Betapa sedih dan kecewanya saya dengan studi ini mas.
Wajar itu terjadi jika mereka berpoligami semata-mata
seksualitas dan tak memahami beratnya amanah poligami.

 Saya bukan penganjur dalam poligami, namun mas
Ikhsan, bagaimana jika orang-orang yang berpoligami
adalah orang yang dia memahami hak dan kewajiban suami
istri, anak dengan sebaik-baiknya. Maka aset istri
satu dua tiga empat dan suami bisa menjadi perusahaan
keluarga yang sangat besar yang bisa menggerakkan roda
perekonomian. 

Ada banyak kasus buruk tentang poligami, ada juga
kasus baik dalam praktek poligami. Ada baiknya kita
kembalikan hukum asal poligami beserta tanggung
jawabnya yang berat pada masing-masing pelakunya, dari
pada melarang poligami. 

Toh banyak juga kasus monogamani terjadi hal-hal yang
tidak dinginkan
 seperti studi di Monash University, salah satu
Universitas Ausi terbaik dimana mas sedang
menyelesaikan S3 di sana.
 Apa yang mas tulis ini sekarang jamak menimpa praktek
monogami juga:
http://groups.yahoo.com/group/pluralitas-icrp/message/5028

Lalu kalau hasil studi mengatakan praktek monogami pun
sangat rentan pula terhadap kekerasan dalam rumah
tangga, penelataran anak dsg, apakah kita perlu
membuat pelarangan monogami? Tentu ini bukan cara
bijak mas. Alangkah lebih baik Pemerintah (DEPAG)
memberikan pembinaan bagi calon suami-istri baik yang
mau monogami dan poligami untuk dibekali agamanya agar
mereka memahami hak kewajiban suami istri dan anak.

Saya berharap Aa Gym menjadi contoh poligami yang baik
menyusul poligami Anis Matta dari PKS, Puspo Wardoyo,
Fauzan Anshori dari MMI, Ismail Yusanto dari HTI, Dr
Gina Puspitasari dari Darul Arqam, Hamzah Haz dari NU,
AM Fatwa dari PAN.

salam 
aris

--- M Ikhsan Modjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Poligami dari Tinjauan Ekonomi
> 
> Indonesia diharu biru poligami. Setelah berita
> tentang poligami seorang
> ulama kondang Aa Gym diberitakan oleh berbagai
> mass-media, seluruh
> masyarakat ribut soal poligami. Bahkan sampai
> Presiden SBY dan Wakilnya JK
> juga ikut urun rembuk dan berencana membatasi
> praktek ini di kalangan
> pejabat.
> 
> Saya pun, tidak ketinggalan dengan SBY dan JK,
> beberapa hari ini disibukan
> dengan poligami. Sebuah studi literatur kecil
>
pribadi<http://groups.yahoo.com/group/pluralitas-icrp/message/5028>yang
> saya lakukan tentang poligami telah beredar cukup
> luas di kalangan
> pengguna internet. Dari studi ini, saya ingin
> menunjukan bahwa poligami
> banyak membawa dampak negatif  baik bagi individu
> pelaku, keluarga korban
> poligami, maupun sosial kemasyarakatan.
> 
> Lebih jauh, studi ini juga membantah anggapan dan
> argumen para pendukung
> poligami bahwa poligami adalah substitute atau
> alternatif dari zinah. Sebab
> data dan fakta yang ada membuktikan bahwa poligami
> bersifat komplementer
> atau pelengkap - bukan substitute atau alternatif -
> dari perbuatan zinah.
> Orang yang berpoligami biasanya juga suka berzinah.
> 
> .............................
> 
> Namun, dari berbagai studi yang ada, terdapat satu
> aliran dalam literatur
> yang menyatakan bahwa poligami bisa berdampak
> positif. Celakanya, literatur
> ini ternyata bersumber dari ilmu ekonomi, satu
> bidang keilmuan yang saya
> tekuni. Bahkan tidak kepalang tanggung, ekonom yang
> membela poligami dan
> mengatakannya sebagai berdampak positif adalah Gary
> S. Becker (A Treatise on
> the Family, 1991), seorang yang pernah memenangi
> hadial Nobel dari
> Universitas Chicago.
> 
> Selanjutnya baca di
>
sini<http://mimodjo.blogspot.com/2006/12/poligami-dari-tinjauan-ekonomi.html>
> .
> 
> Salam,
> -- 
> http://mimodjo.blogspot.com
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 


Bila lidah kelu, tulisan menjadi perlu
Pena lebih tajam dari pedang
Tinta seorang  berilmu lebih mulia dari darah seorang syahid


  pustaka tani 
  nuraulia


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke