Metode ini adalah hasil disertasi si penulis yang telah diaplikasikan di Bogor.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ibuku, Guruku (Metode Home Schooling Groups, Alternatif Model PAUD)
Oleh: Dr. Ir. Yuliana, M.Si.
Ketua Kelompok Peduli Ibu dan Generasi (el-Diina Pusat) dan Anggota Dewan Pakar
ICMI Muda Pusat Bidang Pemberdayaan Perempuan
Hasil penelitian neurologi dan kajian pendidikan anak usia dini cukup
memberikan bukti betapa pentingnya stimulasi sejak usia dini dalam
mengoptimalkan seluruh potensi anak guna mewujudkan generasi mendatang yang
berkualitas dan mampu bersaing dalam percaturan dunia yang mengglobal pada
milenium ke tiga ini. Di samping itu, Rasulullah SAW bersabda uthlubulilma
minalmahdi ilal lakhdi yang artinya tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang
lahat.
Hadits tersebut menekankan betapa pentingnya seseorang belajar sedini
mungkin. Tentu kesadaran akan perlunya belajar sejak usia dini ini tidak muncul
dari si bayi yang belum bisa apa-apa, namun dimulai dari kesadaran orang
tuanya untuk memberikan pembelajaran-pembelajaran kepada anaknya sejak dini.
Karena pada dasarnya, ketika seorang manusia telah terlahir ke dunia ini, ia
telah dilengkapi berbagai perangkat seperti panca indera dan akal untuk
menyerap berbagai ilmu.
Inilah peletak dasar pentingnya pendidikan usia dini. Sejak dini anak harus
diberikan berbagai ilmu (dalam bentuk berbagai rangsangan/stimulan). Mendidik
anak pada usia ini ibarat membentuk ukiran di batu yang tidak akan mudah
hilang, bahkan akan membekas selamanya. Artinya, pendidikan pada anak usia dini
akan sangat membekas hingga anak dewasa. Pendidikan pada usia ini adalah
peletak dasar bagi pendidikan anak selanjutnya. Keberhasilan pendidikan usia
dini ini sangat berperan besar bagi keberhasilan anak di masa-masa selanjutnya.
Upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan akses
pelayanan pendidikan anak usia dini terus dilakukan, namun data membuktikan
dari 28 juta anak usia 0-6 tahun, sebanyak 73 persen atau sekitar 20,4 juta
anak belum mendapatkan layanan pendidikan, baik secara formal maupun
non-formal. Khusus anak usia prasekolah, akses layanan pendidikan anak usia
dini masih rendah (sekitar 20.0%). Artinya sebanyak 80.0% lainnya belum
terlayani di pusat-pusat pendidikan anak usia dini. Kesenjangan antara pedesaan
dan perkotaan juga terjadi (Jalal 2002). Hasil yang serupa juga ditemui pada
penelitian yang dilakukan oleh Yuliana dkk. di penghujung tahun 2004 dan awal
tahun 2005 di Pulau Jawa, bahwa sebagian besar (86.3% di pedesaan dan 73.2% di
perkotaan) anak usia prasekolah belum mengakses program-program pendidikan yang
ada baik di jalur formal maupun non formal.
Penyebabnya karena masih kurangnya sarana dan prasarana pendidikan khusus
untuk usia dini.
Selain itu mahalnya biaya pendidikan, semakin menyulitkan anak-anak untuk
mendapatkan kesempatan belajar, terutama untuk anak usia dini. Masyarakat
secara umum tidak mampu menjangkaunya. Sebagai contoh ada sekolah di Jakarta
menarik uang pendaftaran untuk jenjang prasekolah Rp 15 juta di luar uang
bulanan Rp 1 juta. Dengan biaya sebesar itu tentunya hanya anak-anak dari
kalangan tertentu saja yang mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan yang
bermutu.
Padahal keberlangsungan pendidikan untuk anak usia dini, tidak harus
dilakukan dengan memasukkan mereka ke dalam lembaga pendidikan. Ibu, adalah SDM
yang sangat berpotensial untuk menjadi guru bagi anak-anak usia dini. Ibu
memiliki interaksi kuat dengan anak, karena dialah orang yang pertama kali
menjalin interaksi; memahami dan selalu mengikuti seluruh aspek tumbuh kembang
anak tanpa ada yang terlewat.
Ibu adalah orang pertama yang menjadi teladan bagi anak, karena ialah orang
terdekat anak. Ibulah yang mampu menerapkan prinsip belajar untuk diterapkan,
karena ia yang paling banyak memiliki waktu bersama anak. Ibu adalah yang
paling berambisi menyiapkan anak yang sholeh, karena baginya hal tersebut
menjadi investasi terbesar untuk akhirat. Akhirnya, memang hanya ibu yang
memiliki peluang terbesar mendidik anak dengan penuh ketulusan, kasih sayang
dan pengorbanan yang sempurna.
Peluang Ibu menjadi guru bagi anak-anak usia dini sangat besar sekali. Masih
banyak Ibu-Ibu yang ada di negeri ini tidak bekerja dan mengurus anak-anaknya
secara langsung. Bila Ibu yang menjadi guru maka biaya pendidikan yang
dikeluarkan tidaklah besar, karena Ibu dalam menjalankan perannya sebagai
pendidik dilakukan di dalam rumah dengan waktu yang disesuaikan dengan kondisi
anak dan Ibu. Berbeda dengan memasukkan anak ke dalam sekolah, mereka terikat
dengan jadwal belajar tertentu. Ibu pun harus mengeluarkan biaya yang mahal.
Menjadikan Ibu sebagai guru dan melaksanakan proses pendidikan dengan metode
kelompok belajar bersama di rumah, itulah yang dijalankan dalam program Ibuku
Guru Kami dengan metode home schooling group.
Mengapa pendidikan anak usia dini dilakukan di rumah?
Rumah merupakan lingkungan terdekat anak dan tempat belajar yang paling baik
buat anak. Di rumah anak bisa belajar selaras dengan keinginannya sendiri. Ia
tak perlu duduk menunggu sampai bel berbunyi, tidak perlu harus bersaing dengan
anak-anak lain, tidak perlu harus ketakutan menjawab salah di depan kelas, dan
bisa langsung mendapatkan penghargaan atau pembetulan kalau membuat kesalahan.
Disinilah peran ibu menjadi sangat penting, karena tugas utama ibu sebetulnya
adalah pengatur rumah tangga dan pendidik anak. Di dalam rumah banyak sekali
sarana-sarana yang bisa dipakai untuk pembelajaran anak. Anak dapat belajar
banyak sekali konsep tentang benda, warna, bentuk dan sebagainya sembari ibu
memasak di dapur.
Anak juga dapat mengenal ciptaan Allah melalui berbagai macam makhluk hidup
yang ada di sekitar rumah, mendengarkan ibu membaca doa-doa, lantunan ayat-ayat
Al-Quran dan cerita para Nabi dan sahabat dalam suasana yang nyaman dan
menyenangkan. Oleh sebab itu rumah merupakan lingkungan yang tepat dalam
menyelenggarakan pendidikan untuk anak usia dini seperti yang dilakukan semasa
pemerintahan Islam, bahwa pendidikan untuk anak-anak di bawah tujuh tahun
dibimbing langsung oleh orang tuanya.
Al-Abdary dalam kitab Madkhalusi asy-Syari asy-Syarif mengkritik para orang
tua dan wali yang mengirimkan anak-anaknya ke sekolah pada usia kurang dari
tujuh tahun. Ia mengatakan:Dahulu para leluhur kita yang alim mengirimkan
putera-puteranya ke Kuttab/sekolah tatkala mereka mencapai usia tujuh tahun.
Sejak usia tersebut orang tua diharuskan mendidik anak-anaknya mengenal shalat
dan akhlak yang mulia. Akan tetapi saat ini amat disesalkan bahwa anak-anak
zaman sekarang menuntut ilmu pada usia yang masih rawan (4-5) tahun. Para
pengajar hendaknya hati-hati mengajar anak-anak usia rawan ini, karena dapat
melemahkan tubuh dan akal pikirannya.
Metode home schooling group ini dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat
karena dalam pelaksanaannya bersifat dinamis, dapat bervariasi sesuai dengan
keadaan sosial ekonomi orang tua. Keterlibatan orang tua (ibu) dalam home
schooling group sangat dominan dan jarak tempuh anak ke kelompok-kelompok home
schooling dapat ditempuh anak dengan berjalan kaki (maksimal 1 km).
Hal demikian menjadikan keunggulan dari home schooling (murah, ibu dekat
dengan anak, dan dinamis). Mengapa harus dalam bentuk grup atau kelompok ? Hal
tersebut bertujuan untuk menanamkan konsep sosialisasi pada anak, membangun
ukhuwwah Islamiyah di kalangan Ibu disamping dapat meringankan beban ibu dan
upaya memperbaiki lingkungan masyarakat.
Kurikulum home shcooling group diharapkan dapat mencerminkan kegiatan untuk
membangun kemampuan kepribadian anak dan kemampuan ilmu Islam/tsaqofah
(mencakup materi aqidah, bahasa arab, Al-Quran, As-Sunnah, fiqh, siroh nabi
dan sejarah kaum muslimin) dan membangun kemampuan keterampilan sainteks
(kognitif, bahasa, motorik kasar, motorik halus, seni, kemandirian dan sosial
emosional).
Kegiatan tersebut dilakukan dengan metode pengajaran bermain sambil belajar
melalui keteladanan, mendengar, mengucapkan, bercerita dan pembiasaan.
Pendekatan pembelajaran dalam home schooling group haruslah berorientasi pada
prinsip-prinsip perkembangan anak, kebutuhan anak, menggunakan pendekatan
tematik, kreatif dan inovatif, lingkungan kondusif dan mengembangkan kemampuan
hidup.
Peran Ibu sebagai pendidik pertama dan utama, tidak hanya dalam rangka
mendidik anak-anaknya semata. Hal ini disebabkan, anak-anaknya berinteraksi
dengan anak orang lain di lingkungannya. Anak kita membutuhkan teman untuk
belajar bersosialisasi dan berlatih menjadi pemimpin. Kesadaran kita sebagai
seorang muslim yang peduli dengan kondisi masyarakatnya akan menumbuhkan rasa
tanggungjawab untuk turut mendidik anak-anak lain sebagai generasi penerus
umat. Sehingga Ibu tidak cukup mendidik anak sendiri, tetapi juga perlu
mendidik anak-anak lain bersama ibunya yang ada di lingkungannya.
Kesamaan visi dan misi dalam mendidik anak di kalangan orangtua sangat
dibutuhkan untuk keberlangsungan aktivitas belajar yang efektif dan efisien.
Seringkali selama ini orang tua menyerahkan sepenuhnya pelaksanaan pendidikan
anak-anak (termasuk usia dini) kepada sekolah dan guru. Orangtua seharusnya
menyadari bahwa kewajiban untuk mendidik anak tidaklah hilang dengan
menyekolahkan mereka. Orangtua pun perlu mengkaitkan proses belajar di sekolah
dengan di rumah sehingga target pendidikan dapat dicapai.
Menjadi guru bagi anak-anak usia dini, tidaklah berarti Ibu mendidik anaknya
secara individual, namun dapat dilakukan secara berkelompok dengan melibatkan
para orangtua (Ibu) yang ada di sekitar lingkungannya menjadi team pengajar
(guru). Sistem kelompok belajar dalam bentuk grup, selain menumbuhkan
kebersamaan dan melatih anak dalam bersosialisasi juga menyuburkan persaudaraan
dan kedekatan diantara orangtua sehingga memudahkan memberikan penyelesaian
terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul dari anak-anak tersebut. Dengan
demikian anak-anak usia dini mendapatkan pelajaran dalam bentuk kelompok dan
akan melanjutkan pelajaran mereka di rumah bersama ibunya masing-masing.
Kontak Dr Yuli : 081315465121
Kemajuan mustahil terjadi tanpa perubahan. Dan, mereka yang tak bisa mengubah
pemikirannya tak bisa mengubah apa pun. (George Bernard Shaw, 1856-1950)
pustaka tani
prohumasi
nuraulia
---------------------------------
Give spam the boot. Take control with tough spam protection
in the all-new Yahoo! Mail Beta.
[Non-text portions of this message have been removed]