Assalaammualaikum wR wB
Memang sepatutnya kita introspeksi, dan secara totalitas memohon ampun
Allah SWT atas segala kesalahan dan dosa baik yang disengaja ataupun
tidak .
Tapi saya kira permohonana ampun itu akan  lebih baik apabila kita
mengetahui kesalahan fatal apa yang telah kita perbuat.
Gempa  adalah pergerakan kulit bumi yang saling bertumburan, akan tetapi
seringkali hal ini dipicu oleh berubahnya keseimbangan masa bumi
misalnya karena minyak bumi setiap hari disedot sekitar 25 juta barrel,
apakah hal ini nggak ada pengaruhnya ? Apalagi bila diingat bahwa
sedikit banyak minyak bumi itu bersifat viskos yang bisa meredam energi
perbenturan kulit bumi.
Iklim dan banjir, sudah lama disadari bahwa pemanasan global menjadi
biang keladi masalah ini, penggunaan Freon R 12 seringkali dituding
sebagai penyebab menipisnya lapisan ozon di kutub bumi, karbon dioksida
sebagai produk pembakaran fosil menimbulkan efek rumah kaca, radiasi
sinar matahari tidak bisa dipantulkan dengan mudah ke ruang angkasa
menyebabkan naiknya temperatur global, mencairnya es di kedua kutub
bumi.
Jadi apa yang harus kita lakukan secara individu atau bersama-sama,
sebagai bukti bahwa kita bertobat dan memohon ampun
Pertama-tama kita semua harus bisa menahan diri dalam cara kita
menghabiskan energi fosil, setiap kemacetan di jalan raya adalah bukti
keserakahan manusia jakarta, meski terlambat inisiatip membuat
transportasi massal Pak Sutiyoso perlu kita acungi jempol.
Kedua memperbanyak hijau daun yang bisa mengubah karbon dioksida menjadi
senyawa organik yang lebih komplek, mengurangi penebangan untuk alasan
apapun baik yang legal apalagi yang liar.
Apabila kita semua menyadari kesalahan ini, bertobat dan mencoba untuk
hidup lebih sederhana seperti yang dicontohkan rasul niscaya segala
bencana yang menimpa umat manusia ini akan berkurang
Ya Allah kami telah berbuat dzalim, maka tanpa ampunan dan rakhmatMu
niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi
Ya Allah berikan hidayah dan kekuatan kepada kami untuk mengatasi
berbagai cobaan ini yang menimpa bangsa kami
Aamiin,
Samudjo


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke