Ikut nimbrung juga... Perubahan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup. Dalam hal ini UUD 1945 adalah sebuah produk manusia yang juga menjadi target atau sentuhan sebuah keniscayaan tersebut. Apalagi kalau kita lihat, UUD 1945 era lama ternyata tidak mampu mengakomodir kebutuhan-kebutuhan publik Indonesia sebagai konstitusi negara yang bisa melindungi kepentingan masyarakat Indonesia untuk mencapai kehidupan yang demokratis, adil, sejahtera dan bebas dari penindasan. Saya ingin menyentuh apa yang dikatakan oleh Al Badruni tentang UUD yang berlandaskan pada hukum Islam atas dasar pemikiran bahwa sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam. Apakah dengan mayoritas agama Islam, konstitusi negara Indonesia juga harus diubah ke dalam bentuk syariah Islam? Saya pikir tidak perlu. Buat apa? Pertama; akar populasi di Indonesia toh tidak disendikan pada satu suku dan satu agama. Kebhinekaan adalah pondasi negeri ini. Menurut saya, tidak semua orang Islam di Indonesia menginginkan syariah Islam sebagai landasan konstitusi. Yang kita inginkan adalah konstitusi yang betul-betul mendukung dan menjamin masyarakat hidup demokratis, adil, sejahtera dan bebas dari segala bentuk penindasan. Di Indonesia pernah bercokol kerajaan yang bersendikan pada satu agama (baik Budha dan Hindu) yang akhirnya runtuh meskipun keruntuhannya itu karena berbagai faktor. Juga pernah ada kesultanan yang bersendikan pada agama Islam (dan jatuhnya juga karena banyak faktor). Saya ingin bertanya apakah di dunia ini ada contoh negara Islam yang benar-benar demokratis, adil, bisa menjamin rakyatnya sejahtera dan tidak menindas rakyatnya?
Bersambung hehehehe... --- Ahmad Al-Badruuni <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Ikut nimbrung, > > Rupanya kita (seluruh bangsa Indonesia) lupa > dengan awal disahkannya UUD 1945 menjadi Konstitusi > Negara. Dahulu UUD 1945 yang diawali dengan Piagam > Jakarta merupakan nilai tengah dari 3 kelompok yang > ada,kelompok Islam,kelompok Kristen,dan kelompok > nasionalis.Waktu itu perdebatan dikerucutkan kearah > pen-sah-an 7 kata dalam Piagam Jakarta. Waktu itu > Islam punya nilai tawar yang tinggi untuk > benar-benar memperjuangkan syariah Islam kepada > pemeluk-pemeluknya,namun karena ditentang kubu > nasionalis dan Kristen akhirnya dibawalah Negara > kita kepada keadaan sekarang yang kacau,dimulai > sistem kabinet parlementer,presidensiil, dan > sekarang yang selalu pengen utak atik UUD 1945. > Kata Ajip Rosyidi : Pada zaman pra-Gestapu, PKI > beserta antek-anteknyalah yang paling takut kalau > mendengar perkataan Piagam Jakarta Tetapi agaknya > ketakutan akan Piagam Jakarta, terutama ke-7 patah > kata itu bukan hanya monopoli PKI dan antek-anteknya > saja. Sekatang pun setelah PKI beserta > antek-anteknya dinyatakan bubar, masih ada kita > dengar tanggapan yang aneh terhadapnya. > KH M Dahlan (Menteri Agama RI tahun > 1960-an)sendiri juga pernah bilang : Bahwa diatas > segala-galanya, memang syariat Islam di Indonesia > telah berabad-abad dilaksanakan secra konsekuen oleh > rakyat Indonesia, sehingga ia bukan hanya sumber > hukum, malahan ia telah menjadi kenyataan, di dalam > kehidupan rakyat Indonesia sehari-hari yang telah > menjadi adat yang mendarah daging. Hanya pemerintah > colonial Belandalah yang tidak mau menformilkan > segala hukum yang berlaku di kalangan rakyat kita > itu, walaupun ia telah menjadi ikatan-ikatan hukum > dalam kehidupan mereka > sehari-hari. > Sekarang kubu Islam tidak benar2 mewakili umat > Islam secara keseluruhan,begitu juga umat Islam > tidak lagi menjadikan partai Islam sbg pilihan > suaranya.Trus sampai kapan kekacauan ini terjadi? > > Tanyakan mengapa,kepada umat Islam???? > > > > > aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > mAs Irwan, > sebenarnya saya juga bertanya2, kurang ngeh banget. > Tapi saya kira setelah membaca gatra saya sedikit > ngeh > maksudnya. > > http://www.gatra.com/artikel.php?id=102245 > > Kira-kira begini kali ya.... > > Kalau amandemen UUD 45 yang baru berharap DPD > diberikan wewenang legislasi,bayangkan yang terjadi. > otonomi daerah sudah membuat 'keterpecahan dan > keegoisan' masing-masing daerah, apatah lagi jika > DPD > mendapat wewenang buat UU? > > Selama ini yang saya amati sih, proses munculnya itu > simple, asal DPR ketok palu jadilah sah. CMIIW > Meskipun mereka dianggap perwakilan suara rakyat, > kenyataannya banyak UU yang keluar tanpa minta > pertimbangan rakyat dan tak peduli apakah UU itu > merugikan rakyat atau tidak. > > Saya kira ada kemungkinan tawar menawar juga kan di > tubuh DPR terhadap keputusan keluarnya suatu UU. Ini > untuk skala nasional (DPR), bagaimana kalau itu DPD? > > Masing-masing wilayah bisa buat aturan main > sendiri-sendiri. Bagaimana kalau tidak semua anggota > DPD adalah orang yang mempunyai kemampuan ilmu > politik, moral bagus dan tanggung jawab yang yahud? > Mereka kemungkinan bisa ditawar untuk membuat aturan > di daerahnya berkaitan dengan pengelolaan SDA dan > SDM > di sana. > > Bukannya malah tambah liberal, bahkan aturan apa pun > itu termasuk aturan yang disusupkan asing atau di > titipkan melalui LSM daerah. wallahu'alam bishawab > > Di era sekarang bukan jumlah orang yang menang, tapi > uang yang berkuasa. Era demokrasi > kapitalis-liberalis. > CMIIW > > salam, > aris > > --- IrwanK <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Mbak Aris, > > > > Bisa bantu jawab (atau tanyakan ke Fadhli Zon), > > perubahan UUD 45 merupakan > > kemauan asing? Semuanya? Termasuk ide pilpres > > langsung? :-P > > Jangan" analisa itu karena pemenangnya pernah > bilang > > cinta amrik dengan > > segala > > kesalahannya dan menganggapnya sebagai negara > kedua > > ya? :-) > > > > CMIIW > > > > Wassalam, > > > > Irwan.K > > > > On 2/16/07, aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> > > wrote: > > > > > > Tema sama analisa berbeda....Ternyata UUD 45 itu > > bisa > > > diotak-atik tho. > > > -------------- > > > Sinar Harapan, 5 Februari 2007 > > > > > > Koalisi LSM Dukung Perubahan UUD > > > > > > Oleh Inno Jemabut > > > > > > Jakarta-Sejumlah tokoh masyarakat dan LSM yang > > > bergabung dalam Koalisi Konstitusi Baru > mendukung > > DPR > > > dan DPD melanjutkan tugas amendemen V UUD. > > > Dukungan tersebut, selain untuk membendung > gagasan > > > kembali ke UUD 1945 sebelum diamandemen, juga > > karena > > > hasil amendemen yang ada saat ini perlu > > dimaksimalkan > > > kembali. > > > > > > Hal tersebut ditegaskan anggota Koalisi > Konstitusi > > > Baru dari Centre for Electoral Reform (CETRO) > > Hadar > > > Gumay, Senin (5/2) pagi. Ikut bergabung dalam > > koalisi > > > itu, antara lain, praktisi hukum Todung Mulya > > Lubis, > > > pakar hukum Saldi Isra, Denny Indrayana, Indra J > > > Piliang, Tommy Legowo, Yayasan Lembaga bantuan > > Hukum > > > Indonesia (YLBHI), Pusat Studi Hukum (PSHK), dan > > > Indonesia Corruption Watch (ICW). > > > > > > Koalisi ini, jelas Hadar, dijadwalkan bertemu > > dengan > > > pimpinan DPD dan DPR RI pada Senin (5/2). "Kita > > > melihat hasil amendemen sekarang jauh lebih > bagus > > > daripada UUD sebelum diamendemen. Kalau sampai > > kembali > > > ke UUD yang lama, itu sangat berbahya," ujar > > Hadar. > > > Sebelumnya, Ketua DPD Ginanjar Kartasasmita > > mengatakan > > > wacana mengamendemen perubahan UUD saat ini > > merupakan > > > sesuatu yang posistif. Jika ada pihak yang ingin > > > kembali ke UUD sebelum diamendemen maka > prosesnya > > pun > > > harus sama dengan yang ingin melakukan amendemen > > ke-5. > > > "Ya, nanti kita lihat yang lebih dominan ke > mana, > > > tetapi semua itu kan ada prosedurnya. Yang > jelas, > > bagi > > > saya, itu semua wacana positif, artinya bamyak > > pihak > > > yang sudah peduli pada kehidupan berbangsa dan > > > bernegara," ujar Ginanjar. > > > > > > Denny Indrayana berpendapat amendemen ke-5 UUD > > memang > > > sangat perlu sekalipun membutuhkan waktu yang > > tepat. > > > Dalam UUD hasil amendemen, dominasi partai > politik > > > dalam kehidupan bernegara terlalu berlebihan. > > Bahkan, > > > jelas Denny Indrayana, partai politik merupakan > > > penyebab utama gagalnya amendemen menghasilkan > > sesuatu > > > yang lebih positif. > > > > === message truncated === Eka Zulkarnain ____________________________________________________________________________________ We won't tell. Get more on shows you hate to love (and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list. http://tv.yahoo.com/collections/265

