rekan miliser
   
  dari ragam pendapat yang muncul, sampai saat ini bisa saya rangkum 3 option 
dalam rangka memperbaiki dan menyelamatkan bangsa dari keterpurukan
   
  option 1 : ekstrim : revolusi, mungkin caranya mirip dengan tahun 1965 ketika 
militer di republik ini membasmi PKI, bersimbah darah dan air mata, tak 
tercatat hampir sejuta orang hilang atau mati, atau kita meniru revolusi teror 
robespiere di perancis di abad pertengahan, ketika mesin guoletine, bekerja 
siang malam menebas leher orang-orang yang dipandang korup dan tidak pro 
rakyat. Atau seperti yang dilakukan di Iran ketika Shah Iran Reza Pahlevi 
dijatuhkan Ayatulah Khomeini, hampir seluruh jenderal dan petinggi AB Iran mati 
dihadapan regu tembak, termasuk para petinggi pegawai negerinya. Pembersihan 
Total dan Iran menjelma menjadi Republik Islam Iran yang dikuasai para ayatolah 
dan mullah.
  atau seperti yang dilakukan Polpot di Kambodja,
  jadi kita habisi saja seluruh pegawai negeri yang berafiliasi dengan Golkar, 
melarang Golkar, dan menganggap Golkar sebagai bahaya laten, kita ciptakan 
musuh bersama yang bernama Golkar dan Orde Baru. saya yakin 3/4 elite politik 
dinegeri ini akan mati di depan regu tembak atau masuk bui selamanya dalam 
proses reedukasi alias cuci otak.
   
  option 2: terima duitnya, jangan nyoblos, jauhi parpol, apolitik
   
  option 3: apatis, masa bodoh, suka-suka, yang penting life must go on, kalau 
ada pemilu ikut nyoblos, tapi gak doyan politik
   
  silahkan pilih yang mana. Decision is yours my friend.
   
  salam
  iwan
   
   
  

IrwanK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Konsep: 'terima saja uangnya, jangan coblos', dalam jangka pendek 
mungkin
terlihat
pro publik miskin.. namun dalam jangka panjang justru tidak mendidik..
Kenapa?

- Pembiaran 'money politic' hanya akan memperkuat posisi pelakunya..
- Hal ini menumbuhkembangkan budaya dan publik yang tidak sejalan antara
ucapan
dan tindakan.. mengarahkan publik pada sikap hipokrit dan munafik.
- Yang menerima 'money politic' bukan hanya publik/mereka yang mengarah pada
sikap
tersebut, tetapi juga mereka yang masih lugu dan merasa 'telah
berhutang'..
Polanya mirip dengan 'ijon' dalam lingkup pertanian.. Bayar (murah) di
muka, tinggal
ambil 'suara'-nya belakangan..

Saya setuju pemberdayaan publik dan pencerdasan bangsa.. tapi sebisa mungkin
money politic dihindari.. kalau bisa diberantas.. jangan dibiarkan hidup!!
Tapi saya juga tidak sepakat dengan saran 'JAUHI POLITIKUS' di bawah:

"..
Jadi salah satu cara ampuh memperbaiki kondisi negara ini adalah dengan
memberdayakan
masyarakat dengat lapangan pekerjaan, berbagi sesama, dan saling bantu, dan
satu lagi :
JAUHI POLITIKUS dan jangan mau dihasut.
.."

Pola ini mirip dengan 'cuci otak'-nya ORBA.. yang mengarahkan publik sebagai
'floating mass'..
tidak boleh didekati PARPOL.. di mana waktu itu yang boleh mendekati hanya
GOLKAR..
lah wong dia ngakunya bukan PARPOL.. tapi pemilu ikut.. DASAR LICIK!!

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

On 1/24/07, // o + u |_ z <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kalau untuk revolusi, terus terang saya tidak setuju.. yah tidak setuju
> karena prosesnya saya yakin tidak ada yang berani jamin kalau bisa berjalan
> damai dan aman.
>
> Setiap pergolakan yang ada di negara ini baik yang besar maupun yang
> kecil.. sudah disusupi dan diboncengi kepentingan-kepentingan orang2 atau
> partai tertentu. Yang menakutkan lagi, mereka melakukan ini dengan sangat
> tidak memikirkan moral atau etika. Semua dihajar!
>
> Pergantian para pengurus atau politikus tua dengan muda pun sangat
> mustahil. Omong kosong lah... kondisi negara ini dibikin carut marut dan
> pontang panting cuma dengan SATU senjata : uang!
>
> Jadi salah satu cara ampuh memperbaiki kondisi negara ini adalah dengan
> memberdayakan masyarakat dengat lapangan pekerjaan, berbagi sesama, dan
> saling bantu, dan satu lagi : JAUHI POLITIKUS dan jangan mau dihasut.
>
> Tinggalkan para dedengkot politik dan partainya.. termasuk
> partai-partainya. Dengan kata lain, masyarakat hidup dengan cara dirinya
> sendiri, mengatur dirinya sendiri, dan menghidupi dirinya sendiri. Nah
> dengan kata lain ini sudah masuk konsep bernegara versi anak PUNK :)
>
> Ya sudah.. mending kita berbagi terhadap siapa pun dan saling mengingatkan
> untuk tidak termakan partai2 berkedok tersebut, ambil saja uangnya.. ikut
> saja kampanyenya.. tapi jangan mau coblos.
>
> Motulz
>
> Suhaimi <[EMAIL PROTECTED] <warehouse%40lma.co.id>> wrote: Dear Pak.BuLasma 
> Siregar & Rekan's anggota FPK,
>
> Kalau saya sich...Pak/Bu, sependapat dengan Pandangannya (Alm) Bung Pram.
> Beliau pernah bilang, Jika ingin membenahi Indonesia ini menjadi benar
> maka ganti semua aparatur negara dan aparatur birokrasi dengan Generasi
> Muda.
> Pemaknaan saya itu artinya "REVOLUSI"
>
> Nah persolannya sekarang kalau kita mau Jujur adalah : Saudara-Saudare
> kita dan bahkan termasuk diantaranya diri kita sendiri yang berasal dari
> kalangan dan atau tingkat kehidupan sosial ekonominya Menengah-Atas TAKUT
> dengan yang namanya "REVOLUSI" ! Kenapa ?
>
> Takut MISKIN titik.
>
> Jadi, kesimpulan subjektivitas saya adalah sepanjang Kalangan masyarakat
> Menengah-Atas Indonesia Takut Miskin, Maka janganlah terlalu berharap adanya
> perubahan yang berarti, meskipun sedemokratis apapun sistim Pemilu, Pilkada,
> Pil KB, Pil Kita dan Pil Pil Pil yang lainnya itu.....
>
> Kembali Salam,
> Suhaimi
>

[Non-text portions of this message have been removed]



         

 
---------------------------------
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. Check it out.
 
---------------------------------
Sucker-punch spam with award-winning protection.
 Try the free Yahoo! Mail Beta.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke