hehehe
ya mentrinya, ya bebeknya kan
hihik


--- In [email protected], basuki kristanto <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> anak negri anak negri!!!!!!!!!!!!!.kita disini ngomong ngaloor 
ngidhul yang ahli inilah itu lah seakan akan di negeri kita ini gak 
pernah kekurangan orang pinter dan cerdas mbokyao kita perhatiin 
negara kita yang mau hilang ini , kita berkoar koar gak taunya 
kunyit / kunir sekarang patennya dimiliki negara lain cobaaaaa 
tolong difikirkan jangan sampai terjadi lagiiiii
> 
> Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          --- In 
[email protected], "Ari Condro" <masarcon@> wrote:
> >
> > pilih fiqh yg paling enak dan mendukung kekuasaan dong.
> > makanya 1400 tahun umurnya islam, ndak pernah terdengar
> > kalau perbudakan dilarang. ada juga nambah subur ajah tuh 
> perbudakan.
> 
> Lina:
> Masarcon ini levelnya masih yang 'terdengar-terdengar' saja dalam 
> belajar agama. Tidak pernah belajar mengambil esensinya. Jadi, 
> maunya nggossip mulu. Kalau bicara PERBUDAKAN dalam ISLAM, ya 
> dipelajari dong sejarahnya perbudakan macam apa yang dimaksudkan 
> Islam pada saat itu. Lalu keluar dari ruang dan waktu masa lalu 
itu 
> dan masuk ke ruang dan waktu masa kini, pelajari lagi perbudakan 
> macam apa yang ada masa kini. Lalu bertanya perbudakan macam apa 
> yang mau dilarang? Ingatkan nasehatnya wan Sabri di milis sebelah 
> agar jangan menarik hukum keluar dari ruang dan waktu, ketika 
> diskusi soal Definisi Zina. Jadi pelajari soal Definisi 
Perbudakan. 
> 
> > 
> > ada orang bilang, larang yg udah jelas haramnya.
> > lha perbudakan dan kawin ama anak usia 12 tahun tuh
> > ndak diharamkan agama je .... jadi gak perlu dilarang dong ?
> 
> Lina: Ini juga "ada orang bilang-ada orang bilang" jadinya gossip 
> doang. Secara umum dalam Islam, Perbudakan (dulu dan kini) tak 
> pernah diberi label hukum HARAM, jadi gimana mau dilarang??? 
Begitu 
> juga dengan menikahi ANAK USIA 12TH karena dalam Islam (yang 
diakui 
> keuniversalannya) gak pernah memberi batasan umur untuk boleh 
> dinikahi atau tidak, tapi akil baligh. Kalu diberi batasan umur 
akan 
> kehilangan sifat keuniversalannya. Sedang akil baligh, masing2 
orang 
> akan berbeda umurnya dalam mencapai akil baligh.
> > 
> > ahlan wa sahlan, islam mulia ...
> > dan hatiku berdegup sedih.
> > 
> > 
> > 
> > 
> > On 12/12/06, Nugroho Dewanto <ndewanto@> wrote:
> > >
> > >
> > > persis. memang beda tafsir.
> > >
> > > isnawati rais berbeda pandangan dengan musdah. tapi ia berbeda
> > > pandangan pula dengan ibn baz yang mengatakan poligami sunah.
> > > beda pendapat lagi dengan syamsul balda dari pks yang 
mengatakan
> > > poligami wajib hukumnya!
> > >
> > > orang islam memang biasa beda-beda pandangan fiqihnya. maka 
repot
> > > kalau fiqih harus jadi hukum negara. fiqih dari 
kelompok/mazhab 
> mana
> > > yang mau dipakai?
> > >
> > >
> > > At 12:09 PM 12/12/2006, you wrote:
> > >
> > > >Dari milis sebelah. Biar imbang.
> > > >Kan...sama-sama pake alasan agama?. Jadi, bu Musdah juga gak 
> usah
> > > >melarang orang yg berpoligami jangan pake alasan agama. Beda 
> tafsir
> > > >aja kali ya?
> > > >*********
> > > >
> > > >Kaum feminis melakukan berbagai cara untuk menentang syariat 
> Allah,
> > > >di antaranya mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah SWT.
> > > >Syariat yang sering mereka tentang adalah poligami. Baru-baru 
> ini
> > > >The Asia Foundation –founding Amerika yang aktif mendanai 
> berbagai
> > > >proyek gerakan liberal–bekerjasama dengan Gramedia, 
menerbitkan 
> buku
> > > >berjudul Islam Menggugat Poligami yang ditulis oleh Siti 
Musdah
> > > >Mulia.
> > > >
> > > >Dari judulnya, buku tersebut tidak tepat, karena yang 
menggugat
> > > >poligami itu bukan Islam, melainkan Siti Musdah sendiri. 
Jadi, 
> judul
> > > >yang tepat adalah Siti Musdah Menggugat Syariat Islam tentang
> > > >Poligami. Inti pembahasan buku feminis yang diberi label 
Islam 
> ini
> > > >adalah usaha untuk mengharamkan syariat poligami karena 
dianggap
> > > >sebagai pelanggaran terhadap HAM. Hal ini tampak jelas
> > > >pada bab Kesimpulan: "Kesimpulannya, aspek negatif poligami 
> lebih
> > > >besar daripada aspek positifnya. Dalam istilah agama, lebih 
> banyak
> > > >mudharatnya ketimbang maslahatnya dan sesuai dengan kaidah 
> fiqhiyah
> > > >segala sesuatu yang lebih banyak mudharatnya harus 
dihilangkan.
> > > >Mengingat dampak buruk poligami dalam kehidupan sosial, 
poligami
> > > >dapat dinyatakan haram lighairih (haram karena eksesnya). 
Karena
> > > >itu, perlu diusulkan pelarangan poligami secara mutlak sebab
> > > >dipandang sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan (crime 
against
> > > >humanity) dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia" (hlm. 
193-
> 194).
> > > >Menanggapi buku tersebut, maka ruang Tafsir edisi ini Tabligh
> > > >menampilkan pakar tafsir wanita untuk membahas ayat Al-Qur`an
> > > >tentang Poligami. Selamat menyimak.
> > > >
> > > >Redaksi Pendahuluan
> > > >Adanya praktik poligami yang tidak baik, bermula dari tidak
> > > >diperhatikannya ajaran Islam tentang poligami.
> > > >Akibatnya, dalam beberapa kasus penyimpangan poligami 
> menyengsarakan
> > > >perempuan dan anak-anak serta oleh umat Islam sendiri, 
sehingga
> > > >membuat hikmah adanya poligami tidak dapat diwujudkan, malah
> > > >sebaliknya mendatangkan penderitaan dan imej negatif. Maka 
jalan
> > > >keluarnya bukanlah dengan melarang apa yang dibolehkan oleh 
> Allah
> > > >seperti yang banyak disuarakan oleh para pendukung gerakan
> > > >feminis akhir-akhir ini, tetapi seharusnya memberikan 
pemahaman
> > > >tentang ajaran Islam terkait poligami dengan segala seluk-
> beluknya.
> > > >Selain itu, umat tidak boleh salah paham terhadap peran Islam 
> dalam
> > > >mengatur dan memperkecil peluang untuk berpoligami. Secara 
> historis,
> > > >poligami telah sangat lama mendahului Islam. Poligami sudah 
> menjadi
> > > >kebiasaan umat manusia semenjak zaman primitif, dan budaya 
ini 
> sudah
> > > >umum dikenal di berbagai kalangan bangsa di dunia. Mereka
> > > >melakukannya karena berbagai sebab dan kebutuhan. Kenyataan 
ini
> > > >membuktikan, bukan Nabi Muhammad (baca: agama Islam)
> > > >yang memprakarsai poligami. Islam hanyalah menetapkan batasan 
> dan
> > > >syarat-syarat pemberian batasan. Dan adanya syarat-syarat itu 
> karena
> > > >poligami yang terjadi sebelum Islam tanpa batas dan tanpa 
aturan
> > > >serta menempatkan perempuan sebagai objek. Jadi sungguh tidak 
> tepat
> > > >kritikan beberapa pihak, termasuk kaum feminis terhadap 
aturan 
> dan
> > > >sistem poligami dalam ajaran Islam.
> > > >
> > > >Harus pula diketahui bahwa poligami dalam Islam bukan
> > > >menghidupsuburkan tirani dan dominasi kaum laki-laki dan 
> perbudakan
> > > >atas perempuan, tetapi sebagai jalan keluar dari kesulitan 
yang
> > > >dialami oleh keluarga. Jadi, poligami dalam Islam dilakukan 
> bukan
> > > >hanya untuk kepentingan dan kebaikan suami saja, tetapi juga 
> untuk
> > > >istri dan seluruh keluarga. Poligami bukanlah penghancur 
> perkawinan,
> > > >tetapi merupakan sumber perlindungan bagi monogami.
> > > >Karena dengan diperbolehkannya poligami, maka berbagai bentuk
> > > >penyelewengan laki-laki dengan affair-affair cinta 
terselubung 
> yang
> > > >akan mengancam perkawinan dapat diatasi. Sebelum menafsir ayat
> > > >poligami dalam Al-Qur`an, ada pertanyaan menarik, apakah 
konsep
> > > >perkawinan menganut paham poligami atau monogami? Ternyata, 
bila
> > > >diteliti berbagai dalil dan sunnah, dapat disimpulkan bahwa 
> konsep
> > > >perkawinan dalam Islam menganut paham monogami yang tidak
> > > >mengharamkan poligami dalam keadaan tertentu. Islam membentuk 
> pintu
> > > >kecil untuk berpoligami dengan ketentuan memenuhi syarat-
syarat
> > > >tertentu, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat An-Nisa' 
ayat
> > > >3:"...Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, 
> maka
> > > >(kawinilah) seorang saja..." Di sini dijelaskan bahwa salah 
satu
> > > >syarat berpoligami itu adalah berlaku adil, yang sangat tidak 
> mudah
> > > >dilakukan, walaupun keadilan yang dimaksudkan bukanlah 
> sebagaimana
> > > >firman Allah SWT dalam Surat An-Nisa` ayat 129: "Dan kamu 
> sekali-
> > > >kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri(mu), 
> walaupun kamu
> > > >sangat ingin berbuat demikian..." Untuk mendapat gambaran 
yang 
> lebih
> > > >jelas tentang poligami dalam Islam, maka perlu kita perhatikan
> > > >firman Allah SWT: "Dan jika kamu khawatir tidak dapat berbuat 
> adil
> > > >terhadap anak-anak atau perempuan yatim (jika kamu 
> mengawininya),
> > > >maka kawinlah dengan perempuan lain yang menyenangkan hatimu; 
> dua,
> > > >tiga, atau empat. Jika kamu khawatir tidak dapat berbuat adil
> > > >(terhadap istri yang terbilang), maka kawinilah seorang saja, 
> atau
> > > >ambillah budak perempuan kamu. Demikian ini agar kamu lebih 
> dekat
> > > >untuk tidak berbuat aniaya" (An-Nisa` 3). Sebab Turun Ayat 
> Menurut
> > > >riwayat beberapa imam hadits sesuai dengan lafal Muslim dari 
> Urwah
> > > >bin Zubair dari Aisyah RA, dinyatakan bahwa Urwah bertanya 
> kepada
> > > >Aisyah, bibinya, tentang ayat ini. Aisyah menjawab: Wahai anak
> > > >saudara perempuanku, yatim yang dimaksudkan di sini adalah 
anak
> > > >perempuan yatim yang ada di bawah asuhan walinya, yang 
mempunyai
> > > >harta kekayaan yang bercampur dengan harta walinya itu. Harta 
> serta
> > > >kecantikan anak yatim ini menjadikan walinya tertarik untuk
> > > >menikahinya, tetapi ia (walinya) tidak mau memberikan mahar
> > > >kepadanya dengan adil. Wali ini tidak mau membayar mahar anak 
> yatim
> > > >ini seperti mahar yang semestinya diterima perempuan-
perempuan 
> lain.
> > > >Hal inilah yang membuat wali anak yatim ini dilarang 
> menikahinya,
> > > >kecuali kalau ia mau berlaku adil kepada mereka dan mau 
> memberikan
> > > >mahar yang lebih tinggi dari biasanya. Kalau tidak mau 
melakukan
> > > >seperti itu maka mereka disuruh mengawini perempuan lain saja 
> yang
> > > >mereka senangi…". kemudian Aisyah menyebutkan ayat: "Dan 
jika 
> kamu
> > > >khawatir tidak dapat berlaku adil dalam menikahi anak yatim, 
> maka
> > > >kawinlah kamu dengan perempuan-perempuan lain yang 
> menyenangkanmu…".
> > > >Pengertian Umum Ayat ini menjelaskan bahwa seorang laki-laki 
> tidak
> > > >begitu saja bisa menikahi siapa saja yang diinginkannya dan 
> berapa
> > > >jumlah yang ia mau, tetapi ada aturan dan ketentuan yang harus
> > > >diperhatikan dan dipatuhinya. Ketentuan itu meliputi:
> > > >Pertama, larangan menikahi anak yatim bila takut tidak akan 
bisa
> > > >berlaku adil dalam hal mahar, yaitu tidak dapat memberikan 
mahar
> > > >–minimal– sama besarnya dengan mahar perempuan-perempuan 
lain.
> > > >Kepada mereka ini dianjurkan memilih untuk menikah dengan 
> perempuan
> > > >lain saja. Kedua, seorang laki-laki dihalalkan menikah lebih 
> dari
> > > >satu orang perempuan, bahkan sampai kepada empat jika ia 
sanggup
> > > >untuk mematuhi ketentuan yang ditetapkan. Ketiga, seorang 
lelaki
> > > >hanya boleh menikahi satu orang perempuan saja jika ia takut 
> akan
> > > >berbuat durhaka kalau menikahi lebih dari satu orang. Keempat,
> > > >seorang lelaki hanya boleh menikahi seorang budak jika ia 
tidak
> > > >sanggup menikahi seorang perempuan merdeka, sementara ia 
sangat
> > > >memerlukan seorang istri.
> > > >
> > > >Penjelasan
> > > >Dan jika kamu takut (khawatir) tidak akan bisa berlaku adil 
> terhadap
> > > >perempuan yatim yang ingin kamu nikahi dalam hal mahar dan 
> nafkah,
> > > >sehingga kamu takut tidak dapat memberikan haknya sebagai 
istri
> > > >sebagaimana mestinya, maka janganlah kamu mengawininya. Allah
> > > >memberikan pilihan lain untukmu, yaitu perempuan-perempuan 
yang
> > > >tidak yatim yang dihalalkan bagimu untuk menikahinya, tidak 
> hanya
> > > >satu, tapi boleh dua, tiga, atau empat. Menikah lebih dari 
satu,
> > > >yang dikenal dengan sebutan poligami, tidak boleh lebih dari 
> empat.
> > > >Artinya seorang lelaki paling banyak hanya bisa mempunyai 
empat
> > > >istri dalam waktu yang bersamaan. Inilah pendapat yang 
> disepakati
> > > >oleh ijma' kaum muslimin. Hal ini dijelaskan pula oleh hadits 
> yang
> > > >diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Muwaththa`, Nasa`i 
dan
> > > >Daruquthni, dalam Sunannya bahwa: "Nabi berkata kepada 
Ghailan 
> bin
> > > >Umayyah Ats-Tsaqafah yang masuk Islam dan ia mempunyai 
sepuluh 
> orang
> > > >istri. Nabi bersabda: "Pilihlah empat orang di antara mereka 
dan
> > > >ceraikanlah yang lainnya". Dan dalam Kitab Abu Daud dari 
Haris 
> bin
> > > >Qays, ia berkata: "Saya masuk Islam bersama-sama dengan
> > > >delapan istri saya, lalu saya ceritakan hal itu kepada Nabi 
> SAW, maka
> > > >beliau bersabda: "Pilihlah empat orang di antara mereka". 
Adapun
> > > >kebolehan Nabi berpoligami lebih dari empat bukan didasarkan 
> kepada
> > > >ayat ini, tetapi pengecualian yang diberikan oleh Allah khusus
> > > >kepada beliau. Allah membolehkan berpoligami sampai jumlah 
> empat itu
> > > >adalah dengan kewajiban berlaku adil di antara mereka dalam 
> berbagai
> > > >urusan, seperti makan, pakaian, tempat tinggal, dan lain 
> sebagainya
> > > >tanpa membeda-bedakan antara satu dengan lainnya. Bila sang 
> suami
> > > >khawatir akan berbuat zalim, tidak dapat memenuhi hak-hak 
mereka
> > > >secara adil, maka diharamkan baginya untuk berpoligami.
> > > >Bila seorang suami hanya bisa memenuhi hak tiga orang istri, 
> maka
> > > >haram baginya untuk menikahi yang keempat. Jika sanggupnya 
hanya
> > > >memenuhi hak dua orang, haram baginya menikahi yang ketiga. 
Dan 
> bila
> > > >sanggupnya hanya memenuhi hak satu orang dan ia khawatir akan
> > > >berbuat zalim kalau menikahi dua orang, maka dia hanya boleh 
> kawin
> > > >satu saja dan haram menikahi dua orang. Bahkan bagi seorang
> > > >lelaki yang tidak mampu memenuhi hak seorang perempuan 
merdeka, 
> maka
> > > >ia hanya boleh menikah dengan budak kalau memang keadaan 
> memaksa dia
> > > >untuk menikah. Inilah yang ditegaskan oleh ayat ini. Dalam 
satu
> > > >hadits riwayat Abu Daud, Tirmidzi, Nasa`i, dan Ibnu Majah 
dari 
> Abu
> > > >Hurairah dijelaskan bahwa Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa yang
> > > >mempunyai dua orang istri, lalu memberatkan salah satunya 
(tidak
> > > >berlaku adil), maka ia akan datang di hari kiamat dengan bahu 
> yang
> > > >miring." Keadilan yang dimaksud oleh ayat ini tidak 
bertentangan
> > > >dengan firman Allah dalam surat An-Nisa` ayat 129, karena
> > > >adil yang dituntut dalam surat An-Nisa` ayat 3 adalah adil 
> dalam hal-
> > > >hal yang bersifat lahiriah yang disanggupi dan dapat 
dikerjakan 
> oleh
> > > >manusia, bukan dalam hal cinta dan kasih sayang. Keadilan 
dalam 
> hal
> > > >yang disebutkan terakhir inilah yang tidak akan disanggupi 
oleh
> > > >manusia, dan inilah yang dimaksudkan oleh ayat 129. Mengenai 
> hal ini
> > > >Aisyah menyebutkan bahwa: "Rasulullah selalu membagi giliran 
> sesama
> > > >istrinya dengan adil. Dan beliau berdoa: "Ya Allah, inilah
> > > >pembagianku terhadap istri-istriku pada apa yang aku miliki. 
> Karena
> > > >itu, janganlah Engkau cela aku atas apa yang Engkau
> > > >kuasai dan tidak aku kuasai". (HR. Abu Daud, Tirmidzi, 
Nasa`i, 
> dan
> > > >Ibnu Majah, dari Aisyah.)
> > > >
> > > >Memilih untuk menikahi seorang istri, atau mengambil seorang 
> budak
> > > >sebagai istri, adalah langkah yang lebih baik untuk 
menghindari
> > > >perbuatan zalim dan zina. Dari paparan dan penjelasan ayat di 
> atas
> > > >dapat disimpulkan bahwa poligami di dalam Islam bukanlah 
> dianjurkan,
> > > >tetapi hanya dibolehkan. Pembolehan ini juga tidaklah untuk 
> semua
> > > >orang yang mau berpoligami, tetapi hanya diperuntukkan bagi 
> orang
> > > >yang membutuhkan itu sebagai jalan keluar dari persoalan yang
> > > >dihadapi, dengan syarat mereka mengerti hakikat dan aturan 
hidup
> > > >berpoligami, serta mampu memenuhi aturan itu, sehingga hikmah
> > > >berpoligami dapat diwujudkan dan segala dampak negatifnya bisa
> > > >diatasi. Karena itu, agar poligami ini tepat guna, tidak 
> dilakukan
> > > >oleh sembarang orang dengan semaunya sehingga menimbulkan 
banyak
> > > >penderitaan pada istri-istri dan kesengsaraan pada anak, maka
> > > >memberikan pengajaran, pendidikan, dan pemahaman yang tepat 
dan 
> benar
> > > >sangat dibutuhkan sebagai jalan keluarnya. Jadi untuk 
mengatasi
> > > >perilaku masyarakat yang tidak tepat dalam berpoligami yang
> > > >menimbulkan dampak negatif yang banyak, bukanlah dengan 
> mengharamkan
> > > >sesuatu yang dihalalkan oleh Allah, tetapi dengan menjelaskan
> > > >ketentuan dan aturan-aturannya. Dengan demikian, orang yang 
> punya
> > > >keinginan, akan berpikir lebih matang sebelum mengambil 
> keputusan
> > > >untuk melakukan poligami.
> > > >
> > > >Semoga Allah akan selalu membimbing kita ke jalan yang 
diridhai-
> Nya.
> > > >Amin.
> > > >
> > > >Dr.Isnawati Rais, MA.
> > > >Dosen Fakultas Syariat dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah
> > >
> > > 
> > >
> > 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> 
> 
> 
>          
> 
>               
> ---------------------------------
> Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
>  __________________________________________________
> Apakah Anda Yahoo!?
> Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik 
terhadap spam  
> http://id.mail.yahoo.com 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke