"P" Elu Kayak "M" Gua!

Markesot bercerita tentang seorang Direktur Perusahaan yang naik pitam
kepada saingan dagangnya. Musuhnya itu, seorang Direktur Perusahaan juga,
dianggap melakukan kompetisi yang tidak fair.


Maka pagi itu sebelum ke kantor ia menyuruh sopirnya untuk langsung
melajukan mobil menuju kantor sang musuh. Wajahnya cemberut sepanjang jalan.
Terkadang keluar satu-dua kata makian yang keluar tanpa sengaja. Si supir
ngeri juga. Apalagi air muka si Bos makin lama makin berwarna
kemerah-merahan seperti orang kebelet buang air besar pas tengah-tengah
rapat partai.
Begitu tiba di kantor musuh, si Bos langsung turun mobil dan tanpa babibu
langsung masuk. Satpam di pos penjagaan depan kebingungan. Mau menahan atau
membentak tidak berani, soalnya si Bos pakaiannya bagus, pakai dasi segala,
dan sepatunya mengkilat.


Sebentar kemudian terdengar suara-suara dari dalam bagaikan teater
Shakespeare, Bengkel Rendra, atau setidaknya Sakerah. Bahkan terdengar pula
meja dipukul-pukul. Sesaat kemudian pintu di kantor mendadak dibuka dengan
kasar. Si Bos keluar dengan wajah merah legam dan mata melotot seperti sogok
telik. Berjalan agak miring karena kepalanya masih menghadap ke arah si
musuh. Sambil menuding-nudingkan tangan, si Bos memaki: "Pantat Lu kayak
muka Gua!"...


Kemudian tergopoh-gopoh supirnya membukakan pintu mobil si Bos masuk, duduk
menghempaskan tubuhnya sambil menarik napas lega. Tapi sebelum berangkat,
sang supir memberanikan diri mengemukakan sesuatu.


"Maaf ya Pak Bos...," ujarnya terbata-bata.


"Apa!" bentak si Bos.


"Maaf, sekali lagi maaf... tapi kalimat makian Pak Bos tadi itu apa tidak
terbalik...?"


Betapa kagetnya si Bos. "O ya. Terbalik ya?"


Mendadak ia buka pintu mobil, turun dan kembali menuding-nuding wajah
musuhnya sambil mengulang makian: "Muka Gua kayak pantat Lu!"...


Lemaslah sang supir. Makian yang pertama terbalik, kemudian Pak Bos telah
berusaha membaliknya kembali, dan begitulah hasilnya. Hampir saja terlontar
dari mulutnya kata-kata untuk mengingatkan Pak Bos bahwa bukan begitu
caranya membalik kalimat. Tapi setelah diliriknya si Bos sudah duduk dengan
wajah lega, ia urungkan niatnya itu. "biarlah Pak Bos pulang dengan puas dan
lega....," bisiknya kepada dirinya sendiri.


"Sekarang ini kebanyakan manusia memang merasakan kepuasan dan kelegaan
dengan sesuatu yang sesungguhnya terbalik-balik," kata Markesot selanjutnya,
memberi ular-ular atas kisahnya sendiri, "Dan sering kita akhirnya tidak
tega atau tidak lagi punya jalan untuk mengingatkan. Karena kalau kemudian
mereka tahu bahwa itu terbalik-balik, jangan-jangan mereka nanti malah jadi
stres. ' Kan kasihan. Mbok biar saja.



"Maksud Cak Sot, terbalik-balik itu bagaimana?" bertanya salah seorang yang
mendengarkan.



"Wah, terlalu banyak contohnya, "jawab Markesot.



"Coba tho," ia memberi contoh, "Misalnya saja yang semestinya berwenang
menilai seseorang berkelakuan baik atau tidak itu ' kan kiai, ulama, pastor,
ruhaniawan, atau kaum moralis lainnya. Merekalah institusi akhlaqul karimah.
Lha sekarang malah mereka-mereka itu yang harus punya Surat Berkelakuan Baik
yang ditetapkan oleh lembaga yang entah apa hubungannya dengan kelakuan
baik.


"Contoh lain, harga bintang pamer paha dan susu lebih mahal dari Zainuddin
MZ. Banyak orang korupsi malah dianggap paling berjasa kepada negara. Rakyat
dianggap sebagai bawahan yang paling rendah, padahal merekalah pemilik
kedaulatan tertinggi. Merekalah yang menggaji kepala negara, gubernur,
bupati, dan semua birokrat lain. Jadi rakyat itu Bos. Tapi ya itu tadi:
Kalau rakyat coba marah, malah kata-katanya terbalik: 'Pantat Lu kayak muka
Gua!'..."


Dokumentasi Pusdata Padhang mBulan Net, Emha Ainun Nadjib Buku "Markesot
Bertutur Lagi", penerbit Mizan @1994


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke