Bung yayat, ini ada tambahannya, tentang "Carmen" dalam tanbggapan Bung danardono.
Anda perhatikan bagaimana Raja Kerajaan Arab Saudi berpakaian? Penuh dengan regalia yang gemerlapan, bukan? Itu juga sebuah sensualitas yang tinggi! Banyak deh contoh yang Anda bisa cari sendiri. Inilah tanggapan Bung danaredono itu: Re: Tentang Sensualitas Sebuah tulisan yang sangat dalam. Terutama bagi kita semua, yang biasa menikmati karya seni dunia, apakah seni drama, senisuara, senirupa maupun senilukis. Saya ingat kisah "Carmen", yang cukup sensual. Dan banyak lagi kisah lainnya. Sebuah seni panggung yang tak diperdebatkan lagi mutu seninya. Namun, dalam masyarakat yang tak mampu membedakan "sensual" dengan "jorok", maka sulitlah. Yang ada hanyalah hitam putih. Tambahan lagi, bila mereka yang dipercayakan oleh rakyat untuk merumuskan undang undang sendiri, tzak terlalau menguasai bahasa, misalnya menyangka bahwa "sexual" adalah kata benda, padahal kata sifat. Fantasi yang mengawang ngawang, dimotori oleh imaginasi kotor, menjadi motivasi utama untuk "membersihkan" masyarakat dari pornografi. Dimana wanita dengan segala bagian tubuhnya dicap sebagai asalmuasal segala kemaksiatan. Lupa, bahwa kemaksiatan berawalmula dikepala para pria.. Salam danardono --- In [email protected], yayat cipasang <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Ikra, saya pertama kali melihat Bapak saat saya kuliah di IPB sekitar tahun 1992 (kalau tidak salah) saat itu Bapak bersama Bapak Taufik Ismail menggalang dana untuk Bosnia. > > Pak Ikra, izinkan saya juga mengutif definisi yang bapak kemukakan untuk artikel saya mengenai perbedaan antara seksualitas dan sensualitas. Saya mau bikin artikel yang mengupas tentang pornografi. > > Salam > > Yayat R Cipasang > http://yayat-cipasang.blogspot.com > > > > Ikranagara <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Waduh, Mas, Mas Robertus ini keterlaluan deh! Mosok nama Taufiq > Ismail sang penyair kondang kita itu tidak dikenal? Nama Taufiq > dalam kazanah literatur dunia selalu ditonjolkan kalau yang dibahas > itu adalah sejarah sastra Indonesia. Ya, dia sudah masuk ke dalam > buku sejarah sastra kita. > > Puisi-puisi perlawanannya terhadap kekuasaan otoriter sangat > terkenal, sejajar dengan nama Rendra. Tapi puisi-puisinya memang > lebih halus dibandingkan dengan Rendra. Dia muncul sejak penumbangan > Sukarno, lalu disusul perlawanannya terhadap Suharto, dan akhirnya > tampil dalam puisi-puisi mendukung gerakan kemerdekaan kreatif dalam > Reformasi menumbangkan Suharto. > > Kalau dia diceritakan meneteskan air mata ketika sedih dalam membaca > puisi, atau bicara di depan umum tentang hal yang memilukan menurut > ukuran dia, itu sih sudah biasa. Dia mengaku sebagai manusia > tergolong "gembeng" dengan tanpa malu-malu sebagai lelaki lho! > > Itu Taufiq sebagai penyair! > > Tapi sebagai pemikir, atau penulis essai, bukan puisi, dia memang > kurang pengetahuannya tentang estetika, bahkan memang kurang kuat > logikanya, suka main lompat-lompat seenaknya, seperti yang Anda > temukan dalam essainya yang dibacakan di almamaternya itu. Ya, dia > sebenarnya Dokter Hewan lulusan IPB, tapi mungkin itu sekedar > menyenang-nyenangkan orang tua yang membiayai studinya sampai lulus. > Tapi dia sejatinya adalah seorang seniman, dalam hal ini penyair, > yang berhasil mencapai kwalitas perpusian yang diakui dunia, bukan > hanya untuk ukuran Indonesia saja lho! > > Dan ideologinya memang berdasarkan Islam Sunni atau mungkin aliran > Wahabi itu. Mungkin! Itu kalau kita baca antara lain essainya ini. > > Saya tidak banyak berharap jika dia bicara soal pornografi. Baca > saja kembali, apakah ada definisinya tentang apa itu pornografi? > Semua seniman, termasuk saya, menolak pornografi, karena jenis karya > ini bukan karya seni. Tapi ada yang disebut "sensualitas" dan ini > adalah sah sebagai bagian dalam karya seni. > > Sensualitas itu di negeri kita memang seringkali dikacaukan dengan > istilah "sexualitas." Sensualitas tidak selamanya ada kaitan dengan > sex, meskipun kadangkala ada juga, sebab sex bisa merangsang rasa > indah, dan bukan merangsang nafsu syahwat. Misalnya saja ungkapan > puitis dalam puisi-puisi Taufiq yang menampilkan imaji visual itu > merangsang rasa keindahan dalam diri kita, itu sudah bisa disebut > unsur sensualitas dalam karyanya itu. Tapi mungkin dia menolak > kesimpilan ini, karena tidak bisa membedakan antara sensualitas dan > seksualitas itu tadi. > > Nah, di dalam UU APP itu juga sama seperti itu, artinya ada > kerancuan antara unsur sensualitas dalam seni dengan unsur > seksualitas dalam pornografi. Unsur sensualitas itu unsur rasa di > dalam kesenian, justeru untuk mengimbangi unsur kritis/intelektual > di dalamnya -- sebab karya seni yang bermutu sepanjang zaman itu > mengandung paduan yang baik antara kedua unsur ini dalam kaca mata > estetika. > > Memang, saya tidak yakin Taufiq Ismail faham soal-soal ini. Atau, > mungkin dia faham, tetapi sengaja mengacaukannya, demi aliran > relijius yang dianutnya tadi itu. Artinya, tidak semua Ummat Islam > setuju dengan faham keagamaan yang dia anut itu. > > Dan karenanya menurut saya Taufiq ismail lupa atau pura-pura tidak > ingat adagium dalam ajaran Islam sendiri: Laa ikranaha fid-dien > (Tidak ada paksaan dalam menjalankan agama.) Juga yang ini: Tidak > ada agama bagi yang tidak menggunakan fikirannya. > > Ikra.- > > --- In [email protected], Robertus Budiarto > <budiartobobby@> wrote: > > > > Taufiq ini siapa sih? Kakaknya Nizami Boy? he.he.he.. > > > > Yang jelas rada-rada.. la wong orang nggak setuju RUU Porno kok > langsung dituduh tidak mau melindungi anak cucu... weleh- weleh.. > Dia pikir yang waras hanya dia seorang.. mana ada orang tak mau > melindungi anak cucunya... > > > > Tulisan gaya ad Hominem, menyerang pribadi ini sih persis gaya > Orde Baru... kalau kalah omong mereka langsung nyerang orang Islam > sebagai Islam Fundamentalis... persis deh kaya Suharto, si Taufiq > ini.. > > > > he.he.he.. kalau sastrawannya aja kaya gini, pantes aja > negaranya kagak karuan..he.he.he.. > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > ----- Original Message ---- > > From: aris solikhah <fm_solihah@> > > To: [email protected] > > Cc: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; > [EMAIL PROTECTED]; [email protected] > > Sent: Tuesday, January 9, 2007 2:56:43 PM > > Subject: [ppiindia] Perlawanan Sastra Taufiq Ismail > > > > Dear All, > > > > Hari ini, Taufiq Ismail berbicara dihadapan > > dosen-dosen se-IPB. Makalah yang beliau baca sama > > dengan pidato di Taman Ismail Marzuki 15 Desember > > 2006, yaitu berjudul : ‘Budaya Malu dikikis > > Gerakan Syahwat Merdeka’ . > > > > Di Recent Activity > > 13New Members > > Visit Your Group > > SPONSORED LINKS > > Indonesia > > Cultural diversity > > God bless > > Indonesian languages > > Indonesian language course > > Search Ads > > Get new customers. > > List your web site > > in Yahoo! Search. > > Y! Messenger > > Group get-together > > Host a free online > > conference on IM. > > Yahoo! Mail > > Drag & drop > > With the all-new > > Yahoo! Mail Beta. > > > > > > __________________________________________________ > > Do You Yahoo!? > > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > > http://mail.yahoo.com > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > --------------------------------- > Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful email and get things done faster. > > --------------------------------- > Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited. > > [Non-text portions of this message have been removed] >

