Surat Sutera Putih:
MENYERTAI KEPERGIAN PELUKIS WEN PEOR
Nama Wen Peor, salah seorang pelukis seangkatan pelukis Lekra, Affandi [ketika
kami sedang membentuk pengurus baru Lembaga Seni Rupa Lekra, Yogya, Affandi
pernah mengingatkan aku sebagai sekretaris Lekra Yogya agar jangan sampai ia
tidak diajak rundingan], kukenal sejak masih remaja Yoyga. Bermula dari
cukilan-cukilan kayunya yang bertanda unik. Garis-garisnya tajam dan tegas
sehingga melihatnya aku seperti mendengar suara teriakan dan bentakan
balas-balas terhadap kegarangan hidup serta ketidakadilan. Melalui garis-garis
cukilan kayu Wen Peor aku seperti mendengar suara Bung Karno yang gagah,
ketika berhadapan dengan rongrongan dan kepungan imperialisme yang dikepalai
oleh imperialisme Amerika Serikat yang berkali-kali mau membunuh serta
menjatuhkannya dan akhirnya berhasil mencapai tujuannya pada tahun 1965: "Ini
dadaku, mana dadamu". Garis-garis cukilan kayu Wen Peor adalah garis-garis
pemberontakan seorang seniman -- warga republik sastra-seni yang berdaulat --
tak bergeming di hadapan gerakan ketidakadilan, termasuk di hadapan repulik
politik jika yang terakhir ini membelakangi usaha pemanusiawian manusia,
masyarakat dan kehidupan sebagai nilai tunggal dan universal. Pada garis-garis
cukilan serta ekspresi tokoh Wen Peor aku seperti menemukan diriku, menemukan
orang yang menyuarakan bahkan memekikkan isi hatiku. Aku kehilangan jejak Wen
semenjak meletusnya Tragedi September 1965 yang menjadikan sastrawan-seniman
Lekra sebagai salah satu sasaran pengejaran, penangkapan dan pembunuhan.
Pelukis Trubus sampai sekarang hilang tak tentu rimba dan tenggelam tak tentu
lautnya. Pelarangan terhadap karya-karya para penulis Lekra sampai sekarang
masih saja belum dicabut, termasuk terhadap karya-karya Pramoedya A Toer. Entah
berapa penyanyi terbaik anak negeri seperti Sally Tan [lulusan konsevartori
Jerman Timur, Evelyne Tjiao, bintang radio, Kondar Sibarani, juga bintang radio
dan komponis, Siregar, penyanyi tenor dari Ansambel Tari-Nyanyi Maju Tak
Gentar, Medan, dan lain-lain nama...., melenyap dan tak pernah menyemaraki
panggung kesenian Indonesia. Wen Peo sendiri akhirnya ternyata mengungsi ke
Hong Kong. Diktaturialisme, entah dari kiri atau kanan, entah dengan varian
apa pun, di bawah nama apa pun, tidak lain dari lawan sastra-seni dan
kebhinnekaan sari kehidupan, masyarakat dan Indonesia. Di hadapan
diktaturialisme hanya sastrawan-seniman yang berjati diri sebagai warga
"republik sastra-seni yang berdaulat" yang bertahan, tidak menyerah, tidak
tiarap, dan punya tulang keras serta tampil dengan kesetiaan sastrawan-seniman
sebagai jiwa bangsa, masyarakat, negeri dan zaman. Kalau ini disebut sebagai
"liberalisme" seorang seniman, maka liberalisme di sini kukira, berarti
kemerdekaan dan kebebasan berpikir serta bertindak. Tanpa "liberalisme" jenis
ini, kukira sastrawan-seniman, kehilangan watak sebagai sastrawan dan seniman.
Merosot jadi burung tiung atau seekor anjing yang menggogongkan "his master's
voice". Kukira, sastrawan-seniman sesungguhnya bukanlah seekor tiung dan atau
anjing.
Dari berita duka yang disebarluaskan oleh milis [EMAIL PROTECTED] Hong Kong ini
kita bisa melihat secara garis besar tentang apa-siapa Wen Peor.
Bio-data dari hksis ini kukutip penuh untuk kumasukkan sebagai bagian dari
dokumentasi pribadi menggunakan "surat sutera putih" ini, ujud lain dari "Notes
Arjo Pilang" atau "Catatan Shangrila"ku. Dokumentasi dan catatan perlu segera
kulakukan oleh makin menuanya ingatan sementara aku masih mencintai hidup
sebelum malam merenggut matahari. Dokumentasi dan catatan atau notes merupakan
jembatan pelangi antar generasi, mengurangi kebiasaan bicara dan menulis tanpa
data sekedar "menurut aku". Kuharapkan saja, hksis tidak protes, kalau biodata
Wen Peor yang ia siarkan kukutip lengkap di sini. "Surat" ini adalah caraku
mengucapkan belasungkawa kepada keluarga Wen dan semua orang terdekat beliau,
tanda hormat dan penghargaan serta mengantar kepergian beliau. Hormat pada
konsep dan setianya pada konsep seninya serta sebagai anak manusia pemimpi dan
pencinta. Hidup Wen Peor adalah kisah cinta kesenimanan yang diyakini dan
dibela sampai mati seperti yang dikatakan oleh alm. penyair Agam Wispi, si anak
Aceh:
"pita merah dan matahari
cinta berdarah sampai mati"
Sastrawan-seniman akhirnya kulihat sebagai pertarungan memenangkan cinta. Kisah
kesungguhan dan kesanggupan mencintai atau mimpi serta mengejawantahkan mimpi,
jika menggunakan istilah Zaki Laïdi, peneliti dan pengajar pada Science-Po,
Paris [lihat: Harian La Croix, Paris, 30 Maret 2007].
"Surat Sutera Putih" tentang Wen Peor ini pun kutulis juga dirangsang oleh ide
Bung Karno "JASMERAH", "Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah" di tengah
penghancuran data sejarah di negeri kita sehingga data sejarah perlu
direkonstruksi secara obyektif sebagaimana adanya sehingga kita dan angkatan
selanjutnya tidak menapak ke perjalanan menuju esok di atas jalan kebohongan,
tipuan dan ketidaktahuan.
<BERITA DUKA<<
Wen Peor, pelukis Tionghoa termasyur kelahiran Padang. Telah meninggal-dunia
pada tanggal 18 Maret 2007 di Hong Kong
Wen Peor yang lahir di Padang 28 Desember 1920, di tahun 1941 ke Jakarta, mulai
karier seni-lukis dari pekerjaan membuat poster, dan dimasa Jepang tahun 1943
sempat dipenjarakan karena karyanya itu. Sejak tahun 1945 Wen Peor bersama-sama
Afandi, Hendra, Sudarso tergabung dalam PELUKIS RAKYAT.
Tahun 1950 1955, Wen kembali mengajar di sekolah menengah Tionghua Bukit
Tinggi, pada jaman itu, dengan kebesaran hati Wen, penghasilan dari pameran
lukisan digunakan untuk membeli lahan sekolah itu, dengan demikian
menyelamatkan usaha sekolah tersebut.
Di Jakarta tahun 1955, Wen Peor bergabung Lie Man-fong cs membentuk
Lembaga Seniman YIN HUA , Pada saat menyelenggarakan Pameran tahun 1957,
salah satu lukisan Wen dengan tema: Bulan Menerangi Kampung-halaman dipilih
menjadi salah satu koleksi-lukisan Bung Karno.
Sejak tahun 1959 Wen menggabungkan diri dan bersama LEKRA, terjun aktif
mendorong maju kesenian rakyat. Mendidik seni-lukis generasi muda, mendukung
usaha grup seni-lukis pemuda Indonesia Jogya dan tidak sedikit memberikan
bantuan mengatasi kehidupan pemuda-pemudi setempat yang sangat miskin. Jiwa
me-Rakyat diri Wen sangat menonjol dari karya lukisan yang banyak bertemakan
kehidupan kaum tani, nelayan miskin di Indonesia dan jiwa sosial yang ringan
tangan memberikan bantuan pada pemuda-pemudi mengatasi kehidupan miskin ini
dipertahankan terus sampai tahun 1966. Perubahan politik yang terjadi
mengakibatkan Wen tidak bisa bertahan lebih lama lagi di Indonesia dan terpaksa
menyingkir kenegeri leluhur, Tiongkok.
Di Tiongkok, yang ketika itu sedang berkobar Revolusi Kebudayaan
Proletar, Wen dipekerjakan di Pertanian Hua Kiao. Kemudian di tahun 1973 atas
bantuan pelukis-wanita Xiao Shu-fang, Wen berhasil diangkat menjadi Pelukis
Akademi Seni-lukis Guangdong . Dan terlibat dalam penyelenggaraan pameran
lukisan beberapa kali.
Sejak tahun 1980, Wen melewatkan hari-tua nya di Hong Kong , dan
berkesempatan menjalin kembali hubungan dengan Indonesia. Wen dihari tuanya
tidak tinggal diam, disamping tetap aktif berkarya dengan lukisan-lukisan yang
ditekuni, aktif dibeberapa pameran dan menjadi Pelukis special over sea dari
Guangdong Academy of Printing. Wen pernah menghadiri Pameran Lukisan
Koleksi yang diselenggarakan oleh BCA di Jakarta tahun 1987. Dan setelah
perjalanan tahun 1988 di Indonesia, Wen beberapa kali ikut mengeluarkan karya
lukisannya dalam pameran lukisan di Jakarta, dan beberapa karyanya mendapatkan
sambutan sangat baik dan terjual dengan harga sangat tinggi.
Jiwa sosial yang sejak muda ada pada diri Wen tidak mengendur karena
usia-lanjut, bahkan lebih gigih. Wen tidak segan-segan menjumbangkan sebagian
besar dari hasil penjualan lukisannya untuk mendukung Bencana Banjir,
mendirikan Sekolahan Harapan, dan memberi beasiswa pada mahasiswa miskin,
dengan bakti-sosial demikian ini, Wen di tahun 2006 mendapatkan surat
Penghargaan dari lembaga pemerintah Tiongkok. Bahkan pesan terakhir Wen,
sebelum menghembuskan nafas terakhir mengharapkan: separuh dari warisan yang
ada bisa digunakan untuk mendirikan yayasan kebudayaan dan social,
Wen meninggalkan kita untuk selama-lamanya pada tanggal 18 Maret yl. Selamat
jalan kami ucapkan dengan penuh rasa kesedihan, dengan harapan bapak Wen Peor
mendapatkan ketenangan abadi sedang keluarga yang ditinggalkan tetap tabah,
tegar menghadapi duka yang tiada taranya ini.
SELAMAT JALAN BAPAK WEN PEOR!
Hormat kami,
Segenap Pengurus HKSIS
[Sumber HKSIS ,Monday, March 26, 2007 10:45 AM.Subject: [HKSIS] Berita Duka -
Wen Peor]
Paris, Maret 2007
----------------
JJ. Kusni
[Bersambung]
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/