Notes Arjo Pilang:
KEKUASAAN POLITIK DAN SASTRA
4.
Lahirnya Republik Ke-V adalah hasil suatu proses panjang yang berlika-liku
seperti yang antara lain dilukiskan oleh Albert Olivier dalam karyanya: "Le
Dix-huit brumaire" [Editions Gallimard, Paris, 1959, 287 hlm.]. Sebelum sampai
pada keadaan sekarang, di mana demokrasi "relatif" dilaksanakan sebagai bagian
dari usaha menterapkan nilai-nilai republiken: liberté, égalité et fraternité
[kemerdekaan, kesetaraan dan persaudaraan], Perancis pun mengalami masa-masa
galau. Kudeta demi kudeta terjadi. Kegalauan dan pertarungan berdarah-darah
antara berbagai kelompok dalam masyarakat, bisa dilihat selain melalui
karya-karya ilmiah, juga mendapatkan cerminan di karya-karya sastra. Dari
menyimak proses sejarah Perancis ini, aku melihat betapa saling hubungan
antara masa silam, hari ini dan esok bagi perkembangan suatu bangsa dan
kehidupan anak manusia. Karena itu aku masih menyimpan harapan pada negeri dan
bangsa yang sekarang menggunakan sebutan Indonesia, walau pun nilai-nilai
republiken dan keindonesiaan masih sedang dalam proses pengejawantahan. Walau
pun hari ini warna Republik dan Indonesia kita lebih banyak bertandakan warna
hitam dan merah darah. Proses, artinya segalanya berkembang. Perkembangan
adalah sesuatu yang bergerak bagaikan suatu spiral tanpa ujung. Karena itu
pandangan yang menduga bahwa hukum, UUD, bentuk negara adalah suatu
kelanggengan yang tak bisa diotak-otik, kukira bertentangan dengan hukum proses
spiralistik ini. Usul perobahan UUD '45 sekarang saja, kukira merupakan contoh
aktual di depan mata. Sejarah Republik dan Indonesia saja menyediakan
contoh-contoh yang tidak kurang panjang. Statisme membuat kita bunuh diri dan
ketinggalan zaman serta jadi kolot. Merebahkan diri di rel kereta sejarah.
Nilai-nilai republiken agaknya merupakan salah satu kesimpulan pengalaman dan
pertarungan yang penuh lika-liku itu. Jika hipotesa ini benar, maka dalam
nilai-nilai republiken itu terjabar hubungan antara negara dan warganegara,
tersimpul bagaimana mengelola hubungan individual dan kolektif , hak sipik dan
peran Negara, masalah pengawasan oleh masyarakat, dan lain-lain yang diujudkan
dalam berbagai bidang. Melalui proses pula, terutama ketika nilai-nilai
republiken ini dikhayati oleh anggota kolektif bernama masyarakat atau
warganegara, maka nilai-nilai republiken ini menjelma menjadi suatu kekuatan
material nyata yang dihitung oleh pemegang kekuasaan politik. Pemegang
kekuasaan politik, selain berada di bawah pengawasan Parlemen [wakil rakyat],
warganegara sendiri, merupakan kekuatan pengawas yang kuat terhadap kekuasaan
politik sesuai dengan nilai-nilai republiken itu yang dijabarkan dalam
konstitusi. Tak siapa pun bisa membebaskan diri dari ketetapan nilai-nilai ini.
Karena itu maka beberapa kali di Perancis, terjadi yang disebut pemerintah
kohabitasi. Pemerintah yang dikendalikan oleh partai-parti "kiri" dan kanan.
Dan sekarang melalui François Bayrou, calon presiden terkuat ketiga diajukan
konsep "jalan tengah", jalan kekuasaan bersama, yang keluar dari jaringan
konsep [clivage] "kiri" dan "kanan", semacam konsep "kekuasaan seluruh rakyat"
dari Kruschov dahoeloe. Konsep inilah membawa Bayrou sebagai calon ketiga
terkuat dalam pemilu presiden Perancis sekarang.
Dari naiknya posisi Bayrou ini aku melihat sekali lagi tingkat kesadaran
politik, daya pikir serta kesadaran sipik warganegara Perancis yang sering
menghukum kekuasaan politik. Jika kesadaran berwarganegara, daya pikir dan
analisa ini dihubungkan dengan dunia sastra-seni, maka agaknya dalam Republik
Ke-V Perancis sekarang, siapa pun yang memegang kekuasaan politik tidak membuat
para sastrawan-seniman kehilangan kebebasan mereka. Tidak mengusik kegiatan
kreativitas mereka. Hampir tak ada sastrawan-seniman Perancis yang tak sadar
politik, yang tak sadar akan hak sipik mereka, yang tak mengerti hak-wajib
mereka. Mengingat peran dan pengaruh sastrawan-seniman ini dalam masyarakat
maka pemegang kekuasaan politik mencoba meraih sastrawan-seniman ke kubu
mereka. Presiden Mitterrand adalah salah seorang presiden Perancis yang paling
banyak menghimpun ke sekitarnya sastrawan-seniman dalam dan luar negeri. Dan
umumnya, bergabung atau tidak ke suatu kubu politik, para sastrawan
seniman ini lebih banyak berangkat dari pemahaman dan konsep
bersastra-berkesenian mereka sendiri. Bukan karena "iming-iming" finansial dan
kepentingan material.
Dari apa yang kulihat, kalau penglihatanku benar, yang diperhitungkan oleh
sastrawan-seniman Perancis, adalah bagaimana pemegang kekuasaan tidak menyentuh
hak dasar mereka sebagai warganegara, seperti tunjangan pengangguran, jaminan
kesehatan, pensiun, perlindungan sastra-seni nasional dari agresi globalisasi
kapitalis. Sedangkan pemerintah sendiri tidak pernah kulihat campurtangan dalam
soal karya, aliran pikiran apa-bagaimana yang dianut oleh para
sastrawan-seniman itu. Lagi pula mana pula sastrawan-seniman Perancis sudi soal
hak individu dan warganegara ini disentuh oleh pemegang kekuasaan politik.
Presiden Mitterrand yang diakui oleh semua pihak di Perancis sebagai budayawan
dan berbahasa Perancis termasuk yang terbaik, tidak pernah menetapkan
sastra-seni Perancis itu harus bagaimana. Agaknya tanggungjawab mengenai
apa-bagaimana sastra-seni Pedrancis diletakkan pada sastrawan-seniman Perancis
yang asal negeri mereka macam-macam dan datang dari berbagai penjuru
dunia. Presiden Mitterrand dan Chirac , serta diterima pendapat umum, bahwa
budaya Perancis adalah budaya campuran [métissage]. Dilambangkan oleh Chirac
dengan memakamkan ulang, sastrawan Alexandre Dumas di Pantheon, makam
putera-puteri terbaik Perancis. Méttisage, bisa dikatakan sebagai politik
kebudayaan pemerintah, baik kiri atau pun kanan. Dari keadaan demikian, jika
bacaanku benar, maka pertanyaan: Apa-bagaimana pengaruh Sarkozy, Segolène
Royal, Bayrou atau siapa saja lagi, jika mereka menjadi memenangi pemilu
presidensial Mei 2007 mendatang, agaknya kurang mengena. Pengetahuan Sarkozy
dari UMP tentang sastra yang jauh tak sepadan dengan pengetahuan Mitterrand,
[menurut pengakuan publiknya sendiri], kiranya tidak akan mempunyai dampak
apa-apa pada kehidupan sastra-seni. Sastra-seni adalah republik merdeka dan
sering hadap-hadapan dengan kekuasaan politik. Sarkozy hanyalah seorang
konsumen sastra sederhana, bukan seperti Mitterrand yang kreatif dan memang
penulis
esai. Yang sangat diharapkan dari pemegang kekuasaan politik, kukira bagaimana
melindungi kebudayaan nasional, tanpa menutup pintu, bagaimana kehidupan dan
kegiatan sastrawan-seniman diperhatikan. Arahnya? Politik budaya "métissage",
bhinneka tunggal ika, "biar bunga mekar bersama, seribu aliran bersaing suara",
barangkali merupakan pilitik sastra yang tanggap dan aspiratif. Politik budaya
begini, kukira menyediakan ruang luas lapang bagi para sastrawan-seniman.
Memberikan langit berudara segar bagi mereka.
Dari perkembangan keadaan sastra-seni di Perancis yang demikian, aku melihat
seperti adanya suatu tingkat tertentu yang menarik dan khusus bagi perkembangan
dunia sastra-seni. Apakah ini dampak dari pengkhayatan nilai-nilai republiken
dan juga menjelmanya nilai-nilai tersebut menjadi kekuatan material? Pertanyaan
ini aku jadikan sebagai kaca melihat keadaan sastra-seni kampunghalaman.
Seberapa jauh kesadaran bersastra dan berkesenian kita termasuk para pepemegang
kekuasaan politik? Seberapa tingkat budaya mereka serta kesadaran sipik mereka?
Seberapa jauh kesadaran sipik kita? Apakah pertanyaanku benar?****
Paris, Februari 2007
---------------------------
JJ.Kusni
[Selesai]
---------------------------------
Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos.
[Non-text portions of this message have been removed]