Pa Ikra, Saya izin ikutan CP ya ^_^ (di blog saya). Secara pribadi mungkin juga saya termasuk awam dalam dunia men'sense'.
Mengenai pasir berbisik, awalnya ketika nonton film itu saya agak bingung bagian mana yang menunjukkan karya bermutu tinggi. Terus terang ketika mencermati Dian Sastro, Cristin Hakim terasa membosankan, alur dan setting tempatnya nampak monoton. Saya baru menyadari maksud film itu setelah dikunyah hingga tuntas, saat bapaknya Dian Sasto menjual putrinya. Seorang suami yang tak bertanggungjawab. Apakah faktor alur yang sulit ditebak (jlimet) dan kehalusan dalam penyampaian maksud film inikah yang menjadikan film tersebut oleh Bapak, dikatakan bermutu tinggi? Dengan definisi sensualitas bermutu tinggi seperti dibawah yang membutuhkan kehalusan dan intektualitas, Menurut tanggapan Bapak pribadi, bagaimana dengan karya "Saman' Ayu Utami yang mendapatkan berbagai penghargaan. Atau juga karya Supernova-nya De, Apakah karya tersebut terkategori sensualitas atau seksualitas? Menurut hemat saya, tulisan Taufiq Ismail juga dimaksudkan mengkritisi karya-karya penulis-penulis muda perempuan yang oleh berbagai pihak mendapat penghargaan , disisi lain begitu blak-blakan menggambarkan seksualitas. terima kasih salam, aris --- Ikranagara <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Bung yayat cipasang, dengan menggunakan kata kunci > "Ikra > sensualitas" maka di milis kita ini saya dapatkan > kembali tulisan > saya "Tentang Sensualitas" itu kembali. Inilah > tulisan itu: > > > TENTANG SENSUALITAS > catatan singkat ikranagara > > Ada tidaknya unsur sensual dalam sesuatu karya seni > tidak ada > kaitannya dengan masalah pornografi dan sex, baik > yang kadar > sensualitasnya tinggi maupun rendah. Sensualitas ini > ada kaitan > langsung dengan yang inderawi (sense=indera). Kalau > dalam film, maka > penekannya pada gambar dan warna-warninya. Misalnya > film-film > Akira Kurosawa, dia selalu menekankan kepada > gambarnya itu untuk > mencapai nilai estetika yang maksimal. Kerja kamera > dan tata > artistik, termasuk tata pakaian, asesori, handprop, > semua haruslah > indah dipandang mata. Pemilihannya atas lokasi > cerita juga > menekankan kepada sesualitas ini, sehingga formasi > awan pun haruslah > seperti yang dikehendakinya untuk adegan tertentu. > Dia bisa berjam- > jam untuk memulai berkata "Kamera!" kepada > kameramannya. Jadi, > tujuannya adalah untuk menpatkan kadar tinggi > kenikmatan yang > inderawi. Demikian juga musiknya, sangatlah cermat > pilihannya dan > penggunaannya. Dia sutradara yang cerewet dalam > hal-hal yang sensual > ini. > > Di Barat kemudian muncul sutradara Zefferelly (? > tulisannya betul > atau salah? help!) yang melahirkan film "Rome and > Juliet" yang indah > tata gambar, busana, handprops dan lokasinya itu! > > Film "The Thin Red Line" yang versi baru juga > demikian! > > Dalam film kita, yang baru, saya temukan keindahan > yang tinggi > sensualitasnya ini pada film "Pasir Berbisik" itu. > Salut! > > Tapi, kalau kita hanya menekankan kepada yang > sensual saja dalam > berkarya, maka kita akan kehilangan bobot > intelektualitasnya, > kedalaman jiwanya, dan semacamnya nanti. > > Kalau film "Romeo and Juliet" itu jelas imbangan > kadar > intelektualitasnya juga tinggi, karena ceritanya > adalah hasil karya > drama yang agung nilainya! Demikian juga > cerita-cerita dalam karya > Kurosawa, tinggi nilainya. Jadi, sensualitas > haruslah diimbangi > dengan kadar intelektualitas yang tinggi pula agar > tidak > sekedar sebuah karya yang tergolong eksotis belaka. > > Jadi, pada dasarnya tidak ada kaitannya dengan > masalah ada atau > tidaknya sex di dalam karya yang sensualitasnya > tinggi itu. > > Film "Pasir Berbisik" juga tinggi kadar > intelektualitasnya, terutama > bobot prikhologi dan aspek keterlibatan sosialnya, > selain > mentransendensikan masalah kekerasan yang menghantui > kesadaran hati > nurani kita lewat cara yang halus puitis. Ya, film > ini bagi saya > sebuah puisi naratif yang indah! > > Ada banyak karya-karya sastra yang tinggi > sensualitasnya tetapi > tidak ada sama sekali urusan sex di dalamnya, > seperti dalam karya- > karya Yasunari Kawabata, Pemenang Hadiah Nobel dari > Jepang itu. > > Jadi, secara sederhana dapatlah dikatakan bahwa > sensualitas ini > menekankan kepada "rasa", sehingga bisalah dikatakan > lawan dari kata > sensualitas adalah "intelek". Nah, di dalam karya > seni apa pun, > kedua unsur ini (sensualitas dan intelektualitas) > itu selalu ada > saling imbang mengimbangi. Unsur utama dalam > sensualitas adalah > perasaan/sentimentalitas. > > Sebagai sebuah contoh, karya seni tradisional kita > yang tinggi kadar > sensualitasnya adalah Tarian Jawa Kraton yang lembut > dan lamban > kental dengan perasaan itu. Karya musik klasik Barat > yang tinggi > nilai estetisnya dan popularitasnya yang juga tinggi > sensualitasnya > adalah "Bolero" karya Raffael. > > Di luar masalah seni, istilah ini bisa juga > digunakan, misalnya saja > untuk tata makanan. Bukankah sudah lumrah sekarang, > bahwa makanan > pun dihidangkan dengan selera seni rupa yang tinggi. > Ada patung es, > ada makanan yang disusun berdasarkan warnanya, > bentuknya, juga > hiasan-hiasan lainnya, sehingga bukan hanya > menawarkan "sedap untuk > dimakan" melainkan juga "sedap untuk dipandang," > bukan? > > Etalase toko pun dipajang dengan selera seni rupa > yang harus mampu > menawan mata! Wajah (umumnya wanita) pun ditata-rias > agar "lebih > cantik dari aselinya." > > Upacara mempersandingkan penganten pun ditata dengan > sensualitas > yang setinggi mungkin, dengan mengerahkan segala > hiasan tradisional > yang warna-warni meriah, bukan? > > Semuanya itulah ranah sensualitas. > > Twinbrook, 2006 > > > > > --- In [email protected], yayat cipasang > <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > > > Pak Ikra, saya pertama kali melihat Bapak saat > saya kuliah di > IPB sekitar tahun 1992 (kalau tidak salah) saat itu > Bapak bersama > Bapak Taufik Ismail menggalang dana untuk Bosnia. > > > > Pak Ikra, izinkan saya juga mengutif definisi > yang bapak > kemukakan untuk artikel saya mengenai perbedaan > antara seksualitas > dan sensualitas. Saya mau bikin artikel yang > mengupas tentang > pornografi. > > > > Salam > > > > Yayat R Cipasang > > http://yayat-cipasang.blogspot.com > > > > > > > > Ikranagara <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > Waduh, Mas, > Mas Robertus ini keterlaluan deh! Mosok nama Taufiq > > Ismail sang penyair kondang kita itu tidak > dikenal? Nama Taufiq > > dalam kazanah literatur dunia selalu ditonjolkan > kalau yang > dibahas > > itu adalah sejarah sastra Indonesia. Ya, dia > sudah masuk ke > dalam > > buku sejarah sastra kita. > > > > Puisi-puisi perlawanannya terhadap kekuasaan > otoriter sangat > > terkenal, sejajar dengan nama Rendra. Tapi > puisi-puisinya memang > > lebih halus dibandingkan dengan Rendra. Dia > muncul sejak > penumbangan > > Sukarno, lalu disusul perlawanannya terhadap > Suharto, dan > akhirnya > > tampil dalam puisi-puisi mendukung gerakan > kemerdekaan === message truncated === Dan cinta (mahabbah) yang kita maksud adalah keinginan untuk memberi dan tidak memiliki pamrih untuk memperoleh imbalan. Cinta bukan komoditas, tetapi sebuah kepedulian yang sangat kuat terhadap moral dan kemanusiaan (Toto Tasmara) pustaka tani nuraulia ____________________________________________________________________________________ Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small Business. http://smallbusiness.yahoo.com/r-index

