Penyembuh (2) 

Al-Qur'an sebagai Penyembuh (syifâ)
Penyebutan al-Qur'an sebagai syifa dapat dipahami dengan beberapa 
cara pandang. Secara ilmiah, al-Qur'an adalah obat, yakni ajaran-
ajaran yang benar yang jika diikuti terapinya secara benar niscaya 
seseorang, sekelompok orang atau umat manusia akan selamat berbahagia 
di dunia dan di akhirat. Seberapa tingkat kesehatan diperoleh 
tergantung seberapa besar komitmen manusia terhadap terapi al-Qur'an. 
Jika dipahami secara sufistik, maka al-Qur'an bukan hanya maknanya, 
tetapi seluruh elemen dari al-Qur'an itu, kalimatnya, bunyinya, 
maknanya, bahkan masing-masing hurufnya mengandung kekuatan ruhaniah 
dengan karakter yang unik, mempunyai relefansi dengan ruang, waktu 
dan benda tertentu.

Pemahaman ini (penyembuhan sufistik) susah diikuti oleh cara berpikir 
konvensional, tetapi sangat masuk akal jika dilihat dengan cara 
merasa tasawuf. Sebagaimana diketahui tasawuf itu bekerja mempertajam 
rasa berketuhanan, bukan ketajaman logika. Penggunaan al-Qur'an 
sebagai obat tidak diukur tepat tidaknya argumen, tetapi pada 
seberapa besar rasa berhubungan manusia dengan Tuhan, dan seberapa 
tebal baik sangka manusia kepada Tuhan, karena Tuhan bisa memberi 
seberapa pun banyaknya sesuai dengan ukuran yang diharap oleh manusia.

Bagi seorang "sufi" nampaknya tidak ada daftar resep baku sehingga 
untuk kasus yang sama pada orang yang berbeda atau pada waktu yang 
berbeda terapinya tidak selalu sama, karena penyembuhannya bukan 
terletak pada ayat atau teks doa tetapi pada intensitas hubungan 
dengan Dia Sang Penyembuh. Bagi Tuhan apa saja bisa menjadi wasilah 
penyembuhan. Seorang murid ketika berguru kepada seorang mursyid 
diberi ijazah ayat Kursy, tetapi oleh mursyid yang lain diberi surat 
al-Kahfi, dan oleh yang lain lagi diberi yang lain lagi. Di dunia 
mereka tidak ada daftar obat, yang ada jadwal konsultasi.

Alam nafs
Kajian tentang manusia, baik fisik, psikis, dan spiritualitasnya tak 
pernah akan selesai, karena manusia sebagai objek merupakan tajalli 
dari kebesaran Tuhan, sementara manusia sebagai subjek memiliki 
banyak keterbatasan. Jika alam fisik saja belum selesai kajiannya, 
apalagi alam ruhaniahnya. Manusia telah berhasil menjalin hubungan 
sesamanya melalui gelombang-gelombang yang dulu dianggap sebagai 
spiritual, padahal ternyata bukan (telpon, internet dsb). 
Sebenarnyalah bahwa semakin banyak yang telah diketahui, semakin 
sadarlah manusia bahwa dimensi yang belum diketahui justru lebih 
banyak lagi. Di antara medan yang masih belum banyak terjamah adalah 
medan nafs, alam spiritual.

Sebagian orang ada yang merasa telah menjelajahi alam spiritual, 
tetapi sebenarnya ia baru sedikit memasukinya, yaitu alam 
spiritualisme faham Animisme. Alam spiritual yang tak terbatas 
luasnya adalah alam nafs, alam ruhani dimana jarak dunia dan akhirat 
menjadi sangat pendek. Dalam pengembaraan ruhaniah yang bersifat 
sufistik, tirai terbuka sehingga alam terbuka (kasyaf) dimana dimensi 
ruang dan waktu menjadi satu atau hilang. Dalam perspektif ini 
manusia bukan hanya bisa berkomunikasi dengan orang lain di tempat 
yang jauh, tetapi bahkan bisa berkomunikasi dengan lintas alam, 
lintas makhluk dan lintas zaman menembus seluruh sekat. Ketika itu 
yang namanya manusia bukanlah yang nampak dengan mata, tetapi nafs-
nya, qalb-nya yang bersifat ruhaniah.

Bagi orang yang pernah mengembara ke sana, apa yang dianggap khayalan 
itu adalah justru yang kongkrit, sementara alam fisik yang sering 
disebut kongkrit justru dianggap sebagai fana, sebagai maya, sebagai 
bukan yang sebenarnya. Percayakah Anda?

Wassalam,
agussyafii
http://mubarok-institute.blogspot.com



Kirim email ke