Program Bantuan Pembangunan menjadi perdebatan Parlemen Jerman

  Oleh : Martin Fritz dari Stuttgart
   
  Bagi kebanyakan warga Jerman, program bantuan pembangunan negara asing bak 
membuang uang pajak ke dalam sumur yang tak berdasar. Bagi parlemen Jerman 
kerjasama pembangunan merupakan kebijakan penting. Namun, bagaimana 
pelaksanaannya?
   
      Perlukah negara-negara dengan ekonomi seperti China tetap memperoleh dana 
bantuan perkembangan dari Jerman? Pertanyaan ini menyuluh perdebatan keras di 
parlemen Jerman, yang hari Kamis lalu membahas kebijakan bantuan perkembangan 
negara asing. 
   
  Sebagian anggota parlemen menilai China sudah memiliki pengaruh yang cukup 
besar dalam pasar internasional. Demikian menurut Helmut Königshaus dari partai 
liberal, FDP. Menurut pihak yang kontra ini, pengaruh China bahkan lebih besar 
dari beberapa negara industri G8. Selain itu, cadangan devisa China lebih besar 
dari defisit anggaran belanja Jerman yang dikelola Menteri Keuangan Jerman, 
Peer Steinbrück dari partai sosial demokrat SPD. Königshaus menuduh Steinbruck 
mengorbankan anak-anak dan generasi mendatang Jerman, demi kemampuan 
mengalirkan dana ke China. Ia katakan,
   
  "Mengapa kita harus melakukan itu? Sekarang China sudah menjadi donor 
terpenting di Afrika. Malah tidak seperti Jerman yang meniti jalan agar 
mencapai tujuan yang etis. Tidak, pengaruh China di Afrika itu untuk menjamin 
pasokan bahan baku. Sementara itu di Afrika, Jerman justru kehilangan pengaruh 
maupun pasokan bahan baku itu." 
   
  Di pihak lain, Menteri Pembangunan dan Kerjasama Jerman Heidemarie Wieczorek 
Zeul berpandangan beda. Menurut dia, Jerman hanya mendukung proyek-proyek 
tertentu di China,
   
  "Pemanasan global hanya bisa kita atasi bila bekerjasama dengan China. Bila 
kita membantu China mengembangkan energi alternatif yang bisa diperbaharui, hal 
itu merupakan investasi bagi masa depan kita sendiri." 
   
  Demikian Menteri Pembangunan Jerman, Wieczorek-Zeul juga mengungkapkan, 
Jerman akan menggunakan posisinya sebagai Presiden Uni Eropa dan organisasi 
negara-negara industri G8 untuk meluaskan jangkauan dukungannya, terutama di 
Afrika. 
   
  Sementara itu, juru bicara fraksi kiri Jerman Hüseyin Aydin mengingatkan, 
bahwa kesenjangan antara negara industri dan negara termiskin di dunia, justru 
merupakan dampak politik G8. Dominasi G8 di lembaga-lebaga keuangan 
internasional seperti Dana Moneter Internasional, IMF, dan Bank Dunia telah 
memaksa negara-negara Afrika melakukan swastanisasi, padahal aksi swastanisasi 
itu tidak mengubah kemiskinan rakyatnya. 
   
  Thilo Hoppe dari partai Hijau menuntut agar Jerman memulai inisiatif baru 
yang secara internasional berkaitan dengan perlindungan lingkungan, pengurangan 
senjata dan secara lebih bijak menata baru aturan main globalisasi. 
   
  Kanselir Jerman Angela Merkel telah menjadikan politik bantuan pengembangan 
negara asing sebagai salah satu titik berat program kerjanya. Hal itu tidak 
saja terlihat dari perdebatan panas ini, melainkan juga tampak dari alokasi 
dananya dalam anggaran belanja Jerman.





 
---------------------------------
No need to miss a message. Get email on-the-go 
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke