teman teman, 

sepak bola ini bukan lah anti thesis terhadap lenyapnya nasionalisme, namun 
justru fenomena pelengkap, tribalisme kesukuan atau tribalisme religion, justru 
sudah bergeser. lebih soft, energi itu dibuat tidak lagi merusak, tidak lagi 
merasa paling digjaya. sekarang adalah jamannya tribalisme sepak bola. sentimen 
sentimen itu diekspresikan dalam bentuk dukungan thd tim sepak bola 
kesayangannya.

===

http://aresto.wordpress.com/2007/04/17/ketika-sepakbola-menjelaskan-dunia/

Ketika Sepakbola Menjelaskan Dunia

Buku sepakbola yang bukan tentang sepakbola. Di dalamnya kita akan menjumpai 
deskripsi dari hal-hal terintim dalam sepakbola: bangku stadion Maracana, 
profil komandan hooligan Chelsea, ruang ganti DC United, sampai obrolan di klub 
eksekutif penggemar Inter beraliran kiri. Tapi, kita tidak akan menemukan 
pembahasan tentang permainan sepakbola itu sendiri. Buku ini juga tidak ditulis 
oleh pelaku sepakbola, tapi justru oleh seorang jurnalis politik Amerika yang 
melukiskan dirinya sebagai " ..karena tidak akan pernah jago bermain bola, saya 
bisa melakukan hal terbaik berikutnya: memahami sepakbola sedalam-dalamnya 
laiknya seorang maniak". Franklin Foer, editor majalah politik nomor wahid New 
Republic, menggunakan olahraga yang dicintainya untuk mengupas globalisasi, 
bidang yang dikuasainya. 


Sebagai penggemar bola, Foer paham betul akrabnya sepakbola dengan globalisasi. 
Tak percaya? Lihat saja Manchester United. Klub terpopuler ini dimiliki pemodal 
Amerika, punya manajer bergelar Sir, dipenuhi pemain top yang sangat 
kosmopolit, sampai digunakan namanya oleh sebuah kafe di jalan Thamrin. Tak 
heran kalau Foer memutuskan untuk mengambil cuti delapan bulan untuk 
mengunjungi lokus sepakbola di penjuru dunia. Harapannya, ia ingin menunjukkan 
bahwa globalisasi bisa dijelaskan dengan cara yang sederhana, menontonnya 
"dimainkan" (atau "bermain"?) di ranah sepakbola. Hasilnya, sebuah buku yang 
membawa kita melihat sisi-sisi sepakbola yang bukan cuma statistik pertandingan 
atau model hot pacar pemain anu seperti yang biasa kita baca di lembar olahraga.


Oh ya, walaupun berusaha menjawab perdebatan mengenai gagalnya janji kemakmuran 
globalisasi:mengapa negara tetap miskin?apakah korporasi2 multinasional adalah 
penjahat?, Foer tidak memakai pendekatan ekonomi dan lebih memilih perspektif 
kultural. Dalam hal ini kultur sepakbola yang dhidupkan oleh para pelakunya.


Ternyata yang ditemukan Foer tak sesederhana yang dibayangkannya. Pernyataan 
bahwa globalisasi meruntuhkan identitas negara bangsa justru menemukan antitesa 
ketika Foer melihat fenomena suporter Red Star Belgrade di Serbia. Klub-klub 
suporter yang militan berhasil diorganisir dengan nasionalisme yang begitu 
kental menjadi sumber rekrutmen paramiliter untuk Perang Balkan. Dari klub 
suporter inilah paramiliter Tigers yang keganasannya luar biasa dalam membunuhi 
warga Muslim Bosnia berasal. Di bawah pimpinan gangster legendaris Arkan, klub 
ini menjelma menjadi organisasi bayangan yang tidak tersentuh selama Perang 
Balkan. Bahkan, sampai saat inipun nama Arkan masih dianggap dewa oleh 
orang-orang Serbia. Lebih jauh Foer melihat bahwa ternyata budaya global tidak 
menyapu bersih pranata lokal. Melihat fanatisme bonek Rangers dan Celtics di 
Glasgow, Foer melihat bagaimana orang justru kembali ke identitas lama mereka 
yaitu agama dan menunjukkan ekspresi2 tribalisme yang primitif dan bisa 
dibilang ganas. Jika sepakbola dilihat sebagai suatu perwujudan praktis dari 
gagasan yang abstrak, Foer berani menyatakan bahwa globalisasi gagal mengikis 
kebencian-kebencian yang berasal dari identitas kuno.


Di bagian kedua bukunya, Foer menelisik lebih jauh ke masalah ekonomi. Untuk 
memperlihatkan dampak derasnya arus migrasi dari negara ke dunia ketiga ke 
Eropa, Foer dengan cerdas mengajak kita menengok kehidupan seorang striker 
Nigeria di sebuah kota kecil di Ukraina. Dengan penggalan cerita itu, kita 
diajak menyelami banyak hal mulai dari motif migrasi, kesulitan beradaptasi 
seorang imigran, sampai kekhawatiran tenaga kerja lokal. Masalah selanjutnya 
adalah globalisasi yang ternyata tidak berhasil mengikis korupsi lokal yang 
telah berakar sebagaimana yang terjadi di dunia sepakbola Brasil. Dana investor 
asing yang mengalir masuk untuk sepakbola cuma dinikmati segelintir orang, 
sehingga pada gilirannya investor asing perlahan hengkang karena tidak tahan 
dengan ekonomi biaya tinggi yang tidak kompatibel dengan kapitalisme (jadi 
inget negara mana gitu.).


Pada penggal terakhir bukunya, Foer beralih menjadi seorang optimis yang 
menawarkan prediksi cerah. Setelah menikmati pengalaman menonton Barca di Nou 
Camp, Foer mengatakan bahwa berbeda dengan gambaran suram yang dia temui di 
Serbia dan Inggris daratan, Barca membuktikan bahwa seseorang bisa mencintai 
sebuah klub atau negara tanpa harus berubah menjadi begundal atau teroris. 
Menjadi nasionalis tanpa terjerumus ke ranah perilaku manusia yang kelam. 
Mencintai identitas Anda tanpa hasrat untuk mendominasi kelompok-kelompok 
masyarakat lain atau menutup diri dari pengaruh asing. Kemudian, seperti tak 
bisa mneghindar bahwa Islam akan menjadi pemain penting di masa depan, Foer 
mengangkat sebuah episode ketika ribuan perempuan Iran yang dilarang menonton 
bola di stadion nekat berdemo di depan stadion Azadi yang sedang merayakan 
pesta penyambutan timnas Iran yang untuk pertama kalinya lolos kualifikasi 
Piala Dunia. Peristiwa yang disebut Foer "revolusi bola" ini menurut Foer 
menjadi pertanda bangkitnya nasionalisme baru di dunia Islam, nasionalisme yang 
cenderung sekuler dan pada perkembangannya akan menentang negara. Sesuatu yang 
dinilai "cukup" oleh Foer yang Barat. 


Salah satu buku terbagus yang pernah gue baca. Mungkin karena Foer dengan 
jurnalisme sastrawinya yang kampiun sukses berbagi kecintaannya pada sepakbola. 
Penggemar bola atau pengamat sospol sama-sama dapat merasakan gelora hasrat 
Foer pada olahraga ini, sambil belajar mencoba sedikit lebih memahami dunia 
yang kompleks ini.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke