Dear Milis
  menyaksikan bangkai levina yang terbakar hebat, saya bayangkan tentunya butuh 
waktu lebih dari 5 jam sang api dapat membakar habis seluruh badan kapal 
sebesar itu, pada saat kapal mulai terbakar logikanya nakhoda/kapten kapal 
mengirim sinyal SOS ke pelabuhan terdekat yaitu tanjung priok dan sinyal itu 
juga logikanya bisa ditangkap oleh beberapa kapal perang RI yang mestinya ada 
disekitar perairan Jakarta termasuk helikopter Polisi Air dan Udara (Polairud) 
namun anehnya tidak ada satupun kapal perang maupu helikopter polairud yang 
mendekat untuk melakukan pertolongan pertama pada penumpang, sehingga jumlah 
korban jiwa dalam peristiwa tersebut dapat diminimalkan.
  Seringkali saya melihat tayangan TV diluar negeri jika terjadi musibah 
seperti itu betapa sigapnya tim SAR melakukan upaya pertolongan bahkan 
pertolongan terhadap hewan piaran seperti kucing dan anjing sekalipun dilakukan 
secara spektakuler, mencerminkan sikap menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan 
yang beradab, sementara di negeri ini sepertinya semua musibah dan bencana 
dianggap biasa, dan nyawa manusia bukan sesuatu yang berharga yang perlu 
diselematkan.
  ketika ancaman perang dari negeri lain semakin kecil seharusnya potensi ABRI 
dikerahkan lebih banyak untuk tugas-tugas kemanusiaan.
  musibah levina cerminan ketidakpedulian negara terhadap nyawa manusia, nyawa 
rakyat, sama seperti kasus lumpur sidoarjo yang dibiarkan berlarut-larut sampai 
membuat frustasi.
  Masihkah negeri ini memiliki empati kepada nilai-nilai kemanusiaan ???
   
  salam dari yang kingkin prihatin sedih pilu hati
  iwan
   

 
---------------------------------
Food fight? Enjoy some healthy debate
in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke