"Para ahli sejarah, penafsir Al Qur'an dan perawi terkenal sering membuat kesalahan dalam melaporkan riwayat dan peristiwa. Mereka menerima berita-berita itu sebagaimana disampaikan kepada mereka tanpa menilai mutunya. Mereka tidak memeriksa laporan tersebut dengan pokok-pokok yang mendasari situasi sejarah dan tidak juga mereka membandingkannya dengan laporan-laporan lain yang serupa. Mereka tidak mengukur laporan-laporan tersebut dengan ukuran-ukuran filsafat, dengan bantuan pengetahuan hukum alam, tidak juga dengan bantuan renungan dan wawasan sejarah. Oleh karena itu mereka tersesat dari kebenaran dan hilang dalam padang pasir perkiraan dan kesalahan-kesalahan yang tidak dapat dipertahankan."
(Ibnu Khaldun, Sosiolog dan Ekonom Islam terkemuka) At 10:31 AM 1/23/2007, you wrote: >Islam dan Mistifikasi Khilafah > >Amiruddin Sujadi >Mahasiswa Program Magister Universitas Islam Negeri >Syarif Hidayatullah Jakarta > >Tulisan Said Aqil Siradj, 'Relasi Agama dan Negara' di >Republika, Kamis (11/1/07) menarik untuk ditanggapi. >Secara umum, tulisan ini berhasil memotret gambaran >awal berdirinya negara Madinah, yang disebutnya dengan >istilah city state (negara kota), hingga menjadi >negara Islam pertama. Juga keberhasilannya dalam >membangun peradaban Islam yang utuh di tangan >Rasulullah SAW dan para sahabat yang mencitrakan Islam >sebagai rahamatan lil'alamin. Sayangnya, uraian yang >sangat bagus itu harus diakhiri dengan analisis yang >kurang pas tentang mistifikasi khilafah. > >Posisi Ibn Taimiyah >Mengenai Ibn Taimiyah (w 728 H), Said Aqil mengatakan, >bahwa beliaulah ulama yang mencuatkan frame pemikiran >fikih siyasi secara utuh dalam bukunya, As Siyasah As >Syar'iyyah. Dari paparan tersebut, kita bisa menangkap >seolah-olah Ibn Taimiyahlah orang yang pertama >membangun kerangka fikih siyasi secara utuh. Padahal, >kita tahu, banyak ulama Sunni jauh sebelum Ibn >Taimiyah telah melakukan hal yang sama, bahkan dengan >konsep yang lebih utuh ketimbang Ibn Taimiyah. Sebut >saja, Al Mawardi (w 450 H) dari Mazhab Syafii dan Al >Farra (w 458 H) dari mazhab Hambali. > >Bahkan, saya kira kedua kitab ini jauh lebih lengkap >pembahasannya ketimbang apa yang ditulis oleh Ibn >Taimiyah. Meski tak selengkap dan seutuh keduanya, >saya kira masih ada nama lain yang juga layak untuk >dikemukakan di sini, yaitu Imam Al Haramain Al Juwaini >(w 478 H) dan Sulthan Al 'Ulama', Izzuddin ibn 'Abd As >Salam (w 660 H). > >Karena itu, yang menyatakan bahwa sistem khilafah >adalah satu-satunya sistem pemerintahan Islam, dan >hukum mendirikannya adalah wajib, bukan hanya pendapat >Ibn Taimiyah. Bukan hanya itu, semua Ahlussunnah, >Syi'ah, Khawarij kecuali sekte An Najadat dan >Muktazilah kecuali sekte Al Asham dan Al Fuwathi >sepakat, bahwa adanya imam dan imamah adalah wajib. > >Wajar saja, jika kemudian Al Qalqasyandi (1964: I: 2) >mengatakan, "Khilafah adalah pangkalan dan mainstream >Islam." Al-Ghazali (w 505 H) dalam Al-Iqtishad fi >Al-I'tiqad, membuat perumpamaan yang sangat tepat, >bahwa Islam dan khilafah itu ibarat pondasi dan >penjaga. Tanpa pondasi, sebuah bangunan akan runtuh, >dan tanpa penjaga bangunan itu pun akan hilang. Karena >itu kemudian eksistensi hukumnya disepakati oleh para >ulama kaum Muslim sebagai perkara yang urgensinya >telah dimaklumi di dalam Islam. > >Pertanyaannya kemudian adalah, benarkan karena >hubungan yang sedemikian kuat antara Islam dan negara >itu kemudian memunculkan pen-taqdis-an negara, atau >dalam istilah Said Aqil disebut mistifikasi negara? >Saya kira, kesimpulan ini terlalu menyederhanakan >persoalan. > >Jika para ulama mengatakan, bahwa mendirikan khilafah >hukumnya wajib, tentu tidak bisa dikatakan, bahwa ini >merupakan bentuk pen-taqdis-an negara. Sebagaimana >kalau kita mengatakan, shalat hukumnya wajib, juga >tidak bisa dikatakan men-taqdis-kan shalat, >semata-mata karena kita mengatakan shalat hukumnya >wajib dan karenanya wajib ditegakkan. Sebab, baik >shalat maupun khilafah, hukumnya memang sama-sama >wajib bagi kaum Muslim. > >Lebih transparan >Konon karena mistifikasi ini, sistem khilafah akan >kehilangan transparansi menajemen pemerintahannya, dan >bahkan konon akan membelenggu kreasi dan ekspresi >rakyatnya. Kesimpulan seperti ini, selain mungkin >dipengaruhi oleh penyimpangan dalam praktik sejarah, >juga sangat mungkin karena ketidakjelasan gambaran >tentang sistem pemerintahan dalam khilafah. > >Sekalipun khilafah tidak menganut sistem demokrasi, >tetapi bukan berarti khilafah adalah sistem teokrasi, >yang menempatkan khalifah seolah seperti raja yang >menjadi titisan dewa. Khalifah adalah manusia biasa >dan bisa berbuat salah sebagaimana layaknya manusia >yang lain. > >Jika Sunni menyatakan, bahwa khilafah adalah sistem >pemerintahan yang dipimpin oleh manusia untuk >menjalankan hukum-hukum Allah, berarti tetap harus >dibedakan antara hukum dan manusianya. Karena ada >faktor manusia itulah, maka dalam praktiknya hukum >tersebut bisa mengalami penyimpangan, tetapi bukan >berarti hukumnya yang salah. Karena itulah, khalifah >dan seluruh aparat di bawahnya bisa saja melakukan >kesalahan, sebagaimana manusia yang lain dan mereka >pun bisa dikoreksi bahkan diadili. > >Jadi, dengan visi Sunni yang seperti itu, saya kira >tidak ada masalah lagi dengan transparansi menajemen, >atau problem akuntabilitas. Justru proses >akuntabilitasnya sangat transparan, dan tidak perlu >menunggu sidang tahunan, sidang paripurna, tetapi >kapan dan di mana saja bisa berjalan. > >Pantas, jika seorang Will Durant memberikan apresiasi >yang luar biasa terhadapnya, "Islam telah menguasai >hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang >mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, >Jazirah Arab, Mesir bahkan sampai Maroko dan Spanyol. >Islam pun telah menguasai cita-cita mereka, >mendominasi akhlaknya, membentuk kehidupannya dan >membangkitkan harapan di tengah-tengah mereka, yang >meringankan masalah maupun duka mereka. Islam telah >mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka, >sehingga jumlah orang yang memeluknya dan berpegang >teguh kepadanya pada saat ini (era Will Durant) >sekitar 350 juta jiwa. Agama Islam telah menyatukan >mereka dan melunakkan hatinya walaupun ada perbedaan >pendapat dan latar belakang politik di antara mereka." >(Will Durant, The History of Civilization, vol XIII). > >Apa yang dilukiskan oleh Will Durant ini adalah bagian >dari episode kejayaan Islam dan seluruh bangsa serta >negeri yang dinaunginya sistem khilafah selama puluhan >abad. Masihkah kita memperdebatkan kenyataan ini? >Sampai kapan? Saya kira, umat ini termasuk para >pemimpinnya tidak akan pernah menjadi besar dan >dihormati, jika tidak memahami dan kembali kepada >sejarahnya. > ><http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=16>http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=16 > >Dan cinta (mahabbah) yang kita maksud adalah keinginan untuk memberi >dan tidak memiliki pamrih untuk memperoleh imbalan. Cinta bukan >komoditas, tetapi sebuah kepedulian yang sangat kuat terhadap moral >dan kemanusiaan (Toto Tasmara) >pustaka tani >nuraulia > >__________________________________________________________ >Need Mail bonding? >Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users. ><http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396546091>http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396546091 > [Non-text portions of this message have been removed]

