Surat Kembang Kemuning:
   
   
  POTENSI YANG TERCECER
   
   
   
  Beberapa hari lalu, seorang teman dekatku berangkat ke Swedia untuk mewakili 
kami dalam upacara pemakaman, Bu Endang,  seorang teman perempuan kami yang 
meninggal di pengasingan. Sekembalinya ke Paris, ia menuliskan laporan untuk 
semua teman-teman di Paris yang di atasnamainya. 
   
   
  Dari laporan teman dekatkku ini, ada dua hal yang menarik dan menyentuh 
hatiku. 
   
   
  Pertama, bahwa peti jenazah mantan pimpinan SOBSI yang dinyatakan terlarang 
oleh Orde Baru Soeharto,  diselimuti dengan bendera Merah Putih serta di lobang 
kuburan ditabur marah merah dan putih juga. Kembang mawar adalah lambang 
kasihsayang dan Sang Saka mengisyaratkan hati dan kasihsayang perempuan itu, 
sekali pun meninggal di rantau orang, masih untuk Indonesia, sebagai salah satu 
tempatnya menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi kemanusiaan, memanusiawikan 
manusia, kehidupan dan masyarakat, terutama kaum buruh negerinya. Bendera Merah 
Putih yang menelimuti peti jenazahnya adalah kata-kata tak diucapkan, adalah 
suatu garis bawah atau huruf-huruf tebal: Aku masih Indonesia dan cintaku pada 
Indonesia tak goyah hingga akhir hayat. Juga sebagai gugatan bagi yang 
meremehkan cintanya serta membuangnya dari negeri kelahiran. Padahal tanahair 
bukanlah monopoli. Padahal tanahair bernama Indonesia, nama dari sebuah negeri 
di mana selayaknya bunga mekar bersama seribu aliran
 bersaing suara, dan mengambil bentuk republik -- rumusan dari serangkaian 
nilai. Sepanjang pemakamannya, lagu-lagu Indonesia, ya, lagu-lagu Indonesia,    
yang mencerminkan semangat ini menyertainya sampai peti jenazah tertimbun tanah 
sepenuhnya.  Aku jadi teringat bait-bait penyair HR. Bandaharo:
   
   
  "ada cacat yang tak bisa hilang
  dan itu adalah cinta
  ada luka yang tak bisa sembuh
  dan itu adalah rindu"
   
   
  atau kata-kata alm. penyair Agam Wispi: 
   
   
  "pita merah dan matahari
  cinta berdarah sampai mati"
   
   
  Bendera merah putih menyelimuti  peti jenazah serta mawar merah dan putih 
yang ditabur mengiringi peti jenazah di lobang kuburan, kupahami sebagai 
petunjuk almarhum bahwa ia sudah sebisanya menunaikan janji seperti yang 
diungkapkan dalam lagu "Padamu Negeri".
   
   
  Hal kedua, yang muncul dalam benakku ketika membaca laporan teman dekatku 
itu, adalah cerita bahwa yang menterjemahkan semua pidato belasungkawa dan 
perpisahan dari bahasa Indonesia ke Swedia dan sebaliknya, tidak lain dari 
seorang anak asal Indonesia yang lahir dari orangtua yang terhalang pulang 
setelah terjadinya Tragedi September 1965.  Kalau keterangan yang kuterima 
benar, di Swedia, memang belajar bahasa ibu dibantu dan didorong oleh 
pemerintah. Bahkan disubsidi sehingga anak-anak itu tetap bisa berbahasa 
ibunya. Dan ini oleh pemerintah Swedia dipandang sebagai hal menguntungkan 
Swedia sendiri. Dengan demikian Swedia punya tenaga-tenaga yang menguasai 
bahasa-bahasa asing lainnya. Hal serupa, kudapatkan juga ketika aku berada 
Republik Rakyat Tiongkok [RRT].  Pemerintah RRT bahkan mendirikan sebuah 
universitas untuk bangsa-bangsa minoritas di Beijing. Dan ketika aku ke 
Tiongkok Timur Laut, ke daerah-daerah yang dihuni oleh bangsa [etnik] Korea, 
aku saksikan budaya,
 termasuk bahasa Korea dipelihara serta dikembangkan benar.  RRT pun tidak 
merasa dirugikan apalagi merasa terancam. Justru beruntung karena paling tidak 
mereka sudah punya barisan besar penterjemah bahasa Korea. Keragaman etnik dan 
asal bangsa dipandang sebagai suatu kekayaan dan rahmat.   
   
   
  Bahkan ketika hubungan diplomatik RRT-RI beku menyusul Tragedi September 
1965, pengajaran bahasa Indonesia di berbagai universitas di RRT tetap 
dilanjutkan sehingga ketika hubungan diplomatik kedua negeri dicairkan, RRT 
tidak gelagapan mencari penterjemah.  Tidak pula asing dari keadaan serta 
perkembangan Indonesia di berbagai sektor. 
   
   
  Berbeda dengan keadaan Indonesia. Menyusul Tragedi September 1965, bahasa 
Tionghoa dan penerbitan-penerbitan berbahasa Tionghoa dilarang. Politik 
kebudayaan yang sesungguhnya merugikan Indonesia sendiri. Walau pun kekeliruan 
ini mulai dikoreksi dan ketinggalan mulai dikejar. 
   
   
  Kasus anak dari keluarga Indonesia yang terhalang pulang di Swedia yang mampu 
dengan baik melakukan penterjemahan dari bahasa Indonesia ke Swedia dan 
sebaliknya, aku kira bagi Indonesia merupakan suatu potensi. Potensi ini 
sebenarnya sangat besar. Karena keluarga Indonesia yang terhalang pulang itu 
terpencar di berbagai negeri dan benua. Dan tentu saja mereka, terutama 
anak-anak mereka menguasai baik bahasa-bahasa negeri di mana mereka lahir dan 
tinggal. Dalam pikiranku terlintas suatu andaian: Mengapa tidak dan apa ruginya 
jika pemerintah Republik Indonesia, mencoba menarik mereka pulang untuk bekerja 
bagi Indonesia. Atau paling tidak memanfaatkan tenaga mereka di KBRI-KBRI? 
   
   
  Berdasarkan penglihatanku, misalnya, untuk  mengambil satu contoh saja: Waktu 
defile busana Indonesia yang diselenggarakan oleh organisasi profesional Wayang 
Lali di Koperasi Restoran Indonesia tahun lalu, kudapatkan para 
peragawati/wannya adalah anak-anak dari orangtua campuran: Indonesia-Perancis.  
Melalui percakapan dengan mereka kuketahui mereka ingin mengenal lebih jauh 
Indonesia dan mencintai Indonesia, sama cintanya dengan terhadap Perancis.  
Artinya mengefektifkan potensi ini dan jumlahnya tidak sedikit, bukan sesuatu 
yang ilusi. Barangkali, jika tak ada usaha menarik mereka dan menggunakan 
tenaga mereka, justru suatu kerugian bagi Indonesia, dan tenaga serta kemampuan 
mereka dimanfaatkan oleh negeri lain.  Pemanfaatan oleh negeri-negeri lain ini 
memang sudah berlangsung. Misalnya ahli kanker tingkat dunia asal Indonesia 
[mahasiswa-mahasiswa yang dikirim oleh pemerintah Soekarno dulu], digunakan 
oleh Amerika Serikat dan Jerman. Sedangkan ahli atom asal Indonesia
 dimanfaatkan oleh pemerintah Hongaria. Entah siapa sekarang yang memanfaatkan 
ahli ruang angkasa, juga asal Indonesia, yang turut memungkinkan Soyuz 
mengorbit. Belum terhitung tenaga-tenaga dokter, insinyur berbagai bidang [asal 
mahasiswa-mahasiswa yang dikirim pemerintah Soekarno], ilmuwan-ilmuwan sosial, 
misalnya Sophian Waluyo alm. yang menjadi orang pertama pendidikan di Swedia,  
yang bertebaran di berbagai negeri dan digunakan oleh negeri-negeri lain.  Alm. 
Sophian Waluyo, asal Taman Siswa Yogyakarta, akhirnya berkeliling dunia, 
mewakili Swedia.  Padahal mendidik tenaga-tenaga begini bukanlah dengan biaya 
murah. Tenaga-tenaga begini yang tidak dimanfaatkan oleh Indonesia yang 
kumaksudkan sebagai tenaga-tenaga tercecer. Untuk menarik tenaga-tenaga ahli 
begini, pemerintah Perancis menterapkan politik imigrasi yang disebut oleh 
menteri dalam negeri [salah satu kandidat presiden Perancis, 2007] sebagai 
"politik imigrasi selektif". Jika melihat nama-nama besar bahkan ada
 yang dimakamkan di Pantheon -- makam putera-puteri terbaik Perancis -- tidak 
sedikit yang berasal dari kaum imigran. Sementara itu "tenaga-tenaga tercecer" 
asal Indonesia adalah tenaga-tenaga yang dicecerkan sendiri oleh Indonesia. 
Barangkali, tenaga-tenaga tercecer begini, termasuk para ahli yang meninggalkan 
Indonesia bekerja di negeri lain karena kurang mendapat penghargaan di  negeri 
sendiri. 
   
   
  Keadaan begini, mengingatkan aku akan dialogku dengan seorang Indonesia asal 
etnik Tionghoa dalam penerbangan dari Singapura ke Jakarta: "Perkara cinta 
tanahair kita boleh bersaing. Saban akhir pekan aku selalu kembali ke Indonesia 
dan bukan ke negeri lain, karena cintaku pada Indonesia. Tapi malangnya 
pemerintah Indonesia tidak menciptakan syarat agar cinta ini dimanfaatkan dan 
dikerahkan".
   
   
  Adanya tenaga-tenaga tercecer, adalah lukisan negeri kita hari ini, tapi juga 
sekaligus menunjukkan bahwa sebenarnya bangsa kita mempunyai potensi dan 
kemungkinan besar. Adanya tenaga-tenaga tercecer ini seperti kata Shakespeare 
dalam karyanya Hamlet, "there is something wrong in the state of Denmark". Dan 
Denmark dalam kontek ini adalah Indonesia. ***
   
   
  Paris, Januari 2007.
  ---------------------------
  JJ. Kusni

 Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke