--- In [email protected], Leo Imanov <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> "Hindu versus Hindu Bali" 
> 
> Konflik Hindu di Bali bisa dijadikan pelajaran kaum Muslim. Bahwa,
> Al-Quran, tidak bisa diperselisihkan. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP]
> Adian Husaini ke-188 
> 
> Oleh: Adian Husaini 
> 
 
> 
> Seharusnya, kaum Muslim tidak merusak nama "Islam" dengan menambahkan
> berbagai embel-embel yang akhirnya justru bisa mengaburkan makna Islam
> itu sendiri, seperti "Islam fundamentalis" , "Islam inklusif", "Islam
> Protestan", "Islam Liberal", "Islam Jawa", dan sebagainya. Ini berbeda
> dengan tradisi Yahudi, Kristen, Hindu, dan sebagainya, yang telah biasa
> dengan "pluralitas agama" dalam agama. Karena itu, dalam Islam, ada
> pembatasan yang ketat dalam soal batas-batas keislaman. Ada rukun iman
> dan rukun Islam. 
> 


Aduh tolong deh... ngapain pula sibuk2 ngebahas agama orang laen
panjang lebar?
Kalau agama kita dibahas begitu oleh non-muslim ntar langsung naik
spanneng. 

Lagi pula kok sok tau dg bilang bahwa agama lain itu sudah biasa dg
"agama dalam agama". Setahu saya tidak agama yang 100% penganutnya
selalu kompak dalam satu aliran/sekte. Tetapi dalam tingkatannya,
tampaknya Judaism yang relatif tidak banyak perbedaan aliran (paling2
ortodoks vs non-ortodoks), CMIIW.

Dalam sejarah Islam sendiri kita sudah tau ada perbedaan mendasar
antara Islam suni dan Islam syiah. Belum lagi Islam "terjemahan"
Wahabi yang saya lihat beda sekali dg Islam yang umum dipraktekkan di
Indonesia misalnya. 

Kalau soal merusak nama, coba tanya deh berapa banyak muslim yang
gerah dg kelakuan melanggar hukum FPI? Ingat lho namanya: Forum
PEMBELA Islam. Kurang keren apa tuh... 


salam,

fau


Kirim email ke