > di susun dengan narasi yang bagus.
> >
> > apa yang anda tulis di alinea p.e.r.t.a.m.a
> > bagaimanapun masih merupakan opini - penilaian
> > subjective anda terhadap isi surat * Ida Arimurti *
> > - yang bisa saja benar bisa saja salah, yang memang
> > akan sulit di-verifikasi.
> >
> > tetapi pokok isi/pesan di alinea yang k.e.d.u.a
> > rasanya sulit di bantah oleh siapa pun yg.
> > cukup mengerti isi syariat islam secara
> > komprehensif.
> >
> > Hati saya merasa terbuka dan merasa bisa
> > menerima apa yang anda tulis di bawah ini.
> >
> > wassalamu'alaikum wr. wb.
> >
> > ---( IM )-------
> >
> > --- In Irvany Ikhsan <irvanyk@> wrote:
> > >
> > > Dear All,.
> > >
> > > Surat itu mencoba mengajak kita beramai-ramai, dgn kalimat
> > > muter2, spy bersimpati kepada Teh Ninih dan beramai-ramai
> > > secara halus dan menyetuh hati menghukum Aa Gym.... Jgn mau
> > > kita diadu domba. Baik Teh Ninih Vs AGym or Masyarakat
> > > Muslim Vs Aa Gym. Ini momen yg digunakan oleh orang2 yg
> > > mmg tidak suka kita damai, rukun. Dan mempunyai pemimpin
> > > yg penuh dgn suri tauladan. Momen ini jg yg digunakan
> > > untuk mengkudeta Aa Gym dr pengikutnya. Ngak akan berhasil.
> > > Kami msh setia ke Aa Gym dan saudara2 muslim lainnya.
> > >
> > > Hati2.. mrk menghalakan berbagai cara. Sedangkan Aa Gym
> > > cuma jalan yg HALAL yg beliau pilih. Coba tanya kpd mrk,
> > > masih suka dugem? minum-minum? ketawa-ketiwi di cafe? Pulang
> > > pagi dugem? nyeder sana, nyerder sini dgn yg bukan muhrim,
> > > kalo masih (mudah2an sdh enggak) ya sdh itu salah, tdk halal,
> > > mbok diperbaiiki. Kalo AA gym gak ada yg salah, beliau
> > > menempuh jalan HALAL. Baik aturan negara dan agama.
> > >
> > > Surat itu bagus buat kalian tdk buat kami.
> > >
> > > wasalam....
> > >
> > >
> > >
> > > adejahja <ade@> wrote:
> > >
> > >
> > > Surat Untuk Aa' Gym
> > >
> > > Aa Gym yang baik, ketika mendapat kabar kalau Aa menikah lagi,
> > > saya tertawa. Geli sekali rasanya mendengar kabar itu. Setelah
> > > Dhani Dewa, kini Aa yang dikatakan beristri dua. Gosip memang
> > > makin aneh saja ya, Aa... Saya tidak percaya. Saya tahu, Aa
> > > begitu mencintai Teh Ninih. Di mata Aa, Teh Ninih begitu 
sempurna.
> > >
> > > Setiap melihat foto keluarga Aa, dengan tujuh anak dan Teh 
Ninih
> > > yang tersenyum bahagia, selalu ada airmata yang bergulir di 
sudut
> > > mata saya. Aa membuat saya begitu bangga. Teh Ninih memberikan
> > > saya ilham tentang bagaimana mencinta. Melahirkan tujuh anak di
> > > zaman ketika memiliki banyak anak telah menjadi semacam "aib",
> > > tak ada kata lain untuk menjelaskannya, kecuali pengabdian 
cinta.
> > >
> > > Maka, saya tidak percaya gosip itu. Tidak mungkin Aa akan 
begitu.
> > > Aa itu kiai saya, guru saya, kakak, ayah, dan teladan saya.
> > > Aa pasti tidak akan mengecewakan saya.
> > >
> > > Ketika Aa menggelar jumpa pers di kantor Daarut Tauhid, di 
Jakarta,
> > > Sabtu lalu, saya bersorak gembira. Akan terjawab semuanya, 
batin
> > > saya. Akan terang betapa bodohnya pembuat gosip itu. Saya 
bayangkan,
> > > Aa akan tertawa, Teh Ninih akan terkikik manja, dan memeluk Aa.
> > > Ketika melihat Aa dan Teh Ninih muncul, dengan busana satu 
warna,
> > > wajah yang bercahaya, hati saya makin bahagia. Sungguh Aa, tiap
> > > kali melihat Aa dan Teh Ninih tampil bersama, saling mengerling
> > > dan tersenyum, selalu ada haru dan tangis di mata saya. Aa
> > > membuat saya begitu bersyukur dan bahagia. Saya tidak percaya,
> > > kerling dan senyum itu akan Aa berikan juga untuk Teteh yang
> > > lain....
> > >
> > > Aa terlihat lebih muda. Apa karena tanpa sorban ya, Aa? Dan Teh
> > > Ninih, kenapa jadi tampak lebih tua. Mata Teh Ninih 
berkerjapan,
> > > tapi dia menyunggingkan senyuman. Aa tahu, saya mulai was-was
> > > saat itu. Melihat sorban yang lepas, hati saya cemas. Melihat
> > > banyaknya senyum Teh Ninih, dada saya berbuih. Saya mulai 
menduga,
> > > ya Tuhan... apakah kabar itu benar? Apakah benar Aa telah 
menduakan
> > > Teh Ninih, Mbak dan Ibu saya? Tolong Tuhan, tulikan
> > > aku sementara... Aku tak sanggup mendengarnya...
> > >
> > > Dan airmata saya berloncatan. Saya sesenggukan. Wajah Aa yang
> > > cerah di teve dikaburkan airmata saya. Sungguh Aa, saya tidak
> > > bisa menerima. Saya sakit, sakit... Setiap melihat Teh Ninih,
> > > airmata saya langsung berloncatan. Saya tajamkan pendengaran,
> > > saya ingin tahu, apa alasan Aa, apa kekurangan Teh Ninih? Tapi
> > > sampai akhir jumpa pers itu, tak ada satu pun dalih yang bisa
> > > mengeringkan airmata saya. Aa menyebutkan TTM, teman tapi 
mesum,
> > > dan seks bebas, yang kini jadi dianggap biasa. Aa, saya kaget.
> > > Dari Aa-lah saya tahu TTM itu teman tapi mesum. Sebelumnya saya
> > > kira hanya teman tapi mesra.
> > >
> > > Apakah Aa menilai kemesraan sama dengan kemesuman? Aa juga 
menyebut,
> > > keputusan itu lahir dari keprihatinan karena poligami dianggap
> > > sebagai perbuatan tidak benar, sering dicemooh, bahkan 
diperlakukan
> > > tidak sebagaimana mestinya. Istri kedua dianggap sebagai 
perebut
> > > suami orang. Aa tampaknya ingin mendudukkan posisi poligami, 
ingin
> > > menunjukkan bahwa istri kedua tidak selamanya buruk. Maaf Aa, 
saya
> > > tidak terharu dengan penjelasan itu.
> > >
> > > Aa yang baik, saya lalu mencari tahu siapa Rini, Alfarini 
Eridani
> > > itu. Maaf Aa, saya tidak bisa menyebut Rini dengan panggilan 
Teteh.
> > > Bagi saya, hanya ada satu Teteh untuk Aa, Teh Ninih. Saya lalu
> > > tercengang. Bukan Aa, bukan karena dia mantan model. Bagi saya,
> > > tidak penting latar belakang seseorang.
> > >
> > > Bukankah Aa dulu juga bukan seorang kiai? Bukankah pernikahan
> > > Aa dengan Teh Ninihlah, yang merupakan anak kiai pondok, yang
> > > mengubah hidup Aa? Saya hanya takjub pada kesaksian banyak 
pihak
> > > bahwa sudah sejak awal Rini itu Aa istimewakan. Rini bebas di 
MQ,
> > > dengan status tidak jelas. Bisa jadi marketing, sekretaris, 
atau
> > > kerja serabutan. Pengistimewaan Rini oleh Aa dan adik Aa,
> > > Abdurrahman Yuri (Aa Deda) itu terbaca sesama pengurus MQ, dan
> > > mereka mengira Aa dekat karena ingin mencarikan jodoh untuk 
Rini.
> > >
> > > Mereka juga tidak merasa aneh, ketika Juli lalu, Aa pun meminta
> > > Rini jadi "pejabat" saat membentuk unit pelayanan terpadu bank
> > > syariah di ponpes Daarut Tauhiid.
> > >
> > > Tapi, sebagaimana terungkap di banyak media, akhirnya semua 
kaget,
> > > ketika Aa memilihkan diri Aa sendiri sebagai jodoh untuk Rini.
> > >
> > > Aa yang baik, maaf jika saya berburuk sangka. Ketika Aa 
mengatakan
> > > telah lima tahun mempersiapkan dan mendiskusikan dengan Teh 
Ninih
> > > untuk berpoligamami, apakah Rini yang Aa persiapkan? Apakah 
masuknya
> > > Rini ke MQ beberapa tahun lalu bagian dari persiapan itu? KH 
Miftah
> > > Farid mengatakan, Aa menikahi Rini untuk menyelamatkannya dari
> > > rerebutan pengurus Daarut Tauhiid. Kenapa harus diselamatkan,
> > > Aa? Apakah kalau Rini dinikahi karyawan Aa, hidupnya berada 
dalam
> > > bahaya? Atau, apakah Aa merasa dapat berlaku lebih adil 
daripada
> > > mereka yang memperebutkan Rini?
> > >
> > > Aa yang baik, maaf jika saya masih bertanya-tanya. Benarkah Teh
> > > Ninih sudah memberi izin dan ikhlas? Kalau begitu, mengapa 
sewaktu
> > > menikahinya Aa tidak mengikutkan Teh Ninih? Mengapa tidak ada 
satu
> > > pun keluarga Aa yang datang?
> > >
> > > Juga adik Aa, Abdurahman Yuri (Aa Deda) yang dekat dengan Rini,
> > > kemana? Kata KH Miftah, setelah ijab itulah baru Aa memberitahu
> > > Teh Ninih, benarkah? KH Miftah juga mengatakan, saat itu Aa 
hanya
> > > nikah agama, dan perlu waktu untuk dicatatkan ke KUA, menunggu 
izin
> > > tertulis dari Teh Ninih, begitukah Aa? Jadi Aa, benarkah Teh 
Ninih
> > > memberi izin dan ikhlas karena pernikahan itu telah terjadi? 
Izin
> > > dan keikhlasan yang datang karena tak lagi dapat berbuat
> > > apa-apa?
> > >
> > > Aa yang baik, benarkah ketika Senin (4/12) di saat Aa 
memberikan
> > > tausyiah untuk pengurus MQ Coorporation, Teh Ninih dan Rini 
duduk
> > > berdampingan, dan keduanya tidak bercakapan juga bersalam? 
Juga,
> > > kenapa ketika acara usai, Rini ingin segera berlalu, sampai Aa
> > > memanggilnya, "Ibu Rini..." agar dia mau bergabung? Sungguhkah
> > > Teh Ninih belum dapat menerima Rini, Aa? Sekali lagi maaf jika
> > > saya berburuk sangka. Saya hanya ingin menumpahkan isi hati
> > > saya, jutaan pertanyaan yang membebani, biar saya dapat 
menerima
> > > Aa, dengan ringan, dengan enteng, seperti Aa yang ringan, 
riang,
> > > ketika menjelaskan pernikahan itu.
> > >
> > > Aa yang dirahmati Allah, di telinga saya saat ini, masih 
terdengar
> > > pengakuan Teh Ninih, Minggu, usai tausyiah itu. Teteh mengaku
> > > klenger saat tahu Aa telah menikah. Tiga bulan setelah 
pernikahan
> > > itu, Teteh juga mengaku belum kenal Rini ...
> > >
> > > Aa, entah kenapa, saya selalu menangis melihat ketabahan Teh 
Ninih.
> > > Teteh saya itu, yang juga saya anggap Mbak dan Ibu saya, 
demikian
> > > kuat menahan perasaannya. Ia hanya tersenyum, dan menjawab 
dengan
> > > persetujuan Aa. Teteh mengajarkan kepada saya, tentang cinta
> > > seorang wanita, yang tak terbagi, tak berpamrih. Dan saya kian
> > > menangis, saat melihat Aa acap sekali memeluknya, menciumnya,
> > > merangkulnya, lebih sering dari apa yang biasa Aa tunjukkan.
> > >
> > > Pikiran naif saya selalu berkata, "kenapa bisa lelaki yang
> > > demikian sayang dan cintanya, tapi memadu istrinya..." Maaf Aa,
> > > sekali lagi maaf, saya tidak bisa berbicara halus seperti Aa,
> > > tidak bisa sesabar seperti Aa. Itulah sebabnya, ketika Teh 
Ninih
> > > berkata, "Saya berkeyakinan, apa yang tampaknya menyakitkan 
belum
> > > tentu seburuk yang terlihat." saya tambah menangis. Saya
> > > membaca, Teh Ninih telah mengatakan isi hatinya kepada saya.
> > > Karena apa yang dikatakan Teh Ninih bisa dibaca sebaliknya,
> > > "apa yang tampak menyenangkan, mengikhlaskan, berpelukan,
> > > bahagia, belum tentu seindah yang terlihat...."
> > >
> > > Aa yang baik, maaf kalau saya tampak kecewa. Maaf kalau saya
> > > tidak bisa mengerti, saya hanya tahu, betapa kian kuat cinta
> > > saya kepada Teh Ninih...
> > >
> > > Best Regards,
> > >
> > > - Ida Arimurti -
> >
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke