Quote:
"..
Hayooo siapa saja sih calon gubernur Jakarta? Saya mencari figur
yang "berani". Berani mundur kalo gak mampu. Berani mengatakan "no"
pada penyuap. Berani mengedepankan keperluan rakyat dari pada
konglomerat. Berani menghentikan pembangunan2 yang menghabiskan
daerah serapan bagi kota Jakarta. Berani melokalisasi perjudian dan
tempat maksiat. Berani membangun infrastruktur yang baik. Misalkan
ternyata banyak 'pencoleng'nya dan gak sanggup nerusin, ya mundur
aja, jadi rakyat tau..ooh..emang di Jakarta ini udah
kebanyakan 'pencoleng'. Jangan pake' aji mumpung: jadi gubernur buat
mengeruk kekayaan pribadi. Ini pelajaran untuk meningkatkan
budaya "malu" karena "malu adalah sebagian dari iman". Jadi, saya
mau milih gubernur yang rasa malunya gede...:-). Saya gak peduli
pada agama, ras, dan suku!!!
.."

Mbak Lina,

Dalam Pilpres 2004, calon yang berani mundur kalau dianggap gagal tidak
terpilih..
Yang terpilih hanya berani 'tidak dipilih setelah 5 tahun'.. Jadi, konsep
pemerintahannya
sebatas 'trial & error'.. Coba-coba, klo salah ya mohon maaf aja, bos.. :-P

Sampai beberapa (or puluhan) tahun ke depan, pola pemilihan penguasa di
Indonesia
kelihatannya tidak didasarkan pada kesungguhan memperhatikan publik.. tapi
pada
kesiapan modal sosial (social capital).. popularitas, penguasaan media
massa,
kemampuan berjanji dan berkilah (kalau enggan dikatakan berbohong) di atas
bukti perbaikan nyata.

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

On 2/6/07, Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Setuju pak!
> Sekarang ini, Jakarta memang merupakan swimmingpool terbesar di asia
> tenggara kali ya? Coba liat aja banyaknya anak-anak yang buka baju
> trus berenang riang gembira menghadapi banjir...:-). Ini gambaran
> kota yang katanya Metropolitan.
>
> Denger di radio, bang Ali berkunjung ke bang Yos. Bang Ali bilang
> ini salah pemerintah pusat. Bang Yos bilang ini bencana alam...:-))
> Hayaaa...ini moment yang bagus buat penduduk Jakarta untuk melihat
> siapa calon gubernur Jakarta berikutnya.
>
> Hayooo siapa saja sih calon gubernur Jakarta? Saya mencari figur
> yang "berani". Berani mundur kalo gak mampu. Berani mengatakan "no"
> pada penyuap. Berani mengedepankan keperluan rakyat dari pada
> konglomerat. Berani menghentikan pembangunan2 yang menghabiskan
> daerah serapan bagi kota Jakarta. Berani melokalisasi perjudian dan
> tempat maksiat. Berani membangun infrastruktur yang baik. Misalkan
> ternyata banyak 'pencoleng'nya dan gak sanggup nerusin, ya mundur
> aja, jadi rakyat tau..ooh..emang di Jakarta ini udah
> kebanyakan 'pencoleng'. Jangan pake' aji mumpung: jadi gubernur buat
> mengeruk kekayaan pribadi. Ini pelajaran untuk meningkatkan
> budaya "malu" karena "malu adalah sebagian dari iman". Jadi, saya
> mau milih gubernur yang rasa malunya gede...:-). Saya gak peduli
> pada agama, ras, dan suku!!!
>
> Di Indonesia ini, yang katanya umat muslimnya terbanyak, tapi gak
> ada budaya malu. Berarti kwalitas keimanannya juga payah ya?
>
> Siapa yang siap duduk di kursi panas?? Hidupkan budaya "malu".
>
> wassalam,
> --- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>, ANDREAS
> MIHARDJA <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> >
> >
> > Banjir didaerah Jakarta sebetulnya dapat dihindarkan jikalau ada
> kemauan dan ada disiplin pemerintah untuk melakukannya. Disini
> istilah mismanagement malah tidak dapat dipakai. Istilah yg harus
> dipakai disini adalah No-maintenance. Kali2 dan kanal untuk mencegah
> kebanjiran semua mampet dn achirnya kota Jakarta merupakan
> swimmingpool karena air tidak dapat disalurkan keluar kelaut. Kalau
> banjir terjadi dipantai laut ini mungkin karena aer laut naik -
> tetapi kalau kota Jakarta letaknya jauh lebih tinggi dari laut jadi
> secara alami aer harus dapat disalurkan keluar tanpa kesulitan.
> > Menurut saya jikalau pemerintah kota Jakarta tidak terlalu
> korrup didalam pengawasan penggalian kanal2. Kemudian korrupsi ini
> masih dapat dikoreksi jikalau ada maintenance. Perusahan perkapeling
> seharusnya ada maintenance team tetapi saya kira semua dilepaskan
> kepada pemerintah kota yg tidak dapat dipercaya.
> > Banjir Jakarta adalah mirror image mengenai keadaan pemerintahan
> negara --- tidak ada maintenance dari yg lama dan tidak ada
> investment untuk masa depan. Over-nationalisme dari jaman Sukarno
> dan over egoisme dari jaman Suharto menghasilkan pemerintah dgn
> undereducated management yg tidak berpengalaman. Ahli2 jaman
> Belanda seharusnya mendidik pengganti mereka sewaktu jaman Sukarno
> [tetapi mereka diusir dan disuruh pulang keBelanda] dan pengganti
> dari generasi Sukarno yg masih mengerti sedikit dari pengalaman
> kerja, kemudianpun diusir dan diganti dgn uneducated people yg
> egoistic dan mencari penghasilan untuk kantong dewek. Contohnya
> adalah presiden mereka dgn mrs 10% atau mungkin 15% dan conco2nya yg
> mengobral Indonesia untuk kemewahan hidup OKB2 kota Jakarta.
> > Dari perkataan2 yg bertanggung jawab diJakarta kurang lebih sama
> dengan mereka yg didepartemen Geologie Indonesia berkata tsunami
> Aceh tidak akan terjadi lagi dilain daerah diIndonesia selama bbp
> ratusan tahun. Ini menurut perhitungan saya adalah pembicaraan dari
> yg kurang berpendidikan sebab menurut saya waktu itu gempah ini akan
> menjalar terus sampai keJawa selatan. [Achirnya ini kan terjadi]
> > Memang kalau tidak bertanggung jawab untuk Jakarta kita dapat
> mengeluarkan segala macem kritik [critics is cheap] tetapi kalau
> kita harus bekerja dgn low educated management and noneducated crew -
> setiap system juga percuma.
> > Saya hanya dapat berkata good luck utk pres. SBY - he needs it a
> lot. Warisan kesulitan akan bertumpuk selama puluhan tahun yad.
> Overhaul dari eksekutip branch, judicial dan legislatip branch harus
> dilakukan. Mereka hanya duduk ngopi,ngobrol dan kantongi duit.
> > Andreas
> >
> > toufan tambunan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > sutiyoso terlalu sombong dengan perkataannya sendiri,
> > beberapa hari lalu di SCTV ditayangkan kembali rekaman perkataan
> Bang Yos
> > bulan november yang mengatakan Jakarta tidak akan mengalami siklus
> banjir 5
> > tahunan, hal ini melihat prediksi dari BMG..
> > but, kenyataannya.... banjir sekarang justru lebih besar dan lebih
> luas
> > jangkauannya..
> >
> > selain itu pemerintah masih saja tidak belajar dari pengalaman
> bencana yang
> > pernah dilewati. karena sampai sekarang penanganan terhadap
> bencana dibangsa
> > ini masih morat-marit... bahkan untuk sebuah ibukota negara
> sekalipun,
> > sungguh memalukan,
> >
> > atau memang Bang Yos terlalu sibuk ngurusin sertifikat buat
> burung, trus
> > bikin BUS WAY, atau karena tahun mendatang bukan jadi GUBERNUR
> lagi....
> >
> > --
> > find me : http://topantambunan.blogspot.com/
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke