Pencemaran Udara Turunkan Kualitas Otak Anak dan Dewasa
   
  Oleh: Muliarta dari Stuttgart
   
  Organisasi PBB di Bidang Kesehatan mengungkap hampir delapan ratus ribu warga 
dunia tewas karena pencemaran udara. Dari jumlah itu, lima ratus ribu lebih 
yang meninggal berasal dari negara – negara Asia. Lalu bagaimana di Indonesia?
   
  Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan Semarang tak lagi jadi 
tempat sehat untuk membesarkan anak Anda. Sebabnya, pencemaran udara. Di 
Indonesia, masalah ini memang belum ditangani secara baik. Data Badan 
Perencanaan Pembangunan Nasional Bappenas yang baru dirilis menyebutkan, 
berbagai kasus penyakit, seperti jantung, infeksi saluran pernapasan, asma dan 
angka kematian bayi ikut meningkat karena pencemaran udara. 
   
  Macam pencemaran udara ini beragam. Mulai dari polusi kendaraan, asap buangan 
pabrik, asap rokok sampai kabut asap akibat pembakaran hutan di Sumatera dan 
Kalimantan beberapa waktu lalu. Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan 
Surabaya mencatat angka pencemaran udara tertinggi akibat polusi asap kendaraan 
bermotor. 
   
  Pemerintah Kurang Serius
   
  Pemerintah pusat dan daerah dinilai tak serius mengatasi masalah pencemaran 
udara. Kepala Sub Direktorat Pengelolaan Lingkungan Hidup, Badan Perencanaan 
Pembangunan Nasional Medrilzam. Tahun 1998, di Jakarta tercatat tiga ribu lebih 
angka kematian anak.
   
  ”Di Indonesia sendiri memang bisa dibilang kalau kita belum mencatat langsung 
berapa korban meninggal akibat kasus pencemaran udara. Tapi penyakit terkait 
pencemaran udara merupakan penyakit yang tertinggi. Kasusnya hampir terjadi di 
kota-kota besar di Indonesia. Jadi 45 – 50 persen itu penyakit yang berhubungan 
dengan pencemaran udara. Jadi ISPA penyakit saluran pernapasan atas rangenya 
tertinggi.”
   
  Medrilzam menambahkan, pencemaran udara seperti asap buang kendaraan, bisa 
menurunkan kualitas otak atau IQ anak-anak. 
   
  Kritik WHO
   
  Organisasi Kesehatan Dunia WHO sempat meminta pemerintah di negara-negara 
Asia berusaha keras mewujudkan udara bersih. Penasihat Regional Asia WHO bidang 
lingkungan hidup dan kesehatan Michael Krzyzanowski mengatakan, setiap tahun 
hampir 500 ribu warga di Asia meninggal akibat penyakit yang disebabkan 
pencemaran udara. 
  Lepas dari laporan WHO, pemerintah terus berupaya mengurangi pencemaran 
udara. Misalnya, dengan mengembangkan bahan bakar bio energi untuk menggantikan 
peran bahan bakar fosil seperti bensin. Tak lama, Pemerintah Provinsi DKI 
Jakarta pun menerbitkan Perda Pengendalian Pencemaran Udara. Setelah Pemda DKI, 
giliran pemerintah pusat yang akan merumuskan pengendalian pencemaran udara 
menjadi Undang-Undang. Asisten Deputi Urusan Emisi Kendaraan Menteri Negara 
Lingkungan Hidup Ridwan D. Tamin. 
   
  "Kalau kita tidak tanggung-tangung, tahun depan kita akan mengajukan dan 
sudah disampaikan juga ke BAQ kita langsung aja keluarkan kalau udara perlu ada 
Undang-undangnya. Kenapa ? karena udara sumbernya ada dari Industri, mobil, ada 
dari asap, kebakaran hutan, kulkas. Ini banyak sekali pemain atau pelaku-pelaku 
dilapangan. Tidak seperti negara lain seperti Philipina dan Amerika Serikat. 
Dia sudah ada undang-undang soal udara. PP kita aja tidak kuat untuk menangani 
itu."
   
  Upaya Pemerintah
   
  Di Jakarta, Pemerintah Provinsi masih kebingungan mengatasi masalah 
pencemaran udara. Padahal sejumlah larangan dibuat untuk mengendalikan 
pencemaran udara di Jakarta. Kasubdit Pengendalian Pencemaran Udara Jakarta 
Yosiono Supalal mengatakan, pengendalian pencemaran udara di Jakarta butuh 
waktu lama. 
   
  "Dalam arti untuk bisa menerapkan perda seratus persen dalam waktu yang 
singkat cukup berat. Tapi kalau melihatnya dalam rentang waktu satu tahun 
kemudian kita lihat evaluasinya dalam waktu lima tahun itu akan bisa kelihatan 
bagaimana trend yang sudah dilakukan karena udara bukan hal yang bisa terlihat 
dalam jangka pendek seperti banjir." 
   
  Di antara aturan-aturan yang sudah dibuat pemerintah, pemerintah Jakarta 
sudah menetapkan kawasan bebas rokok dan uji emisi kendaraan. Namun pembatasan 
jumlah kendaraan belum bisa dilaksanakan di Jakarta. Kata Yosiono, sulit 
mengubah kebiasaan warga untuk mengikuti ketentuan dalam Peraturan Daerah 
tentang Pengendalian Pencemaran Udara. 
   
  Harus Konsisten
   
  Sejumlah LSM menilai, pemerintah pusat dan daerah tidak konsisten menangani 
masalah pencemaran udara. Pemerintah DKI Jakarta misalnya, kerap mengeluarkan 
sejumlah peraturan yang justru saling bertentangan. Sekjen Kaukus Lingkungan 
Hidup Jakarta Dede Nurdin Sadat mengatakan, pemerintah harusnya membatasi 
jumlah kendaraan bermotor, bukan menebang kawasan hijau untuk memperlebar jalan 
di Jakarta. Pemerintah juga dinilai gagal mengajak masyarakat untuk 
mengendalikan pencemaran udara. 
   
  "Ini terkait dengan masalah konsistensi. Pengendalian pencemaran polusi 
kendaraan bermotor misalnya. Itu bisa dibarengi dengan publik transport. Dalam 
kenyataannya pelaksanaan tidak konsisten bahkan diselengi kebijakan-kebijakan 
yang kontra produksif."
   
  Teknologi untuk Mendeteksi Polusi
   
  Untuk mengatasi pencemaran udara, dibutuhkan alat khusus pemantau kadar 
polusi. Namun alat untuk pengukuran itu justru diperoleh dengan cara berhutang. 
Artinya menurut, Firdaus Cahyo dari Wahana Lingkungan Hidup Jakarta, program 
pengendalian udara bersifat elitis minim pemberdayaan masyarakat. Firdaus 
mengatakannya saat Lokakarya Internasional Better Air Quality 2006 di 
Yogyakarta pekan lalu. 
   
  "Yang disinyalir oleh teman-teman Walhi bahwa pertemuan sangat kentara 
sekali. Bahwa dalam pembukan jelas sekali kalau menteri negara lingkungan hidup 
dalam opening speech-nya mengatakan dia seakan-akan meminta dana dari world 
bank untuk mengatasi polusi udara di Indonesia. Kemudian pada saat plenary nya 
itu ada slot yang dikasikan bappenas untuk mempromosikan proyek urban air 
quality yang akan didanai oleh dana utang ADB."
   
  Kini kesehatan warga terus dipertaruhkan dengan pencemaran udara. Sementara 
protes mengenai buruknya penanganan pengendalian pencemaran udara pun 
berlangsung di Jakarta dan Yogyakarta, setelah Gubernur DKI Sutiyoso 
dianugrahkan penghargaan Pengendalian Kualitas Udara lewat proyek busway 
berbahan bakar gas.
   

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke