Pak I Muchtarom, apa uyang saya sampaikan hanya perkiraan, tidak berdasar data (kecuali bahwa kita sudah lama menjalin hubungan diam-diam dengan Israel). Saya juga pernah tahu banyak turis Israel ke sini, berombongan. Saya hanya menekankan betapa pun juga hubungan diplomatik antara dua negara akan ada manfaatnya. Soal GDP Israel yang tidak terlalu tinggi saya kira bukan halangan untuk berdagang. Seperti saya katakan dengan Sri Lanka kita mempunyai hubungan diplomatik, meskipun GDP Sri Lanka kecil. Berdagang langsung dengan negara-negara Timur Tengah tidak selamanya mudah, buktinya sampai sekarang (sudah berpuluh tahun) pertumbuhan perdagangan dengan mereka tidak terlalu signifikan. Hubungan dengan Arab Saudi justru kita banyak mengalirkan devisa ke mereka melalui haji dan umrah, sementara mereka lebih senang menanam modalnya di AS. Kalau kita mengharapkan masuknya investasi, hubungan dengan Israel mungkin lebih menjanjikan karena orang Yahudi yang banyak duit (mereka tempatkan di AS, Inggeris dan Belanda) akan bersedia mengalirkannya ke sini. Sebagai negara yang tidak pernah bermusuhan dengan Israel, tidak ada salahnya melakukan hubungan diplomatik, lha Palestina saja punya hubungan dekat meskipun tanpa menempatkan duta besar. Dari kacamata kita yang nampak hanya permusuhannya tetapi di tingkat non formal mereka berhubungan. Orang Palestina banyak yang bekerja atau berjualan di Israel. Uang Palestina banyak yang disimpan di bank Israel maka ketika Israel memblokir (karena tidak suka pemerintahan Hamas), pegawai Palestina tidak bisa terima gaji. Pemerintah kita tidak berani membuka hubungan diplomatik terang-terangan karena takut pada orang Islam (yang beringas) di Indonesia. Saya tidak yakin Arab Saudi akan memusuhi kita kalau kita berbuat demikian. Buktinya dengan Mesir, Maroko, Tunisia, ia juga diam saja. Sekali lagi itu sebatas gagasan dari apa yang saya ketahui. KM -------Original Message------- From: imuchtarom Date: 31-03-2007 18:32:55 To: [email protected] Subject: [ppiindia] Re: yes, Israel-Indonesia relations warming up!
pak Kartono, dari daftar potensi *-keuntungan-* yang mungkin didapat dari hubungan Indonesia dengan Israel yang anda tulis di bawah ini, mungkin saya hanya ingin menggaris bawahi satu butir saja, yaitu potensi peluang Indonesia dalam ikut membantu tercapainya penyelesaian konflik Arab-Israel. sedang potensi "manfaat" yang lain, saya tetap berpendapat bahwa itu rasanya masih selalu bisa dicari alternatif dari negara lain. sebagai potensi pasar ekspor bagi kita misalnya, saya duga 'ukuran ekonomi' (GDP) dari negara Israel itu tidak begitu besar, mungkin kira-2 sama dengan Belanda ( I have not checked it on the internet ). Padahal masih banyak negara timur tengah lainnya ( atau negara-2 Maghribi: seperti Libia, Aljazair, Tunisia, Maroko, Mauritania ) yang potensi pasarnya juga belum di manfaatkan secara all-out oleh Indonesia ... *** di samping itu, secara *-empirik-*, kalau saya lihat contoh beberapa negara Muslim yang sudah lama menjalin hubungan diplomatik dengan Israel ( contohnya Turki ) saya kok tidak melihat keuntungan yang menonjol yang bisa mereka petik selama ini. Untuk Turki misalnya, kalau yang dianggap menonjol dari Turki adalah kekuatan militernya ( yang dianggap cukup 'formidable' utk. kawasan itu ), saya kira kekuatan tsb. tidak lah dibangun sebagai hasil kerjasama Turki dengan Israel, tetapi: (1) karena memang 'usaha internal' Turki membangun kekuatan militernya sejak dulu, karena pernah menghadapi perang dengan Yunani ( yang terakhir sewaktu mmemperebutkan Cyprus tahun 1970 an ). (2) sebagai anggota NATO, dan posisi geografisnya yang sanagat strategis, berbatasan langsung dengan wilayah (eks) Uni Soviet, saya rasa selama masa perang dingin, Turki banyak mendapat bantuan fasilita smiliter dari negara-2 blok barat. *** Untuk soal Ziarah, dari segi urgensi saya lebih melihatnya sebagai semacam 'Turis'me, karena bagi Ummat Islam, pilgrimate yang diwajibkan ya hanya untuk haji di Mekkah ( dan wilayah sekitarnya ), jadi juga tidak tinggi urgensinya. wassalam, -----( IM )------------------------- --- In "Kartono Mohamad" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pertanyaan serupa dapat ditujukan untuk hubungan > diplomatik kita dengan, katakanlah Lybia, Sri Lanka, > dsb. Setiap hubungan diplomatik pasti ada manfaatnya. > > Dengan Israel, kita dapat membeli teknologi mereka > dengan harga jauh lebih murah, kita dapat berperan > dalam ikut menyelesaikan konflik Israel-Palestina, > kita dapat bertukar ilmu, ekspor/impor langsung tanpa > melalui negara ketiga (Singapura, Mesir). > > Makin mudah bagi orang Indonesia untuk berziarah > ke Jerusalem termasuk masjidil Aqsha, makam Ibrahim, > dsb. Dalam soal dagang rasanya kita akan lebih > banyak menjual daripada membeli dari Israel (artinya > kita surplus). > > Tanpa hubungan resmi pun Indonesia sudah lama > berhubungan dengan Israel. > KM > > -------Original Message------- > > From: imuchtarom > Date: 31-03-2007 2:26:10 > To: [email protected] > Subject: [ppiindia] yes, Israel-Indonesia relations warming up! > > > > jika dibuka hubungan diplomatik indonesia > dengan israel, kira-2 apa keuntungan > bagi kedua belah pihak? > > * kalo bagi israel jelas: > keuntungan politik/diplomatik, > mendapat "kawan baru" sekitar > 200 orang juta muslim di Indonesia :-) > > belum keuntungan ekonomi: bisa > mengimpor bahan-2 mentah/hasil bumi > serta meng-ekspor produk teknologi > mereka ke Indonesia - menjadikan > Indonesia sebagai pasar mereka > > * kalo bagi Indonesia kurang begitu > jelas keuntungannya. kalau toh kita > butuh transfer teknologi maju, kan > masih banyak alternatif negara lain > yang juga hebat teknologinya; kan tidak > harus dari israel. > > ----( IM )------------------------------ > > <http://www.ynetnews.com/articles/0,7340,L-3379342,00.html> > > ------------------------------------- > Israel-Indonesia relations warming up > ------------------------------------- > > Countries' UN ambassadors meet in New York > > Itamar Eichner > > Published: 03.21.07, 11:57 / Israel News > > Israeli Ambassador to the UN Dan Gillerman > held his first public meeting with Indonesia's > Ambassador Rezlan Ishar Jenie several days ago. > > The meeting, which was held in the Indonesian > room at the United Nations headquarters in New > York, was also attended by Danny Carmon, deputy > head of the Israeli delegation to the UN, and > Gilad Cohen, a counselor in the Israeli mission. > > The Israeli delegation to the UN viewed the > meeting as extremely important, as it was the > first time the two ambassadors met in public > and secretly. Indonesia is the largest Muslim > country in the world and does not have > diplomatic relations with Israel. > > Indonesia is now a member of the UN Security > Council and is involved in the United Nations > Interim Force In Lebanon. > > The meeting was encouraged by the foreign > ministers of both countries, and at its end > the ambassadors promised to maintain an open > and direct channel for a dialogue in the future. > > This was the second public meeting held between > Gillerman and an ambassador of an Asian Muslim > country which does not have diplomatic relations > with Israel. About a month and a half ago, Yedioth > Ahronoth reported, he met in public with Pakistan's > ambassador to the UN. > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > [Non-text portions of this message have been removed]

