Mang Ucup, kalau mau di FW kan mohon diperbaiki sedikit. Punakawan yang
kedua (di naskah disebut urutan ketiga) bukan Nakulo tapi Nala Gareng atau
sering disingkat Gareng. Jadi ya cocok dengan urutan "fatruk ma bagho nala
samirina". nala di sini bukan Nakula atau Nakulo tetapi Nalagareng.
Dasar cerita yang dipakai adalah Mahabharata dan Ramayana yang berasal dari
India tetapi penceritaan dalam wayang kulit di Indonesia nampaknya sudah
diadaptasikan untuk kepentingan dakwah agama Islam di masa awal
penyebarannya. Tokoh Punakawan memang kreasi asli Indonesia karena tidak ada
dalam cerita aslinya. Mungkin memang sengaja diselipkan sebagai bagian dari
pendidikan, dakwah dan penyampaian pesan-pesan khusus.
KM

 
-------Original Message-------
 
From: [email protected]
Date: 12/24/06 15:10:10
To: [email protected]
Subject: [ppiindia] Re: Duniaku, Dunia Wayang
 
Yth sdr Alliem
Satu tulisan yang bagus dari sdr Alliem, oleh sebab itu dengan ini 
mang Ucup mohon ijin untuk men-fwd tulisan ini kepada rekan2 lainnya
salam persahabatan dengan tabik jabat tangan erat
Mang Ucup

--- In [email protected], muhammad muallim <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Duniaku, Dunia Wayang
> Oleh : Mochammad Moealliem
> 
> Petruk, Bagong, Nakulo, Semar dan nama-nama tokoh khayalan yang 
lain, yang tak pernah penulis paham ketika sang dalang menggerak-
gerikkan lempengan kulit yang dibentuk gambar manusia dari berbagai 
macam bentuk, sambil berbicara sendirian sang dalang terus 
berdialog dengan dirinya sendiri, kadang dia bersuara lembut dan 
sopan, kadang juga bersuara lantang dan kasar, kadang dia juga 
mengeluarkan kata-kata mutiara, kadang juga membikin humor, dan 
humor inilah hal yang sangat mudah difahami oleh semua orang, 
termasuk saya ikut tertawa ketika "dagelan" sudah dimulai.
> 
> Penulis pernah mendengar, ungkapan dalam bahasa arab, "fatruk ma 
bagho nala samirina, " hampir mirip dengan tokoh wayang yang saya 
sebut diatas, petruk, bagong, nakulo, dan semar. Ketika hal itu 
diterjemahkan menjadi "tinggalkan sesuatu yang durhaka maka engkau 
akan mendapatkan kawan yang baik". Secara pasti penulis kurang tahu 
tentang wayang dan sejarah munculnya, namun setidaknya penulis 
mengenal beberapa tokoh wayang, Petruk misalnya, dalam masa awal 
saya belajar bahasa arab, ada gambar petruk, hidungnya panjang tapi 
tidak terus memanjang seperti hidung pinokio, lencir kuru, rambutnya 
seperti antena radio. Juga semar orangnya gede, wajahnya menghadap 
keatas namun tangannya menunjuk-nunjuk tanah, dan tangan yang 
satunya ditaruh diatas punggung, cara berjalannya agak jongkok 
seperti ibu-ibu jawa yang sedang menyapu halaman rumahnya.
> 
> Permulaan pementasan wayang dimulai dengan gunung yang 
berterbangan begitu pula penutupannya, hampir mirip dengan konsep 
awal alam semesta yang terjadi setelah ledakan besar, terkenal 
dengan big bang, menurut para ahli sains, yang pada akhirnya 
mengakui bahwa alam raya benar-benar diciptakan oleh Allah tuhan 
semesta alam. Begitu pula nanti penutupan alam semesta gunung-gunung 
pun berterbangan "Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang 
dihambur-hamburkan" QS : Al Qoriah (101) : 5.
> 
> Layar wayang terdiri dari dua sisi, kanan dan kiri, setiap sisi 
akan diisi oleh wayang yang besar sampai kecil, semuanya adalah mati 
dan tak berguna sebelum sang dalang menggerakkannya, serta mengisi 
suara untuk wayang itu hingga seolah wayang itu itu hidup dan bisa 
berbicara, setiap rupa wayang konon merupakan bentuk cerminan 
manusia, dan setiap wayang punya sifat sendiri-sendiri, serta sikap 
sendiri-sendiri, ada yang baik ada juga yang jahat jumlah dua kubu 
itu seimbang, namun yang akan berperang dimedan laga hanyalah wayang-
wayang pilihan yang telah dipilih oleh sang dalang dan ditaruh 
dikotak yang dekat dengan dalang.
> 
> Setiap wayang yang perang punya senjata khusus, baik dipihak 
yang benar maupun pihak yang salah, mereka sama-sama punya aji-aji, 
sama-sama punya pendukung, namun keputusan siapakah yang menjadi 
pemenang itu hak sang dalang. 
> 
> Jika anda jadi penonton sinetron biasanya anda dikerjai sama 
sutradara, biasanya ada tokoh yang sangat menjengkelkan dan nggak 
mati-mati, begitu pula sang dalang, sudah tahu wayang yang jahat 
namun kok nggak kalah-kalah, jadi teringat sejarah abu lahab yang 
jahat terhadap nabi Muhammad, kok nggak mati-mati, eh ternyata hidup 
dan mati ada ditangan sang dalang.
> 
> Pernahkah anda menjumpai dalang yang ngantuk? Tentu tidak, 
sepanjang malam itu dalang tidak akan ngantuk, tidak akan lelah 
bicara sendiri, tidak akan lelah bermain wayang dan mengisi suara-
suaranya, bahkan suara perempuan, apa yang terjadi ketika dalang 
tiba-tiba pengen ketoilet, bisa jadi wayangnya kocar-kacir. Begitu 
pula Allah yang mengatur alam raya ini tak pernah ngantuk, yang maha 
kuat dan tak akan pernah lelah, yang tak akan lelah mementaskan 
kehidupan ini sampai kapan saja Dia mau.
> 
> Dalang dalam perwayangan hanya bisa menggerakan dua wayang dan 
bicaranya bergantian tak akan bersamaan. Dalang dalam perfileman 
bisa menggerakkan ratusan bahkan ribuan orang dengan suaranya masing-
masing dan bisa berbicara secara bersamaan. Dalang dalang 
pemerintahan bisa menggerakkan jutaan mahluk hidup bahkan bisa 
menggerakan ekonomi, Dalang dalam kehidupan dapat menggerakkan 
segala alam raya, manusia, hewan, serta mengisi suara mereka secara 
bersamaan, menggerakkan mereka, Dialah Allah dalang dari segala 
sesuatu.
> 
> Pernahkah wayang merasa dirinya digerakkan sang dalang? Tahukah 
anda kenapa bumi tidak berapa diposisi merkurius? Atau menggantikan 
posisi pluto yang kini diusir dari planet galaksi bima sakti? Jika 
bumi dipindah diposisi merkurius tentu akan menjadi lava pijar 
karena terlalu dekat dengan matahari, yang tak akan bisa di huni 
oleh segala macam makhluk hidup, begitu pula jika dipindah diposisi 
pluto tentu akan beku.
> 
> Kita ibarat wayang yang berjajar rapi didua sisi layar 
pewayangan yang akan bergerak dan kembali diam sesuai keinginan sang 
dalang, namun kita bukanlah wayang kulit, kita adalah wayang 
peradaban, kita dibekali akal pikiran agar tidak seperti wayang 
kulit yang digerakkan manusia dalang. Dalang kita adalah Maha 
Dalang, dan kita menjadi maha wayang, jika manusia-dalang hanya 
mampu menjadi dalang semalam suntuk, namun Allah menjadi dalang 
sepanjang masa. Jika wayang kulit bisa berfikir tentu akan ikut 
membaca tulisan saya ini he he he.
> 
> Ingatlah bahwa wayang tak akan mampu melawan dalang, sebesar 
apapun bentuk wayang, atau sekuat apapun gatotkaca, begitu pula 
aktor tak akan mampu melawan sutradara, bahkan melanggar aturan 
sutradara bisa kena sangsi dan tidak diberi gaji, begitu pula 
melawan Allah bisa mendapat sangsi abadi. Marilah kita berbuat baik 
yang sepenuhnya, jangan hanya untuk memburu nafsu duniawi semata. 
Bukankah Allah sang maha sutradara sangat adil, kaya dan bijaksana, 
jika kita ikuti aturannya tentunya Dia menepati janjinya.
> 
> Alliem,
> Sabtu, 23 Desember 2006
> Berusaha menjadi wayang yang dekat dengan dalang
> 
> 
> ----====o0o===----
> Kunjungi
> http://www.muallim.tk
> Kritikmu harapanku
> 
> Ngobrol bareng aku, silahkan gabung di
> http://tech.groups.yahoo.com/group/kang_guru/ 
> Bersama menuju bahagia
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail.yahoo.com 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


 
 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke