thanks banget Mas Nug,

gue lagi dialog seru ama fundamentalis kristen di milis alumni SMA, juga ttg 
JFalwell.  Rupanya ada saja orang Indonesia di Amerika yang begitu naif percaya 
saja ama kotbah J Falwell.  Mestinya di SMA-SMA itu kagak usah dikasih 
pelajaran agama tetapi diajarkan bagaimana menghindari mental fundamentalis dan 
fanatik..  entah itu fanatik ama Agama atau sama tim sepak bola.

Nice Day
Bobby B




----- Original Message ----
From: Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, May 22, 2007 1:51:15 PM
Subject: [ppiindia] Caping: Sang Fundamentalis


Sang Fundamentalis

Jerry Falwell meninggal dalam umur 73 di 
kantornya pekan lalu, dan dunia kehilangan sebuah 
contoh yang baik tentang hubungan iman dan kebencian.

Falwell bukan orang galak dan bengis. Saya 
bayangkan ia, yang bertubuh gemuk dengan bentuk 
mirip bakpao, banyak ketawa, hangat, bicara 
kepada orang tanpa jarak. Tapi ada sesuatu dalam 
masyarakat tempat ia hidupmasyarakat Amerika di 
abad ke-20 dan awal ke-21yang menyebabkan pendeta 
Kristen seperti Falwell, dengan Injil di tangan, 
secara luas didengar, didukung, dapat sokongan 
berjuta dolar, didekati kaum politisi tingkat 
nasional, justru ketika ia membawa berita yang 
muram, tapi paradoksal: Amerika adalah tanah yang 
dijanjikan Tuhan, “Yerusalem Baru,” tapi negeri 
ini sedang terancam, sebagaimana dunia sedang 
terancam. Musuh ada di mana-mana. Terorisme hanya 
salah satunya. Amerika harus diselamatkan.

“Amerika”, bagi Falwell, adalah negeri 
orang-orang kulit putih yang diancam orang 
hitamsebab itulah ia memusuhi gerakan Martin 
Luther King yang menuntut hak-hak yang sama bagi 
si “negro”. Sebab itu pula ia menolak sanksi 
kepada rezim apartheid di Afrika Selatan.

“Amerika”, bagi Falwell, adalah negeri mereka 
yang Protestan, yang bersembahyang, yang diancam 
orang Katolik, atau Yahudi, atau Islam, ataudalam 
kekuatan yang lebih besarorang-orang “sekuler”. 
Dalam deretan musuh dan pencemar ini, kini 
ditambah kaum homoseksual, majalah Penthouse dan 
Playboy, pendukung aborsi, mereka yang komunis, 
yang kiri, penentang perang Irak, dan entah apa lagi.
“Kita sedang melawan humanisme, kita sedang 
melawan liberalisme… kita sedang melawan semua 
sistem Setan yang menghancurkan bangsa kita 
sekarang,” demikianlah Falwell berseru. Ia tak 
jarang mengutip Wahyu 19 dalam Injil: di sana 
Yesus digambarkan memegang sebilah “pedang tajam” 
dan meluluhlantakkan bangsa-bangsa. Atau mengutip 
Perjanjian Lama, yang menyambut Tuhan sebagai “Tuhan Perang”.
Tak mengherankan bila ia dan mereka yang 
tergabung ke dalam apa yang sering disebut 
sebagai “Kristen Kanan”, mengukuhkan diri sebagai 
kekuatan politik. Pada 1979, Falwell membentuk 
“Moral Mayoritas”, dengan klaim bahwa suara 
orang-orang yang taat beragama adalah suara moral 
dan bahwa mereka didukung sebagian besar rakyat 
Amerika. Mereka mendukung Partai Republik. Mereka 
ini yang menyebabkan Bush kini jadi presiden.
“Ide bahwa agama dan politik tak bisa bercampur 
ditemukan oleh Setan”, kata Falwell dalam sebuah 
khotbah 30 tahun yang lalu. “Jika kita akan 
menyelamatkan Amerika dan membuat Injil diterima 
di dunia, kita tak dapat menerima filsafat 
sekuler, yang secara diametral bertentangan 
dengan kebenaran Kristen,” katanya pula, sebagai 
alasan bagi mobilisasi politik yang sedang disiapkannya.

Politik Falwell tentu saja politik kecemasan dan 
paranoiapolitik kekurangan, yang mengharapkan 
hidup steril dari baksil dan virus dan segala 
yang ganjil. Dengan kata lain, politik untuk 
menghapus dan membabat yang tak sama dengan “kita”, yang beda.

Saya kira memang itulah yang terjadi dengan 
fundamentalisme. Siapa yang percaya bahwa teks 
kitab suci adalah sesuatu yang tak tersentuh 
sejarah akan memandang sejarah sebagai najis.

Itulah sebabnya kaum fundamentalis, Kristen, 
Islam, Yahudi, atau Hindu menyimpan pesimisme 
yang radikal: sejarah berjalan terus, perubahan 
akan terjadi, beda tak dapat dicegah.

Maka bagi kaum fundamentalis, masa kini adalah 
kemerosotan, terutama kemerosotan akhlak. Masa 
lalu dibayangkan sebagai masa yang 
murniseakan- akan tak ada dosa dan mala di masa 
itu. Dengan sendirinya, masa depan adalah jurang 
terkutuk: Dajal atau Antikristus akan datang.

Tapi pesimisme yang radikal membutuhkan optimisme 
yang radikal pula, agar hidup tidak kehilangan 
makna, agar Tuhan tak sia-sia. Maka setelah 
Antikristus akan datang, sebuah akhir yang indah 
akan terjadi: ia akan dikalahkan oleh Messiah 
dalam sebuah perang besar terakhir, di Armagedon.

Di sini sebenarnya politik Falwell dan kaum 
fundamentalis menunjukkan kontradiksi yang tak 
bisa mereka pecahkan. Jika Messiah memang yang 
ditunggu, Armagedon perlu, demikian juga saat 
datangnya Antikristus. Maka orang seperti 
Falwell, yang menyebut diri “Zionis”, mendukung 
Israel, tapi Israel sebagai sarana untuk perang. 
Kaum “Kristen Kanan” dan beberapa cabang 
fundamentalisme Kristen, terutama kalangan 
“dispensasionalis” , tak gembira dengan usaha 
perdamaian, tak menyukai lembaga macam PBB. 
Mereka percaya Armagedon akan berkobar di Tanah 
Suci, Yesus akan datang, dan orang macam Falwell akan hidup dalam rahmat.

Tapi jika hidup dalam rahmat itu yang 
ditunggusetelah melalui masa kemerosotan dan 
peperangan terakhirorang macam Falwell sebenarnya 
tak perlu “menyelamatkan Amerika”. Tak perlu pula 
perang melawan “liberalisme”, “sekularisme”, 
Islam, homoseksual, pendukung aborsi….

Yang mungkin bisa jadi penjelasan kemudian 
bukanlah argumen theologis, melainkan psikologis. 
Bukan fundamentalisme yang melahirkan kebencian, 
kecemasan dan paranoia, melainkan sebaliknya. 
Falwell, Al-Qaidah, Ku Klux Klan, Jemaah 
Islamiyah, tidak lahir dari teks suci. Mereka 
lahir dari sesuatu yang kian tak terbendung di 
zaman ini: yang beda, yang lain, yang bukan aku, 
liyan, datang berduyun-duyun, silih berganti. Dan 
itu semua, bagi mereka, dengan jiwa yang 
dirundung rasa tak aman terus-menerus, sangat mengganggu.

Jerry Falwell hanya salah satu gejalanya. Ia kini 
tak ada lagi. Saya tak tahu apakah dengan 
kebencian ia bisa masuk ke surga. Tapi di kubur, 
setidaknya yang saya lihat dari luarnya, yang 
mati telah mencapai sesuatu yang tak diperoleh 
oleh yang hidup: kesamaan, tanpa sejarah.

Goenawan Mohamad.
(Catatan Pinggir TEMPO, 21 Mei 2007)

[Non-text portions of this message have been removed]





       
____________________________________________________________________________________Get
 the Yahoo! toolbar and be alerted to new email wherever you're surfing.
http://new.toolbar.yahoo.com/toolbar/features/mail/index.php

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke