Pesimisme Pertemuan Segi Tiga Timteng
 
Oleh : Berndt Riegert dari Berlin 
 
Memuncaki kunjungan Menlu AS Condoleezza Rice, hari Senin (19/2) dijadwalkan 
pertemuan segi tiga bersama Ehud Olmert dan Mahmud Abbas. Sebelum pertemuan 
segitiga hari ini, Condoleezza melakukan pembicaraan terpisah. Mula-mula dengan 
Perdana Menteri Israel Ehud Olmert, lalu dengan Presiden Palestina Mahmud Abbas.
 
Kunjungan Rice dilangsungkan menyusul kesepakatan antar faksi Palestina di 
Mekkah, mengenai pembentukan pemerintah Palestina bersatu. Kesepakatan Mekkah 
itu mengakhiri bentrokan berpekan-pekan sesama Palestina, antara kubu militan 
Hamas dan kubu moderat Fatah yang memakan korban jiwa puluhan orang. 
 
Namun pertemuan segi tiga Senin ini dijalankan tanpa harapan muluk-muluk. Dari 
awal, realistis saja, pertemuan itu jelas tak bisa diharap akan membuahkan 
kesepakatan nyata bagi langkah perdamaian di Israel-Palestina. Pesimisme 
tergambar jelas dari tidak dijadwalkannya jumpa pers usai pertemuan itu nanti. 
Rice juga tampak tidak dapat menyembunyikan kemasygulannya terhadap adanya 
kesepakatan Mekkah tersebut. 
 
Rice: "Saya harap dalam pertemuan kami bertiga ini, kami bisa menelaah situasi 
mutakhir dengan baik, untuk meneguhkan tekad berdasarkan 
kesepakatan-kesepakatan sebelumnya. Namun sekaligus juga pertemuan ini diharap 
bisa menjadi peluang untuk menjajaki serta mencari suatu horison politik dan 
diplomatik "
 
Runyamnya persoalan diperparah oleh pernyataan Perdana Menteri Israel Ehud 
Olmert hari minggu. Ia mengatakan, dalam percakapan telepon dengannya, presiden 
Amerika Serikat George Bush memastikan akan tetap memboikot pemerintahan 
Palestina bersatu, jika tidak mengakui Israel secara eksplisit.
 
Masalahnya, kubu Hamas sebagai mayoritas di tubuh pemerintah itu, tetap menolak 
mengakui Israel secara terang-terangan. 
 
Pernyataan itu segera dikritik Liga Arab. Sekretaris Jenderal Liga Arab 
menyatakan, upaya mempertahankan boikot terhadap Palestina bukan merupakan 
tindakan yang konstruktif terhadap proses perdamaian. Dikatakan Sekretaris 
Jenderal Liga Arab Amir Musa: 
 
"Menurut saya, ini akan merupakan suatu penyikapan negatif. Karena pemerintah 
Palestina Bersatu ini dibentuk secara demokratis, dan merupakan keinginan 
nasional dari seluruh rakyat Palestina.
 
Namun Condoleezza Rice berupaya menjaga komentarnya. Ia mengatakan, sekarang 
ini pemerintah Amerika tidak akan merumuskan sikap apapun. Sesudah pemerintah 
baru Palestina terbentuk, dan program-programnya jelas, barulah pemerintah 
Amerika akan bersikap.
 
Rice: "Kami tentu saja mengatakan akan menunggu pembentukan pemerintahan baru 
Palestina itu sebelum mengambil keputusan apapun. dan saya kira irtu merupakan 
sikap dunia pada umumnya. Namun saya bilang jika orang hanya menunggu saat yang 
tepat untuk terbang ke Timur Tengah, kemungkinan besar ia akan ketinggalan 
pesawat
Betapapun, telah terbentuk suatu opini, bahwa Amerika dan kuartet Timur Tengah 
lain, yakni Uni Eropa, Perserikatan bangsa-bangsa dan Rusia hanya akan mencabut 
boikot terhadap pemerintah Palestina, berdasarkan tiga hal. Yakni pengakuan 
eksplisit terhadap hak keberadaan Israel, penghentian jalan kekerasan, dan 
penghorbmatan atas semua kesepakatan perdamaian yang sudah ditandatangani. 
Sejauh ini Hamas, tulang punggung pemerintah Palestina bersatu, hanya memenuhi 
tuntutan terakhir. 
 
Di Ramallah, Ismail Haniya, Perdana Menteri Palestina dari Hamas yang 
ditugaskan membentuk kabinet baru menyatakan tak akan tunduk pada tuntutan itu. 
Dikatakan Ismail Haniya: 
 
"Kami akan berdiri di belakang Abu Mazen untuk melawan tekanan luar, baik dari 
pemerintah Amerika, atau pemerintah manapun yang menginginkan bangsa Palestina 
tetap dikenakan sanksi internasional. Kesepakatan membentuk pemerintahan 
Palestina bersatu merupakan ungkapan keinginan seluruh rakyat Palestina. Maka 
semua pihak harus menghormati keinginan itu. Kami berada dalam satu garis 
kebijakan persatuan nasional untuk melawan segala bentuk tekanan"
 
Sebuah laporan menyebut, dalam pertemuan dengan Condoleeza Rice, Mahmud Abbas 
meminta pengertian, bahwa itulah kesepakatan maksimum yang bisa ia perjuangkan 
dalam pertemuan di Mekkah. Karena jika tidak, alternatifnya adalah perang 
saudara. Sesuatu yang dihindari Abbas dan Haniyah.
 


 
---------------------------------
Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke